Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

HASRAT INGIN MENIKAH SAAT MASIH KULIAH JANGANLAH MENJADI BAHAN OBROLAN TANPA ARAH


           
           
Sekumpulan ikhwan terlihat tengah mengumbar tawa di sela-sela dialog ringan antara sesama mereka di sebuah bangunan yang dikenal sebagai Sekretariat Lembaga Dakwah Kampus. Apakah yang menjadi topik senda gurau mereka kali itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah tentang dunia interaksi mereka dengan partner dakwah di LDK, yaitu; siapa lagi kalo bukan kaum akhwat.
            Dunia ikhwan dan akhwat dalam kehidupan dakwah kampus merupakan dunia dengan sejuta kisah. Kisah itu bisa saja tentang dakwah itu sendiri, dan yang lebih seru, yaitu kisah tentang relasi-relasi tertentu yang muncul ditengah interaksi mereka sehari-hari. Sebut saja kasus dialog ringan penuh kelakar sekumpulan ikhwan tadi. Usut punya usut, ternyata yang tengah dijadikan bahan pembicaraan adalah beberapa orang akhwat yang memang aktif di lembaga dakwah tersebut. Dengan suasana penuh dengan ungkapan guyonan hingga lemparan ejekan, mereka terlihat asyik hingga tidak sadar bahwa ada dua orang akhwat yang mengetuk pintu sekre dengan ketukan yang agak keras tidak seperti biasanya. ”Ups, urusannya bisa gawat nih”, ujar salah seorang ikhwan yang mengomentari situasi tidak terduga tersebut.
            Barangkali penggalan cerita di atas hanyalah fiksi belaka, dalam arti secara ide, memang tertuang tanpa pengalaman nyata yang teralami sebelumnya. Akan tetapi ada sedikit keyakinan penulis bahwa penggalan cerita ini, atau yang agak mirip dengan ini, atau pula yang masih bertema seputar ini, banyak terjadi dan dialami oleh sebagian besar ikhwan (untuk tidak menyebut semuanya) yang sedang atau pernah mengecap titel sebagai Aktifis Dakwah Kampus (ADK). 
            Memang, ada banyak perbuatan yang secara fitrah manusiawi tidak bisa kita hindari untuk kita lakukan. Dalam contoh aktifitas fisiologis misalnya, sangat yakin jika setiap kita pasti butuh makan, minum, tidur, dan sebagainya. Begitupun secara psikologis, ada pemikiran serta pembicaraan diantara sesama manusia yang bagi kelas usia maupun komunitas tertentu, ada topik-topik yang juga tertentu yang menjadi niscaya untuk mereka perbincangkan, seperti kasus kalangan ikhwan yang membicarakan akhwat (dan mungkin juga akhwat yang membicarakan ikhwan☺).
            Afwan, tulisan ini bukan berarti penjelasan yang bermaksud melegitimasi perilaku ”saling membicarakan” diantara kaum ikhwan dan akhwat. Hukum ”saling membicarakan” itu tetap tidak boleh jika memang tidak ber-udzur. Artinya jika antum bisa –antum pasti bisa-, maka menghindari itu lebih baik. Akan tetapi jika terlampau sulit, disini akan didiskusikan sesuatu yang penulis sebut ”kiat pembalikan keadaan”, yaitu tentang strategi pengalihan objek pembicaraan dari sekedar membicarakan ”seseorang”, atau menjadikan tema ketertarikan fitrah seorang anak manusia sebagai bahan ejekan dan guyonan, menjadi pembicaraan yang mengajak kearah yang lebih produktif dalam kehidupan dakwah dan tarbiyah kita semua. Dari yang negatif, diutak-atik sedikit, dimanfaatkan sedemikian rupa. Apa yang baik atau memungkinkan untuk ditarik sisi baiknya kita manfaatkan, dan sebisa mungkin unsur negatifnya kita buang sejauh-jauhnya. Semoga output akhirnya menjadi bernilai positif.
            Ada konsep menarik yang membuat seorang Salim A. Fillah –seorang penulis muda superproduktif- menulis buku Gue Never Die. Adalah sebagaimana ia melanjutkan penamaan buku itu dengan anak judul ”Kerenkan diri terus nikah dini”. Walau memang ia sering mengatakan disetiap acara yang ia menjadi pembicaranya, bahwa justru ketertarikan fitrahnya kepada kaum akhwat yang membuat ia produktif, caranya; dengan mengkerenkan diri supaya bisa nikah di usia dini. Jadi, potensi yang melekat pada manusia seusia kita-kita ini –terutama mereka yang aktif didakwah kampus-, bukan justru terbawa ke arah perbuatan-perbuatan yang laghwun (sia-sia), atau bahkan menambah catatan dosa. Akan tetapi kita format kecendrungan fitrah tersebut ke dalam kerangka produktif pembinaan diri kita agar senantiasa lebih baik (bahasa Akh Salim, lebih keren). Nah, minimal cara pandang yang seperti ini yang kita gunakan untuk menghadapi (dan menjalani) situasi-situasi liar perbincangan antar ikhwan tadi. Jadi objek pembicaraannya bukan siapa, melainkan seperti apa dan bagaimana caranya agar kita meraih yang terbaik dari proses yang masih berada di angan (maksudnya pernikahan☺)
            Sekarang kita coba menggunakan cara pandang tersebut sebagai pisau analisis pada kasus yang niscaya terjadi di kehidupan dakwah kampus kita. Suatu kali, ketika kita tengah berkumpul bersama rekan-rekan ikhwan, seperti biasa ada pembicaraan yang terasa asyik untuk terus dilakukan, yaitu si fulanah 1 yang subhaanalloh begini dan begitu, lantas fulanah 2 yang sedang sibuk ini dan itu, ada lagi fulanah 3 yang luar biasa, atau fulanah  4 yang amanah dakwahnya -subhaanalloh juga-, ada empat. Terus fulanah 5, 6, 7, dan seterusnya yang begini dan begitu, ini dan itu, dan juga seterusnya dan seterusnya. Nah mulai saat ini kita coba niatkan pembicaraan-pembicaraan seperti itu kita arahkan menjadi pembicaraan yang berbobot yang bukan bercerita tentang si fulanah dan si fulanah, melainkan menjadi; ”yang terbaik adalah  Ibunda Khadijah, yang ideal adalah seperti ’Aisyah, atau yang shalihah seperti Ummu Sulaim”. Lantas pembicaraan itu kita turunkan kedalam strategi dengan bermetodekan suruhan untuk banyak bermimpi. Outputnya, jika idealisme kita tentang calon isteri itu sudah menggantung pada masa zaman terbaik, maka bukalah katup fikiran positif kita, dan cara berfikir husnudzhan kita kepada Alloh SWT, bahwa  wanita-wanita dengan prototype seperti ummahatul mu’minin dan kisah istri shalihah lainnya itu masih ada di zaman sekarang ini, tapi tentunya kita juga harus berfikir, kalo mereka kapasitasnya sebanding dengan kapasitas para suaminya. Jadi jika kita berbicara tentang keshaliha-an Fathimah, kita jelas akan maklum karena memang suaminya adalah seorang Ali yang shalih. Nah jika kita ingin mendapatkan istri seperti Fathimah, maka kita harus mengajukan pertanyaan kepada diri kita; ”Apakah kita sudah berusaha sekapasitas Ali?”, begitu.
            Akan tetapi saya mencoba berfikir realistis. Bahwa contoh-contoh ’Aisyah dan Khadijah yang bersuamikan Rosululloh, atau Ummu Sulaim yang berdampingan dengan Abu Thalhah, atau Fathimah yang serasi dengan Ali, adalah contoh-contoh yang terlampau ideal dan mustahil jika kemudian kita harus juga sekapasitas suami-suami mereka radhiyallahu’anhunna. Namun sebetulnya, inipun menjadi suatu strategi lain yang juga mencari segi kemanfaatan dari contoh tersebut di atas. Yaitu kesempurnaan rosulullah dan kehebatan para sahabat seperti Ali ataupun Abu Thalhah dapat menjadi motivasi bagi kita untuk bisa seperti mereka –walaupun memang tetap mustahil-. Namun yang saya maksudkan, bahwa apabila kita mencontoh mereka yang memang memiliki kapasitas dan kualitas ideal, maka kita berusaha untuk menyamainya, walaupun dalam standar yang minimal, kita dapat meraih manfaat kebaikan yang mereka miliki. Hal ini akan saya jelaskan dengan satu kalimat, yaitu; ”Menjadi sempurna memang tidak mungkin adanya, tapi minimal yang bisa kita lakukan adalah senantisa berusaha lebih dekat menuju titik kesempurnaan”. Atau seperti ungkapan pepatah Arab yang bisa menjadi kata inspiratif bagi kita, ”Serupailah orang-orang besar, karena menyerupai mereka adalah kemuliaan”.   
            Walhasil, semuanya itu sebetulnya bertujuan untuk mengajak kita untuk berfikir berbasiskan subjek yaitu ”kita yang bagaimana” atau ”kita yang akan seperti apa”, sebelum kita berbicara ”kita dengan siapa”. Semoga dengan begitu Allah meridhoi kita dalam perjalanan kehidupan selanjutnya bersama seseorang di samping kita. Wallahu a’lam bish showwab. (Akhukum Fillah, Abdurrahman Syahadah)
           
                 
           

2 komentar:

  1. Penuh inspirasi akh,tapi kurang pas dengan judulnya :D

    BalasHapus
  2. Iya, soale masih coba2 ngeblog, jadi sekenanya n buru2..

    BalasHapus