Menulis. Hmmm... sekian lama saya
tinggalkan aktivitas ini. Bila dihitung-hitung, mungkin sudah sekitar separuh
tahun saya tidak menulis untuk berbagai peruntukannya. Di samping berbagai
kesibukan yang menyapa, mengurus kepindahan rumah, beradaptasi di rumah baru
maupun tempat kerja baru, atau memang alasan terakhir yang saya sadari sendiri
mungkin yang paling tepat; malas. Ya, betapa suatu urusan yang positif dan akan
membawa hal kebaikan pada diri itu membutuhkan perjuangan yang lumayan berat.
Perlu tekad yang membaja untuk memulai sesuatu yang baik, juga tekad-tekad
berikutnya untuk menjaga sesuatu kebaikan yang sudah kita mulai tersebut.
Di
tempat kerja saya yang baru, beruntung saya memiliki seorang teman yang
pengalaman hidupnya begitu inspiratif. Di samping kesukaannya menulis yang ini
menjadi pelecut saya untuk (mencoba) kembali menulis, beliau telah melalui
perjuangan keras dalam mengejawantahkan prinsip hidupnya. Satu cerita yang membuat
saya begitu takjub adalah salah satu momen waktu dalam hidupnya beberapa masa
sebelumnya, yakni keteguhannya memegang prinsip saat pada akhirnya ia memilih
untuk off sebagai seorang guru
berstatus PNS di salah satu provinsi di bagian timur negeri ini. Pilihan yang
menurut sebagian (besar) orang mungkin di anggap bodoh dan konyol. Di republik
ini pekerja berstatus PNS begitu menjadi idola sekaligus primadona yang
karenanya setiap kali dibuka lowongan CPNS di berbagai tempat, peminatnya selalu
membludak, bahkan tidak sedikit yang rela menyiapkan dana hingga puluhan juta
rupiah sebagai pelicin untuk memuluskan mimpinya menjadi seorang PNS. Atau
sebagaimana dorongan yang tak jemu dari ibunda untuk mengikuti tes CPNS
(sebagaimana kakak saya dan suaminya yang telah lebih dulu berstatus PNS) di
setiap kesempatan periode bukaannya.
Teman
saya yang satu ini begitu beda di antara teman yang lainnya. Ia memilih tidak
melanjutkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah negeri karena ia sudah
tak lagi tahan dengan pola perilaku maupun budaya pendidikan di sekolah wilayah
tersebut (yang saya kira juga di seluruh wilayah negeri ini) yang memaksanya
untuk berbohong dan memanipulasi hasil belajar siswa-siswinya, terutama saat
ujian akhir nasional tiba. ‘Ala kulli haal, saya mengagumi beliau dalam
memegang prinsip, sebagaimana kekaguman saya pada rekan-rekan yang lain yang
setiap mereka memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
Kembali
pada tema pembicaraan yakni tentang menulis (lagi). Entah kenapa rasanya malas
untuk menuangkan buah pikir ke atas lembaran kertas. Ide dan tema bukannya
tidak ada, mungkin sudah berserakan ide yang saya temukan dalam pengembaraan
kehidupan sehari-hari. Namun satu yang pasti saya identifikasi dari
“kemandulan” saya beberapa bulan ini adalah pada “pelitnya” saya untuk
meluangkan waktu demi menulis. Virus jahat bernama “entar dulu” selalu
memenangi pertarungan melawan sang lawan sejati “kerjakan sekarang juga”. Saya
sering mencari alasan untuk mendukung si “entar dulu” ini. Yang capek lah, yang baru pulang lah, yang
mau main sama Usamah dulu lah, yang mau santai-santai dulu lah, yang mau
beres-beres rumah, yang...yang...pokoknya akan jadi banyak “yang” deh. Hal itu
yang primernya membuat saya pada akhirnya tidak menulis satu pun karya.
Kembali kepada
sang teman mantan PNS yang asli Makasar tadi, Ia pernah menceritakan kiatnya
dalam beristiqamah menulis, simpel saja katanya, pokoknya rutinkan setiap hari
untuk menulis. Menulis apa? Apapun! Ya, beliau benar, intinya memang selalu
luangkan waktu sesibuk dan selelah apapun untuk menulis, dengan begitu kita
akan terbiasa, bahkan boleh jadi kebiasaan itu akan tumbuh menjadi hobi, dan
hobi menulis terlebih di zaman ini bisa membuat kita kaya, tentu saja dalam
segala maknanya yang luas.
Yang
saya mesti lakukan adalah meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, itu salah
satu sum-sum poinnya. Nah kalau hal ini coba disinkronkan dengan kegiatan
sehari-hari, maka ia akan bertarung kepentingan dengan waktu bekerja yang
ditotal bisa sampai 9 jam di kantor. Ia juga akan berjibaku dengan hak
mua’amalah istri dan anakku. Atau alokasi waktu-waktu yang lain yang jika di
cari akan menjadi berderet-deret alasan. Ternyata kiat “meluangkan waktu” tidak
boleh berjalan sendirian, ia juga tidak bisa tidak harus mengurutkan kiat
lanjutannya yakni manajemen waktu. Ya, harus dibuat manajemen waktu yang benar,
yang tepat, yang efektif, yang produktif. Caranya, yah dibuat saja
perencanaannya, bertumpuk buku dan berkali training atau seminar kan sudah
dilakoni, tinggal diamalkan dan diupayakan keistiqamahannya, bukan begitu akhi?
So pasti.
Tinggalkan
segala hal yang tidak atau kurang manfaatnya. Kiat ini sebetulnya nyambung dan include dalam poin sebelumnya tentang
manajemen waktu. Hanya mungkin perlu di tulis khusus untuk penegasan. So,
jangan ada lagi waktu mubadzir untuk hal-hal yang sia-sia. Pokoknya harus
selalu full azzam untuk merealisasikan mimpi terpampangnya karya-karya kita di
display toko buku nasional di bawah tajuk “buku best seller”. Bisa? Pasti
bisa!!
(Mencoba)
menulis (lagi). Semoga tulisan ini akan menjadi pemantik awal untuk menggapai
tujuannya. Bukan hanya sekedar memulai kembali untuk menulis, tapi niatnya
tidak lebih dari “tonjokan” bagi diri untuk menulis,menulis, dan menulis. Oleh
karena itu wahai akhi, ayo terus menulis, dan jadikan ia sebagai gaya hidup.
Hmmmm...menulis sebagai gaya hidup, keren juga. Yuk kita kampanyekan, he...he...
(Bekasi, 9 Oktober 2012, 6.39 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar