Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 04 September 2014

BELAJAR BUKAN HANYA DI SEKOLAH (Pesan untuk menjadi pribadi pembelajar)



                Membincang topik tentang “belajar” di masyarakat kita biasanya diasosiasikan dengan sebuah tempat dan atau institusi bernama “Sekolah”. Segera saja setelah kita mengangkat tema obrolan ini baik saat kongkow di warung kopi, atau ketika berada di majelis rumpi ibu-ibu di tukang sayur, atau mungkin sekedar diskusi ringan selepas shalat berjama’ah di masjid, tema tentang “belajar” atau “pembelajaran” hampir pasti kata yang mereka maksud adalah “sekolah”.

          “Belajar” dan “sekolah” adalah dua kosa kata yang menyiratkan kesan yang sama, walaupun pada dasarnya antara keduanya berbeda. Belajar adalah sebuah kata yang menunjukkan akan aktifitas, baik fisik dan terutama mental dari sesuatu yang akan membuat seseorang berubah lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan sekolah adalah sebuah tempat dan atau lembaga yang secara formal mewadahi seseorang untuk belajar.

            Menilik pada pengertian dari kedua kata tersebut, kita bisa mengambil hakikat yang sangat besar dan bermanfaat. Belajar yang merupakan suatu aktifitas dan atau kegiatan di mana dengannya kita bisa menjadi lebih tahu, lebih cerdas, lebih baik, lebih hebat, lebih bijak, yang itu menggunakan berbagai potensi ragawi yang kita miliki dari indera yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Maka belajar bisa kita lakukan kapanpun, dimanapun, kepada siapapun, dan belajar apapun. Dan dengan begitu, anggapan yang menyebutkan belajar identik dengan sekolah merupakan salah satu bentuk dari sesat pikir yang sering dianut oleh masyarakat kita. Yang tergambar dalam benak kebanyakan dari kita bahwa belajar itu adalah duduk di kelas, mengikuti pelajaran dari guru, mengerjakan tugas, mendapat nilai. Padahal belajar bukan hanya itu, dan belajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Sekolah hanyalah merupakan salah satu tempat untuk kita melakukan pembelajaran. Kelebihannya hanyalah pada sisi formalitasnya. Sementara jika kita menginginkan pembelajaran yang lebih luas, maka kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan belajar apa saja.

 Allah Ta’ala telah memberikan kita anugerah berupa potensi-potensi akal, jasad dan jiwa sebagai sarana untuk kita menyerap pengetahuan. Kita dapat belajar dari melihat, dari mendengar, dari memikirkan sesuatu, dari meniru dan melakukan sebuah hal yang baru secara mandiri. Kita dapat mendayagunakan seluruh potensi itu yang kemudian membuat kualitas kepribadian kita menjadi lebih baik.

              Di dunia ini ada orang-orang yang bersekolah dan sukses, sebagaimana ada orang-orang yang bersekolah tapi hidupnya sengsara. Dan di dunia ini juga ada orang-orang yang tidak bersekolah tapi juga sukses, sebagaimana terdapat orang-orang yang tidak bersekolah dan hidupnya nestapa. Jadi, sekolah atau tidak sekolah sama-sama bisa sukses, namun juga sama-sama bisa gagal. Apa yang membedakan hanyalah satu kata; belajar, atau dengan kata lain menjadi seorang pembelajar.

Bagi seorang pembelajar, sekolah atau tidak sekolah ia akan sukses. Karena ia betul-betul mendayagunakan segala potensi dan sumber daya yang ia miliki untuk menarik hikmah dan manfaat, yang dengan begitu ia selalu berubah lebih baik, siapapun orangnya, apapun profesinya.  Namun sayangnya, kata ini –belajar-, atau juga tempat ini –sekolah-, adalah dua kata yang mungkin paling dibenci oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya buat remaja yang sedang menempuh tangga pendidikan formal di sekolah. Betapa sering kita lihat para pemuda dan pemudi tidak menggunakan waktu-waktu belajarnya dengan baik di sekolah. Atau bahkan tidak jarang kita melihat para pelajar itu memilih untuk tidak bersekolah, entah itu mereka “cabut” saat jam-jam sekolah, atau memang mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih untuk menjadi pengangguran.

Sebetulnya tidak sepenuhnya orang yang tidak bersekolah itu tercela, karena memang sejatinya pembelajaran itu bisa dilakukan di mana-mana. Namun dalam kebanyakan kasus di negeri kita, para remaja yang memilih tidak belajar di sekolah biasanya juga tidak belajar di tempat manapun mereka berada. Mereka lebih memilih mejeng di mall dan atau nongkrong di pinggir jalan dan benar2 tidak memanfaatkan potensi waktu yang mereka miliki untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Nikmat waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka sering mereka buang percuma hingga tidak menghasilkan manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara kita menjadi tidak produktif dan selalu terpuruk, dikarenakan golongan remaja dan pemudanya tidak berusaha memanfaatkan waktunya untuk kebaikan mereka, terlebih demi pembangunan negara.

Menjadi pribadi pembelajar sama sekali tak mengandung arti menjadi seorang murid di sekolah tertentu, atau menjadi mahasiswa kampus tertentu. Akan tetapi berpribadi pembelajar adalah menjadi seorang yang benar-benar berhasrat untuk selalu menjadikan setiap waktu mereka bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya. Mereka membaca buku, menonton berita, mendengar radio, berlatih ketrampilan berbahasa asing, menyimak wejangan orang-orang sukses, mengikuti training-training kompetensi. Mereka belajar berorganisasi, mereka terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mereka bergaul dan meluaskan hubungan pertemanan, mereka berhubungan baik dengan banyak orang. Mereka belajar mengemudikan kendaraan, mereka mengikuti kursus menjadi montir, atau kursus menjahit, atau pula kursus komputer. Pokoknya mereka benar-benar berusaha  memanfaatkan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kompetensi diri. Dan jika sudah begitu, persoalan kesuksesan, kemapanan materi, terjaminnya kualitas hidup, hanyalah merupakan hadiah yang pasti mereka dapatkan dengan sendirinya. Entah mereka menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yang sukses, pendidik dan akademisi yang berhasil, karyawan yang profesional, aparat negara yang amanah, atau sekedar menjadi petugas-petugas pelayan masyarakat di level apapun yang benar-benar berdedikasi tinggi.
Menjadi pribadi pembelajar adalah kunci akan kualitas hidup yang baik. Ia menjadi sebab kesuksesan seorang anak manusia, baik kesuksesan dunia, terlebih kesuksesan akhirat. Maka sudah selayaknya kita berusaha untuk menjadi pribadi pembelajar itu, meski tak mampu bersekolah tinggi-tinggi, tapi tetap berkesempatan untuk tetap berkompetisi menjadi yang terbaik. Kiranya tulisan ini akan ditutup oleh sebuah ungkapan inspiratif  tentang obsesi jiwa seorang pembelajar sejati ;
Setiap orang adalah guru
Setiap hal adalah ilmu
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap kejadian adalah pelajaran