Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 20 Mei 2012

SETITIK IBRAH TENTANG PENDIDIKAN DI DALAM KELUARGA


Ahmad* namanya. Ia-lah salah satu santri yang menghuni asrama Zubair di periode 2009-2010. Ia berasal dari kota Bandung, sebuah daerah yang konon dahulu berjuluk Paris Van Java. Saat ini, ia duduk di kelas sembilan yang berarti itu adalah tahun terakhirnya di masa tiga tahun menjadi santri di SMP Nurul Fikri Boarding School.

Betapa saya ingin menceriterakan ulang sebuah pengalaman dengan keluarganya. Suatu ketika di hari Sabtu, Ayah, Ibu serta kedua adik Ahmad datang menjenguk sembari berniat mengajak Ahmad refreshing menginap di luar pesantren. Ketika mengobrol dengan sang ayah yang menanyakan tentang bagaimana keseharian Ahmad di asrama. Saya mencoba menjawab seadanya, bahwa Ahmad termasuk anak yang baik, mudah untuk bangun dan berangkat menuju ke masjid dan sekolah, serta rajin menjaga kebersihan. Intinya, ia adalah satu dari segelintir santri yang cukup mandiri yang mendiami asrama ini. Mendengar jawaban saya, sang ayah menimpali dengan menceritakan sekilas tentang pola pendidikan yang ia terapkan di rumah. Kemudian, sekonyong-konyong saya dihadapkan pada sebuah gambaran yang sangat aktual berkaitan dengan apa yang di ceritakan ayah Ahmad tentang pendidikan yang ia terapkan untuk anak-anaknya. Saat kami tengah saling bercakap tentang pola pendidikan ayah Ahmad di rumahnya, adik Ahmad paling kecil yang masih berusia dua tahun baru saja menyelesaikan keperluannya di kamar mandi. Seketika sang adik mengenakan celananya lengkap dengan celana dalam dan celana panjangnya seorang diri, tanpa dibantu oleh ibunya. Seketika saya terkagum. Bagi saya, itu menjadi gambaran pola pendidikan macam apa yang diterapkan oleh sang ayah. Maka demi melihat pengalaman itu, saya katakan kepada ayah Ahmad bahwa tidaklah heran saya dengan Ahmad yang memiliki pola hidup  mandiri, karena memang ia mendapatkan pengajaran itu di rumah langsung dari orang tuanya.

Mendengar komentar itu, sang ayah pun menceritakan suatu pengalaman unik saat Ahmad kecil. Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan dengan menumpang angkot. Rupanya ada salah satu penumpang angkot yang membuang sampah sembarangan ketika di dalam angkot tersebut. Melihat itu, Ahmad kecil merespon dengan kalimat protes kepada penumpang tadi agar tidak membuang sampah sembarangan.

Berdecak kagum saya mendengar sekaligus mendapati pengalaman tentang kisah sebuah keluarga dalam menanamkan nilai-nilai pada anak-anak mereka. Ternyata memang itulah jawaban tentang misteri karakter dan kepribadian seorang anak yang berbeda-beda. Ada yang baik, rajin, jujur, menghargai orang lain, hemat dan mandiri. Akan tetapi ada juga sebaliknya yang agak kurang baik. Pembohong, kotor, berantakan, malas, dan sebagainya.

Setahun pertama pengalaman menjadi wali asrama di sekolah boarding ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran, terutama tentang betapa urgennya pendidikan anak pada masa-masa awal di keluarga. Bahwa masa itu adalah masa emas di mana penanaman nilai-nilai ideal harus secara massif di berikan kepada anak-anak kita. Sebelum ia lebih mengenal dan belajar dari lingkungan yang lebih luas lagi yang ia dapatkan baik dari teman pergaulan, sekolah, apalagi racun berbentuk kotak hitam bergambar yang sering menjadi barang kesayangan banyak keluarga itu. Maka pendidikan awal di keluarga tidak boleh sesaatpun kita nomor duakan, karena di sanalah corak dasar kepribadian dari buah hati kita akan terbentuk. Jika kita lalai dalam memberikan perhatian dan pengajaran pada usia-usia seperti ini, boleh jadi kita akan kehilangan masa depannya yang cerah. 

Zaman yang belum berhenti berputar ini makin hari menyisakan cerita tentang kisah tak sedap seorang anak yang tercerabut dari nilai-nilai ideal yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Semoga kita sebagai orang tua mampu memahami akan pentingnya pendidikan yang kita berikan pada masa usia ini, dan tidak sedetikpun melimpahkan tanggung jawabnya pada orang selain kita. Sebagian dari kita mungkin sedikit skeptis atau bahkan apatis dengan peran pendidikan yang kita terapkan kepada anak-anak kita. Yang kita tahu, saat kita memberikan nafkah yang layak kepada mereka, maka itu sudahlah cukup tanggung jawab yang kita jalankan kepada mereka maupun kepada Allah Azza wa Jalla. Marilah kita bermohon, semoga Allah berikan kita benteng pemahaman yang kokoh terhadap persoalan mendidik anak yang memang tidak mudah ini, dan menunjukkan kita cara-cara yang benar dalam mendidik anak, hingga kelak mereka menjadi generasi yang membawa umat ke ufuk tinggi sebagaimana Islam yang tinggi dan tidak ada yang sanggup menandingi. Amin ya Rabbal ‘Aalamiin. [Abu Usamah UTR, awal Januari 2010]   
∗ Samaran

Sabtu, 19 Mei 2012

PPM dan Pembelajaran Mendulang Makna Kehidupan




            Ahad 13 Mei 2012, ba’da maghrib @ masjid Abdul Malik, seorang thalib berbagi pengalaman tentang apa saja yang Ia dapatkan selama sepekan di desa PPM dimana Ia ditempatkan. Dengan gaya cueknya Ia bercerita tentang berbagai hikmah yang Ia dan teman-teman kelompoknya dapatkan. Di esok paginya, sesuai jadwal jam mengajar, saya masuk di kelas 11 IPS thalibah, walau tidak saya minta secara khusus, di akhir-akhir sesi mengajar, menggebu-gebu para thalibah bergantian menceritakan pengalaman mereka selama PPM di desa masing-masing.
            PPM merupakan singkatan dari Praktik Pengabdian Masyarakat, sebuah program anyar yang digulirkan unit Pembinaan Santri Pesantren Ibnu Salam. Selama sepekan, dengan dibagi menjadi beberapa kelompok, para santri kelas 11 disebar di berbagai desa di sekitar Cinangka hingga Sirih. Sejak Senin hingga Ahad mereka mencoba beraktualisasi di masyarakat, menghasilkan pengalaman berharga yang belum pernah mereka rasakan.
            Walau tidak full mendampingi 24 jam selama 7 hari di Kamasan, saya merasakan betul bahwa para santri selama diterjunkan di desa merasa sangat enjoy dengan peran mereka. Mengajar siswa SD hingga SMP atau yang sederajat, belajar mengaji Qur’an di TPA atau rumah para guru ngaji selepas maghrib, dan kegiatan-kegiatan lain yang penuh manfaat menjadi sensasi yang benar-benar mereka nikmati. Dan saya yakin itu pula yang dirasakan oleh santri-santri yang ditempatkan di desa lain dari program PPM ini.
Tentang kedalaman kesan maupun keberhargaan makna terhadap keberadaan mereka selama mengabdi di wilayah masing-masing menjadi sesuatu yang bagi saya pribadi sangat menggetarkan sekaligus mengharukan. Hal itu dapat saya rasakan saat dalam jenak-jenak membersamai mereka dalam beberapa malam di posko PPM desa Kamasan. Mereka bercerita tentang kegiatan selama seharian bersama para murid madrasah diniyah dan tsanawiyah. Tentang murid-murid diniyah yang lincah dan jenaka. Tentang santri pengajian yang antusias saat dikisahkan sebuah cerita. Tentang plastik besar berisi makanan hasil kiriman kelompok santri pengajian. Tentang tingkah polah mereka yang nge-fans pada kakak santri PPMnya. Bahkan saat suatu pagi saya ikut merasakan menu breakfast asli masakan beberapa santri PPM. Kesemuanya menjadi suatu pengalaman unik dan menggetarkan hati bagi saya secara pribadi. Terlebih saat menghadiri acara perpisahan PPM yang menandai usainya masa pengabdian mereka di desa Kamasan. Bergerombol para murid yang pernah mereka ajar seperti merasa berat berpisah dengan kakak-kakak yang selama sepekan belajar bersama mereka.
Memungut makna. Ya, sepekan keberadaan para santri di berbagai desa pada program PPM ini bagi saya menginspirasikan satu hal tersebut. Dalam waktu yang sangat singkat ini mereka belajar tentang berbagai macam hal dari suatu makna hidup yang sebetulnya telah mereka dapatkan sehari-hari dalam kehidupan mereka, baik secara khusus sebagai santri NF, atau secara umum sebagai insan makhluk ciptaan-Nya. Dalam masa itu mereka belajar tentang nikmatnya bersekolah dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dari adik-adik mereka di desa PPM. Belajar tentang proses mendidik yang ternyata tidak mudah, yang harapannya, karenanya mereka dapat mengambil hikmah untuk tidak bersikap sulit dalam prosesnya untuk dididik, baik oleh gurunya di sekolah, atau oleh orang tua mereka di rumah. Belajar tentang nikmatnya memiliki orang tua yang sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka. Belajar tentang betapa senangnya dihargai, dihormati dan dirindukan oleh murid-murid, yang harapannya pula mereka juga dapat melakukan hal yang sama pada guru-guru mereka di sekolah atau di manapun. Belajar tentang betapa gembiranya saat mengajarkan sesuatu yang sesuatu itu dimengerti dan diikuti oleh para murid mereka. Belajar tentang betapa terenyuhnya saat kita tahu bahwa orang lain begitu merindukan dan mengharapkan kehadiran kita, dan bukan sebaliknya yakni membenci dan tidak menginginkan kita bersama mereka. Belajar, belajar dan belajar, ada begitu banyak pelajaran dalam masa mereka terjun ke masyarakat selama PPM ini.
Terdapat bermacam hikmah yang dapat mereka petik dari kegiatan ini, sebagaimana saratnya makna berharga yang tanpa sadar sebetulnya dapat mereka temukan dalam keseharian hidup mereka selama ini. Semoga masa satu pekan ini menjadi periode waktu mereka meraih percepatan ilmu mengenai kebijaksanaan dalam kehidupan yang karenanya mereka berhak untuk lebih dini meraih mimpi sebagai pribadi pemimpin para orang-orang yang bertakwa. Amiin...Amiin...Ya Rabbal ‘Aalamiin. (abu usamah UTR)