Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 07 Maret 2021

ASESMEN NASIONAL 2021, APA DAN BAGAIMANA?

 


 

“Hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda namun cara-cara yang ditempuh tetap sama”. (Albert Einstein)

 

 

Kiranya cukup tepat saya mengawali tulisan ini dengan hikmah yang lahir dari seorang ilmuwan besar di atas. Maksud saya, siapa yang tak mengenal beliau, seorang jenius yang telah meninggalkan jejak-jejak teori dan temuan ilmiah dalam dunia ilmu pengetahuan. Agaknya -dalam hemat saya-, kata-kata di atas menjadi salah satu rahasia alam pikir seorang Einstein hingga mampu menjadi ilmuwan besar yang melahirkan banyak karya. Melalui pendekatan yang dinarasikan Einstein di atas, saya mencoba untuk mengantarkan pembaca pada tema tulisan ini, yakni yang menyangkut tentang evaluasi pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran.

Sebagaimana kita tahu, diantara beberapa terobosan kebijakan pendidikan terbaru Mendikbud Nadiem adalah mengenai dibekukannya sistem Ujian Nasional dan akan diterapkannya kebijakan Asesmen Nasional. Diharapkan dengan sistem evaluasi dan penilaian nasional ini dapat menghasilkan output pendidikan yang berbeda dan lebih baik dibanding sebelumnya. Namun begitu, isu mengenai seperti apa Asesmen Nasional ini akan diterapkan berkembang menjadi informasi-informasi liar dan cenderung menyesatkan. Diantara contoh yang berkembang antara lain sebagaimana beberapa pernyataan di bawah ini.

  1. AKM menggantikan UN
  2. AN sama dengan UN
  3. AKM mengukur prestasi siswa secara individu
  4. AKM menentukan kelulusan
  5. Perlu drilling soal melalui bimbel AKM

Sesat tangkap di atas lahir dan berkembang di tengah-tengah para stakeholder pendidikan, hingga dimanfaatkan oleh lembaga2 bimbel maupun kalangan penerbit dengan membuat dan menawarkan program2 yang berkaitan dengan tips dan trik sukses menaklukkan AN-AKM. Berikut akan coba diuraikan mengenai apa dan bagaimana Asesmen Nasional Tahun 2021.

 

Kenapa harus Asesmen Nasional?

Beberapa alasan mengapa harus ada AN diantaranya adalah sebagai berikut:

1.    Keprihatinan terhadap hasil pengukuran prestasi siswa (PISA), sehingga perlu dilakukan paradigma baru penilaian prestasi

2.    Trend perundungan yang cukup tinggi di kalangan pelajar --> secara rerata perbulan 41% siswa mengalami perundungan

 

Apakah yang dimaksud dengan Asesmen Nasional?

Asesmen Nasional bukanlah sistem yang berbeda nama namun berhakikat sama dengan UN, karena memang berbeda baik secara sistem maupun hakikat. AN 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan seluruh sekolah madrasah dan program kesetaraan, sejak dikdas hingga dikmen, yang diukur melalui 3 instrumen pengukuran mutu, yakni:

1. AKM --> mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai gambaran hasil belajar kognitif

2. survei karakter --> mengukur sikap, nilai2, sebagai hasil belajar non-kognitif dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila

3. survei lingkungan belajar --> mengukur kualitas pembelajaran dilihat dari iklim sekolah dalam menunjang pembelajaran

 

Organization Chart

 

1.    AKM

Dalam instrumen pengukuran ini, terdapat 2 sub pembagian yakni literasi membaca dan literasi numerasi.

1.a. Literasi membaca: kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksi berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai WNI dan WN dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat

Komponen2 --> (1) konten (teks informasi, teks sastra), (2) proses kognitif (Menemukan informasi, interpretasi dan integrasi, evaluasi dan refleksi), (3) konteks (personal, sosbud, saintifik)

1.b. Numerasi: kemampuan berfikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari2 pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai WNI dan dunia

Komponen2 --> (1) konten (bilangan, pengukuran dan geometri, data dan uncertainty, aljabar), (2) proses kognitif (pemahaman, aplikasi, penalaran), (3) konteks (personal, sosial kultural, saintifik)

Bentuk soal (1) objektif --> PG konvensional, PG kompleks (memiliki lebih dari 1 jawaban), menjodohkan, isian singkat, (2) non-objektif

2. Survei Karakter --> mengukur dengan benchmark 6 elemen dalam profil pelajar Pancasila, yakni Imtaq akhlak mulia, mandiri, nalar kritis, kreatif, gotong royong, kebhinekaan global. Hasilnya berupa profil pelajar Pancasila dari tiap sekolah

3. Survei Lingkungan Belajar --> mengukur iklim belajar satuan pendidikan; iklim keamanan (keamanan dan wellbeing, sikap dan keyakinan guru, kebjakan dan program sekolah), iklim kebhinekaan sekolah (praktik multikultural, sikap dan keyakinan guru/ kepsek, kebijakan dan program sekolah), indeks sosek (pendidikan ortu, profesi, fasiltas belajar di rumah), kualitas pembelajaran (manaj kelas, dukungan afektif, aktivasi kognitif), pengembangan guru (refleksi dan perbaikan pembelajaran, dukungan untuk refleksi guru)

 

Siapa yang dites dan bagaimana?

  1. Murid kelas 5 (maks 30), 8, dan 11 (maks 45), dipilih scr random stratified di setiap sekolah, menggunakan instrumen tes kmputer, dilakukan selama 2 hari dan diawasi
  2. Guru (semua populasi di sekolah), dilakukan daring tanpa pengawasan, durasi 2 pekan
  3. Kepsek (sama seperti guru)

 

Tujuan dilakukan AN

1.    Evaluasi kinerja satuan pendidikan à AN memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebah sekolah yang efektif

2.    Mendapatkan informasi untuk perbaikan kualitas KBM, slanjutnya diharapkan berdampak pada karakter dan kompetensi siswa à AN 2021 sebagai baseline, pemetaan dan upaya perbaikan akan dilakukan di tahun2 setelahnya

Catatan:

1.    Siswa mengerjakan 3 instrumen yang ada, sementara guru/ kepsek hanya mengerjakan Survei Lingkungan Belajar

2.    Output Asesmen Nasional

(a) AKM --> hasil belajar kognitif, (b) hasil survei karakter --> hasil belajar sosial-enosional, (c) hasil Survei Lingkungan Belajar --> karakteristik input dan proses pembelajaran

3.    Pelaksanaan AN dikoordinasikan oleh Kemdikbud bekerjasama dengan disdik, kanwil dan kantor kemenag

4.    Teknis pelaksanaan berbasis komputer dan daring, dengan tipe soal adaptif (eskalatif)

 

Penutup; Jawaban terhadap pertanyaan

  1. AKM menggantikan UN

AKM tidak mengukur prestasi individu siswa

  1. AN sama dengan UN

berbeda, AN diujikan di kelas 5, 8, 11, dan tidak diikuti seluruh siswa di sekolah

  1. AKM mengukur prestasi siswa secara individu

tidak, karena yang diukur adalah kinerja sekolah, meliputi literasi, numerasi, karakter, dan lingkungan belajar

  1. AKM menentukan kelulusan

Tidak sama sekali, karena tujuannya hanyalah memetakan performansi sekolah, dan bukan individu

  1. Perlu drilling soal melalui bimbel AKM

Tidak, karena AKM lebih menitik beratkan pada kemampuan penalaran, sehingga model drilling soal, terutama soal yang masih dalam model konvensional tak terlalu membantu.