Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 01 Maret 2012

SUATU AHAD DI BULAN FEBRUARI (Sebuah Catatan Pengalaman Menghadiri Ceramah Syaikh Abdur Razaq)


            Ahad, 19 Februari 2012, setelah dua tahun yang lalu di tempat yang sama, kaum muslimin memadati masjid Istiqlal demi menghadiri muhadlarah dari seorang ulama Madinah an-Nabawiyah, hari ini peristiwanya berulang. Syaikh Prof. Dr. Abdur Razaq bin Abdil Muhsin bin Hammd al-Badr, kembali menyambangi Indonesia dan bersilaturrahim dengan kaum muslimin di berbagai daerah. Di Jakarta, kembali beliau berceramah di hadapan ribuan jama’ah.

 Istiqlal pagi hingga siang itu benar-benar diwarnai oleh panorama yang berbeda dari hari-hari maupun pagelaran yang biasa diadakan. Dari lantai dasar hingga lantai teratas wilayah bangunan Istiqlal yang megah, padat terisi oleh ribuan jama’ah yang datang dari seantero Jabodetabek, ditambah Bandung bahkan Lampung.

 Istiqlal pagi hingga siang itu benar-benar serasa seperti berada di kota suci Madinah al-munawarah (Lebay ah...). Terasa menentramkan dan menyejukkan, berada diantara saudara kaum muslimin yang mencoba untuk iltizam kepada Islam berdasar pemahaman generasi awal dari umat mulia ini. Kaum lelaki dengan pakaian gamis atau koko plus celana anti isbalnya. Para akhwat sekaligus ummahat yang begitu pandai menjaga dirinya dengan busana takwa yang menutup seluruh bagian auratnya. Subhaanallah, walau pagi itu Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras, tak menyurutkan niat dan semangat kami untuk menyimak buah tutur seorang syaikh ahlussunnah hafizhahullah Ta’ala.

Ada satu optimisme yang seketika menyemburat kurasa dalam jenak-jenak itu di Istiqlal, yakni tentang harapan akan negeri ini, kaum muslimin di negara ini, mengenal, menganut, dan menjalankan perintah agama mereka berdasar pemahaman yang benar yang dibawa oleh generasi pendahulu yang shalih dari umat ini. Di sela carut-marut persoalan yang menimpa bangsa ini, kuyakin Allah akan memberikan pertolongan kepada umat-Nya yang masih mau untuk menjalankan syariatnya dengan benar, hingga dapat menuntun bangsa ini menuju negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dengan bimbingan para ulama dan asatidz, insyaAllah kita bangun umat ini menjadi lebih baik, sebagaimana hakikat kebaikan yang tak pernah habis yang menjadi faidah bagi sebuah umat yang berpegang teguh pada pusaka yang ditinggalkan oleh Nabi akhir zaman, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam bish shawwab (abu usamah UTR)

Kamis, 16 Februari 2012

Catatan Harian Republik Zubair 2: Atlet Push up......



                “Kepada penghuni kamar 1, 3 dan 4, diharap untuk segera berkumpul di RSG!!!”, kira-kira begitu instruksi sang wali asrama kepada para santri anggota asramanya. Selanjutnya, hitungan dibarengi gerak naik turun badan yang biasa disebut dengan push up pun menjadi panorama Zubair ba’da isya itu.
             
           He...he...he..., kelihatannya malam itu para santri tersebut terpaksa untuk menjalani punishment. Pasalnya, meninggalkan kamar tak berpenghuni dengan kondisi putaran baling berangin alias kipas angin masih menyala, eh...berputar. 

Yupz, salah satu kesepakatan akan aturan yang diterapkan adalah berkenaan dengan penggunaan sarana wal prasarana, dalam bab ini yaitu mengenai kipas angin yang harus almarhum (baca:dimatikan) ketika para penghuninya keluar untuk beraktifitas. Mengapa aturan ini? Itu karena visi yang pernah disampaikan oleh wali asrama yang salah satunya tentang rasa tanggung jawab santri Zubair yang harus senantiasa terpupuk (emangnya taneman po’on). Maka dari itu, untuk para anak-anakku Bani Zubair (maksudnya anak-anak Zubair), menjadi pribadi disiplin dan bertanggungjawab, yuk sama-sama kita LANJUTKAN!!!☺(Pagi indah di Zubair, 22 Juli ’09)

Catatan Harian Republik Zubair 3: Yuk Gelorakan pagi......


Salah satu yang sering dikoar-koar oleh wali asrama (dan wakilnya) adalah tentang habits  atawa kebiasaan yang positif yaitu menyibukkan diri di waktu pagi. It means, waktu pagi terutama setelah sholat shubuh sering digunakan oleh banyak santri untuk kembali melanjutkan aktivitas malamnya alias tidur, padahal pagi dan malam kan beda, sebagaimana malam yang nggak sama dengan pagi (koq dibolak-balik ya?!#@!). Waktu malam adalah waktu yang amat sangat paling tepat untuk merapatkan mripat (baca: mata, –bahasa djawa-), sedangkan waktu pagi adalah waktu yang paling sangat amat pantas untuk beraktifitas, hingga semua pekerjaan tuntas, tas...tas...

            Bicara pekerjaan, kan banyak sekali tuh yang bisa kita bereskan, contoh untuk skala kamar tidur, kita bisa merapikan tempat tidur beserta spreinya, bantal beserta gulingnya, buku-buku beserta meja belajarnya, lantai beserta segala kekotoran dan kekacauan kondisinya, ininya beserta itunya, itunya beserta ininya, puokoknya buanyak deh yang bisa dikerjakan. Eh itu baru skala kamar tidur lho, belum bicara koridor, RSG, halaman asrama,de el el. Jadi, ngeliat setumpuk pekerjaan (baca:tanggungjawab) kaya gitcu, kayaknya back to sleep in the morning bukan pilihan tepat dech. Kalo alasan itu semua belum cukup, terakhir nih ustadz tunjukkin doa Rosululloh yang hanya dimengerti oleh mereka yang menggelorakan pagi dengan aktivitas, ingat!!! hanya mereka yang mengerti akan keutamaan waktu pagi, bukan yang habis shubuh diterusin tidur lagi. Rasululloh pernah berdoa; “Ya Alloh, berkahilah umatku di waktu pagi(HR. Abu Daud). (Pagi yang hebat di Zubair,25 Juli ’09)
               

Catatan Harian Republik Zubair 4: 20:20 dan 3:30......


            Bukan!! maksud tulisan judul di atas bukan menunjuk pada jam delapan malam lewat dua puluh, dan atau jam stengah empat dini hari, melainkan menyimbolkan sebuah hukuman atas pelanggaran tertentu terhadap peraturan yang berlaku di Republik Zubair. Angka-angka ini akhir-akhir ini muncul ke permukaan hingga menjadi semacam “momok” bagi mereka yang dikenakan peraturan ini.

            20:20, ia berdefinisi hukuman 2o ribu plus push up 20x ketika penghuni melanggar ketentuan piket asrama yang dibebankan kepada setiap pemilik kamar, dari kamar 1 hingga 8. 3:30 berdefinisi hukuman 3x istighfar dan 30x push up ketika ada “Zubair mania” yang melanggar ketentuan tentang berkata-kata. Belum lagi tentang sholat 5 waktu yang diharuskan ke masjid, yang salah satu waktu saja tidak dijalankan, maka dijamin 30x push up sudah menunggu untuk dikerjakan. Nah kalo 5 waktu mangkir, jumlah push up-nya berapa? Mesti baru ngitung aja udah cape’, pegimana push up-nya? Dijamin Gempor tu tangan...

            Sebetulnya, apa sih tujuan diberlakukannya hukuman itu? Kalo kita mau jujur (sebagaimana sering dikatakan oleh tim DT di masjid), terutama jika dilihat dari sudut pandang perubahan dan peningkatan diri kita menuju diri yang lebih baik, beberapa aturan itu bernilai sangat positif. Tidak lain adalah agar kita terbiasa untuk melakukan sesuatu yang baik. Sebagaimana yang pernah disampaikan tentang visi Zubair oleh wali asrama, yaitu bahwa ketika lulus nanti, diharapkan bahwa calon alumni Zubair 2009-2010 adalah menjadi orang-orang  yang pribadinya teratur, disiplin dan bertanggungjawab. Nah, jika kita menylogankan waj’alna lil muttaqiina imaama, maka kayaknya 3 sifat tadi adalah bagian dari kriterianya deh. Gmn,setuju ato tidak? (Dhuha, 6 Ajustus wua yibu cembilan)  
           

Senin, 13 Februari 2012

MENJADI GURU PROFESIONAL DAN ISLAMI


Investasi terbaik yang dilakukan sebuah bangsa terhadap masa depannya adalah pada bidang pendidikan, salah satunya pada program penyiapan sumber daya guru yang berkualitas. Hal itu karena guru menjadi ujung tombak suatu proses pendidikan. Guru yang berkualitas merupakan guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi. Berikut adalah pointer gagasan mengenai guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi yang kami uraikan berdasar asumsi dasar bahwa keberhasilan suatu peran bertolak dari jelas dan gamblangnya gambaran pemahaman atau mindset kita terhadap peran tersebut.

A. MEMAHAMI HAKIKAT TUGAS  KEGURUAN
1.       Guru: pekerjaan panggilan jiwa
Suatu pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan dengan segenap rasa cinta. Tugas mendidik generasi merupakan tanggung jawab agung yang diemban oleh seorang guru. Nasib sebuah bangsa maupun umat ada di pundak guru. Maka pekerjaan agung ini harus merupakan gerak lahir yang muncul dari dasar jiwa terdalam seseorang.
2.       Tugas utama seorang guru: Belajar!
Profesi guru, semua orang pasti sangat mafhum bahwa pekerjaan utamanya adalah mendidik dan mengajar. Namun seorang guru profesional adalah guru yang sangat memahami bahwa tugas mengajar tidak bisa dilakukan dengan efektif dan maksimal hasilnya kecuali sang guru tersebut yang senantiasa belajar. Maka seorang guru profesional dan Islami adalah seorang guru pembelajar.
3.       Guru: sosok berkarakter
Akhir-akhir ini banyak digembar-gemborkan tentang urgensi pendidikan karakter. Pengkajian maupun seminar-seminar diadakan dimana-mana, namun tentang bagaimana pendidikan berkarakter, semakin banyak dikaji semakin bias maksudnya. Bagi kami, pendidikan karakter bagi peserta didik takkan bisa di rasakan efektif hasilnya tanpa terlebih dahulu mencetak guru-guru yang berkarakter. Dan satu elemen yang mesti ada dalam karakter seorang guru adalah passion yang ia miliki dalam menerapkan nilai-nilai ideal seperti kedisiplinan, kesungguhan, kejujuran, kedermawanan dan akhlak luhur lainnya bagi diri dan peserta didiknya, maka dengan begitu, seorang guru akan memiliki karakter yang kuat yang akan memunculkan pengaruh pada peserta didiknya.
4.       Guru: pekerjaan syurga
Pada hakikatnya, pekerjaan seorang guru adalah mewariskan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama yang ia miliki untuk ia dakwahkan, juga ilmu dari bidang studi yang ia ajarkan. Dalam banyak hadits dikabarkan begitu banyak keutamaan yang didapatkan seorang guru, terutama guru yang berjiwa ustadz, atau guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu dari bidang studi yang diampunya, tapi juga menghubungkannya dengan fungsi penghambaan pada Rabbnya.

B. GURU DAN AMBISI MEMPERBAHARUI DIRI
                Pekerjaan sebagai seorang guru mengharuskan seseorang untuk terus memperbaharui dirinya. Bagaimana tidak, jika zaman terus berubah, ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan tentu saja usia seorang guru senantiasa bertambah, jika diantara semua hal yang berubah tersebut tidak dibarengi dengan wawasan, ilmu, maupun kompetensi yang juga tidak berubah, maka suatu keniscayaan kita akan menjadi guru yang terlindas zaman. Menjadi guru yang miskin nilai karena tak ada sesuatupun yang baru, yang berubah, yang akan didapatkan oleh murid-muridnya. Maka seorang guru yang profesional dan Islami merupakan seorang guru yang memiliki hasrat yang tinggi untuk senantiasa memperbaharui diri, tak kenal usianya sudah udzur dimakan waktu, terlebih para guru yang masih muda, semuanya berkewajiban untuk senantiasa meng-up grade ilmu dan kompetensinya, paling minimal ia harus selalu meningkatkan kemampuan wajib seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, serta kompetensi sosial. Wallahu a’lam bish shawwab.(Abu Usamah UTR)

Senin, 30 Januari 2012

The Power of Attitude





           The power of attitude, buku ini menarik perhatianku pada Indonesian Book Fair Desember 2011 lalu. Selain harganya yang murah (sebagai sebuah buku yang full colour dan HC) yang cuma 20 rebu perak, buku ini memiliki judul dan topik yang begitu menggugahku untuk membeli dan melahap habis isinya. “Sikap adalah satu hal kecil yang membuat sebuah perbedaan besar”, ini kalimat yang banyak didengung-dengungkan oleh sang penulis; Mac Anderson.

Didalamnya Ia banyak menulis tentang kisah dan perspektif tentang sikap-sikap yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Jika di buka lembar demi lembarnya, Anderson banyak menceritakan tentang ide dan tips untuk mengembangkan sikap positif. Tentang definisi sikap itu sendiri Ia tidak menuliskannya secara gamblang. Akan tetapi Anderson lebih sering mengupas tentang program-program pikiran maupun habbits apa yang mesti kita kembangkan untuk mendapatkan sikap yang positif itu.

          Dalam perjalanan membuka setiap halamannya, disamping kita akan menemukan gaya bercerita Anderson dalam menyampaikan nilai tentang sebuah sikap yang positif, kita akan menemukan setiap pergantian judul yang selalu diawali oleh kata mutiara maupun kalimat motivasi dengan tema besar macam hasrat, impian, lakukan sekarang juga, sukses, keteguhan hati, memaafkan, perdamaian, dan sebagainya. Lewat buku ini , Anderson ingin menyampaikan bahwa sikap –yang tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari-, merupakan sebuah tool yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Sebagai seorang pengusaha sekaligus penulis buku dan trainer, Mac Anderson telah mewariskan ide-ide yang cukup berharga dalam kaitannya dengan perpektif kesuksesan dan kebahagiaan yang katanya berpangkal pada sikap. 

           Sikap bagiku tidak lebih dari bagian terkecil dari kepribadian, atau kepribadian pada akhirnya merupakan rangkaian sikap yang kita tunjukkan dan dilihat serta dinilai oleh orang lain yang mengetahui, mengenal, dan berinteraksi dengan kita sehari-hari. Tentang kedudukannya yang begitu penting dalam konteks dakwah, bagiku sikap akan menjadi kunci pembuka pintu hati dari para mad’u kita. Bahkan mereka mengenal kita dari sikap yang kita tebarkan dalam keseharian mereka berinteraksi dengan kita. Dan kalaupun kita coba mengevaluasi manakala dakwah kita yang telah berbilang masa namun belumlah kita petik buahnya, maka mungkin yang menjadi awal bahan evaluas kita adalah mengenai sikap kita yang ditangkap oleh mereka. ‘Alaa kulli haal, tertarik untuk membacanya, silahkan cari pada stand penerbit Ufuk pada bookfair-bookfair berikutnya (tapi hati-hati pada penerbit ini, karena ‘manhaj’nya agak kurang bersahabat pada kelompok aktivis pengajian, bisa dilihat dari judul, tema dan isi dari buku-buku yang diterbitkan).Wallahu a’lam bish shawwab

