Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 30 Januari 2012

The Power of Attitude





           The power of attitude, buku ini menarik perhatianku pada Indonesian Book Fair Desember 2011 lalu. Selain harganya yang murah (sebagai sebuah buku yang full colour dan HC) yang cuma 20 rebu perak, buku ini memiliki judul dan topik yang begitu menggugahku untuk membeli dan melahap habis isinya. “Sikap adalah satu hal kecil yang membuat sebuah perbedaan besar”, ini kalimat yang banyak didengung-dengungkan oleh sang penulis; Mac Anderson.

Didalamnya Ia banyak menulis tentang kisah dan perspektif tentang sikap-sikap yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Jika di buka lembar demi lembarnya, Anderson banyak menceritakan tentang ide dan tips untuk mengembangkan sikap positif. Tentang definisi sikap itu sendiri Ia tidak menuliskannya secara gamblang. Akan tetapi Anderson lebih sering mengupas tentang program-program pikiran maupun habbits apa yang mesti kita kembangkan untuk mendapatkan sikap yang positif itu.

          Dalam perjalanan membuka setiap halamannya, disamping kita akan menemukan gaya bercerita Anderson dalam menyampaikan nilai tentang sebuah sikap yang positif, kita akan menemukan setiap pergantian judul yang selalu diawali oleh kata mutiara maupun kalimat motivasi dengan tema besar macam hasrat, impian, lakukan sekarang juga, sukses, keteguhan hati, memaafkan, perdamaian, dan sebagainya. Lewat buku ini , Anderson ingin menyampaikan bahwa sikap –yang tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari-, merupakan sebuah tool yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Sebagai seorang pengusaha sekaligus penulis buku dan trainer, Mac Anderson telah mewariskan ide-ide yang cukup berharga dalam kaitannya dengan perpektif kesuksesan dan kebahagiaan yang katanya berpangkal pada sikap. 

           Sikap bagiku tidak lebih dari bagian terkecil dari kepribadian, atau kepribadian pada akhirnya merupakan rangkaian sikap yang kita tunjukkan dan dilihat serta dinilai oleh orang lain yang mengetahui, mengenal, dan berinteraksi dengan kita sehari-hari. Tentang kedudukannya yang begitu penting dalam konteks dakwah, bagiku sikap akan menjadi kunci pembuka pintu hati dari para mad’u kita. Bahkan mereka mengenal kita dari sikap yang kita tebarkan dalam keseharian mereka berinteraksi dengan kita. Dan kalaupun kita coba mengevaluasi manakala dakwah kita yang telah berbilang masa namun belumlah kita petik buahnya, maka mungkin yang menjadi awal bahan evaluas kita adalah mengenai sikap kita yang ditangkap oleh mereka. ‘Alaa kulli haal, tertarik untuk membacanya, silahkan cari pada stand penerbit Ufuk pada bookfair-bookfair berikutnya (tapi hati-hati pada penerbit ini, karena ‘manhaj’nya agak kurang bersahabat pada kelompok aktivis pengajian, bisa dilihat dari judul, tema dan isi dari buku-buku yang diterbitkan).Wallahu a’lam bish shawwab