Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 16 Februari 2012

Catatan Harian Republik Zubair 2: Atlet Push up......



                “Kepada penghuni kamar 1, 3 dan 4, diharap untuk segera berkumpul di RSG!!!”, kira-kira begitu instruksi sang wali asrama kepada para santri anggota asramanya. Selanjutnya, hitungan dibarengi gerak naik turun badan yang biasa disebut dengan push up pun menjadi panorama Zubair ba’da isya itu.
             
           He...he...he..., kelihatannya malam itu para santri tersebut terpaksa untuk menjalani punishment. Pasalnya, meninggalkan kamar tak berpenghuni dengan kondisi putaran baling berangin alias kipas angin masih menyala, eh...berputar. 

Yupz, salah satu kesepakatan akan aturan yang diterapkan adalah berkenaan dengan penggunaan sarana wal prasarana, dalam bab ini yaitu mengenai kipas angin yang harus almarhum (baca:dimatikan) ketika para penghuninya keluar untuk beraktifitas. Mengapa aturan ini? Itu karena visi yang pernah disampaikan oleh wali asrama yang salah satunya tentang rasa tanggung jawab santri Zubair yang harus senantiasa terpupuk (emangnya taneman po’on). Maka dari itu, untuk para anak-anakku Bani Zubair (maksudnya anak-anak Zubair), menjadi pribadi disiplin dan bertanggungjawab, yuk sama-sama kita LANJUTKAN!!!☺(Pagi indah di Zubair, 22 Juli ’09)

Catatan Harian Republik Zubair 3: Yuk Gelorakan pagi......


Salah satu yang sering dikoar-koar oleh wali asrama (dan wakilnya) adalah tentang habits  atawa kebiasaan yang positif yaitu menyibukkan diri di waktu pagi. It means, waktu pagi terutama setelah sholat shubuh sering digunakan oleh banyak santri untuk kembali melanjutkan aktivitas malamnya alias tidur, padahal pagi dan malam kan beda, sebagaimana malam yang nggak sama dengan pagi (koq dibolak-balik ya?!#@!). Waktu malam adalah waktu yang amat sangat paling tepat untuk merapatkan mripat (baca: mata, –bahasa djawa-), sedangkan waktu pagi adalah waktu yang paling sangat amat pantas untuk beraktifitas, hingga semua pekerjaan tuntas, tas...tas...

            Bicara pekerjaan, kan banyak sekali tuh yang bisa kita bereskan, contoh untuk skala kamar tidur, kita bisa merapikan tempat tidur beserta spreinya, bantal beserta gulingnya, buku-buku beserta meja belajarnya, lantai beserta segala kekotoran dan kekacauan kondisinya, ininya beserta itunya, itunya beserta ininya, puokoknya buanyak deh yang bisa dikerjakan. Eh itu baru skala kamar tidur lho, belum bicara koridor, RSG, halaman asrama,de el el. Jadi, ngeliat setumpuk pekerjaan (baca:tanggungjawab) kaya gitcu, kayaknya back to sleep in the morning bukan pilihan tepat dech. Kalo alasan itu semua belum cukup, terakhir nih ustadz tunjukkin doa Rosululloh yang hanya dimengerti oleh mereka yang menggelorakan pagi dengan aktivitas, ingat!!! hanya mereka yang mengerti akan keutamaan waktu pagi, bukan yang habis shubuh diterusin tidur lagi. Rasululloh pernah berdoa; “Ya Alloh, berkahilah umatku di waktu pagi(HR. Abu Daud). (Pagi yang hebat di Zubair,25 Juli ’09)
               

Catatan Harian Republik Zubair 4: 20:20 dan 3:30......


            Bukan!! maksud tulisan judul di atas bukan menunjuk pada jam delapan malam lewat dua puluh, dan atau jam stengah empat dini hari, melainkan menyimbolkan sebuah hukuman atas pelanggaran tertentu terhadap peraturan yang berlaku di Republik Zubair. Angka-angka ini akhir-akhir ini muncul ke permukaan hingga menjadi semacam “momok” bagi mereka yang dikenakan peraturan ini.

            20:20, ia berdefinisi hukuman 2o ribu plus push up 20x ketika penghuni melanggar ketentuan piket asrama yang dibebankan kepada setiap pemilik kamar, dari kamar 1 hingga 8. 3:30 berdefinisi hukuman 3x istighfar dan 30x push up ketika ada “Zubair mania” yang melanggar ketentuan tentang berkata-kata. Belum lagi tentang sholat 5 waktu yang diharuskan ke masjid, yang salah satu waktu saja tidak dijalankan, maka dijamin 30x push up sudah menunggu untuk dikerjakan. Nah kalo 5 waktu mangkir, jumlah push up-nya berapa? Mesti baru ngitung aja udah cape’, pegimana push up-nya? Dijamin Gempor tu tangan...

            Sebetulnya, apa sih tujuan diberlakukannya hukuman itu? Kalo kita mau jujur (sebagaimana sering dikatakan oleh tim DT di masjid), terutama jika dilihat dari sudut pandang perubahan dan peningkatan diri kita menuju diri yang lebih baik, beberapa aturan itu bernilai sangat positif. Tidak lain adalah agar kita terbiasa untuk melakukan sesuatu yang baik. Sebagaimana yang pernah disampaikan tentang visi Zubair oleh wali asrama, yaitu bahwa ketika lulus nanti, diharapkan bahwa calon alumni Zubair 2009-2010 adalah menjadi orang-orang  yang pribadinya teratur, disiplin dan bertanggungjawab. Nah, jika kita menylogankan waj’alna lil muttaqiina imaama, maka kayaknya 3 sifat tadi adalah bagian dari kriterianya deh. Gmn,setuju ato tidak? (Dhuha, 6 Ajustus wua yibu cembilan)  
           

Senin, 13 Februari 2012

MENJADI GURU PROFESIONAL DAN ISLAMI


Investasi terbaik yang dilakukan sebuah bangsa terhadap masa depannya adalah pada bidang pendidikan, salah satunya pada program penyiapan sumber daya guru yang berkualitas. Hal itu karena guru menjadi ujung tombak suatu proses pendidikan. Guru yang berkualitas merupakan guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi. Berikut adalah pointer gagasan mengenai guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi yang kami uraikan berdasar asumsi dasar bahwa keberhasilan suatu peran bertolak dari jelas dan gamblangnya gambaran pemahaman atau mindset kita terhadap peran tersebut.

A. MEMAHAMI HAKIKAT TUGAS  KEGURUAN
1.       Guru: pekerjaan panggilan jiwa
Suatu pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan dengan segenap rasa cinta. Tugas mendidik generasi merupakan tanggung jawab agung yang diemban oleh seorang guru. Nasib sebuah bangsa maupun umat ada di pundak guru. Maka pekerjaan agung ini harus merupakan gerak lahir yang muncul dari dasar jiwa terdalam seseorang.
2.       Tugas utama seorang guru: Belajar!
Profesi guru, semua orang pasti sangat mafhum bahwa pekerjaan utamanya adalah mendidik dan mengajar. Namun seorang guru profesional adalah guru yang sangat memahami bahwa tugas mengajar tidak bisa dilakukan dengan efektif dan maksimal hasilnya kecuali sang guru tersebut yang senantiasa belajar. Maka seorang guru profesional dan Islami adalah seorang guru pembelajar.
3.       Guru: sosok berkarakter
Akhir-akhir ini banyak digembar-gemborkan tentang urgensi pendidikan karakter. Pengkajian maupun seminar-seminar diadakan dimana-mana, namun tentang bagaimana pendidikan berkarakter, semakin banyak dikaji semakin bias maksudnya. Bagi kami, pendidikan karakter bagi peserta didik takkan bisa di rasakan efektif hasilnya tanpa terlebih dahulu mencetak guru-guru yang berkarakter. Dan satu elemen yang mesti ada dalam karakter seorang guru adalah passion yang ia miliki dalam menerapkan nilai-nilai ideal seperti kedisiplinan, kesungguhan, kejujuran, kedermawanan dan akhlak luhur lainnya bagi diri dan peserta didiknya, maka dengan begitu, seorang guru akan memiliki karakter yang kuat yang akan memunculkan pengaruh pada peserta didiknya.
4.       Guru: pekerjaan syurga
Pada hakikatnya, pekerjaan seorang guru adalah mewariskan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama yang ia miliki untuk ia dakwahkan, juga ilmu dari bidang studi yang ia ajarkan. Dalam banyak hadits dikabarkan begitu banyak keutamaan yang didapatkan seorang guru, terutama guru yang berjiwa ustadz, atau guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu dari bidang studi yang diampunya, tapi juga menghubungkannya dengan fungsi penghambaan pada Rabbnya.

B. GURU DAN AMBISI MEMPERBAHARUI DIRI
                Pekerjaan sebagai seorang guru mengharuskan seseorang untuk terus memperbaharui dirinya. Bagaimana tidak, jika zaman terus berubah, ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan tentu saja usia seorang guru senantiasa bertambah, jika diantara semua hal yang berubah tersebut tidak dibarengi dengan wawasan, ilmu, maupun kompetensi yang juga tidak berubah, maka suatu keniscayaan kita akan menjadi guru yang terlindas zaman. Menjadi guru yang miskin nilai karena tak ada sesuatupun yang baru, yang berubah, yang akan didapatkan oleh murid-muridnya. Maka seorang guru yang profesional dan Islami merupakan seorang guru yang memiliki hasrat yang tinggi untuk senantiasa memperbaharui diri, tak kenal usianya sudah udzur dimakan waktu, terlebih para guru yang masih muda, semuanya berkewajiban untuk senantiasa meng-up grade ilmu dan kompetensinya, paling minimal ia harus selalu meningkatkan kemampuan wajib seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, serta kompetensi sosial. Wallahu a’lam bish shawwab.(Abu Usamah UTR)