Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 01 Maret 2012

ULASAN FILM THE TRUMAN SHOW


                                                                        UNTUNG TRI RAHMADI
                                                                        F1A002040
TUGAS SOSIOLOGI KOMUNIKASI: ULASAN FILM THE TRUMAN SHOW                 


PENDAHULUAN

            Tidak masuk akal. Kata-kata itu yang kemudian terlintas setelah saya menyaksikan tayangan film layar lebar yang berjudul The Truman Show pada pertemuan kuliah Sosiologi Komunikasi di selasa yang lalu. Film ini memang mewakili zamannya, yaitu era kita sekarang ini yang perkembangan teknologi dan komunikasinya begitu pesat. Seakan-akan, film ini mewakili apa yang saya sebut dengan “kesombongan zaman” yang merasa mampu untuk berbuat segalanya atas dunia dan diri mereka sendiri. Di satu titik pandang, saya mencoba melihatnya dari perspektif kritis. Film yang dibintangi oleh aktor komedian kawakan Jim Carrey itu memang film yang diproduksi di daratan Amerika. Artinya, dalam cara berfikir ini saya coba menerka-nerka bahwa film ini menjadi salah satu media pembawa misi ideologi dari negara tersebut. Entah sebagai etalase kemajuan peradaban yang coba dipamerkan, atau juga mungkin menjadi film simulator atas tingkat kemampuan intelijen Amerika yang dari film ini memperlihatkan kehebatan sekaligus ke-detailan mereka dalam melakukan aktifitas-aktifitas spionase. Namun, satu poin positif yang dapat saya apresiasikan dari film itu adalah keberbedaan isi cerita yang disuguhkan. Artinya, film ini sangat bercorak kreatifitas pemikiran yang mungkin jika kita coba jadikan cermin bagi industri film nasional, maka kita akan sangat malu dibuatnya. Betapa tidak, bahwa film-film nasional yang katanya sekarang telah bergeliat kembali, selalu saja tidak memunculkan nuansa yang baru selain kisah cinta para remaja, ataupun tidak jauh dari film-film yang berbau mistis. Tapi, seperti yang dikatakan oleh para ahli komunikasi, bahwa tayangan media dalam suatu negara adalah representasi dari keadaan masyarakatnya. Artinya, dari pandangan ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masyarakat kita yang tercakup dalam negara yang bernama Indonesia itu kehidupan kesehariannya tidak terlepas dari permasalahan cinta para remajanya, dan pemikiran mistis yang menjadi logika berfikir masyarakatnya. Saya pikir inilah refleksi yang dapat di sarikan dari film tersebut dalam perspektif kebangsaan kita. Suatu pandangan yang agak bernuansa miris-negatif atas kondisi bangsa sendiri. Tapi sesungguhnya tidak dalam misi itu tulisan ini ditulis, melainkan menjadi sebuah ulasan atas film The Truman Show yang kemarin telah kita sama-sama saksikan.
            

SINOPSIS

Film ini mengisahkan tentang seseorang yang bernama depan Truman yang sejak dalam kandungan hingga ia dilahirkan, dan saat tapak demi tapak hari ia menjalani kehidupannya hingga usianya menginjak angka yang ketigapuluh dijadikan aktor utama dari sebuah skenario raksasa industri sinema yang ia sendiri tidak menyadarinya. Bertempat di sebuah pulau yang menjadi latar dari pembuatan film biografi yang live atau disaksikan secara langsung oleh jutaan pemirsa disetiap detiknya, dalam setiap harinya, tanpa rehat iklan ataupun habisnya durasi penayangan. 24 Jam sehari, 60 menit dalam satu jam, dan 60 detik dalam satu menitnya, Truman selalu dalam posisi pengambilan gambar dari kamera-kamera yang ada disetiap tempat dimana tokoh tersebut bertempat tinggal. Bahkan dikatakan jumlah kamera yang dioperasikan sebanyak 5000 unit, dengan pemeran figuran sangat banyak yaitu sejumlah penduduk pulau yang dinamakan Seahaven tersebut. 

            Dari semenjak Truman dilahirkan, hingga ia tumbuh menjadi remaja, ia menikah, bekerja, dan setiap detik ia menghabiskan usianya tidak pernah sejenakpun lepas dari pengawasan kamera. Selama lebih dari tigapuluh tahun ia menjalani skenario sepihak itu tanpa pernah sedikitpun tersadar. Dan, baru kemudian pada usianya yang sudah menginjak angka kepala tiga, ia merasakan kejanggalan-kejanggalan kehidupan yang dijalaninya yang seolah-olah semuanya begitu sempurna. Keanehan-keanehan pula pernah dialaminya yang mengasumsikan akan ketidakberesan kehidupan yang ia jalani. Salah satunya ketika ia menghabiskan masa remajanya, ia saat itu jatuh cinta dengan seorang wanita yang justru dalam skenario itu, wanita tersebut bukanlah aktris yang dipersiapkan untuk menjadi istri dari Truman. Mereka kemudian menjalin hubungan yang terjadi dengan sangat singkat. Sang wanita yang mengetahui bahwa Truman hanyalah seorang aktor tungggal dalam skenario raksasa sebuah jalan cerita industri sinema mencoba memberitahukan hal tersebut. Tapi karena Truman saat itu hanyalah remaja biasa yang masih polos hanya bisa bertanya-tanya gerangan apa yang dimaksud oleh sang wanita tersebut. Pertanyaan tersebut senantiasa ada hingga kemudian ia mejalani kelanjutan kehidupannya dan menikah dengan seorang wanita lain yang memang dipersiapkan untuk menjadi istrinya dalam film kehidupan Truman itu. 

Lalu, semua kejanggalan yang pernah dialaminya itu, antara lain insiden dengan sang wanita masa lalu, kemudian kisahnya dengan sang ayah yang tewas tenggelam ketika bersamanya , lalu kemudian terjadi pula kejadian aneh pertemuannya dengan sang ayah yang misterius, lalu juga perbincangan dengan ibu serta istrinya tentang satu dan beberapa hal lain, kisah mekanisasi pola hidup masyarakat yang ia sadari dan amati, hingga kemudian keinginannya yang membara untuk melakukan migrasi ke Fiji yang selalu saja terbentur dengan keadaan sempurna yang menghalanginya. Semua kejadian itu ia coba untuk memikirkannya satu persatu, dan kemudian ia coba menjadikannya satu rantai peristiwa yang mengasumsikan akan satu hal, yaitu keasingannya dalam kehidupan yang dibangunnya sendiri ditengah-tengah peradaban masyarakat Seaheaven.

Pada titik itu, Truman belum benar-benar sadar bahwa ia hanyalah menjadi satu bagian utama dan satu-satunya dari sebuah skenario cerita dari sang sutradara. Hingga pasca kejadian klimaks upayanya untuk melarikan diri, ia merencanakan secara rahasia keinginannya untuk meloloskan diri untuk kedua kalinya dengan strategi muslihat yang ia bangun. Dan, agaknya kali ini ia berhasil mengelabui sang sutradara film raksasa ini. Ia berhasil melepaskan diri dari setiap tangkapan kamera yang selalu mengintainya, dan akhirnya ia berhasil keluar dari kota menuju pelabuhan tempat dimana ia akan melakukan perjalanan antar pulau dan melarikan diri dari Seaheaven.   

Akhirnya, skenario cerita itu mengalami kekacauan. Sang tokoh utama yaitu Truman mengetahui bahwa ia hanyalah seorang aktor sebuah film panjang tentang kisah hidup dirinya sendiri, yang diperankan oleh dirinya sendiri, dan itu dilakukan di sepanjang hidupnya sendiri, tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Pada bagian akhir digambarkan betapa gigihnya sang sutradara menghalangi Truman agar tidak dapat keluar dari latar Seaheaven. Dengan berbagai efek cuaca seperti yang dilakukan di berbagai pembuatan film layar lebar. Disana terdapat badai, gulungan ombak, dan digambarkan pula permainan perjalanan hari yang dapat dengan mudah dirubah dan digonta-ganti. Betul-betul studio raksasa dan pembuatan sinema yang serba bisa dan membuat saya berpendapat bahwa itu semua mustahil adanya. Sangat tidak masuk akal, tapi merupakan film yang unik sekaligus film yang menarik. Film ini tidak ditayangkan secara keseluruhan karena memang ada “kesalahan tekhnis“. Tapi pada bagian penghujungnya digambarkan Truman dengan kapal yang ditumpanginya terbentur suatu batas dinding yang tak terlihat, dan itu meyakinkannya jika memang ia berada dalam suatu kerangka rekayasa cerita kehidupan yang difilmkan secara nyata. The Truman Show, betul-betul film yang mengandung imajinasi yang luar biasa.    


ULASAN

            Paling tidak, film ini mengkerangkakan kondisi aktual sekarang ini, terutama kaitannya dengan dunia media, teknologi yang menjadi penopangnya, serta kapitalisme yang menjadi penggeraknya. Film tersebut merupakan salah satu tayangan yang unik. Seperti kebanyakan film maupun tayangan acara lainnya yang mengajak emosi dari para penontonnya untuk ikut ambil bagian dalam jalannya cerita, namun keunikannya terletak pada proses pembuatannya yang nyata, langsung pada kehidupan tokoh pemerannya. Mirip seperti reality show yang marak ditayangkan oleh stasiun televisi akhir-akhir ini.

