Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 08 Oktober 2012

(MENCOBA) MENULIS (LAGI)



                     Menulis. Hmmm... sekian lama saya tinggalkan aktivitas ini. Bila dihitung-hitung, mungkin sudah sekitar separuh tahun saya tidak menulis untuk berbagai peruntukannya. Di samping berbagai kesibukan yang menyapa, mengurus kepindahan rumah, beradaptasi di rumah baru maupun tempat kerja baru, atau memang alasan terakhir yang saya sadari sendiri mungkin yang paling tepat; malas. Ya, betapa suatu urusan yang positif dan akan membawa hal kebaikan pada diri itu membutuhkan perjuangan yang lumayan berat. Perlu tekad yang membaja untuk memulai sesuatu yang baik, juga tekad-tekad berikutnya untuk menjaga sesuatu kebaikan yang sudah kita mulai tersebut.
                Di tempat kerja saya yang baru, beruntung saya memiliki seorang teman yang pengalaman hidupnya begitu inspiratif. Di samping kesukaannya menulis yang ini menjadi pelecut saya untuk (mencoba) kembali menulis, beliau telah melalui perjuangan keras dalam mengejawantahkan prinsip hidupnya. Satu cerita yang membuat saya begitu takjub adalah salah satu momen waktu dalam hidupnya beberapa masa sebelumnya, yakni keteguhannya memegang prinsip saat pada akhirnya ia memilih untuk off sebagai seorang guru berstatus PNS di salah satu provinsi di bagian timur negeri ini. Pilihan yang menurut sebagian (besar) orang mungkin di anggap bodoh dan konyol. Di republik ini pekerja berstatus PNS begitu menjadi idola sekaligus primadona yang karenanya setiap kali dibuka lowongan CPNS di berbagai tempat, peminatnya selalu membludak, bahkan tidak sedikit yang rela menyiapkan dana hingga puluhan juta rupiah sebagai pelicin untuk memuluskan mimpinya menjadi seorang PNS. Atau sebagaimana dorongan yang tak jemu dari ibunda untuk mengikuti tes CPNS (sebagaimana kakak saya dan suaminya yang telah lebih dulu berstatus PNS) di setiap kesempatan periode bukaannya.
                Teman saya yang satu ini begitu beda di antara teman yang lainnya. Ia memilih tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah negeri karena ia sudah tak lagi tahan dengan pola perilaku maupun budaya pendidikan di sekolah wilayah tersebut (yang saya kira juga di seluruh wilayah negeri ini) yang memaksanya untuk berbohong dan memanipulasi hasil belajar siswa-siswinya, terutama saat ujian akhir nasional tiba. ‘Ala kulli haal, saya mengagumi beliau dalam memegang prinsip, sebagaimana kekaguman saya pada rekan-rekan yang lain yang setiap mereka memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
                Kembali pada tema pembicaraan yakni tentang menulis (lagi). Entah kenapa rasanya malas untuk menuangkan buah pikir ke atas lembaran kertas. Ide dan tema bukannya tidak ada, mungkin sudah berserakan ide yang saya temukan dalam pengembaraan kehidupan sehari-hari. Namun satu yang pasti saya identifikasi dari “kemandulan” saya beberapa bulan ini adalah pada “pelitnya” saya untuk meluangkan waktu demi menulis. Virus jahat bernama “entar dulu” selalu memenangi pertarungan melawan sang lawan sejati “kerjakan sekarang juga”. Saya sering mencari alasan untuk mendukung si “entar dulu” ini. Yang capek lah, yang baru pulang lah, yang mau main sama Usamah dulu lah, yang mau santai-santai dulu lah, yang mau beres-beres rumah, yang...yang...pokoknya akan jadi banyak “yang” deh. Hal itu yang primernya membuat saya pada akhirnya tidak menulis satu pun karya.
Kembali kepada sang teman mantan PNS yang asli Makasar tadi, Ia pernah menceritakan kiatnya dalam beristiqamah menulis, simpel saja katanya, pokoknya rutinkan setiap hari untuk menulis. Menulis apa? Apapun! Ya, beliau benar, intinya memang selalu luangkan waktu sesibuk dan selelah apapun untuk menulis, dengan begitu kita akan terbiasa, bahkan boleh jadi kebiasaan itu akan tumbuh menjadi hobi, dan hobi menulis terlebih di zaman ini bisa membuat kita kaya, tentu saja dalam segala maknanya yang luas.
                Yang saya mesti lakukan adalah meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, itu salah satu sum-sum poinnya. Nah kalau hal ini coba disinkronkan dengan kegiatan sehari-hari, maka ia akan bertarung kepentingan dengan waktu bekerja yang ditotal bisa sampai 9 jam di kantor. Ia juga akan berjibaku dengan hak mua’amalah istri dan anakku. Atau alokasi waktu-waktu yang lain yang jika di cari akan menjadi berderet-deret alasan. Ternyata kiat “meluangkan waktu” tidak boleh berjalan sendirian, ia juga tidak bisa tidak harus mengurutkan kiat lanjutannya yakni manajemen waktu. Ya, harus dibuat manajemen waktu yang benar, yang tepat, yang efektif, yang produktif. Caranya, yah dibuat saja perencanaannya, bertumpuk buku dan berkali training atau seminar kan sudah dilakoni, tinggal diamalkan dan diupayakan keistiqamahannya, bukan begitu akhi? So pasti.
                Tinggalkan segala hal yang tidak atau kurang manfaatnya. Kiat ini sebetulnya nyambung dan include dalam poin sebelumnya tentang manajemen waktu. Hanya mungkin perlu di tulis khusus untuk penegasan. So, jangan ada lagi waktu mubadzir untuk hal-hal yang sia-sia. Pokoknya harus selalu full azzam untuk merealisasikan mimpi terpampangnya karya-karya kita di display toko buku nasional di bawah tajuk “buku best seller”. Bisa? Pasti bisa!!
                (Mencoba) menulis (lagi). Semoga tulisan ini akan menjadi pemantik awal untuk menggapai tujuannya. Bukan hanya sekedar memulai kembali untuk menulis, tapi niatnya tidak lebih dari “tonjokan” bagi diri untuk menulis,menulis, dan menulis. Oleh karena itu wahai akhi, ayo terus menulis, dan jadikan ia sebagai gaya hidup. Hmmmm...menulis sebagai gaya hidup, keren juga. Yuk kita kampanyekan, he...he... (Bekasi, 9 Oktober 2012, 6.39 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar