Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

KOBARKAN SEMANGAT ANTI PENJAJAHAN

Alhamdulillah, saat ini kita telah memasuki bulan kemerdekaan negara kita. Di berbagai daerah kita melihat masyarakat bersiap diri menyongsong hari besar dalam sejarah negeri ini. Setiap tahun kita tidak lupa untuk selalu memperingati tanggal 17 Agustus dengan mengadakan berbagai acara kegiatan, seperti yang juga kita sedang jalani saat ini.
            Enam puluh satu tahun yang lalu, melalui berbagai proses yang cukup panjang, akhirnya kemerdekaan negeri ini berhasil terproklamirkan oleh salah seorang founding father bangsa kita Ir. Soekarno. Tiga ratus lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi bangsa kita yang harus bertahan mengalami penindasan akibat penjajahan yang dilakukan silih berganti oleh Spanyol, Portugis, Inggris, Jepang hingga Belanda. Negeri ini telah mengalami berbagai bentuk kesengsaraan yang secara tidak berperikemanusiaan dilakukan oleh negeri-negeri tersebut. Dan akhirnya, tepat pada hari yang ke-17 di bulan Agustus, tercetuskan juga sebuah Negara berdaulat bernama Indonesia.
            Sejarah negeri Indonesia tidak lepas dari pengalaman pahit penjajahan. Oleh karena itu sejak berdirinya negeri ini penjajahan dengan berbagai bentuknya merupakan sesuatu yang benar-benar sangat dibenci oleh para pendiri negeri dan pastinya juga di amini oleh seluruh masyarakatnya. Dalam alinea pertama Pembukaan Undang-undang Dasar Negara 1945 telah ditegaskan betapa bangsa ini adalah bangsa yang anti penjajahan. Dalam konstitusi itu disebutkan bahwa, “Sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan…”. Dalam latar belakang sejarah kelam penjajahan itulah kemudian kita kenal dalam sejarah pasca kemerdekaan bahwa Indonesia menjadi salah satu Negara yang proaktif dalam melakukan dukungan terhadap gerakan anti penjajahan. Hal ini dapat kita lihat pada peran dan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai lembaga independen yang menentang penjajahan macam Konferensi Asia–Afrika (KAA), Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), dan Organisasi Konferensi Islam (OKI).
            Bila kita mencoba mencermati kondisi dunia belakangan ini, kita sering melihat dan mendengar bahwa ternyata penjajahan masih saja terjadi. Saat ini tengah santer diberitakan oleh berbagai media massa tentang kondisi pergolakan yang terjadi di palestina dan Libanon akibat dari serangan bangsa Israel. Isu tentang pertikaian antara Israel dan palestina memang mungkin sudah lama kita dengar. Walau mungkin kita tidak mengetahui permasalahan apa yang sebenarnya membuat kedua negara itu berseteru kecuali sedikit saja dari kita. Persoalan yang terjadi di salah satu kota suci umat Islam itu sesungguhnya persoalan perampasan hak atas sebuah bangsa dan Negara bernama Palestina. Dengan kata lain sesungguhnya telah terjadi penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Israel atas Negara Palestina, dan itu telah sejak lama terjadi yaitu semenjak tahun 1948 dimana melalui konspirasi busuk beberapa negara besar macam Inggris dan Amerika serikat yang mengakui eksistensi Negara Israel di atas tanah Palestina
            Penjajahan dalam apapun definisi dan bentuknya adalah wujud dari ketidak berperikemanusiaan dari pihak yang melakukannya. Kata ini mewakili dari aktivitas pendudukan atas tanah, penindasan dan penghabisan nyawa atas rakyat, serta perampasan atas sumber daya yang dimiliki oleh suatu wilayah atau Negara. Dan itu yang sekarang benar-benar terjadi di Palestina. Israel dengan terang-terangan mempertunjukkan kebengisan dan ketamakan mereka sebagai sebuah bangsa yang anehnya hal ini bukan hanya tidak direspon dengan negatif oleh bangsa atau negara lainnya, bahkan ada negara yang justru mendukungnya. Amerika menjadi Negara terdepan yang mendukung kebiadaban Israel yang mencaplok wilayah sah Negara palestina dan membunuh jutaan penduduknya. Dan, jika mungkin sekarang ini tengah menjadi trend isu tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), maka kandidat utama peraih rekor pelanggaran kemanusiaan terbesar adalah Israel dan Amerika serta negara-negara lain yang dengan tegas dan jelas menjadi pendukung mereka.
            Satu hal yang paling menarik dalam sejarah penjajahan di atas pentas dunia hingga zaman belakangan adalah bahwa penjajahan Israel atas Negara Palestina merupakan satu-satunya penjajahan dalam bentuk yang kuno. Penjajahan model ini adalah penjajahan secara fisik, sering di sebut sebagai kolonialisme dan imperialisme. Namun, penjajahan yang dilakukan oleh Israel ini merupakan penjajahan dalam kasus yang paling parah dalam sejarah. Karena Israel sebelumnya tidak memiliki negara dalam prasyarat wilayah. Artinya Israel dalam menjajah Palestina benar-benar dalam rangka menduduki negara itu, mengusir dan membunuhi warganya, dan mengklaim berdirinya negara baru mereka, di atas tanah sah Negara Palestina.
            Tetapi yang paling memprihatinkan dari pertunjukkan kebiadaban bangsa Israel atas Negara Palestina itu adalah dunia yang seakan menutup mata terhadap konflik yang terjadi disana. Sangat sedikit sekali pihak yang peduli pada persoalan yang bisa dibilang persoalan sentral bagi umat Islam sejak abad 20 yang lalu ini. Setelah mungkin kita menelan kegetiran akibat runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani sebagai benteng kekuatan dan kehormatan umat Islam di tahun 1924. Dari skala komunitas, lembaga, atau bahkan negara, pihak yang benar-benar dengan tegas mendukung dan membela perjuangan yang dilakukan oleh pejuang palestina amatlah sedikit. Liga Arab maupun OKI-pun tidak mampu berperan banyak terhadap nasib Negara Palestina. Lembaga-lembaga maupun komunitas lain yang hanya berlingkup regional-nasional pun tidak ada yang dapat benar-benar dilakukan untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina kecuali hanya dukungan moral dan do’a serta sedikit dari bantuan dana. Umat Islam telah benar-benar kehilangan kekuatannya untuk membantu saudara-saudaranya yang dibantai dengan sangat kejam di bumi Palestina.
            Maka sikap kita jelas sebagai sebuah negara yang berdaulat dalam meneropong permasalahan Palestina. Bahwa yang terjadi disana adalah sebuah kejahatan besar terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan isu ini sebenarnya tidak hanya menyangkut umat Islam saja, melainkan seluruh umat yang mengaku masih memiliki agama dan landasan moral antara sesama. Penjajahan mutlak menjadi sebuah virus ganas kemanusiaan yang mesti segera di musnahkan dari muka bumi ini. Siapapun bangsanya, dimanapun wilayahnya, jika memang terjadi kedzoliman berupa penjajahan oleh sebuah negara atas negara lainnya maka harus kita bantu negeri yang terjajah tersebut dengan apapun kemampuan yang kita miliki.   Terlebih jika negeri yang sedang terjajah itu adalah negeri yang notabene agama mayoritas penduduknya adalah Islam. Maka wajib bagi kita sesama umat Islam untuk membantu, karena umat Islam antara satu dan lainnya adalah bersaudara(QS. Al-Hujurat:10).
            Maka melalui momentum HUT Negara Republik Indonesia yang tidak lama lagi akan kembali hadir menyapa kita, sudah seharusnya kita meneladani perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Jikapun ada nilai-nilai ruh perjuangan yang patut kita contoh yang di tampilkan oleh para pahlawan itu, maka semangat anti penjajahan adalah salah satu nilai moral yang kemudian bukan hanya berhasil membawa negeri ini keluar melepaskan diri dari cengkeraman penjajah, tetapi juga membuat negeri ini dapat bertahan dalam percaturan negara di seantero dunia. Kehormatan yang terbangun karena memang kita memiliki sikap terhormat yang menolak penjajahan. Sebagaimana seharusnya kitapun menolak penjajahan yang dilakukan oleh Israel atas bangsa dan Negara Palestina dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita bisa. Karena sejarah penjajahan atas negeri kita telah mengajarkan kita betapa menjadi bangsa yang terjajah adalah sangat menyesakkan. Oleh karena itu dalam momentum peringatan hari kemerdekaan yang sebentar lagi akan kita jelang itu, hendaknya kita harus benar-benar bisa menanamkan ruh anti penjajahan dalam segala bentuknya. Keterjajahan dalam dimensi fisik. Keterjajahan dalam aspek politik, ekonomi, moral dan budaya. Sehingga dalam semangat anti penjajahan itu, negeri ini kita harapkan akan bisa bangkit kembali.
            Dalam kesadaran zaman ini, sebuah kondisi penindasan tidak mudah untuk dikenali. Seperti apa yang terjadi di Palestina, sangat sedikit dari kita yang mengenali dan menyadari bahwa telah terjadi di sana pelanggaran terberat HAM abad ini yang dilakukan oleh Israel dan dibantu oleh sekutu-sekutunya. Sama juga ketika kita mencoba untuk memotret problematika negeri ini. Akar dari permasalahan yang melanda negeri kita adalah penjajahan dari segi ekonomi. Dimana ketika krisis moneter yang menyayat sendi bangunan negara kita mampu membuat sendi-sendi bangunan yang lain menjadi porak-poranda. Kemudian dimulailah babak baru keterjajahan ekonomi yang di alami oleh Indonesia. Sejak saat itu kita menjadi bangsa yang tidak memiliki kehormatan dikarenakan ketergantungan kita yang amat sangat kepada lembaga-lembaga donatur asing seperti IMF, Bank Dunia dan sebagainya. Maka kerja besar dari para pejuang-pejuang pasca kemerdekaan adalah menyadarkan rakyat banyak akan kondisi penindasan dan keterjajahan yang di alami oleh bangsa ini. Sama seperti para pahlawan kemerdekaan yang dengan sekuat tenaga menyadarkan rakyat akan kondisi penjajahan dan mengorganisir mereka untuk melawan penjajah yang dzalim hingga kita dapat merebut takdir kemerdekaan. 
  Membangun ruh perlawanan atas setiap bentuk kedzaliman
            Kemerdekaan yang telah dicapai oleh para pahlawan bangsa enampuluhsatu tahun yang lalu adalah salah satu bukti keteguhan para pejuang pendahulu negeri ini untuk benar-benar dapat melepaskan diri dari kekejaman penjajah. Hingga kemudian akhirnya seluruh rakyat Indonesia ketika itu bergembira dengan perjuangan yang berujung pada kemenangan. Jika era pra kemerdekaan sudah sangat jauh kita tinggalkan, maka era kita pasca kemerdekaan adalah membangun negeri ini agar dapat mewujudkan takdir kemakmurannya. Dan segala tindakan yang merugikan sesama baik itu kejahatan pemerasan, korupsi, kolusi dan nepotisme, serta berbagai bentuk tindakan lain yang tidak mencerminkan keadilan adalah sesuatu yang harus kita perangi bersama. Memang negara kita masih belum dapat keluar dari himpitan krisis ekonomi yang kemudian berimbas pada krisis pada dimensi yang lain. Dan itu terjadi karena diamnya kita dari segala tindakan merugikan yang terjadi disekitar kita. Ketidakadilan dengan berbagai bentuknya seperti penjajahan, penindasan, penjarahan dan lain-lain adalah mewakili satu kata, kedzaliman. Maka dengan menghadirkan semangat para pahlawan di masa lalu kita mencoba untuk menentang segala bentuk kedzaliman itu di masa kita sekarang ini. Di Palestina, di Bosnia, Chechnya, atau bahkan di negeri ini, disekitar kita. Penjajahan, penindasan, penjarahan, pendzaliman haruslah kita lawan.(AF) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar