Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 02 Juli 2015

KE KEDIRI AKU KEMBALI





Kediri, siapa sangka aku akan kembali ke kota ini setelah empat tahun berlalu dari kunjunganku yang pertama. Berbeda maksud dan tujuan jelas, karena di tahun 2011 ku datang ke sini untuk menimba ilmu bahasa Inggris di kecamatan Pare.  Waktu itu aku masih mengabdi sebagai seorang guru di sebuah sekolah berasrama nan indah di ujung paling barat pulau Jawa. 

Kali ini misi kedatanganku ke kota Kediri sedikit berbeda. Bersama beberapa rekan seprofesi-sekantor, ku sambangi kota ini untuk sebuah maksud yang berkenaan dengan proyek penelitian kami. Kediri merupakan kota kedua dari lokasi penelitian dalam topic yang kali ini sedang kami kaji. Selama sekira 5 hari kami berjibaku di sekitar wilayah kota maupun kabupaten Kediri, demi memungut informasi demi informasi yang terserak yang kami asumsikan bisa kami dapatkan di kota ini.

Ternyata kami salah, tidak seperti pengambilan data di lokasi sebelumnya –Sampit, Kalteng-, yang kami banyak menemukan informasi-informasi yang menarik terkait tema penelitian kami, di kota Kediri kami cenderung mendapatkan data dan informasi yang datar. Mengapa demikian, mungkin memang pemilihan lokasi yang kurang tepat, sebagai akibat dari pengkajian yang kurang matang sebelum memilih dan menentukan lokasi penelitian. Hal ini menjadi bahan evaluasi untuk kami (gue) dalam kaitannya dengan status yang belum lagi resmi sebagai seorang (calon) peneliti. Yaaah, lumayanlah pelajarannya cukup mengena. Paling nggak saat diriku kelak telah mengikuti diklat peneliti LIPI dan resmi berstatus sebagai peneliti pertama, pada saat menangani pokja dan mendisain rencana penelitian bisa membuat rancangan yang lebih keren.

Lantas apa yang menarik dari perjalanan ke Kediri ini. Sebenernya bisa menjadi sangat menarik jika bisa menyempatkan waktu untuk mampir-mampir sebentar ke tempatku dahulu menimba ilmu selama sekira sebulan di sebuah lembaga bernama Basic English Course (BEC). Dikarenakan waktu yang begitu sempit, disela-sela agenda snow-ball memburu informan yang begitu padat tak beraturan, ke Pare dua kali hanya bisa melintas sekali, itu pun hanya melewati jalanan masjid tempat kami biasa menunaikan shalat rawatib –yang saya sendiri lupa nama masjid maupun jalannya-, sebuah jalan utama di kampong Inggris Pare yang ramai. 

Kalaupun ada yang lumayan menarik dari momen selama kami di Kediri kali ini, mungkin itu menjadi milik suatu momen dimana kami harus bersesakan dengan barang-barang yang kami bawa. Kebetulan sebelum bertolak kembali ke Jakarta pada Sabtu sore, siangnya kami menyempatkan diri untuk berbelanja oleh-oleh. Ternyata masing-masing dari kami membeli oleh-oleh yang cukup banyak sehingga memenuhi xenia yang menemani kami selama berada di Kediri. Walhasil, jadilah mobil itu seperti kendaraan cargo yang sedang akan mengantar barang titipan para konsumen. Namun, 'ala kulli haal, perjalanan ini menjadi catatan yang menambah pengalamanku turun ke lapangan dalam rangka pengambilan data penelitian, disamping pengalaman-pengalaman lainnya. Semoga kesempatan ke depan yang pastinya semakin banyak turun ke lapangan, akan semakin baik persiapannya, sehingga diperoleh output  yang memenuhi kualifikasi laporan penelitian yang berkualitas dan mampu bersaing dengan para peneliti senior yang telah malang melintang sebagai peneliti profesional, baik skala nasional maupun internasional. Amiin (Senayan, 020715)