Selasa, 09 Agustus 2011

ISTRI DAN BUAH HATI, ANUGERAH SEKALIGUS AMANAH YANG HARUS DI JAGA





                Teringat masa saat masih kuliah dahulu. Dalam gegap gempita aktifitas seorang mahasiswa yang memiliki segudang obsesi terhadap proyek perbaikan umat. Menyeruak sebongkah gelisah dari goa kesendirianku saat itu. Ya, betapa hati ini saat itu menginginkan seorang pendamping hidup untuk mengisi kesepian itu. Hingga saatnya tiba takdir yang tiada pernah berdusta, seorang perempuan yang dengan segenap kerendahan hatinya mau menerimaku menjadi suaminya. Kini, 2 tahun lebih telah berlalu sejak masa itu. Telah menghiasi dan membahagiakan hariku seorang istri dan seorang mujahid kecilku. Usamah, sudah setahun lewat delapan bulan kini usianya. Suami sekaligus ayah, betapa dua status itu menjadi medan tempurku untuk mengimplementasikan satu ayat yang selalu ku ingat; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim:6)

                Memiliki keluarga seperti memiliki suatu harta yang tak ternilai harganya. Seorang istri yang menentramkan hati, dilengkapi dengan seorang anak yang lucu dan membahagiakan jiwa, bagiku semua itu merupakan anugerah yang paling berharga yang kupunya. Suatu karunia yang Allah tetapkan pada makhluk-Nya, sebagaimana Ia memfirmankannya atas utusan-Nya Ibrahim ‘alaihi salam; “Dan Kami telah memberikan kepada-nya lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh”.(QS. Al-Anbiya:72).  Ya, memiliki buah hati adalah suatu anugerah tersendiri bagi seorang muslim, karena ia adalah nikmat yang tidak setiap orang maupun keluarga mendapatkannya. Maka sudah selayaknya seorang muslim yang telah berkeluarga dan memiliki buah hati untuk senantiasa mensyukuri nikmat agung ini. Suatu bagian dari untaian nikmat yang tak terhitung Allah berikan pada kita, yang karenanya ayat agung ini sangat hebat terasa; “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. Ar-Rahman, Allah sebutkan ayat ini lebih dari 30 kali)

Memiliki buah hati, disamping ia merupakan anugerah dan nikmat yang agung, ia juga merupakan amanah yang Allah titipkan pada kita. Selayaknya amanah, maka ia harus dijaga dan dipelihara dalam rangka misi untuk apa ia sesungguhnya diciptakan. Kalau dalam sebuah ayat Allah nyatakan misi kita hidup didunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka misi seorang anak yang Allah titipkan pada kita adalah untuk menjaga dan memelihara fitrah kehambaannya untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya semata. Itu adalah tugas dan amanah teragung yang Allah amanahkan pada kita berkaitan dengan anak-anak kita. Tugas yang dalam ayat sebelumnya dinyatakan pada Ibrahim alaihi salam, yakni untuk kita upayakan agar Allah menjadikan mereka orang-orang yang saleh sebagaimana Ibrahim senantiasa berusaha dan berdoa hingga Allah jadikan Ishak dan Ya’qub orang-orang saleh penerus risalah suci ayah mereka. Suatu tugas yang tidak ringan yang Allah bebankan pada setiap kita selaku kepala keluarga. Sesuatu yang karenanya pula disamping Allah sebutkan sebagai anugerah, Ia juga menyebutnya sebagai fitnah; Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar(QS.at-Taghabun:15).

Al-Qur’an dalam redaksi 30 juznya adalah firman Allah yang tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Berpegang teguh padanya adalah kunci kesuksesan hidup kita dalam apapun episodenya, termasuk dalam episode besar dalam hidup yakni berrumah tangga. Dalam realita hidup yang ada dihadapan kita saat ini, terhampar pemandangan yang tak sedap dipandang terkait fenomena rumah tangga. Ketidakharmonisan hubungan antara suami dan istri menjadi rahasia umum yang terjadi di banyak kehidupan rumah tangga, tidak sedikit pula yang mengakibatkan keretakan yang berujung pada perceraian. Jika kondisi umum rumah tangga yang terjadi adalah fenomena-fenomena semacam ini, maka apalagi yang bisa diharapkan dari bangunan sosial masyarakat manakala keluarga-keluarga yang ada sebagai satuan terkecilnya dilanda keguncangan. Inilah yang menjadi faktor utama generasi muda kita saat ini yang penuh dengan problematika. Semuanya bermula dari keluarga. Kebaikan akhlak seorang anak datang dari kebaikan pengajaran dari keluarganya. Demikan juga keburukannya, adalah efek yang datang dari keadaan dalam keluarga. Maka al-Qur’an memberikan rumus yang jelas dan tegas tentang kehidupan berkeluarga ini. Pedoman umum hingga khusus, semuanya di atur dalam kitab suci al-Qur’an dan dalam hadits rasul-Nya yang mulia.

Al-qur’an memberikan pandangan yang jelas sejelas matahari yang bersinar di tengah hari terhadap praktik berrumah tangga. Dari mulai tujuan dalam pernikahan, cara, kriteria pasangan yang ingin dinikahi, gambaran rumah tangga ideal, maupun segi-segi lain dalam hubungan pernikahan, segalanya diberikan rumusan detailnya, semacam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tekhnis dalam suatu tata aturan organisasi atau buku petunjuk manual pengoperasian alat tekhnologi tertentu. Kita tinggal menjalankannya berdasarkan apa yang tercantum didalamnya, semudah itu. Namun kemudahan itu tidak difahami oleh sebagian besar umat manusia yang hidup terutama dizaman ini. Mereka menjalani setiap episode hidup mereka dengan tanpa pedoman dan panduan, dan menjalankan episode kehidupan itu berdasar naluri semata. Dalam konteks pernikahan, banyak diantara pasangan suami istri tidak memiliki konsep yang benar dalam pernikahan mereka. Banyak diantara mereka yang hanya memahami bahwa pernikahan hanya sekedar tugas perkembangan yang harus dilalui tanpa bekal hakikat ilmunya. Padahal sudah menjadi suatu kebenaran umum bahwa untuk melakukan sesuatu harus diketahui dulu akan sesuatu yang akan dilakukan itu. Bukan hanya untuk diketahui secara sepintas, tapi mendalami sedalam hakikat yang bisa kita gali dari sesuatu itu. Dan hakikat terdalam dari sesuatu yang ada di dunia ini adalah tentang bagaimana agama mengatur tentangnya. Karena hanya agama yang mampu menjawab dan menjelaskan segala pertanyaan yang ada dalam benak umat manusia dengan tujuan akhir kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia itu sendiri.

Maka al-Qur’an adalah pula kitab tentang pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya dijelaskan rahasia-rahasia kebahagiaannya. Padanya didapatkan rumus-rumus penyelesaian dari persoalan yang muncul, apapun itu. Jika kehidupan adalah kumpulan soal dalam ujian, maka al-Qur’an adalah kunci jawabannya. Jika kita memilikinya, sudah pasti kehidupan yang kita jalani akan dinilai sempurna, oleh Allah Azza wa Jalla Rabb yang Maha Benar dalam penilaiannya.