            Tampaknya, film ini juga merupakan semacam film simulasi kapitalisme dalam melancarkan aktifitasnya di dunia media khususnya di lini perfilman. Secara tidak langsung, bagi mereka yang mengerti akan dunia media sebagai industri kapitalisme, film ini seperti ingin bermaksud mengatakan, ”Seperti inilah kami bekerja, membohongi para pemirsanya, mengeruk keuntungan yang luar biasa banyaknya”. Diceritakan pula dalam film tersebut, bahwa pembiayaan produksi serta keuntungan dari pembuatannya didapatkan dari iklan komersil yang senantiasa terselip dalam setiap adegannya. Jadi walupun dalam film tersebut penayangannya nonstop tanpa jeda, namun ia tetap dapat eksis karena memang aliran dananya juga dapat terus mengalir dari iklan-iklan dalam setiap adegan tersebut.

            Satu hal yang paling mengenaskan yang secara tersirat ditunjukkan oleh film tersebut adalah sisi kapitalisme yang tanpa belas kasih mengeksploitasi suatu pihak untuk keberlangsungan kepentingannya. Truman dikisahkan sebagai satu-satunya pihak yang dengan sangat kejam dieksploitasi sedemikian rupa untuk memenuhi gairah kapitalis yang berusaha untuk menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dari acara reality show tersebut. Dan ini juga merepresentasikan akan kisah sebenarnya kehidupan kita sekarang, dimana dunia sepenuhnya sudah berada dalam genggaman kapitalisme dengan senjatanya bernama teknologi, dan dengan pelurunya bernama media. Sedangkan minoritas yang diceritakan dalam film tersebut adalah seorang wanita yang mencintai Truman dan coba memberitahukan akan kejadian sebenarnya dari kehidupan Truman. Namun sayang, posisinya yang lemah sebagai wanita, disamping juga wanita tersebut hanyalah segelintir pihak yang sadar dan berani melawan semua keadaaan yang sangat eksploitatif tersebut.  

            Film tersebut setidaknya pula menggambarkan kita akan hal lain, yaitu tentang kehidupan masyarakat manusia sekarang ini yang tidak lepas dari cengkraman industri media dan teknologi yang selalu mengelilinginya, dengan disadari ataupun tidak, baik sebagai objek, maupun sebagai subjek (pengguna). Tapi di atas itu semua, film tersebut merupakan film yang sangat kreatif -sebagaimana kapitalisme yang juga sangat kreatif- yang banyak meninggalkan pandangan-pandangan kritis akan kehidupan yang kita jalani sekarang ini yang kesemuanya sangat mekanistis, setiapnya bersifat dominatif. Dengan kata lain, setidaknya film tersebut juga punya peran mencerdaskan pemirsanya, setidaknya bagi saya. Dan, pada hakikatnya inilah peran asasi media, yaitu mencerdaskan, bukan justru menjadi media pembodohan, sekali lagi bukan.

PUISIKU UNTUKMU CALON SUAMI


Saat langkah kaki tlah mulai kau tempuh
Atas kalimat-Nya kau halalkan ia
Sungguh itu bukanlah sembarang sumpah
Mitsaqan ghalizhzhan Al-Qur’an menyebutnya

Saudaraku, inilah satu fase baru hidupmu
Bersama seseorang kau coba raih ridha-Nya
Maka muliakanlah sahabatmu
Sebagaimana sang manusia mulia sangat memuliakan kaum mereka

Rumah tangga ibarat kendaraan
Yang kau kemudikan ke arah tempat tujuannya
Maka menjadilah pengemudi yang baik
Dengan ilmu sebagai rambu-rambu

Sederhana pesan yang ingin kusampaikan
Kepadamu, tentunya juga kepadaku
Bahwasanya ilmu adalah sebelum segala sesuatu
Lebih dari itu, menjadilah kita para pecinta ilmu
Selalu...

Baarakallahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakumaa fii khair (HR. at-Tirmidzi)

Cihideung forest, 18 June ‘09
bINGKIS Kata untuk uSt. As'Ad
  -U3 & V3-

SEKILAS PERKATAAN SALAF TENTANG URGENSI WAKTU


                 Al-Imam asy-Syafi’i ketika mengomentari surat al-Ashr mengatakan: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas makhluknya kecuali surat ini, niscaya ia mencukupi mereka”.
Saudara-saudara seiman, Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh yang mengatur tentang segala aspek kehidupan kita. Salah satu aspek yang bernilai agung yang di ajarkan dalam Islam adalah dalam keitannya dengan konsep waktu dan pemanfaatannya. 

                 Di dalam surat al-Ashr, betapa Allah memberikan satu rumus yang sangat jelas tentang orang beriman kaitannya dengan waktu. Bahwa orang yang beriman adalah yang benar-benar memanfaatkan waktunya, dan hanya merekelah orang-orang yang beruntung itu. Sebaliknya, orang-orang yang merugi adalah orang yang menyia-nyiakan amanah waktu yang Allah titipkan untuknya. Maka marilah kita menggunakan waktu kita seoptimal mungkin, baik untuk urusan duniawi terlebih untuk urusan ukhrawi. Dan janganlah kita termasuk seperti orang yang dibicarakan oleh sahabat mulia berikut ini:  

Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :
“Sungguh saya benar-benar membenci orang yang kosong, tidak beramal untuk dunia dan tidak beramal pula untuk akhirat.” [Bayan Fadhli ilmis salaf hal. 38]

PUISI DARI SEORANG TEMAN


Bismillah…

Di kota Satria…
Terik mentari belum begitu menyengat
Aroma embun pun belum sempurna sirna
Genit burung-burung sempurnakan nuansa
Dan engkau hadir dalam takdir-Nya

Tangga usiamu kini mencapai satu tahun kurang
Disaat sang panutan bersatu dengan belahan jiwanya

Dan tubuhmu masih tegak di kota ini
Membangun cita dari bata tarbiyah dengan lekatan ukhuwah…

Saudaraku, ana uhibbuka Fillah…
Saudaraku, ana uhibbuka Lillah…

Sungguh Alloh menciptakan manusia dengan takdirnya masing-masing
Sungguh Alloh telah menghadirkan dirimu dalam bait prosa yang berbeda
Hadir dalam azzammu memperbaiki
Menggurat sejarah dengan kecintaan kepada Rosul dan atsarnya
Maka tetaplah seperti itu
Menjadi bagian dari kehidupan yang engkau citakan

Maka hadirlah dengan khasmu, tidak yang lain
Berbuatlah meski engkau hanya mampu mengerdipkan mata disaat itu

Sempurnakanlah sejarahmu !

                                                                                                                                               
abdu thoyyib *

* Gores tausyiah seorang al-akh fillah
   Pada perjumpaan lingkaran ukhuwwah di jalan dakwah
   Di hari miladku yang ke-24
   Ya Alloh ridhoilah perjalanan kami menuju-Mu...
Abdurrahman Syahadah UTR

LETS LEARN FROM THEM

            Pare is one of subdistrict in kediri regency and east java province who has spectacular achievement. As a little town, Pare is known as an english village. It’s name is famous in around of Indonesia as a village that become purpose to them who wants to study english or to increase their english ability. And for it intention that we had sent there.
 
            More than three weeks we had spent our holiday in Pare to study more about english. For each of us, three weeks could be too short to learn and mastery about english. But however, we have got spent our time to study english in Pare, at least our knowledge or skill about english might be increasing.
 
            There is many reasons why that Pare became such as famous village to study about english. As a student of one of the biggest english course institution in Pare namely Basic English Course (BEC), I’ll try to explain it with my experience for more than three weeks there and what is the special side of english learning in Pare, especially at BEC. But before it, I will explain about BEC as one of biggest english course in Pare and its contribution to make Pare became famous as an english village.
 
            BEC was found in 1977 and became one of pioneer in english course in Pare. It history couldn’t be detached from one name, Muhammad Kalend. Mr. Kalend is the founder of BEC and lead the institution till now. His merit is uncountable to make Pare just like we know nowadays. Under his handling, BEC and Pare were becoming a spectacular name to learning english. The economic movement of this village were growing drastic.
 
            As the one of the biggest english course institution, BEC had graduated many students who has good ability to use english for it necessary. Several times this course has covered by some television station. It makes this course is the famous english course in pare and hunted by many students candidate.
 
            BEC as an english course institution has many superiority compare with the others english course institution in Pare. As one of pioneer of english course in Pare, it is one of superiority that BEC hold it. Beside it, the superiority of BEC can divide from their human resource and the values system that they have built it. Talking about their human resources is couldn’t be detached from the BEC’s leader Mr. Kalend. He has strong influence in BEC history until BEC became as big as now. I think Mr. Kalend was such a great leader. He leads the institution with strongly principe, such as discipline, tidiness, honesty, sportifity, resoluteness and familiarly. And he was became the first model to perform those principe. Maybe it is the only reason that BEC could developt their values system. In every lesson meeting, all theachers always come on time. And twice that we had class with Mr. Kalend is always he is the first person that has coming. Some teachers said that Mr. Kalend always comes ten minutes before the event were begin. He was a key figure on BEC expansion.(abu usamah UTR)