Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 25 Oktober 2012

MENGHAPUS JEJAKMU (Sepenggal Kisah Dari Masa Lalu)



              Sabtu pagi, 20 Oktober 2012, sekitar pukul 8 kurang dikit, saat ku mengisi bensin motorku di salah satu SPBU yang lokasinya searah dengan jalan menuju kantor, qadarallah sang SPBU dengan kerasnya memasang speaker yang memutarkan sebuah lagu yang dahulu pernah menjadi saksi dalam kepingan waktu penuh hikmah perjalanan hidupku.

Engkau bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Sesudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu

            Sabtu kala ku berangkat kerja pagi itu udara terasa dingin, terang saja karena sekitar ba’da shubuh sebelumnya hujan mengguyur Bekasi dengan sangat derasnya. Jalanan yang masih meninggalkan jejak-jejak basahnya seperti seolah bersekongkol mengajakku kembali untuk mengingat masa lalu dimana bait lagu yang kudengar di SPBU itu menjadi sepenggal saksi proses hidup mematangkan kepribadianku.
            Sejenak ku pun teringat dengan dua sosok ikhwan yang kukenal di tempat kerjaku sekarang. Dua ikhwan yang insyaAllah shalih, yang pengalaman hidup mereka baru-baru ini, adalah mirip dengan pengalamanku di masa lalu yang salah satu diantaranya menyelipkan bait lagu di atas sebagai prasasti hikmahnya.
            Bukanlah perbuatan yang dibenarkan dalam Islam yakni mendengarkan musik yang memang banyak ulama menghukuminya haram. Namun izinkan ku bercerita masa laluku yang tengah menjalani proses hidup, yang mohon maklum manakala masih terdapat lelaku yang tak sesuai dengan ilmu.
            Seperti dua ikhwan yang baru saja mengalami kegagalan dalam prosesnya menggenapkan setengah diin, aku pun pernah mengalami hal serupa sebelum akhirnya ku menikah dengan istriku sekarang. Suatu kisah hidup yang akhirnya kubagi dengan mereka berdua untuk meneguhkan dan menguatkan mereka akan sikap yang telah mereka ambil. Jika yang satu terpaksa menghentikan proses karena orang tua sang akhwat belum meridhai anaknya dipinang sebelum meraih gelar S2. Yang satu lagi memilih berhenti berproses karena sang akhwat memprasyaratkan sesuatu yang baginya tidak dikenal dalam koridor syar’i dan hanya ma’ruf pada kalangan tertentu dari kelompok pergerakan Islam. Kisahku agaknya lebih mirip dengan ikhwan yang kedua yang dengan gagahnya memilih berhenti dari proses dan memilih untuk menghapus jejakmu dan mencari yang lainJ.  
            Seperti kebanyakan ikhwan yang telah terhitung ba’ah, diriku pada masa kuliah dahulu mungkin lebih dewasa dari usianya, atau memang dibanding usia teman-teman, usiaku 2-3 tahun lebih tua dibanding mereka, maka mungkin yang lebih tepat bukan lebih dewasa dari usianya, tetapi cukup dewasa sesuai kadar usianya, he...he...he...
            Pada masa itu, terkhusus di saat-saat berada di semester penghujung, keinginan untuk menikah begitu kuat. Motivasi diin dan ketaksanggupan membendung gelora gharizah menjadi pendorong paling deras untuk menyegerakan menikah, hingga akhirnya kuberanikan diri untuk “menembak” seorang akhwat dengan maksud mengajaknya menikah sebagai satu-satunya jalan bagiku.
            Tak seperti sebagian orang yang tak siap dengan jawaban ini; TIDAK!!, terlebih dalam masalah se-sensitif ini, buatku kata itu seperti angin segar yang tak kalah sejuknya apabila sang akhwat berkata “YA” pada ajakanku kepadanya untuk menikah. Kuanggap perasaanku saat situasi itu sebagai bukti dan pertanggungjawabanku atas klaim “dewasa sesuai usianya” yang telah kutulis di paragraf sebelumnya(he...he...bukan bermaksud ujub, riya’ wal sum’ah lhoJ)
            Mindset seorang ikhwan dalam prosesnya menuju pernikahan, kuistilahkan pendirianku dengan kalimat panjang itu, yang pula kubagi dengan dua ikhwan shalih di awal cerita tulisan ini. Betapa masa penantian jawaban terhadap ajakan menikah dapat menjadi situasi kritis bagi seorang ikhwan. Beberapa cerita yang pernah kudapat justru fenomena itu bisa menjadikan sang ikhwan “rusak” keikhwanannya, menjadikannya gelap mata, atau goyah citarasa fikrah imaniyahnya. Namun kesemua itu tidak terjadi padaku. Bukan lagi sakit hati, bukan pula kecewa. Yang kurasa justru semacam keteguhan dan keyakinan diri yang semakin membuncah akan hal jodoh. Cara berfikirku yang kuperoleh dari pengembaraan membaca buku, menghadiri kajian tentang pernikahan, istifadah dari kisah dan fenomena berumah tangga dari ikhwan dan akhwat yang telah mendahului, merupakan jejak-jejak langkah yang membentuk fikrahku seperti saat itu. Penolakan itu lebih terasa seperti “kesempatan memberi” yang terlewat untuk sang akhwat, dan hal yang kusiapkan untuk kuberi itu justru semakin hebat, yang jika tiba saatnya nanti kan kuberikan kepada akhwat yang lebih tepatJ.
            Pertanyaan “bersediakah engkau menjadi istriku?” yang kita ajukan kepada salah seorang akhwat adalah sebuah keputusan yang teramat berat dan perlu pertimbangan matang yang keluar dari fondasi berfikir yang mantap. Maka seyogyanya kita tidak main-main dalam keputusan ini. Maka masa panjang diriku sebagai bujang yang kulalui dengan berbagai kesibukan tarbiyah merupakan persiapanku untuk menghadapi saat-saat seperti ini, saat dimana kita mengatakan kepada seorang akhwat yang akan ber-untung (maksudnya yang akan menjadi istri Untung –penggalan namaku-, he...); “Ukhti bersediakah Anti menjadi permaisuri di istana syurgaku?”
            Tarbiyah dzatiyah seorang al-akh, sejatinya ia merupakan persiapan yang sungguh bagi seorang ikhwan untuk menghebatkan dirinya, yang kehebatan itu akan ia persembahkan untuk rumah tangga yang akan ia bangun dengan seorang istri yang shalihah dan anak-pinak yang shalih. Dengan mindset menghebatkan diri seperti ini, maka nama dan sosok seorang ukhti yang kelak kan menjadi istri dan ibu anak-anak kita menjadi sekunder dan menempati posisi urut ke-7 (pembaca boleh menuliskan sendiri no urutnya). Satu kriteria yang pertama dan utama hanyalah diwakili satu kata; SHALIHAH. Dan qarinah dari keshaliha-an sang akhwat bukanlah hasil karangan dan hayalan kita, namun merupakan hak penuh dari penjelasan para ulama terhadap nash-nash yang tersebar dari syariat terhadap permasalahan ini. Maka dalam mindset seperti ini, hari-hari menanti seorang ukhti, hanyalah merupakan saat-saat menghebatkan diri seorang ikhwan menuju kesejatian fikrah imaniyah dan pemenuhan target muwashafat tarbiyahnya. Dan di saat tiba waktunya untuk menikah dan meminang seorang akhwat, itu hanyalah merupakan momen dimana memilih seseorang yang tlah kita persiapkan untuknya “kado terindah” yang kita miliki. Posisi jiwa seperti ini yang membuat seorang ikhwan selalu merdeka manakala pada akhirnya ia memilih seorang akhwat yang ternyata tidak terlalu ridha padanya dan menolaknya. Maka selanjutnya ia hanyalah perlu untuk bersyair “menghapus jejakmu” sambil kembali menata diri dan membuka lembaran baru dengan biodata “calon istri” yang lain yang akan ridha dengan agama dan akhlak kita saat ia berkata “YA” pada proposal syurga dalam rumah tangga yang kita ajukanJ.(Bekasi, 24 Oktober 2012, 14.36 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar