Ahad, 19 Februari 2012,
setelah dua tahun yang lalu di tempat yang sama, kaum muslimin memadati masjid
Istiqlal demi menghadiri muhadlarah
dari seorang ulama Madinah an-Nabawiyah, hari ini peristiwanya berulang. Syaikh Prof. Dr. Abdur Razaq bin Abdil
Muhsin bin Hammd al-Badr, kembali menyambangi Indonesia dan bersilaturrahim
dengan kaum muslimin di berbagai daerah. Di Jakarta, kembali beliau berceramah
di hadapan ribuan jama’ah.
Istiqlal pagi hingga siang itu benar-benar
diwarnai oleh panorama yang berbeda dari hari-hari maupun pagelaran yang biasa
diadakan. Dari lantai dasar hingga lantai teratas wilayah bangunan Istiqlal
yang megah, padat terisi oleh ribuan jama’ah yang datang dari seantero
Jabodetabek, ditambah Bandung bahkan Lampung.
Istiqlal pagi hingga siang itu benar-benar
serasa seperti berada di kota suci Madinah al-munawarah (Lebay ah...). Terasa
menentramkan dan menyejukkan, berada diantara saudara kaum muslimin yang
mencoba untuk iltizam kepada Islam berdasar pemahaman generasi awal dari umat mulia
ini. Kaum lelaki dengan pakaian gamis atau koko plus celana anti isbalnya. Para
akhwat sekaligus ummahat yang begitu pandai menjaga dirinya dengan busana takwa
yang menutup seluruh bagian auratnya. Subhaanallah,
walau pagi itu Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras, tak
menyurutkan niat dan semangat kami untuk menyimak buah tutur seorang syaikh ahlussunnah hafizhahullah Ta’ala.
Ada satu
optimisme yang seketika menyemburat kurasa dalam jenak-jenak itu di Istiqlal,
yakni tentang harapan akan negeri ini, kaum muslimin di negara ini, mengenal,
menganut, dan menjalankan perintah agama mereka berdasar pemahaman yang benar
yang dibawa oleh generasi pendahulu yang shalih dari umat ini. Di sela
carut-marut persoalan yang menimpa bangsa ini, kuyakin Allah akan memberikan
pertolongan kepada umat-Nya yang masih mau untuk menjalankan syariatnya dengan
benar, hingga dapat menuntun bangsa ini menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dengan bimbingan para ulama
dan asatidz, insyaAllah kita bangun
umat ini menjadi lebih baik, sebagaimana hakikat kebaikan yang tak pernah habis
yang menjadi faidah bagi sebuah umat yang berpegang teguh pada pusaka yang
ditinggalkan oleh Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu
a’lam bish shawwab (abu usamah UTR)