Total Tayangan Halaman

TIME

Rabu, 17 Oktober 2012

TRADISI NULIS VS TRADISI BICARA



                Celoteh kali ini masih tentang menulis. Sebenarnya, menulis itu bukanlah sesuatu yang sulit kita lakukan. Setiap kita yang pernah bersekolah, pasti bisa menulis. Walau dalam hal ini, menulis yang dimaksud bukan berarti sekedar menulis huruf demi huruf hingga menjadi kata, kata demi kata hingga menjelma menjadi kalimat, kalimat demi kalimat sampai tersusun menjadi sebuah paragraf, dan seterusnya. Akan tetapi, menulis yang dimaksudkan di sini berarti menuangkan buah pikir dan atau gagasan yang ada di kepala kita ke dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan tangan, atau dalam format microsof word atau juga program yang lain di PC masing-masing kita.
                Dalam pergaulan sehari-hari pastinya kita sering berbincang dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih bagi mereka yang memiliki hobi ngerumpi yang konon menjadi sifat yang banyak dimiliki dan diminati oleh orang Indonesia. Lihat saja acara yang menyuguhkan acara-acara rumpian yang tersebar di setiap stasiun televisi yang jumlahnya puluhan itu. Berderet-deret acara tentang gosip selebriti yang ditayangkan. Ramainya acara tersebut berarti memang ia digandrungi oleh banyak dari audience dan penikmat televisi di tanah air.
                Jika kita mau berfikir lebih produktif, keseharian kita yang tak lepas dari aktifitas ngobrol baik yang ngalor ngidul, pepesan kosong, atau gosip-gosip dan gunjingan yang sering mampir di telinga kita dapat kita arahkan ke dalam sesuatu aktifitas yang produktif. Jika tujuan kita ngobrol atau bercengkrama dengan orang-orang disekitar kita hanyalah ingin menyampaikan dan atau bertukar informasi tentang segala hal, maka pada hakikatnya menulis juga merupakan aktifitas yang sama persis; yakni kita ingin menyampaikan apa-apa yang ada di benak kita, yang kita ingin orang lain tahu akan pikiran dan pemikiran maupun keadaan kita kala itu. Maka sebetulnya setiap kita memiliki kemampuan menulis, karena menulis adalah “bentuk berbeda” dari cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan kebanyakan kita orang Indonesia berkepribadian komunikatif, yakni senang bersosialisasi dan berkelompok dengan sesamanya. Namun mengapa tradisi menulis tidak cukup menonjol dibanding tradisi bicara di negeri kita, padahal hakikatnya keduanya merupakan satu aktifitas yang tujuannya sama?
                Menulis dan bicara, sebagai satu bahasan diskursus ilmu komunikasi mungkin keduanya memiliki hakikat dan tujuan yang sama, hanya saja berbeda pada sisi interaksi yang terjalin dalam momen tersebut. Bicara, sebagaimana kita sering memulai atau merespon suatu pembicaraan, merupakan aktifitas timbal-balik yang secara langsung terjadi bagi dua orang yang berkomunikasi (real time), baik dengan perantaraan seperti telepon, atau dilaksanakan dengan langsung bertatap muka. Sedangkan menulis, harus diakui tidak semudah bicara, karena ia merupakan aktifitas yang membutuhkan daya curah pikiran yang ekstra, maupun pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak indera dari tubuh kita.
                Bicara, memang teranggap lebih ringan dibanding menulis. Keseharian kita tidak terlepas dari aktifitas bicara, karena berbicara menjadi media komunikasi paling mudah, sederhana, sekaligus paling minim peluang missunderstandingnya dibanding sarana komunikasi yang lain. Berbicara kepada orang lain, atau bahkan berbicara kepada diri sendiri untuk tujuan positif berkerangka ilmu psikologis yang mungkin terkadang dilakukan sebagian dari kita, merupakan salah satu modal untuk bisa menulis. Artinya, jika dalam keseharian kita pasti bertemu orang lain dan dipastikan pula mengadakan proses komunikasi dengan mereka, maka semua pembicaraan itu bisa menjadi bahan yang paling mendasar dari modal kita untuk menulis. Bagaimana tidak, jika setiap interaksi kita dengan orang lain berisikan proses untuk saling menyampaikan pesan dan pesan itu hidup menjadi suatu objek dinamis dalam otak kita, maka saling berlempar pesan itu bisa beralih menjadi suatu pengembangan perasaan dan pemikiran tertentu dari apa yang sedari awal kita bicarakan. Hal ini bisa dicontohkan seperti curhat seseorang pada buku diary yang ia miliki. Kebiasaan menuliskan sesuatu pemikiran, perasaan, dan pengalaman di sebuah buku diary sesungguhnya merupakan aktifitas positif yang patut dilestarikan sebagaimana anjuran dan pengalaman para penulis ulung yang tidak jarang memulai aktifitas kepenulisannya melalui menulis di sebuah buku diary. Jika coba kita telisik lebih dalam, kebanyakan isi dari curhatan kita di buku diary merupakan tumpahan perasaan yang menjadi pengalaman kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka biasanya ia tidaklah jauh dari perasaan sebal kita pada suatu perbuatan atau bahkan pada orang lain. Ia juga bisa berisi perasaan berbunga kita atas suatu raihan target pencapaian diri, hingga momen-momen tertentu yang membawa nuansa merah jambu dalam hati kita. Aktifitas menulis di buku diary ini pada sebagian orang hanya terhenti pada sharing perasaan kepada sahabat yang paling kita percayai. Dan untuk yang terakhir inilah terkadang tradisi menulis menjadi tenggelam bahkan hilang dan tergantikan oleh tradisi bicara yang semakin mengemuka.
                Menulis dan bicara, sejatinya ia merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Serupa karena hakikatnya ia merupakan aktifitas komunikasi kita kepada diri kita sendiri atau kepda orang lain. Tak sama karena dalam aktifitas menulis membutuhkan curahan pikiran dan pemberdayaan indera yang lain yang dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lebih. Namun dari semua itu, tulisan ini sebetulnya ingin menegaskan sekaligus memotifasi, bahwa ketika kita mampu membaca dan menulis, kemudian kita juga sehari-hari berkomunikasi dengan orang lain, maka sejatinya kita juga bisa menulis dan menghasilkan karya. Alihkan setiap segala uneg-uneg, pemikiran, perasaan, hikmah, dan apapun yang terlintas di benak kita ke dalam sebuah tulisan sebagaimana kita juga menceritakannya pada orang lain. Maka dengan begitu, tradisi bicara yang menguasai mayoritas dalam porsi komunikasi kita sehari-hari dengan orang lain dapat sedikit demi sedikit bergeser menjadi tradisi menulis yang dengannya juga kita terpacu untuk mendayagunakan potensi otak kita menjadi lebih berbobot, yakni tidak sekedar bicara yang terlalu mudah untuk dilakukan, namun juga berfikir sebelum berbicara, yang itu terasah dalam aktifitas kita dalam menulis. (Bekasi, 18-10-2012; 06.51 WIB)          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar