Ahmad* namanya.
Ia-lah salah satu santri yang menghuni asrama Zubair di periode 2009-2010. Ia
berasal dari kota Bandung, sebuah daerah yang konon dahulu berjuluk Paris Van Java. Saat ini,
ia duduk di kelas sembilan yang berarti itu adalah tahun terakhirnya di masa
tiga tahun menjadi santri di SMP Nurul Fikri Boarding School.
Betapa saya
ingin menceriterakan ulang sebuah pengalaman dengan keluarganya. Suatu ketika
di hari Sabtu, Ayah, Ibu serta kedua adik Ahmad datang menjenguk sembari
berniat mengajak Ahmad refreshing menginap
di luar pesantren. Ketika mengobrol dengan sang ayah yang menanyakan tentang
bagaimana keseharian Ahmad di asrama. Saya mencoba menjawab seadanya, bahwa Ahmad
termasuk anak yang baik, mudah untuk bangun dan berangkat menuju ke masjid dan
sekolah, serta rajin menjaga kebersihan. Intinya, ia adalah satu dari
segelintir santri yang cukup mandiri yang mendiami asrama ini. Mendengar
jawaban saya, sang ayah menimpali dengan menceritakan sekilas tentang pola
pendidikan yang ia terapkan di rumah. Kemudian, sekonyong-konyong saya
dihadapkan pada sebuah gambaran yang sangat aktual berkaitan dengan apa yang di
ceritakan ayah Ahmad tentang pendidikan yang ia terapkan untuk anak-anaknya.
Saat kami tengah saling bercakap tentang pola pendidikan ayah Ahmad di
rumahnya, adik Ahmad paling kecil yang masih berusia dua tahun baru saja
menyelesaikan keperluannya di kamar mandi. Seketika sang adik mengenakan
celananya lengkap dengan celana dalam dan celana panjangnya seorang diri, tanpa
dibantu oleh ibunya. Seketika saya terkagum. Bagi saya, itu menjadi gambaran
pola pendidikan macam apa yang diterapkan oleh sang ayah. Maka demi melihat
pengalaman itu, saya katakan kepada ayah Ahmad bahwa tidaklah heran saya dengan
Ahmad yang memiliki pola hidup mandiri,
karena memang ia mendapatkan pengajaran itu di rumah langsung dari orang tuanya.
Mendengar
komentar itu, sang ayah pun menceritakan suatu pengalaman unik saat Ahmad
kecil. Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan dengan menumpang angkot.
Rupanya ada salah satu penumpang angkot yang membuang sampah sembarangan ketika
di dalam angkot tersebut. Melihat itu, Ahmad kecil merespon dengan kalimat
protes kepada penumpang tadi agar tidak membuang sampah sembarangan.
Berdecak
kagum saya mendengar sekaligus mendapati pengalaman tentang kisah sebuah keluarga
dalam menanamkan nilai-nilai pada anak-anak mereka. Ternyata memang itulah
jawaban tentang misteri karakter dan kepribadian seorang anak yang
berbeda-beda. Ada yang baik, rajin, jujur, menghargai orang lain, hemat dan
mandiri. Akan tetapi ada juga sebaliknya yang agak kurang baik. Pembohong,
kotor, berantakan, malas, dan sebagainya.
Setahun
pertama pengalaman menjadi wali asrama di sekolah boarding ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran, terutama tentang
betapa urgennya pendidikan anak pada masa-masa awal di keluarga. Bahwa masa itu
adalah masa emas di mana penanaman nilai-nilai ideal harus secara massif di
berikan kepada anak-anak kita. Sebelum ia lebih mengenal dan belajar dari
lingkungan yang lebih luas lagi yang ia dapatkan baik dari teman pergaulan,
sekolah, apalagi racun berbentuk kotak hitam bergambar yang sering menjadi
barang kesayangan banyak keluarga itu. Maka pendidikan awal di keluarga tidak
boleh sesaatpun kita nomor duakan, karena di sanalah corak dasar kepribadian dari
buah hati kita akan terbentuk. Jika kita lalai dalam memberikan perhatian dan
pengajaran pada usia-usia seperti ini, boleh jadi kita akan kehilangan masa
depannya yang cerah.
Zaman yang
belum berhenti berputar ini makin hari menyisakan cerita tentang kisah tak
sedap seorang anak yang tercerabut dari nilai-nilai ideal yang diharapkan oleh
kedua orang tuanya. Semoga kita sebagai orang tua mampu memahami akan
pentingnya pendidikan yang kita berikan pada masa usia ini, dan tidak
sedetikpun melimpahkan tanggung jawabnya pada orang selain kita. Sebagian dari
kita mungkin sedikit skeptis atau bahkan apatis dengan peran pendidikan yang
kita terapkan kepada anak-anak kita. Yang kita tahu, saat kita memberikan
nafkah yang layak kepada mereka, maka itu sudahlah cukup tanggung jawab yang
kita jalankan kepada mereka maupun kepada Allah Azza wa Jalla. Marilah kita bermohon, semoga Allah berikan kita
benteng pemahaman yang kokoh terhadap persoalan mendidik anak yang memang tidak
mudah ini, dan menunjukkan kita cara-cara yang benar dalam mendidik anak,
hingga kelak mereka menjadi generasi yang membawa umat ke ufuk tinggi
sebagaimana Islam yang tinggi dan tidak ada yang sanggup menandingi. Amin ya Rabbal ‘Aalamiin. [Abu Usamah
UTR, awal Januari 2010]
∗ Samaran