Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 15 Juni 2015

SAMPIT DAN BAIT MEMORI KEMANUSIAAN YANG PERNAH HILANG



         

Berdiri saya di depan Tugu Perdamaian, sebuah tugu monumental dalam napak tilas sejarah kelam masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah tragedi kemanusiaan yang siapapun orangnya tentu tak menginginkannya terjadi. Namun demikianlah terkadang kehidupan harus berjalan. Pil pahit peristiwa Sampit 14 tahun yang lalu menjadi pelajaran besar bagi semua elemen bangsa dalam membangun sejarahnya. 

Kunjungan ke Sampit di pekan kedua bulan Juni tahun 2015 ini menjadi salah satu nikmat besar yang saya rasakan dalam masa jelang Ramadhan 1436 Hijriyah yang akan kembali menyapa sepekan ke depan. Seperti biasa, tugas untuk melakukan penelitian mengenai sebuah tema mengantarkan kami ke kota yang pernah memendam luka yang dalam yang bukan hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat didalamnya, akan tetapi juga kita semua sebagai bangsa Indonesia, bahkan selaku umat manusia.

Menyusuri jalan demi jalan di kota Sampit, hingga berkesempatan pula berada di atas perahu yang mengambang di sungai Mentaya, seolah mengajak benak saya mengembara pada masa tragedi itu berlangsung. Februari 2001 menjadi bulan banjir darah di setiap jengkal tanah maupun air di kota tersebut. Tak berlebihan jika saya mengatakan demikian. Bagi kita yang pernah menyaksikan cuplikan video dokumentasi ketika peristiwa itu terjadi, saya kira mau tak mau menyetujui apa yang saya katakan. Dengan tidak bermaksud menyudutkan pihak-pihak yang tertuduh sebagai pelaku peristiwa sadis dan sangat mengerikan itu, kita dapat dengan mudah melihat betapa nyawa umat manusia seperti tak ada harganya akibat kemurkaan massal yang tak mampu terbendung hingga menjebol batas perbedaan hakikat antara umat manusia dan sekawanan hewan berdarah dingin di gurun Afrika.

Dan inilah lagi-lagi pelajaran besar yang harus dipetik bangsa dan negara ini. Tak bijak jika sekedar menyudutkan dan memvonis salah masyarakat etnik Dayak tanpa melihat perbandingan sebab-musabab mereka melakukan pembantaian biadab terhadap etnik Madura. Peristiwa banjir darah itu hanyalah sekedar puncak dari bermacam persoalan sosial yang telah akut dan berlarut, hingga membuat sebuah kondisi umum kemasyarakatan yang tak berjalan seimbang, yang bukan tak mungkin warga dari etnik Madura juga turut andil dalam menciptakannya. Atau boleh jadi peristiwa itu hanyalah merupakan klimaks dari kegagalan pemerintah maupun aparat daerah untuk mengonstruksi sebuah masyarakat yang harmonis dan tanpa ketimpangan. Inilah letusan besar gunung sosial yang benar-benar meluluhlantakkan bangunan kemanusiaan umat manusia, yang tanda-tanda pra letusannya begitu nyata, bahkan dibuat sendiri oleh pihak-pihak yang terlibat didalamnya, dengan tanpa kesadaran evaluatif mereka untuk berfikir, bahwa sebagaimana mereka membuatnya, dan mereka pula yang sejatinya mampu mencegahnya.

Melintas pikiran saya tentang memori luka yang pernah dirasakan oleh masyarakat etnik Madura dari peristiwa ini. Mungkin memang kehidupan telah kembali berjalan normal seperti sebelum kejadian. Saya mencoba bertanya ke beberapa orang di Sampit; apakah warga etnik Madura telah kembali dan menjalani hidup di kota ini seperti sedia kala? Dan jawaban mereka “ya”, disusul penjelasan berupa saran untuk pergi mengunjungi pasar-pasar dan menyaksikan sendiri keberadaan mereka di kota Sampit. Namun begitu, siapakah yang bisa menjamin luka itu benar-benar sembuh di benak anak-cucu generasi dari etnik Madura di kemudian hari. Mengingat ini merupakan peristiwa traumatis sosial buat mereka, dimana banyak dari anggota keluarga mereka menjadi korban yang harus meregang nyawa dengan cara-cara yang sangat jauh di luar batas nurani kita sebagai umat manusia. Maka diperlukan pengkajian yang intensif dari pihak pemerintah baik pusat maupun daerah untuk dapat terus memantau dan mengawal jalannya roda sosial masyarakat Sampit dalam waktu yang bukan hanya setahun-dua tahun, melainkan sepanjang tahun hingga bergantinya generasi demi generasi yang mengisi kehidupan sosial daerah Sampit. Disinilah urgensi dari diperlukannya peran para ahli pengkaji ilmu sosial humaniora, yang hasil kajian mereka menjadi media monitoring dan pengawal sehatnya putaran roda sosial masyarakat Sampit. Agar tragedi kelam kemanusiaan yang pernah terjadi di kota ini tak lagi terulangi di sini, atau di manapun dari wilayah NKRI.