Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

MEDIA MASSA DAN PEMBENTUKAN BUDAYA POPULER DI MASYARAKAT





“DITOLAK!!”, itulah tulisan yang seketika muncul di layar kaca setelah target mengisyaratkan bahwa ia tidak berminat untuk menerima tawaran sang pejuang untuk “jadian”. Seketika itu sang pejuang tersenyum kecut mewakili kekecewaannya yang tidak dapat mewujudkan harapannya untuk menjadikan sang target sebagai pacar baginya. Lalu dengan rada salah tingkah ia berkata, “Ya udah kita berteman aja, kalo emang itu yang elo mau”, menyambung jawaban dari target yang mengungkap hal serupa sesaat sebelumnya. Pastinya ada segunung kecewa yang dirasakan olehnya, karena harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, disamping juga rasa malu yang harus ia terima karena peristiwa yang baru saja di alami.

            Fragmen di atas mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang pernah menyaksikan sebuah acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta tertua di tanah air setiap hari ahad pukul 16.30 WIB. Acara ini mengetengahkan tentang perjuangan seorang pemuda maupun pemudi yang memiliki rasa suka kepada salah seorang yang dikenalnya, dimana mereka mencoba mengungkapkan rasa suka itu dengan cara-cara tertentu yang menurut mereka elegan dan ditayangkan oleh stasiun televisi agar diketahui oleh banyak orang. Namun sayang, kasus yang diangkat di atas ternyata keadaannya “cinta bertepuk sebelah tangan” alias orang yang menjadi target tidak memiliki perasaan yang serupa dengan si pejuang, sehingga episode ini menghasilkan kekecewaan bagi sang pejuang hingga menjadi akhir yang memalukan sekaligus memilukan baginya.
            Tayangan seperti ini mungkin sedang menjadi mainstream acara yang disuguhkan oleh banyak dari stasiun televisi kita beberapa tahun belakangan. Sebuah tema dimana topik yang diangkat adalah seputar kehidupan remaja dan warna-warni yang menghiasi hari-hari mereka. Kisah tentang hubungan pergaulan, persahabatan dan yang biasanya menjadi sentra pembahasan yaitu, cinta.  Acara-acara yang bertemakan kehidupan remaja pasti tidak jauh dari isu yang tersebutkan, terutama yang terakhir yaitu seputar perasaan cinta yang sedang tumbuh menggelora di hati mereka, entah itu tayangan yang bentuknya sinetron, film layar lebar, atau seperti yang sudah dicontohkan di atas yang menjamur belakangan ini, yaitu tayangan yang biasa disebut reality show. Lihat saja sinetron macam Benci Bilang Cinta, Pangeran Penggoda, Cowok Impian, Pengantin remaja, Inikah Rasanya dan lain sebagainya, adalah beberapa judul sinetron yang mengangkat cinta sebagai topik utama dari cerita yang disuguhkan. Dari dunia layar lebar beberapa tahun belakangan terlihat sedang menggeliatnya perfilman nasional yang ditandai oleh banyak diproduksinya film karya anak negeri. Tapi yang menjadi perhatian sekaligus patut diprihatinkan adalah kebanyakan judul film tersebut mengangkat tema remaja yang juga tidak jauh dari isu seputar cinta. Bahkan ada beberapa judul kontroversial yang pernah memancing polemik di dunia perfilman nasional. Kita masih ingat sebuah film yang berjudul Buruan Cium Gue (BCG) yang pernah ditarik dari peredaran penayangan bioskop karena dinilai tidak sesuai dengan norma yang dianut oleh bangsa ini. Tak ayal lagi film ini kemudian mengundang banyak kritik dari beberapa pihak salah satunya Aa Gym yang sangat memprotes judul maupun jalan cerita film tersebut. Sebuah tayangan yang diistilahkan dengan Reality show-pun bagi yang mengangkat isu remaja dan pemuda pasti mengetengahkan cerita tentang romantika cinta di antara sesama mereka. Seakan-akan para insan pertelevisian itu tak punya akal lagi untuk membuat acara yang kreatif yang diperuntukkan bagi remaja.
Di atas semua cerita yang menjadi prolog yang telah terjabarkan sebelumnya, menjadi suatu perspektif menarik bila kita mencoba memotretnya dari segi ilmu sosiologi, terutama kaitannya dengan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Walau mungkin uraian di atas lebih kepada cerita kemirisan hati dan keprihatinan terhadap nasib negeri. Namun yang ingin ditegaskan disini adalah relasi media, pembentukan nilai di kalangan remaja, dan pastinya juga motif dari pihak produsen media yang tidak jauh dari ideologi kapitalisme yang belakangan semakin perkasa mencengkeram Indonesia (serta dunia).

Budaya Populer
            Dalam peristilahan yang menunjuk pada sebuah teori dalam ilmu sosial kita mengenal varian konsep yang disebut “budaya populer”. Yasraf Amir Piliang dalam Sebuah Dunia Yang Dilipat(1997) mengemukakan pengertian dari budaya populer atau budaya massa sebagai “Sebuah kategori kebudayaan yang diciptakan untuk massa yang luas, sehingga cenderung dilihat sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal atau rendah”. Dari pengertian yang di berikan Yasraf Amir Piliang terlihat bahwa budaya populer adalah budaya yang dibentuk sebagai penanda kelas sosial dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, istilah ini merupakan konsep dalam ilmu sosial yang bernuansakan pertentangan ideologi yang begitu kental mewarnai perjalanan usia dunia. Ideologi yang bermain dalam hal ini adalah kapitalisme yang menjadi ideologi primadona bagi mereka yang “beruntung” menjadi penganutnya, dan menyisakan berjuta kepedihan bagi mereka yang menjadi korban kebuasannya.
            Dalam bahasan teori sosiologi, kita mengenal konsep budaya populer masuk ke dalam rumpun teori sosiologi kritis di bawah suatu analisis mainstream yang diberi nama kajian budaya (cultural studies). Melihat sejarahnya, teori ini muncul sebagai reaksi dan tafsiran atas realitas yang terjadi ketika itu di dataran Inggris raya sekitar tahun 60-an yang begitu banyak menggambarkan wajah budaya dalam pergumulan interaksi sosial masyarakat di kesehariannya. Dalam analisa kajian budaya (cultural studies), banyak diperoleh ulasan, pandangan dan analisa yang berbau marxis, karena memang tokoh-tokoh perintis kajian budaya seperti Richard Hoggart, Raymond Williams, Edward Thompson dan lain sebagainya adalah para ilmuwan sosial yang terpengaruh oleh ide-ide dari kaum marxis terutama dalam melihat fenomena budaya. Jadi memang pada awalnya embrio dari kajian budaya dilandasi oleh semangat perlawanan atas dominasi dan determinasi dari kapitalisme terutama dalam ranah budaya.
           


Reproduksi Budaya Dari Layar Kaca
            Pada awal tulisan yang menjadi prolog dari essay ini telah diurai tentang sekilas potret tayangan-tayangan  yang disuguhkan oleh media televisi tanah air beberapa tahun belakangan ini. Terangkatlah sebuah topik yang menjadi warna utama dari tayangan-tayangan tersebut yang kebanyakan mereka berkisah tentang kehidupan remaja beserta beragam permasalahannya. Namun satu yang sangat dominan dalam hal ini adalah penyeragaman tema yang melulu tentang permasalahan cinta di kalangan mereka. Sehingga disini seakan ada upaya kanalisasi nilai budaya di kalangan remaja yang utamanya adalah masifikasi fenomena pacaran atau bahkan mengarah ke fenomena pergaulan bebas, khususnya di tayangan-tayangan berprogram sinema elektronik atau disingkat dengan sinetron. Dan semakin hari tayangan sinetron dengan bingkai tema seperti ini bukan semakin menyusut melainkan semakin menjamur bak cendawan di musim hujan. Setiap stasiun televisi seakan berlomba-lomba mengisi acara dengan tayangan-tayangan serupa.

Fenomena ini paling tidak jika dilacak kita temukan embrionya di sekitar tahun 2001. Sinetron Pernikahan Dini ketika itu menjadi sinetron yang berhasil meraih rating tertinggi sebagai sinetron yang paling digemari oleh masyarakat. Secara moral sinetron ini tidak sama sekali memberi arahan positif bagi penikmatnya, karena dikisahkan bahwa dua orang tokoh utama dari sinetron tersebut yaitu Syahrul Gunawan dan Agnes Monica adalah dua orang insan muda mudi yang harus rela menikah di usia remaja dikarenakan kesalahan mereka dalam pergaulan (baca:pacaran), sehingga mereka melakukan apa yang diistilahkan oleh masyarakat kita dengan Married By Accident (MBA). 

Kesuksesan tayangan inipun menginspirasikan para produsen sinetron lainnya sehingga pasca itu banyak sekali tayangan sinetron yang berkisah tentang kisah remaja dan pemuda terutama tentang romantika cinta di kehidupan mereka. Memang dari sinetron-sinetron dengan genre tersebut sedikit banyak terdapat pula pesan-pesan moral yang dapat dipetik, tetapi efek negatifnya tidak kalah banyaknya, bahkan mungkin lebih dominan. Mungkin disini tidak dapat disuguhkan dengan data yang riil tetang efek negatif dari tayangan-tayangan sinetron remaja tersebut, tetapi jika kita mencoba mengamati acara-acara berita kriminal, kasus-kasus tentang perkosaan, aborsi, pembunuhan yang berlatar belakang fenomena pergaulan bebas, pelecehan seksual di kalangan remaja dan sebagainya, angkanya menjadi semakin membengkak. Ataupun fenomena-fenomena tersebut dapat kita perhatikan di seputar lingkaran interaksi sosial kita di keseharian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap wilayah masyarakat terjadi banyak kasus pernikahan yang berlatar belakang “kecelakaan”. Dan banyak pengamat mengasumsikan bahwa fenomena tersebut adalah ekses dari tayangan media yang memang mengajarkan dan mengarahkan kepada perilaku-perilaku tersebut.
            Dalam analisa tentang dampak media bagi perilaku konsumennya, banyak sekali hasil survey yang membuktikan bahwa penetrasi yang dilakukan oleh media audio-visual (televisi) itu memiliki prosentase yang paling tinggi dibanding media-media lainnya. Setidaknya riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga asing menyebutkan bahwa televisi memiliki prosentase sebesar 90,7%, radio 39%, surat kabar 29,8%, majalah 22,4%, internet 8,8%, dan bioskop 15% (data Media Index-Nielsen Research 2004). Karena itu bisa dimengerti kenapa kondisi yang terjadi belakangan ini di kalangan remaja dan pemuda kita semakin mengarah ke perilaku yang negatif-destruktif dengan segala bentuk dan turunannya.
            Para pakar komunikasi mengasumsikan sebuah teori yang disebut bullet theory (teori peluru) yang menggambarkan efek media yang begitu masif dalam mengkonstruksi sebuah realitas sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu realitas sosial dalam masyarakat sesungguhnya menjadi cerminan dari apa yang disuguhkan oleh tayangan media televisi. Dalam hal ini, televisi menjadi agen pembentuk budaya dalam masyarakat. Atau, televisi menjadi media penciptaan budaya populer di dalam masyarakat.
   Ada kalangan yang menganggap budaya pop sebagai budaya rendahan. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu untuk komoditas konsumen merupakan budaya rendahan (substandard). Karena budaya populer dibuat untuk kesenangan masyarakat atau untuk kepentingan komersial dan bersifat dangkal, setiap tayangan dalam objek penelitian ini yang diproduksi dan ditampilkan digunakan untuk mencari keuntungan bagi para industrialis dan kapitalis. Menurut Mahzab Frankfurt, budaya populer adalah budaya massa, yang dihasilkan oleh industri budaya, yang menggambarkan stabilitas maupun kesinambungan kapitalisme.
Dalam hal ini, eksploitasi yang di lakukan oleh kapitalis mewujud pada pembentukan nilai moral kalangan remaja. Artinya ada dua “dosa besar” yang dilakukan oleh kapitalis pada fenomena yang telah banyak dipaparkan di atas, yaitu penumpukan modal dan keuntungan yang berlandaskan keserakahan, dan yang paling buruk adalah upaya reproduksi norma ke arah demoralisasi masyarakat. Sehingga dalam kondisi negara yang serba memprihatinkan pasca krisis moneter menimpa hampir genap satu dasa warsa, kaum muda sebagai ujung tombak perbaikan pun sekarang susah untuk dijadikan tumpuan harapan. Dan hal ini akan terus terjadi dan menjadi semacam lingkaran setan keterpurukan negeri. Maka dapat dimengerti pula jika sampai sejauh ini bangsa ini belum bisa bangkit dari krisis yang mendera, bahkan semakin hari krisis yang terjadi semakin parah yaitu krisis mental dan moral, dan menjadi malapetaka besar jika kaum muda pun tidak ketinggalan termangsa oleh kondisi ini. Bahkan, merekalah sasaran utama kebobrokan yang dilancarkan oleh para kapitalis beserta pihak-pihak yang berada dibelakangnya, dengan kepentingan mereka yang tentunya juga lebih spesifik dari sekedar penumpukan modal, atau lebih dalam dari sekedar kapitalisasi, apakah itu? Marilah kita coba menelusuri dari kesatuan pandangan akan ideologi, moral dan religi. Ini yang seharusnya di ungkap dan dipelajari oleh seluruh komponen negeri.





DAFTAR PUSTAKA

McQuail, Dennis. 1987, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga

Piliang, Yasraf Amir. 1998, Sebuah Dunia yang Dilipat. Bandung: Penerbit Mizan

Tester, Keith. 2003, Media, Budaya dan Moralitas. Yogyakarta: Juxtapose.

Wirodono, Sunardian. 2005, Matikan TV-Mu. Yogyakarta: Resist Book

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar