Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

AGAR SEMANGAT RAMADHAN KITA SENANTIASA MEMBARA

AGAR SEMANGAT RAMADHAN KITA SENANTIASA MEMBARA

            Jika ada sesuatu dalam dunia ini yang perputarannya tak pernah sesaatpun terhenti, maka sesuatu itu pasti adalah waktu. Waktu bergulir begitu cepat, mengantarkan kita kepada setiap detik perjalanan hidup dan membawa kita pada berbagai pengalaman juga keadaan. Saat ini, entah sudah Ramadhan yang kali keberapa yang pernah kita temui. Waktu ini, seakan tanpa terasa Ramadhan telah menginjak pertengahan jumlah hari. Mari kita mengevaluasi diri, sampai di sini sudah sejauh mana peningkatan kualitas diri yang telah kita raih di ramadhan kali ini. Terutama seberapa besar penjagaan kita terhadap semangat menjalankan Ramadhan. Karena semangat adalah modal utama kita untuk dapat meraih setiap impian kehidupan. Termasuk juga impian tentang capaian target Ramadhan yang sudah kita canangkan di hari-hari sebelumnya.
            Bila kita coba memperhatikan fenomena Ramadhan ketika memasuki waktu-waktu seperti sekarang ini, maka ada sesuatu yang mungkin menarik berkenaan dengan intensitas aktivitas ibadah khususnya ibadah shalat berjama’ah. Pada banyak masjid sudah terlihat jama’ahnya semakin menyusut jumlahnya. Mungkin yang kentara dalam hal ini adalah pada saat-saat pelaksanaan shalat tarawih. Bila pada sepekan pertama bulan Ramadhan, masjid-masjid sampai tidak bisa menampung jama’ah, tapi pada pekan-pekan selanjutnya jumlah jama’ah semakin menyurut. Barisan shaf shalat yang tadinya sampai membludak hingga ke luar masjid semakin berkurang seiring bertambahnya hari Ramadhan. Kita dapat melihat fenomena ini berlaku di sebagian besar masjid maupun daerah dimana terdapat mayoritas umat Islam. Hal yang mungkin juga kita rasakan bahwasanya semangat untuk menjalani aktivitas ibadah Ramadhan kian hari semakin hilang tertelan oleh waktu. Semua suka cita menyambut Ramadhan seakan menguap oleh karena ketidakcakapan kita dalam menjaga konsistensi iman dan semangat menjalankan Ramadhan.
Itu berkenaan dengan ibadah shalat malam kita, sekarang coba kita evaluasi tentang semangat kita untuk menjalankan puasa disetiap hari di bulan Ramadhan. Dari bangun pagi untuk melakukan sahur, apakah terdapat penurunan-penurunan semangat untuk melaksanakannya. Mungkin sudah banyak dari kita yang mulai malas-malasan untuk bangun di hari yang masih dini untuk mengisi perut kita agar senantiasa fit di sepanjang hari. Bukan cuma itu, sebenarnya alasan kenapa kita harus melakukan sahur adalah juga terdapat keberkahan dan keutamaan di dalamnya seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasulullah. Setelah itupun kita coba mengingati hari-hari Ramadhan kita akhir-akhir ini terutama di pagi hari setelah melakukan sahur. Berapa banyak dari kita yang kemudian setelah sahur tidak kembali ke tempat tidur dan menyiapkan diri untuk melakukan shalat shubuh di masjid. Setelah itu, berapa banyak dari kita yang konsisten untuk melakukan aktifitas amaliah seperti wirid maupun tadarus qur’an setelah kembali dari melaksanakan shalat shubuh di masjid. Tidak jarang dari kita yang mungkin juga menjadikan puasa Ramadhan sebagai alasan untuk tidak optimal dalam beraktifitas.
Memang salah satu tabiat fitrah yang dimiliki oleh kita sebagai manusia adalah kecendrungan untuk terhinggapi rasa bosan, dalam segala aktifitas, di setiap kesempatan waktu. Hal itu memang sebuah hal yang sangat manusiawi. Kita bukan malaikat yang tak diberikan potensi untuk mengalami penurunan semangat dalam melaksanakan amal. Rasulullah pernah bersabda tentang tabiat iman bahwa menjadi sebuah keniscayaan bahwa iman itu yaziidu wa yanqusu (dapat mengalami peningkatan dan juga penurunan). Artinya jikapun iman seperti itu, apatah lagi dengan amalan yang mengikuti di belakangnya. Karena amalan itu pada hakikatnya bersifat korelatif (berhubungan) secara positif dengan iman. Seseorang yang mengaku sebagai orang yang beriman tentunya memiliki amalan-amalan ketaatan sebagai konsekwensi dan parameter keimanannya. Terkait dengan Ramadhan, adalah sebuah hal yang lumrah jika ketika kita menjalani hari-harinya terdapat titik-titik waktu dimana kita mengalami kejenuhan. Tapi, jangan jadikan ini sebagai apologi kita untuk kemudian tidak berusaha untuk memperbaikinya. Justru ketika kita mengalami kejenuhan, maka yang kita harus lakukan adalah memanfaatkan titik jenuh itu untuk kemudian melejitkannya hingga melebihi semangat kita di waktu-waktu sebelumnya. Kita mengupayakan siklus iman kita agar senantiasa menunjukkan grafik yang meningkat. Jikapun turun, maka kita berusaha untuk memacunya hingga mencapai tingkat grafik yang lebih tinggi dari titik tertinggi sebelumnya, dan begitu seterusnya.
Lantas, dalam kerangka menjaga ke-istiqomahan iman dan amal serta semangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan, hal-hal seperti apa yang dapat kita lakukan?  Setidaknya ada beberapa cara bagi kita untuk senantiasa dapat menjaga dan memelihara semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang juga dapat berpengaruh pada penjagaan iman dan amalan kita di bulan-bulan berikutnya.

  1. Senantiasa mengingat keutamaan-keutamaan Ramadhan
      Dalam kajian pra maupun ketika Ramadhan, kita mungkin sudah banyak mendapatkan berbagai materi mengenai keutamaan yang itu terdapat di bulan Ramadhan. Namun, tidak ada salahnya dalam kesempatan ini berbagai keutamaan yang melekat di bulan Ramadhan itu kita ulangi lagi kembali. Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit ra, bahwa suatu hari menjelang Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pada bulan itu Allah akan mengampunimu, lalu rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapuskan, dan pada bulan itu doa dikabulkan. Allah Swt memandang perlombaanmu pada bulan Ramadhan itu dan membangga-banggakanmu kepada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kebaikanmu pada Allah. Sesungguhnya celakalah orang yang pada bulan itu terhalang tidak mendapatkan rahmat Allah ‘Azza wa jalla”.
Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan di ampuni dosa-dosanya di masa lalu”.
Disebutkan pula dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisi bahwa telah bersabda Rasulullah:
“…Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan satu perbuatan sunnah di dalamnya,  dia bagaikan melakukan satu kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa melakukan satu kewajiban pada bulan ini, maka dia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan yang lain…”.
Dalam malam sepuluh terakhir Ramadhan, kita juga sudah mengetahui pula bahwa di malam-malam ganjil pada waktu itu, ada satu malam yang Ia nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Maka barangsiapa yang berhasil meraih malam kemuliaan itu, sesungguhnya ia menjadi orang-orang yang paling beruntung dalam meraih keutamaan Ramadhan.

2.      Mempelajari pengalaman Rasulullah Saw dan para pendahulu yang shalih dalam beribadah di bulan Ramadhan.
      Bukan bandingannya memang ketika kita mencoba bercermin kepada pengalaman Rasulullah Saw, sahabat serta para pendahulu yang shalih dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Tapi, sesungguhnya dengan kita mempelajari pengalaman-pengalaman Ramadhan mereka, diharapkan kita akan termotivasi untuk dapat banyak beramal seperti amalan mereka. Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai salah satu imam madzhab yang pengikutnya konon mayoritas di negeri ini. Dalam biografinya disebutkan bahwa dibulan Ramadhan beliau mampu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam sebulan Ramadhan. Kita mungkin mustahil dapat menyamai “rekor” beliau dalam mengkhatamkan al-Qur’an, tapi paling tidak ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk dapat sekurangnya mengkhatamkan al-Qur’an sekali saja di bulan Ramadhan. Jika imam syafi’i sanggup mengkhatamkan al-Qur’an dalam sebulan sebanyak 60 kali khatam, itu berarti dalam sehari beliau rata-rata berhasil khatam sebanyak 2 kali, yang jika di-juzkan berarti sehari berhasil membaca 60 juz. Maka suatu hal yang tidak sulit bagi kita mengkhatamkan al-Qur’an 1 kali dalam sebulan, yang berarti kita hanya harus membaca 1 juz dalam seharinya.

3.      Membuat misi Ramadhan dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya.
      Salah satu kiat kita dalam meraih kesuksesan dalam hidup adalah mencoba menargetkan capaian kesuksesan itu baik dalam bentuknya, maupun dalam waktu per-realisasiannya. Dalam meraih kesuksesan dan ke-istiqomahan Ramadhan pun demikian. Kita wajib memiliki target-target Ramadhan yang akan kita kejar pencapaiannya. Misalnya, sejak awal Ramadhan yang lalu kita menargetkan bahwa Ramadhan ini kita akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan merokok. Atau juga bagi muslimah misalnya, ia bertekad untuk menutup aurat dengan berjilbab secara sempurna mulai bulan Ramadhan ini dan bulan-bulan seterusnya. Atau pula kita menargetkan dalam Ramadhan ini harus khatam al-Qur’an minimal satu kali. Juga target-target yang lain yang bisa kita canangkan. Pun seumpama kita sudah menginjak hari yang ke-13 bulan Ramadhan dan kita belum membuat targetan-targetan yang akan kita capai terkait peningkatan kualitas diri kita, maka tidak ada kata terlambat untuk membuat dan mencoba merealisasikannya saat ini juga.

4.      Senantiasa mengingat kematian dan kemungkinan bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.         
Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui kapan ajal seseorang itu datang. Oleh karena itu seorang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah seseorang yang selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang pasti. Dan, tidak ada yang dapat mengingkari dan menghindari kepastian bahwa kita semua akan mati. Oleh karena itu yang harus kita lakukan dalam menghadapi kematian adalah berbekal diri dalam menyongsongnya. Dan, “…sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…”.(QS. al-Baqarah [2]: 197). Maka Ramadhan ini bisa jadi Ramadhan kita untuk yang terakhir kali dalam hidup ini. Oleh karena itu jangan disiakan kesempatannya yang terbentang luas untuk kita memupuk amal dan memperbanyak bekal berupa ibadah dalam bulan penuh keutamaan bulan ramadhan. Dan juga, sebagai tujuan dari wajibnya Ramadhan bagi kita semua adalah “…agar kamu bertaqwa”.(QS. al-Baqarah [2]: 183). Mari kita mencoba untuk mewujudkannya.

  1. Bergabung bersama mereka yang memiliki semangat dalam meraih berbagai keutamaan pahala Ramadhan.
Dalam penjelasan teori sosiologi dikatakan bahwa lingkungan pergaulan seseorang sangat mempengaruhi perilaku orang tersebut. Jauh sebelum teori itu dicetuskan kira-kira 1500 tahun sebelumnya, Rasulullah Saw telah mengingatkan kita; “Seseorang itu berada di bawah agama temannya. Oleh karena itu hendaknya ia melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Muslim dan Abu Daud).
Kita sadari atau tidak, sesungguhnya lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perilaku dan kebiasaan kita. Oleh dari itu kita sering menemukan bahwa seorang pemabuk biasanya bergaul dengan pemabuk juga, dan seorang ahli ilmu maupun ahli ibadah akan berteman akrab dengan ahli ilmu ataupun ahli ibadah juga. Hal ini merupakan sunatullah dalam kehidupan sosial. Maka dari itu dalam kompetisi meraih kemuliaan bulan Ramadhan, kita harus mencoba untuk selalu menjaga  lingkungan pergaulan yang kondusif, dan terutama lingkungan pergaulan yang akan memacu kita untuk senantiasa berbanyak-banyak amalan keta’atan kita kepada Allah Swt.           

            Bulan Ramadhan pada hakikatnya juga merupakan bulan ishlah (perbaikan) serta bulan tarbiyah (pendidikan). Banyak sudah tercatat bahwa madrasah Ramadhan ini telah benar-benar merubah seseorang menjadi orang-orang yang lebih baik dalam kualitas dirinya di hadapan manusia dan terutama dalam pandangan Allah Swt. Oleh karena itu mari kita bersama-sama untuk selalu bersemangat dalam meraih berbagai keutamaannya. Hingga nanti kita dapat berjumpa hari ‘Idul Fitri dengan senyum berseri, dan dengan kualitas diri yang lebih baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari.
Wallahu a’lam bish showwab. AF[][]

UNTUKMU IBU

UNTUKMU IBU

            Hari ini, bertepatan dengan tanggal 22 Desember 2006, merupakan hari yang istimewa bagi sesosok manusia mulia dalam kehidupan kita. Tidak lain sosok itu adalah seseorang yang biasa kita panggil “Ibu”. Di hari ini, mereka merayakan hari kebesarannya di setiap tahunnya. Tanggal 22 Desember selalu menggaungkan nama mereka dalam kegaduhan isu dan gosip yang menghiasi tayangan acara di televisi maupun yang termuat di media cetak. Pun banyak juga diadakan kegiatan-kegiatan yang dipersembahkan untuk menghormati mereka dan memperingatkan akan peran dan jasa mereka yang teramat besar dalam perjalanan kita, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai sebuah bangsa.

Sejarah Hari Ibu
            Kalender hari besar bangsa kita mencatat tanggal 22 Desember sebagai hari peringatan akan jasa-jasa seorang ibu. Sejarah ini bermula ketika pada tanggal tersebut di tahun 1928, diadakan kongres perempuan pejuang Indonesia yang dihadiri oleh organisasi-organisasi perempuan Indonesia. Dalam kongres perempuan Indonesia atau yang dikenal dengan Kowani yang pertama kali diadakan di Yogyakarta tersebut, kemudian disusul oleh pertemuan-pertemuan lain yang kemudian dari sana ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No.316 Tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional. Semenjak itulah kemudian kita menjadikan tanggal 22 Desember sebagai hari yang istimewa bagi kaum ibu. Berbeda dengan negara Paman Sam Amerika yang merayakan Hari Ibu pada setiap ahad pekan kedua di bulan Mei. Dari sisi perbedaan ini, minimal ada sebuah sisi positif yang sedikit meninggikan martabat kita sebagai bangsa Indonesia. Karna biasanya, bangsa kita bercorak ikut-ikutan, pun dalam perayaan hari-hari besar tertentu selalu mengekor pada perayaan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa besar dunia. Tidak cuma itu, kitapun terbiasa untuk ikut-ikutan dalam aspek lain seperti aspek ekonomi, politik, keamanan dan lain sebagainya. Dan karena itulah yang menyebabkan bangsa kita tak pernah bisa meloloskan diri dari jeratan keterhimpitan kehidupan yang terutama didasarkan oleh ketidakberdayaan perekonomian.

Perayaan Hari Ibu dalam cermin masa kini
            Hari ini perayaan hari kaum ibu sudah menginjak angka yang ke-78 semenjak diadakannya kongres perempuan Indonesia di tahun 1928. Semoga selama itu kita telah benar-benar memposisikan sosok ibu dalam tempat mulia sebagaimana adanya. Dan, segala penghormatan kita kepadanya bukan sebatas kita lakukan pada hari ini saja, sedangkan hari-hari yang lain tidak. Satu hal yang menjadi ironi dalam tradisi perayaan hari ibu adalah kondisi mereka yang sampai saat ini masih memprihatinkan, baik memprihatinkan karena tidak mendapatkan penghormatan yang sempurna dari anak-anaknya dalam segala kasusnya, atau juga keprihatinan oleh karena diri mereka sendiri yang tidak menyadari posisi mereka yang sangat urgen bagi pembentukan sebuah karakter bangsa. Ada pula sebagian dari kaum ibu yang tidak mencerminkan bagaimana seharusnya mereka memerankan tugasnya. Masih banyak kita mendengar berita yang mengiris-iris nurani kita ketika ada seorang ibu yang membuang anaknya, ataupun kita juga mendapati kasus-kasus dimana seorang ibu melalaikan tugas utamanya untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik kelak di kemudian hari. Banyak dari mereka yang kemudian berprofesi menjadi seorang wanita karier dan meninggalkan dibelakang mereka kewajiban untuk mendidik dan membesarkan anak-anak mereka sendiri. Kalangan aktivis perempuan yang katanya dalam melancarkan gerakannya bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan menganjurkan kesetaraan dalam berbagai bidang hingga mereka menuntut untuk memiliki kebebasan berekspresi dan bekerja di ranah publik kemudian menyisakan suatu permasalahan baru tentang nasib masa depan anak-anak mereka. Betapa tidak, ketika mereka aktif bekerja di luaran, sementara fungsi mendidik dan membesarkan anak-anak diserahkan kepada pihak-pihak tertentu macam baby sitter ataupun pembantu rumah tangga, maka sang anak kehilangan curahan kasih sayang dari ibu mereka, sekaligus juga tidak mendapatkan bimbingan dan pengajaran yang semestinya dari orang yang seharusnya paling dekat bagi mereka yaitu sosok seorang ibu. Itulah sebabnya untuk kasus seperti ini, banyak sekali pengalaman dimana anak justru lebih memiliki kedekatan emosional dengan pembantu di rumah dibanding dengan ibu mereka sendiri. Seperti sebuah kisah nyata seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk oleh ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran. Sungguhpun suatu pelajaran yang sangat tragis sekaligus memilukan. Lalu, bagaimana seharusnya seorang ibu memerankan tugasnya dalam kehidupan?

Dan Islampun telah mengajarkan
 Lebih dari lima belas abad yang lalu, Islam dengan segala kesempurnaan akan ajarannya telah menjelaskan akan peran dan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan. Ia adalah seorang sosok manusia yang kehadirannya menjadi penyebab kesinambungan nasib peradaban. Ada yang mengatakan bahwa ibu merupakan sosok yang berperan sebagai madrasah peradaban. Bukan hanya dari rahimnya kita dilahirkan, tetapi juga melalui sentuhan kasih sayangnyalah kita dididik dan dibesarkan hingga kita menemukan dan menjalankan takdir kehidupan dengan berwarna-warnikan kebaikan.. 
Kita sama-sama sepakat akan kehadiran sosok ibu yang teramat penting dalam setiap bait fase hidup kita. Kedudukannya tidak tergantikan oleh siapapun dalam hidup ini. Ibu kita adalah manusia mulia yang telah melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita dengan kasih sayangnya, mengarahkan kita dengan ketulusannya. Maka jika ada seseorang yang wajib kita hormati dan kita taati setelah Alloh dan rosul-Nya, maka tempat itu akan pasti ditempati oleh sosok seorang ibu. Hal inipun mendapatkan pembenaran dalam ajaran Islam. Banyak sekali dalil qur’an maupun hadits yang menunjukkan ketinggian kedudukan seorang ibu bagi setiap kita. Diantaranya, betapa Al-qur’an dalam ayat-ayatnya menggandengkan syariat fundamental yaitu larangan menyekutukan Alloh dengan perintah untuk berbuat baik kepada bapak dan terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.(QS.4:36, 6:151, 17:23, 31:14)
Beberapa hadits juga menerangkan tentang keutamaan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan seorang anak manusia. Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata, “Seseorang datang menghadap rosululloh saw dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?“ Rosululloh menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“Rosululloh menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“ rosululloh kembali menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“ rosululloh menjawab, “Ayahmu“.(HR. Muslim)
Perhatikan bagaimana rosululloh menjawab sampai tiga kali untuk orang-orang yang wajib kita perlakukan dengan baik yaitu, “Ibumu“, “Ibumu“, “Ibumu“. Baru kemudian, “Ayahmu“. Hal ini tidak lain merupakan penjelasan betapa seorang ibu menempati posisi yang sangat tinggi dan mulia dalam kehidupan kita.
Keterangan lain mengisahkan tentang bakti seorang anak yang menggendong ibunya kesana kemari untuk thawaf di ka’bah dan mengikuti segala perintah ibunya, orang tersebut kemudian bertanya kepada Abdullah bin Umar,“Apakah aku sudah membalas jasa ibuku?“ maka dijawab oleh Abdullah bin Umar, “Belum setetespun engkau dapat membalas kebaikannya“(terdapat dalam Shahih ’adabul mufrod imam Al-Bukhori)
Atau hadits yang sudah lumayan masyhur yang menceritakan tentang seorang sahabat bernama Jaa-Himah yang memohon izin kepada rosululloh untuk ikut berjihad membela agama Alloh, lalu ditanyakan kepadanya oleh beliau saw, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?“. Sahabat tersebut menjawab, “Ya, ibuku masih hidup“. Maka kata nabi, “Hendaklah kamu berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya syurga berada dikedua telapak kaki ibu“.(HR. Nasa’i, Hakim dan Ahmad)
Disamping itu banyak sekali keterangan bagaimana Islam sangat memuliakan sosok seorang bernama ibu, sehingga dalam hadits terakhir, kedudukannya disepadankan dengan balasan syurga jika kita dapat melayani dan mentaatinya dengan baik. Sungguhpun sebuah kemuliaan yang tidak pernah sekalipun diberikan kepada kaum bapak. 

Maka mari kita renungkan
            Di hari istimewa ini, maka mari kita coba menyadari. Betapa seseorang yang selalu membersamai kita dengan kasih sayangnya, dan yang telah mendidik dan membesarkan kita dengan ketulusannya, adalah orang yang sangat berarti dalam hidup kita didunia, terlebih pula di akhirat sana. Sosok seorang ibu adalah manusia yang memiliki tanggungjawab agung untuk membimbing kita agar selalu berada dijalan-Nya. Dalam koridor ini hendaknya seorang ibu memiliki peran. Bukan dengan berteriak-teriak menyuarakan emansipasi yang justru merusak pola tatanan yang disana Islam telah mengajarkan. Bukan berarti Islam membatasi dan membedakan secara tidak adil akan peran dari kaum ibu dan kaum bapak. Tetapi justru keberbedaan itu merupakan keadilan hakiki yang melambangkan akan keseimbangan kehidupan. Bukankah keadilan itu berarti keseimbangan, walaupun tidak dalam kesamaan peran?
            Untuk para ibu, maka mari kita coba menyadari dan mengevaluasi peran kita selama ini. Apakah sudah betul-betul kita menjalaninya sesuai dengan apa yang Alloh dan rosul-Nya gariskan, ataukah justru seringkali dengan atau tanpa sadar kita telah melalaikan. Sedangkan bagi kaum laki-laki, entah engkau sebagai anak ataupun sebagai suami, renungkanlah akan jasa-jasa seorang wanita dalam hidupmu yang wanita itu bisa jadi ibumu, atau mungkin juga istrimu, yang telah diberikan tugas yang bernilai agung yaitu untuk menjadi seorang pendidik utama dalam bangunan masyarakat. Maka muliakanlah mereka sebagaimana Islam mengajarkannya. Karena tugas agung itulah Alloh menganugrahkan telapak kakinya dengan balasan syurga, bagi mereka yang benar-benar menghormati mereka dan mentaati mereka, dengan segenap ketulusan jiwa.Wallohu a’lam bish showwab.[]AF

RISALAH NIKAH UNTUK PARA PEMUDA DAN ORANG TUA




            Dalam hidup dan kehidupan seorang manusia, terdapat tiga peristiwa penting yang akan dilaluinya. Peristiwa itu adalah kelahiran dan kematian yang merupakan sebuah kepastian, dan yang ketiga adalah perisitwa yang tidak semua manusia merasakannya yaitu pernikahan. Maka peristiwa pernikahan bagi seorang manusia adalah salah satu bentuk nikmat dan karunia yang besar, yang akan membawa kehidupan ke dalam taman kebahagiaan di dunia, dan bagi seorang beriman, pernikahan dapat pula menjadi penyebab ia melangkah menuju syurga.
Dalam Islam, pernikahan memiliki kedudukan yang agung. Ikrar pernikahan yang di ucapkan antara seorang laki-laki kepada seorang perempuan dan atau walinya, disebut sebagai ”perjanjian yang berat”-mitsaqon gholizhon- di dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisaa’(4):21). Kata ini hanya terulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur’an, dua tempat lainnya yaitu perjanjian Allah dengan bani Israil sampai-sampai Ia mengangkat gunung Thursina ke atas mereka (QS. An-Nisaa’(4):154), dan juga perjanjian agung antara Allah dan rasul-rasulNya (QS. Al-Ahzab(33):7).
Bagi seorang pemuda yang sudah baligh, pernikahan menjadi suatu impian yang dinanti-nanti kehadirannya. Terlebih jika pemuda tersebut adalah seorang yang baik pemahaman keislamannya, yang ia tahu bahwa menjalin “hubungan khusus” dengan seorang wanita sebelum dihalalkan statusnya (melalui pernikahan) adalah berdosa. Seperti perilaku sebagian (besar) pemuda dan pemudi zaman sekarang yang dengan bebasnya menjalin hubungan dengan seseorang dari lawan jenisnya yang biasa disebut dengan “pacaran”. Padahal telah jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mendekati zina…”(QS.Al-Israa’( 17):32)  
Ayat di atas mengandung penegasan bahwa belumlah lagi tentang zina yang telah jelas-jelas pelarangannya, tetapi mendekatinya saja sudah tidak boleh. Dan perbuatan mendekati zina itu diantaranya seperti berpegangan tangan, berjalan berduaan dan perbuatan-perbuatan lain yang biasa dilakukan oleh mereka yang berpacaran. Tidak lain pelarangan itu adalah bertujuan demi kebaikan dari diri kita sendiri. Sudah banyak bertebaran disekitar kita kisah-kisah miris muda-mudi yang berpacaran lalu kebablasan hingga sang puteri hamil duluan. Maka pernikahan diselenggarakan bukanlah lagi dengan bermahkotakan kesucian serta dilalui di atas permadani kebahagiaan, melainkan karena beban keterpaksaan yang berujung pada suasana saling menyalahkan, sehingga kehidupan rumah tangga dijalani dengan kepiluan, Na’udzu billahi min dzaalik.    
Maka syariat mulia ini mengajarkan kita untuk menghindari pacaran tetapi memberikan solusi pernikahan. Dan itulah satu-satunya jalan bagi mereka yang telah memiliki ketertarikan kepada lawan jenisnya, yaitu membingkai rasa ketertarikan itu dengan suatu ikatan mulia dengan menikah dan menjalani hidup berumah tangga, yang dengan begitu, berpacaran bukanlah lagi memunculkan urutan catatan dosa, akan tetapi sebaliknya, justru ia bernilai pahala yang berlipat ganda, bila dilakukan setelah dihalalkan statusnya yaitu dengan pernikahan.

Menikah, Antara Mimpi dan Kenyataan
Dalam masyarakat kita, ada sebuah anggapan yang muncul terutama dikalangan orang tua yang berkaitan dengan keinginan anaknya yang mengatakan sudah ingin menikah. Mereka (para orang tua), akan mengajukan pertanyaan kepada anaknya tentang modal apa (dan berapa) serta sumber penghasilan dari mana untuk menghidupi keluarga ketika berkeinginan untuk menikah. Apalagi bagi seorang pemuda yang belum bekerja secara tetap, kecil kemungkinan bagi mereka untuk mendapatkan restu untuk menikah dari orang tua.
Mungkin kekhawatiran orang tua cukup beralasan karena memang pernikahan bagi seorang pemuda adalah tanggung jawab menghidupi seorang istri -dan kelak anak- yang akan menjadi buah hati mereka. Dan bagi seorang pemuda yang belum memiliki pekerjaan tetap, hal ini bisa menjadi permasalahan yang tidak jarang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Karena menikah tidak hanya cukup dengan cinta, tapi ia juga membutuhkan modal materil untuk menjaga kelangsungan kehidupan maupun pernikahan itu sendiri.
Alasan seperti tersebut di atas yaitu tentang ganjalan finansial seringkali menjadi penyebab seorang pemuda dan pemudi untuk menunda keinginan untuk menikah dan lebih senang untuk tetap berbuat dosa dengan berpacaran. Padahal akibat dari penundaan pernikahan bagi dua orang pemuda-pemudi yang telah menjalin kedekatan hubungan dapat saja menjadi sangat fatal, sebagaimana yang sudah sedikit disinggung di atas. Maka bersyukurlah kita karena Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an sebagai hudaa (petunjuk) dan juga sebagai busyraa (berita gembira) untuk seluruh umat manusia. Dalam kaitannya dengan perkara pernikahan ini, Ia menurunkan salah satu firman-Nya yang mulia, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.(QS. An-Nur(24):32)
            Ada yang menarik dari ayat ini. Bahwa perintah untuk menikah disampaikan bukan dalam bentuk kalimat aktif ”menikahlah”, akan tetapi justru bentuknya pasif; ”nikahkanlah”. Ada makna yang berbeda dari dua kata ini. ”Menikahlah”, ia lebih kepada perintah bagi orang yang sudah mampu dan ingin menikah untuk segera menikah. Tetapi kata ”nikahkanlah”, ia bermakna menikah adalah tanggung jawab bagi orang lain di luar mereka yang sudah mampu dan ingin menikah. Dalam kehidupan sosial, orang-orang yang bertanggung jawab itu tentunya adalah pihak orang tua atau mereka yang bertanggung jawab atas pengasuhan seorang anak. Singkatnya, ayat ini bermakna perintah bagi orang tua atau siapapun yang memiliki hak asuh seorang anak yang sudah mampu dan siap untuk menikah untuk menikahkan mereka. Jadi sebenarnya, dengan begitu pernikahan adalah tanggung jawab sosial!!!
            Lalu kebanyakan dari kita akan mengajukan pertanyaan, ”jika masih kuliah atau belum bekerja, mau menghidupi darimana?”. Maka biarkan bait ayat selanjutnya yang menjawab, ”Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” .(QS. An-Nur(24):32)
Ayat ini menjadi rumus rahasia yang mengawal perjalanan kehidupan kita. Bahwa telah ada jaminan Allah bagi mereka yang akan menikah, bahwa Ia akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, tentu saja pernikahan itu adalah pernikahan yang niatnya baik dan mulia serta dengan proses dan cara yang juga baik dan mulia. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits, ”Tiga hal dimana Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantu mereka, yakni orang yang menikah dengan maksud menjaga kehormatan dirinya, hamba sahaya yang berniat membayar tebusan kepada tuannya agar dirinya dimerdekakan, dan yang berperang dijalan Allah” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i). Atau dengarlah perkataan rosul-Nya di haditsnya yang lain, ”Carilah oleh kalian rizki dalam pernikahan”(HR. Dailami)
            Pernah dikisahkan ada seorang sahabat yang datang kepada rosululloh Saw untuk mengadukan keadaannya yang miskin. Lantas apa solusi yang rosululloh Saw tawarkan kepada sahabat itu, beliau justru menyuruhnya menikah. Dan, ternyata tidak beberapa lama setelah menikah, sahabat tersebut datang kembali kepada rosululloh dan mengadukan keadaan ekonominya yang belum juga membaik. Rosululloh memberikan solusi yang sama, menikah. Hingga sahabat tersebut datang untuk yang ketiga dan keempat kalinya, jawaban rosululloh terkait dengan permasalahan sahabat tersebut masih sama, menikah. Dan baru setelah ia menikahi istrinya yang keempat, Alloh menganugerahkan ia kelapangan rizki oleh karena istri keempatnya memiliki keahlian menenun pakaian sehingga diajarkan kepada ketiga istrinya yang lain. Dan semenjak itu ia memiliki usaha garmen yang berkembang pesat.
Disamping ayat, hadits maupun kisah sahabat di atas, masih banyak dalil yang menjelaskan tentang kemudahan kehidupan bagi seorang manusia yang jalannya adalah melalui pernikahan. Maka marilah kita simak perkataan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu; ”Carilah kekayaan dalam pernikahan”. Atau ingatlah pula perkataan Umar bin khaththab radhiyallahu ’anhu “Aku tidak habis heran, jika ada orang yang ragu-ragu terhadap kecukupan yang akan didapat melalui pernikahan, seperti yang dijanjikan Alloh Ta’ala dalam firman-Nya “ Jika mereka miskin, maka Alloh akan memampukan mereka dengan karunian-Nya” (terdapat dalam Al-Jami’ li ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi).
            Maka melihat semua keterangan itu, bagi kita sebagai pemuda, bersegeralah menyiapkan diri untuk menjemput keindahan kehidupan yang ada dalam pernikahan, dan bagi kita yang sudah berstatus sebagai orang tua, permudahlah anak-anak kita yang memang sudah dirasa tiba waktunya mereka untuk menikah. Janganlah lagi menunda hingga terjadi apa-apa yang kita tidak inginkan terjadi pada anak-anak kita. Sesungguhnya kehidupan di dunia hanya sementara, maka raihlah segala sesuatu yang dapat membuat kita bahagia dalam kehidupan dunia serta kehidupan akhirat kelak. Wallahu a’lam bish showwab. 
             
           

RENUNGAN ISRA’ MI’RAJ BAGI INDONESIA

RENUNGAN ISRA’ MI’RAJ BAGI INDONESIA
DAN UMAT ISLAM SE-DUNIA

            Senin yang lalu, 21 Agustus 2006 Masehi, bertepatan dengan 27 Rajab 1427 Hijriyah, umat Islam di Indonesia dan dunia kembali berkesempatan untuk mengadakan acara peringatan Isra’ Mi’raj yang memang biasa diadakan oleh mayoritas masyarakat setiap tahunnya. Dalam konteks kenegaraanpun, pemerintahan Republik Indonesia juga melakukan hal serupa. Berbondong-bondong para pejabat maupun tamu undangan dari berbagai Negara tak lupa berpartisipasi untuk datang menghadiri acara peringatan ynag dilaksanakan di masjid istiqlal, seperti yang kemarin juga telah dilaksanakan. Terlepas dari perbedaan pemahaman antara umat Islam yang biasa melaksanakan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj dengan yang tidak, sesungguhnya peristiwa itu menyimpan banyak hikmah untuk kita renungkan, baik yang berkenaan dengan peristiwa itu sendiri bagi pensyariatan berbagai perintah agama, pelajaran-pelajaran yang mengiringinya, serta refleksi yang berkaitan dengan konteks kekinian umat Islam, dan juga Masjidil Aqsho sendiri sebagai tempat yang tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa besar Isra’ Mi’raj.
            Dalam momentum Isra’ Mi’raj kali ini, kita memperingatinya masih dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun kemerdekaan. Ada rangkaian nuansa bagi umat dan bangsa yang semestinya dapat kita gunakan sebagai momentum kebangkitan. Terdapat kandungan hikmah yang juga dapat kita gali dari dua peristiwa besar ini bagi kita sebagai warga Negara, dan yang paling penting yaitu bagi kita sebagai umat beragama. Kalau peristiwa kemerdekaan kita tandai dengan keterbebasan kita dari cengkeraman tangan penjajah, maka ada pula pelajaran kemerdekaan dari peristiwa Isra’ Mi’raj, bahkan disinilah letak pengajaran akan esensi kemerdekaan bagi umat manusia, yaitu kemerdekaan sebagai seorang hamba yang hanya menyembah yang menciptakannya, Alloh Subhana Wa Ta’ala. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj-lah umat Islam menerima perintah untuk menunaikan sholat lima waktu dalam seharinya. Sholat sebagai tiang agama menjadi salah satu pilar peribadatan dari seorang manusia kepada Robb-Nya. Ia menjadi seperti apa yang pernah disabdakan oleh rosul-Nya, “Sebagai pembeda antara keislaman dan kekafiran”(HR. Muslim).
            Sebagai umat manusia, kita hidup dalam rangkaian kebutuhan yang amat kompleks, sehingga tak jarang kebutuhan-kebutuhan itu menjadi obsesi utama kita, dan kita melupakan kedudukan kita sebagai seorang hamba. Oleh karena berobsesi ingin menjadi seorang yang kaya raya, memiliki pangkat setinggi-tingginya, dan beristrikan wanita yang cantik jelita, kita kemudian melupakan kodrat kita sebagai seorang makhluk yang ada penciptanya. Kita lupa untuk menyembah yang menciptakan kita. Kita terbudaki oleh nafsu kita terhadap ke-semuan dunia. Sedikit demi sedikit kita terhanyut oleh beragam kesenangan dunia yang satu persatu hadir dihadapan kita. Atau bagi mereka yang lebih beruntung, dunia hadir dengan hamparan keindahannya yang tidak jarang membuat seseorang bersifat sombong seakan ia telah memiliki segalanya. Namun ketika sang ajal dengan pasti menghampirinya, ia baru ingat akan kealpaannya kepada Robb-Nya. Ia merasakan sakit yang luar biasa karena tercabutnya nyawa. Tiada yang tersisa kecuali kesombongan yang akan menjadi tiketnya menikmati dahsyatnya siksaan neraka. Semua itu tidak terjadi kecuali karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya yang selalu mengajaknya kepada perbuatan yang buruk-buruk dan menjauhi perbuatan ketaatan kepada Alloh SWT. Maka renungan Isra’ Mi’raj bagi pribadi adalah sebuah introspeksi akan segala keterlalaian diri dari kewajiban yang telah dibebankan kepada masing-masing hamba-Nya. Kemerdekaan yang secara kolektif kita rayakan kemarin hendaknya kita sempurnakan dengan pemahaman akan kemerdekaan hakiki yang menyentuh bingkai hidup setiap pribadi. Bahwa peribadatan dalam segala bentuknya haruslah kita niatkan untuk mencari ridho dan pahala dari Alloh SWT. Kehidupan dengan segala ke-urgenan kebutuhannya jangan sampai melalaikan diri kita dari seutama maksud keberadaan kita ketika Alloh menciptakannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya, “Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.(QS. Adz-Dzariat:56)
            Dalam lembar sejarah kisah yang mengiringi peristiwa Isra’ Mi’raj, kita mengenal nama Abu Bakar yang mendapat julukan “Ash-Shidiq”. Sahabat khalifah pertama selepas era Rosululloh ini merupakan sahabat yang paling utama di antara sahabat-sahabat lainnya. Hingga rosululloh menyebutkan sesuatu perkataan untuk beliau, “Jika aku mengambil kekasih dari umatku, aku pasti mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku, namun ia adalah saudaraku dan sahabatku”. (HR. Bukhari). Dalam penggalan cerita yang mewarnai peristiwa Isra’ Mi’raj ini, Abu Bakar membuktikan keimanannya yang sempurna kepada ke-rosulan Muhammad SAW. Disaat kebanyakan penduduk Makkah menyangsikan pengakuan rosululloh setelah melakukan Isra’ Mi’raj, maka Abu Bakar adalah segelintir dari para sahabat yang tanpa ragu-ragu langsung mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh rasul-Nya. Hingga kemudian dikatakan Abu Bakar “Ash-Shidiq”-yang benar/jujur-. Dalam kisah ini terdapat pelajaran tentang totalitas keimanan yang di contohkan oleh Abu Bakar. Bahwa keimanan kepada Alloh dan rosul-Nya haruslah di berikan secara sempurna. Bukan cuma itu, kita juga berkewajiban untuk mengimani secara penuh kepada rukun keimanan lainnya tanpa keraguan sedikitpun. Jangan sekali-kali ada diantara kita yang mengaku beriman kepada Alloh tapi di saat yang bersamaan juga mengimani sesembahan lain seperti meyakini kekuatan sebuah pohon, batu, kuburan dan benda-benda pusaka macam keris dan sebagainya yang dipercaya memiliki kekuatan yang sanggup menolongnya. Sekali saja kita mengakui hal itu, maka musnah sudah semua yang kita amalkan di jalan Alloh SWT. Sholat kita, puasa kita, haji kita, sedekah kita, dan perbuatan baik kita yang lain, jika kita masih juga mempercayai dan mengibadahi dzat selain Alloh SWT, maka semua itu tidak akan ada gunanya disisi Alloh jika kita belum bertaubat secara murni kepada-Nya dan meninggalkan semua sesembahan selain Alloh itu. Rukun iman adalah pondasi hidup seorang manusia. Tanpanya, masa depan dunia akhirat tak akan bisa selamat. Maka peringatan Isra’ Mi’raj ini merupakan salah satu momentum evaluasi keimanan kita kepada Alloh dan kesempurnaan ke-tauhidan kepada-Nya, apakah ianya masih murni, atau sudah banyak terkotori; “Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu hendaklah Alloh saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”(Az-Zumar:65-66)
            Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj juga, adalah sebuah tempat yang menjadi salah satu tempat suci bagi umat Islam. Tempat yang menjadi masjid pertama kaum muslim. Tempat yang menyejarah dalam untaian indahnya kisah nubuwwah. Tempat itu adalah Masjidil Aqsho di Palestina.
Hari ini menjadi keprihatinan kita bersama bahwa Palestina masih berada dalam cengkeraman tangan kotor penjajah zionis Israel. Masjid Al-Aqsho mereka duduki dan hinakan. Umat muslim disana mereka usir dan bantai. Keadaan itupun didiamkan begitu saja. Seakan disana tidak terjadi apa-apa. PBB pun yang katanya berperan sebagai polisi dunia tidak banyak yang di lakukan kecuali sekedar upaya-upaya formalistik diplomatis untuk menyelesaikan permasalahan ini. Padahal telah terjadi disana kejahatan besar kemanusiaan. Penjajahan biadab dari sebuah bangsa terhadap sebuah Negara. Pembantaian dan pengusiran yang dilakukan secara massal tanpa perikemanusiaan. Kondisi terakhir dilaporkan semakin memburuk. Israel yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai bangsa kera karena sifat pembangkangannya saat ini juga mencoba mengusik Libanon. Gencatan senjata yang secara tak adil disepakati pun ternyata dilanggar oleh mereka. Kalaupun ada keajaiban dunia yang muncul di abad 20 dan 21 ini adalah kejahatan yang dilakukan oleh Israel atas bangsa dan Negara Palestina. Sejak tahun 1948 penjajahan yang mereka lakukan seakan tidak pernah diangkat sebagai permasalahan dunia. Tertutup rapi dari pandangan akan terjadinya sebuah kejahatan kemanusiaan. Hal itu karena Palestina adalah Negara yang penduduknya mayoritas Islam, dan Israel adalah penguasa yang dengan kekuatannya telah merajai seluruh sektor kehidupan Negara di seluruh dunia. Yang terjadi disana bukan semata-mata pertikaian karena perebutan dan pencaplokan wilayah, tapi juga perseteruan yang disebabkan keberbedaan aqidah. Umat muslim hendaknya peduli dengan nasib Palestina. Disamping mereka adalah saudara kita se-agama, disanalah juga terletak masjid Al-Aqsho. Salah satu tempat mulia yang Alloh sebutkan dalam Al-qur’an, “Maha Suci Alloh yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsho yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami”. (QS. Al-Isro’:1)   
Keadaan umat muslim saat ini juga betul-betul menyedihkan. Kebodohan dan kemiskinan adalah penyakit-penyakit yang biasa menjangkit Negara-negara muslim. Kita menjadi umat yang terbelakang oleh karena kita jauh dan dijauhkan dari pedoman hidup kita Al-qur’an dan As-sunnah. Berapa banyak dari kita yang menjadikan Islam sebagai way of life dalam kehidupan sehari-hari. Yang semakin marak dijumpai, adalah kampanye untuk meninggalkan ajaran Islam yang murni. Banyak dari saudara-saudara kita yang mencoba untuk memisahkan agama dari kehidupan mereka sehari-hari. Sekulerisasi merebak dimana-mana, bahkan juga terjadi di negeri kita tercinta. Agama mereka tempatkan pada ruang-ruang privat saja, sementara wilayah publik diserahkan kepada hukum yang di buat oleh manusia. Islam tidak boleh mengatur pemerintahan. Ia juga tidak boleh campur tangan dalam urusan publik lain. Atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi mereka menyebut pornografi dan pornoaksi sebagai sebuah bentuk karya seni. Upaya untuk memfilterisasi tayangan-tayangan televisi agar tidak berbau pornografi pun tidak kunjung mendapat respon positif dari para wakil rakyat maupun masyarakat luas untuk segera mensahkan UU anti pornografi dan pornoaksi. Tidak tahu dimana rimba nasib UU itu sekarang ini. Tanpanya, para produser televisi, aktor-aktris hingga para selebritis dengan bebasnya mencekoki generasi muda dengan kebejatan dan ketidakbermoralan tayangan yang mereka pertontonkan. Entah dengan argumen apapun yang mereka jadikan alasan, yang jelas mereka mewakili satu kepentingan pragmatis yaitu usaha-usaha kapitalis mengumpulkan modal mencari keuntungan pribadi. Selain itu, disadari atau tidak, semua itu juga merupakan efek dari gerakan strategis-sistematis para musuh Islam agar generasi muda Islam menjadi generasi yang terbelakang. Sehingga dengan begitu dapat dengan mudah mereka bohongi dan pecundangi.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini, melalui dua momentum besar ini, mari kita bangkit dari keterlalaian kita. Inilah saatnya bagi kita semua untuk sadar akan kondisi keterbelakangan yang menimpa kita. Kebodohan kita akan ajaran agama menjadi sebab mendasar akan keterbelakangan kita. Maka wajib bagi kita semua untuk bangkit dari kondisi memprihatinkan ini. Dimulai dari diri, keluarga dan lingkungan sekitar kita. Mulai dari yang kecil, dan lakukan sekarang juga. Gencarkan gerakan kembali kepada agama, agar masa depan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga. Wallohu a’lam bish showwab. (AF)

PERNIKAHAN SEBAGAI AKHIR, PERNIKAHAN SEBAGAI AWAL


Berbincang kami di atas kendaraan yang membawa kami pulang dari perayaan walimah seorang saudara. Kala itu, topik pembicaraan kami seputar sang pengantin yang nampak bahagia di singgasana pelaminannya. “Akh fulan akhirnya menikah juga”, begitu ujar salah seorang al-akh penumpang kijang itu. Hmmm...merenungkan kalimat yang dilontarkan al-akh tersebut, membuat saya berfikir. Pernikahan, apakah memang ia merupakan kata yang seyogyanya disandingkan dengan frase “akhirnya”. Sekilas, fikiran saya melayang terbang memikirkan tentang dua kata tersebut, hingga memunculkan sebuah kesimpulan bahwa menikah adalah suatu fase akhir.
Menikah sebagai sebuah fase akhir
Bila dilihat dari satu rentang panjang usia hidup seorang manusia lajang, rata-rata diantara kita menikah antara usia 20 sampai 25 tahun, dengan syarat tarbiyahnya lumayan matang. Kenapa tarbiyah yang matang saya sandingkan dengan pernikahan di rentang usia yang tergolong dini, 20-25 tahun? Terutama disaat banyak orang selain kita yang menikah atau baru memikirkan tentang pernikahan setelah usianya menginjak angka nyaris berkepala tiga, atau bahkan sudah berkepala tiga!
Tarbiyah dibangun di atas landasan filosofis tumbuh dan berkembang. Salah satu indikator kebertumbuhan dan keberkembangan adalah kematangan pemikiran dan mental (yang ditopang oleh iman), sehingga memiliki keberanian untuk menikah. Sudah bukan babnya lagi kita membahas keutamaan menikah dalam Islam, kiranya sebait hadits ini bisa mewakili itu ““Orang yang paling buruk diantara kalian ialah yang melajang, dan seburuk-buruk mayat diantara kalian ialah yang melajang”(HR. Abu Ya’la). Atau juga hadits berikut ”Tiga hal dimana Allah mewajibkan diri-Nya untuk membantu mereka, yakni orang yang menikah dengan maksud menjaga kehormatan dirinya, hamba sahaya yang berniat membayar tebusan kepada tuannya agar dirinya dimerdekakan, dan yang berperang dijalan Allah” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i). Terlebih, jika kita mengingat kembali tertib amal dari tujuh tahapan yang digariskan sang Imam, setelah ishlahun nafsi alias memperbaiki diri, maka dilanjutkan dengan bina’ul usrah, yakni membangun rumah tangga Islami.
Menikah bagi seorang pemuda dan pemudi adalah babak baru dalam hidupnya. Sebelum melangsungkan pernikahan, seseorang biasa disebut lajang, bahasa kerennya single. Dalam hampir dari keseluruhan aktifitas hidupnya, seorang lajang selalu melakukannya sendiri. Makan sendirian, pergi ke tempat aktifitas sendirian, mengerjakan tugas kantor atau kuliah sendirian, bahkan tidur pasti juga sendirian. Lalu, semua keadaan itu akan serta-merta berubah kala sebaris sighat aqad nikah kita lantunkan dihadapan penghulu dan calon mertua; “Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan maskawin A, tunai!“. Seketika itu, berakhirlah sebuah fase dalam hidup kita. Di saat itu, bolehlah disebut pernikahan sebagai akhir. Ya! Akhir dari kesendirian hidup kita, karena mulai detik itu, sahlah seseorang berada disamping kita, kemanapun, kapanpun, dimanapun,.

Menikah sebagai awal
Dalam hidup, akhir dan awal, atau sebaliknya awal dan akhir, senantiasa kita lakoni dan menjadi episode yang pasti kita jalani. Di akhir masa kita dikandungan, muncul awal kita menyapa dunia. Di awal kita membuka mata dan melihat dunia, berakhirlah kehidupan kita dirahim sang ibunda. Berakhir masa balita, menjadi awal dari fase berikutnya. Akhir wisuda sekolah TK, menjadilah kita berseragam SD. Dari putih-merah selama enam tahun, dimulailah putih-biru yang tiga tahun, dan seterusnya hingga berakhirnya hidup kita di alam dunia, dimulailah perjalanan kita di alam akhirat yang kekal selamanya.
Pernikahan sebagai fase awal, adalah suatu momentum dari hidup kita yang sama sekali berbeda dibanding sebelumnya. Pernikahan membuat kita tidak lagi sendiri, maka menikah adalah awalan kita membuka lembaran baru hidup bersama kekasih tercinta. Maka pernikahan adalah penggenapan iman diri dalam agama ini sebagaimana yang telah disinyalir oleh Nabi; “Jika seorang hamba menikah, sesungguhnya ia telah menyempurnakan setengah agamanya. Oleh karena itu bertakwalah kepada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain“ (HR. Baihaqi).
Sebagai awalan dari perjalanan panjang yang akan ditempuh, momentum pernikahan sudah selayaknya menjadi satu momentum agung yang meniscayakan akan ledakan kualitas diri. Betapa tidak, jikalau saat melajang dahulu, kita mengerjakannya sendiri, maka kala menikah ada seorang kawan yang kan selalu menemani kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang luas tak bertepi. Mulai saat itu, bersandinglah disamping kita seseorang yang dengan segenap keikhlasannya membantu dan membersamai kita dalam menapaki setiap langkah dari episode hidup. Maka sudah selayaknyalah dengan pernikahan kualitas diri kita akan selalu terpupuk.

Antara akhir dan awal: sebuah titik hikmah yang tergali
Pernikahan merupakan sebuah langkah sinergis dari dua insan berbeda yang masing-masingnya memiliki kelebihan serta kekurangan. Dikarenakan ia merupakan langkah sinergis, maka segala kelebihan yang terdapat pada masing-masing pasangan hendaknya berbuah senyawa yang produktif. Bila dimatematikakan, rumusnya menjadi plus dikalikan plus hasilnya menjadi plus, atau bahkan plus yang tidak terhingga. Dan kekurangan demi kekurangan yang terkumpul pada diri keduanya juga bisa menjadi sesuatu yang melecutkan semangat diri untuk sama-sama saling memperbaiki, rumusnya seperti minus dikalikan minus menjadi plus, berlipat kali plus. Bagaimana jika dalam satu hal, sang suami unggul tetapi di saat yang sama sang istri kurang, atau sebaliknya? Jika rumus matematika tidak dapat mewakili kepositifan dari keadaan ini, biarlah kata “sinergis“ memungkinkannya. Bukankah ketika yang satu berlebih dan yang satu berkekurangan, yang berlebih dapat menambahkan keberlebihannya kepada pihak yang berkekurangan. Bahkan dalam suatu rumus agama seperti sedekah dan amal lainnya, bukankah ketika kita memberi sesuatu bukan justru yang kita miliki menjadi berkurang melainkan bertambah?!! Seperti kisah seorang suami yang bacaan al-Qur’annya belumlah dapat disebut tartil, tapi disaat yang bersamaan sang istri memiliki ilmu tajwidul qur’an yang lumayan mumpuni sehingga ia dapat mengajarkannya kepada sang suami! Kemampuan membaca qur’an bukannya berkurang setelah ia mengajarkannya kepada sang suami, melainkan ia menjadi semakin ahli. Dan bagi suami, dengan ketawadhuannya, sedikit demi sedikit sisi kekurangan itu teperbaiki menjadi bacaan yang semakin lebih baik lagi. Dalam banyak hal, rumusan-rumusan ini menjadi teori yang benar-benar dapat meledakkan potensi dari kedua pasangan. Jika demikian, bukankah menikah itu merupakan momentum sinergisasi hingga kapitalisasi potensi dan kualitas diri yang teramat indah?  Kalaulah boleh menganalogikan pernikahan seperti seekor burung dengan kedua sayapnya. Dua insan yang telah memadu cinta dan kasih dalam mahligai pernikahan adalah laksana dua sayap yang kepakkannya mampu membawa sang burung jauh terbang membumbung tinggi di angkasa. Kemanapun ia ingin pergi, kedua sayap akan dengan rapi dan kompak mengantarkan sang burung untuk mencapai tujuannya. Begitupun halnya dengan pernikahan yang menyatukan dua insan yang saling mengepakkan potensinya, maka dengan sinergis biduk rumah tangga akan dihantarkan menuju pulau impian, saat dimana ia akan kita labuhkan.

Penutup: Dan menikahlah, selamat merealisasi mimpi!
Menikah adalah momentum penyatuan dua visi agung tentang peradaban mulia dibawah naungan Islam. Bukan lagi sendiri kita mencoba mengukirnya, melainkan bersama sang kekasih hati yang kan semakin meringankan langkah perjalanan ini. Untuk setiap saudaraku yang akan dan telah menikah, menikah memang momentum akhir dari kesendirian kita yang penuh idealisme, namun pernikahan adalah awal dimana idealisme itu kita realisasikan, yang dengannya keindahan peradaban Islam kan mewujud dalam negara kecil bernama keluarga, yang kemudian ia akan berefek ledak hingga ke masyarakat, negara sebenarnya, bahkan ke dunia. Bukan tidak mungkin!!! Wallahu a’lam bish shawwab 
    

HASRAT INGIN MENIKAH SAAT MASIH KULIAH JANGANLAH MENJADI BAHAN OBROLAN TANPA ARAH


           
           
Sekumpulan ikhwan terlihat tengah mengumbar tawa di sela-sela dialog ringan antara sesama mereka di sebuah bangunan yang dikenal sebagai Sekretariat Lembaga Dakwah Kampus. Apakah yang menjadi topik senda gurau mereka kali itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah tentang dunia interaksi mereka dengan partner dakwah di LDK, yaitu; siapa lagi kalo bukan kaum akhwat.
            Dunia ikhwan dan akhwat dalam kehidupan dakwah kampus merupakan dunia dengan sejuta kisah. Kisah itu bisa saja tentang dakwah itu sendiri, dan yang lebih seru, yaitu kisah tentang relasi-relasi tertentu yang muncul ditengah interaksi mereka sehari-hari. Sebut saja kasus dialog ringan penuh kelakar sekumpulan ikhwan tadi. Usut punya usut, ternyata yang tengah dijadikan bahan pembicaraan adalah beberapa orang akhwat yang memang aktif di lembaga dakwah tersebut. Dengan suasana penuh dengan ungkapan guyonan hingga lemparan ejekan, mereka terlihat asyik hingga tidak sadar bahwa ada dua orang akhwat yang mengetuk pintu sekre dengan ketukan yang agak keras tidak seperti biasanya. ”Ups, urusannya bisa gawat nih”, ujar salah seorang ikhwan yang mengomentari situasi tidak terduga tersebut.
            Barangkali penggalan cerita di atas hanyalah fiksi belaka, dalam arti secara ide, memang tertuang tanpa pengalaman nyata yang teralami sebelumnya. Akan tetapi ada sedikit keyakinan penulis bahwa penggalan cerita ini, atau yang agak mirip dengan ini, atau pula yang masih bertema seputar ini, banyak terjadi dan dialami oleh sebagian besar ikhwan (untuk tidak menyebut semuanya) yang sedang atau pernah mengecap titel sebagai Aktifis Dakwah Kampus (ADK). 
            Memang, ada banyak perbuatan yang secara fitrah manusiawi tidak bisa kita hindari untuk kita lakukan. Dalam contoh aktifitas fisiologis misalnya, sangat yakin jika setiap kita pasti butuh makan, minum, tidur, dan sebagainya. Begitupun secara psikologis, ada pemikiran serta pembicaraan diantara sesama manusia yang bagi kelas usia maupun komunitas tertentu, ada topik-topik yang juga tertentu yang menjadi niscaya untuk mereka perbincangkan, seperti kasus kalangan ikhwan yang membicarakan akhwat (dan mungkin juga akhwat yang membicarakan ikhwan☺).
            Afwan, tulisan ini bukan berarti penjelasan yang bermaksud melegitimasi perilaku ”saling membicarakan” diantara kaum ikhwan dan akhwat. Hukum ”saling membicarakan” itu tetap tidak boleh jika memang tidak ber-udzur. Artinya jika antum bisa –antum pasti bisa-, maka menghindari itu lebih baik. Akan tetapi jika terlampau sulit, disini akan didiskusikan sesuatu yang penulis sebut ”kiat pembalikan keadaan”, yaitu tentang strategi pengalihan objek pembicaraan dari sekedar membicarakan ”seseorang”, atau menjadikan tema ketertarikan fitrah seorang anak manusia sebagai bahan ejekan dan guyonan, menjadi pembicaraan yang mengajak kearah yang lebih produktif dalam kehidupan dakwah dan tarbiyah kita semua. Dari yang negatif, diutak-atik sedikit, dimanfaatkan sedemikian rupa. Apa yang baik atau memungkinkan untuk ditarik sisi baiknya kita manfaatkan, dan sebisa mungkin unsur negatifnya kita buang sejauh-jauhnya. Semoga output akhirnya menjadi bernilai positif.
            Ada konsep menarik yang membuat seorang Salim A. Fillah –seorang penulis muda superproduktif- menulis buku Gue Never Die. Adalah sebagaimana ia melanjutkan penamaan buku itu dengan anak judul ”Kerenkan diri terus nikah dini”. Walau memang ia sering mengatakan disetiap acara yang ia menjadi pembicaranya, bahwa justru ketertarikan fitrahnya kepada kaum akhwat yang membuat ia produktif, caranya; dengan mengkerenkan diri supaya bisa nikah di usia dini. Jadi, potensi yang melekat pada manusia seusia kita-kita ini –terutama mereka yang aktif didakwah kampus-, bukan justru terbawa ke arah perbuatan-perbuatan yang laghwun (sia-sia), atau bahkan menambah catatan dosa. Akan tetapi kita format kecendrungan fitrah tersebut ke dalam kerangka produktif pembinaan diri kita agar senantiasa lebih baik (bahasa Akh Salim, lebih keren). Nah, minimal cara pandang yang seperti ini yang kita gunakan untuk menghadapi (dan menjalani) situasi-situasi liar perbincangan antar ikhwan tadi. Jadi objek pembicaraannya bukan siapa, melainkan seperti apa dan bagaimana caranya agar kita meraih yang terbaik dari proses yang masih berada di angan (maksudnya pernikahan☺)
            Sekarang kita coba menggunakan cara pandang tersebut sebagai pisau analisis pada kasus yang niscaya terjadi di kehidupan dakwah kampus kita. Suatu kali, ketika kita tengah berkumpul bersama rekan-rekan ikhwan, seperti biasa ada pembicaraan yang terasa asyik untuk terus dilakukan, yaitu si fulanah 1 yang subhaanalloh begini dan begitu, lantas fulanah 2 yang sedang sibuk ini dan itu, ada lagi fulanah 3 yang luar biasa, atau fulanah  4 yang amanah dakwahnya -subhaanalloh juga-, ada empat. Terus fulanah 5, 6, 7, dan seterusnya yang begini dan begitu, ini dan itu, dan juga seterusnya dan seterusnya. Nah mulai saat ini kita coba niatkan pembicaraan-pembicaraan seperti itu kita arahkan menjadi pembicaraan yang berbobot yang bukan bercerita tentang si fulanah dan si fulanah, melainkan menjadi; ”yang terbaik adalah  Ibunda Khadijah, yang ideal adalah seperti ’Aisyah, atau yang shalihah seperti Ummu Sulaim”. Lantas pembicaraan itu kita turunkan kedalam strategi dengan bermetodekan suruhan untuk banyak bermimpi. Outputnya, jika idealisme kita tentang calon isteri itu sudah menggantung pada masa zaman terbaik, maka bukalah katup fikiran positif kita, dan cara berfikir husnudzhan kita kepada Alloh SWT, bahwa  wanita-wanita dengan prototype seperti ummahatul mu’minin dan kisah istri shalihah lainnya itu masih ada di zaman sekarang ini, tapi tentunya kita juga harus berfikir, kalo mereka kapasitasnya sebanding dengan kapasitas para suaminya. Jadi jika kita berbicara tentang keshaliha-an Fathimah, kita jelas akan maklum karena memang suaminya adalah seorang Ali yang shalih. Nah jika kita ingin mendapatkan istri seperti Fathimah, maka kita harus mengajukan pertanyaan kepada diri kita; ”Apakah kita sudah berusaha sekapasitas Ali?”, begitu.
            Akan tetapi saya mencoba berfikir realistis. Bahwa contoh-contoh ’Aisyah dan Khadijah yang bersuamikan Rosululloh, atau Ummu Sulaim yang berdampingan dengan Abu Thalhah, atau Fathimah yang serasi dengan Ali, adalah contoh-contoh yang terlampau ideal dan mustahil jika kemudian kita harus juga sekapasitas suami-suami mereka radhiyallahu’anhunna. Namun sebetulnya, inipun menjadi suatu strategi lain yang juga mencari segi kemanfaatan dari contoh tersebut di atas. Yaitu kesempurnaan rosulullah dan kehebatan para sahabat seperti Ali ataupun Abu Thalhah dapat menjadi motivasi bagi kita untuk bisa seperti mereka –walaupun memang tetap mustahil-. Namun yang saya maksudkan, bahwa apabila kita mencontoh mereka yang memang memiliki kapasitas dan kualitas ideal, maka kita berusaha untuk menyamainya, walaupun dalam standar yang minimal, kita dapat meraih manfaat kebaikan yang mereka miliki. Hal ini akan saya jelaskan dengan satu kalimat, yaitu; ”Menjadi sempurna memang tidak mungkin adanya, tapi minimal yang bisa kita lakukan adalah senantisa berusaha lebih dekat menuju titik kesempurnaan”. Atau seperti ungkapan pepatah Arab yang bisa menjadi kata inspiratif bagi kita, ”Serupailah orang-orang besar, karena menyerupai mereka adalah kemuliaan”.   
            Walhasil, semuanya itu sebetulnya bertujuan untuk mengajak kita untuk berfikir berbasiskan subjek yaitu ”kita yang bagaimana” atau ”kita yang akan seperti apa”, sebelum kita berbicara ”kita dengan siapa”. Semoga dengan begitu Allah meridhoi kita dalam perjalanan kehidupan selanjutnya bersama seseorang di samping kita. Wallahu a’lam bish showwab. (Akhukum Fillah, Abdurrahman Syahadah)
           
                 
           

MEDIA MASSA DAN PEMBENTUKAN BUDAYA POPULER DI MASYARAKAT





“DITOLAK!!”, itulah tulisan yang seketika muncul di layar kaca setelah target mengisyaratkan bahwa ia tidak berminat untuk menerima tawaran sang pejuang untuk “jadian”. Seketika itu sang pejuang tersenyum kecut mewakili kekecewaannya yang tidak dapat mewujudkan harapannya untuk menjadikan sang target sebagai pacar baginya. Lalu dengan rada salah tingkah ia berkata, “Ya udah kita berteman aja, kalo emang itu yang elo mau”, menyambung jawaban dari target yang mengungkap hal serupa sesaat sebelumnya. Pastinya ada segunung kecewa yang dirasakan olehnya, karena harapan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, disamping juga rasa malu yang harus ia terima karena peristiwa yang baru saja di alami.

            Fragmen di atas mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang pernah menyaksikan sebuah acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta tertua di tanah air setiap hari ahad pukul 16.30 WIB. Acara ini mengetengahkan tentang perjuangan seorang pemuda maupun pemudi yang memiliki rasa suka kepada salah seorang yang dikenalnya, dimana mereka mencoba mengungkapkan rasa suka itu dengan cara-cara tertentu yang menurut mereka elegan dan ditayangkan oleh stasiun televisi agar diketahui oleh banyak orang. Namun sayang, kasus yang diangkat di atas ternyata keadaannya “cinta bertepuk sebelah tangan” alias orang yang menjadi target tidak memiliki perasaan yang serupa dengan si pejuang, sehingga episode ini menghasilkan kekecewaan bagi sang pejuang hingga menjadi akhir yang memalukan sekaligus memilukan baginya.
            Tayangan seperti ini mungkin sedang menjadi mainstream acara yang disuguhkan oleh banyak dari stasiun televisi kita beberapa tahun belakangan. Sebuah tema dimana topik yang diangkat adalah seputar kehidupan remaja dan warna-warni yang menghiasi hari-hari mereka. Kisah tentang hubungan pergaulan, persahabatan dan yang biasanya menjadi sentra pembahasan yaitu, cinta.  Acara-acara yang bertemakan kehidupan remaja pasti tidak jauh dari isu yang tersebutkan, terutama yang terakhir yaitu seputar perasaan cinta yang sedang tumbuh menggelora di hati mereka, entah itu tayangan yang bentuknya sinetron, film layar lebar, atau seperti yang sudah dicontohkan di atas yang menjamur belakangan ini, yaitu tayangan yang biasa disebut reality show. Lihat saja sinetron macam Benci Bilang Cinta, Pangeran Penggoda, Cowok Impian, Pengantin remaja, Inikah Rasanya dan lain sebagainya, adalah beberapa judul sinetron yang mengangkat cinta sebagai topik utama dari cerita yang disuguhkan. Dari dunia layar lebar beberapa tahun belakangan terlihat sedang menggeliatnya perfilman nasional yang ditandai oleh banyak diproduksinya film karya anak negeri. Tapi yang menjadi perhatian sekaligus patut diprihatinkan adalah kebanyakan judul film tersebut mengangkat tema remaja yang juga tidak jauh dari isu seputar cinta. Bahkan ada beberapa judul kontroversial yang pernah memancing polemik di dunia perfilman nasional. Kita masih ingat sebuah film yang berjudul Buruan Cium Gue (BCG) yang pernah ditarik dari peredaran penayangan bioskop karena dinilai tidak sesuai dengan norma yang dianut oleh bangsa ini. Tak ayal lagi film ini kemudian mengundang banyak kritik dari beberapa pihak salah satunya Aa Gym yang sangat memprotes judul maupun jalan cerita film tersebut. Sebuah tayangan yang diistilahkan dengan Reality show-pun bagi yang mengangkat isu remaja dan pemuda pasti mengetengahkan cerita tentang romantika cinta di antara sesama mereka. Seakan-akan para insan pertelevisian itu tak punya akal lagi untuk membuat acara yang kreatif yang diperuntukkan bagi remaja.
Di atas semua cerita yang menjadi prolog yang telah terjabarkan sebelumnya, menjadi suatu perspektif menarik bila kita mencoba memotretnya dari segi ilmu sosiologi, terutama kaitannya dengan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Walau mungkin uraian di atas lebih kepada cerita kemirisan hati dan keprihatinan terhadap nasib negeri. Namun yang ingin ditegaskan disini adalah relasi media, pembentukan nilai di kalangan remaja, dan pastinya juga motif dari pihak produsen media yang tidak jauh dari ideologi kapitalisme yang belakangan semakin perkasa mencengkeram Indonesia (serta dunia).

Budaya Populer
            Dalam peristilahan yang menunjuk pada sebuah teori dalam ilmu sosial kita mengenal varian konsep yang disebut “budaya populer”. Yasraf Amir Piliang dalam Sebuah Dunia Yang Dilipat(1997) mengemukakan pengertian dari budaya populer atau budaya massa sebagai “Sebuah kategori kebudayaan yang diciptakan untuk massa yang luas, sehingga cenderung dilihat sebagai kebudayaan yang menghasilkan selera massal atau rendah”. Dari pengertian yang di berikan Yasraf Amir Piliang terlihat bahwa budaya populer adalah budaya yang dibentuk sebagai penanda kelas sosial dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, istilah ini merupakan konsep dalam ilmu sosial yang bernuansakan pertentangan ideologi yang begitu kental mewarnai perjalanan usia dunia. Ideologi yang bermain dalam hal ini adalah kapitalisme yang menjadi ideologi primadona bagi mereka yang “beruntung” menjadi penganutnya, dan menyisakan berjuta kepedihan bagi mereka yang menjadi korban kebuasannya.
            Dalam bahasan teori sosiologi, kita mengenal konsep budaya populer masuk ke dalam rumpun teori sosiologi kritis di bawah suatu analisis mainstream yang diberi nama kajian budaya (cultural studies). Melihat sejarahnya, teori ini muncul sebagai reaksi dan tafsiran atas realitas yang terjadi ketika itu di dataran Inggris raya sekitar tahun 60-an yang begitu banyak menggambarkan wajah budaya dalam pergumulan interaksi sosial masyarakat di kesehariannya. Dalam analisa kajian budaya (cultural studies), banyak diperoleh ulasan, pandangan dan analisa yang berbau marxis, karena memang tokoh-tokoh perintis kajian budaya seperti Richard Hoggart, Raymond Williams, Edward Thompson dan lain sebagainya adalah para ilmuwan sosial yang terpengaruh oleh ide-ide dari kaum marxis terutama dalam melihat fenomena budaya. Jadi memang pada awalnya embrio dari kajian budaya dilandasi oleh semangat perlawanan atas dominasi dan determinasi dari kapitalisme terutama dalam ranah budaya.
           


Reproduksi Budaya Dari Layar Kaca
            Pada awal tulisan yang menjadi prolog dari essay ini telah diurai tentang sekilas potret tayangan-tayangan  yang disuguhkan oleh media televisi tanah air beberapa tahun belakangan ini. Terangkatlah sebuah topik yang menjadi warna utama dari tayangan-tayangan tersebut yang kebanyakan mereka berkisah tentang kehidupan remaja beserta beragam permasalahannya. Namun satu yang sangat dominan dalam hal ini adalah penyeragaman tema yang melulu tentang permasalahan cinta di kalangan mereka. Sehingga disini seakan ada upaya kanalisasi nilai budaya di kalangan remaja yang utamanya adalah masifikasi fenomena pacaran atau bahkan mengarah ke fenomena pergaulan bebas, khususnya di tayangan-tayangan berprogram sinema elektronik atau disingkat dengan sinetron. Dan semakin hari tayangan sinetron dengan bingkai tema seperti ini bukan semakin menyusut melainkan semakin menjamur bak cendawan di musim hujan. Setiap stasiun televisi seakan berlomba-lomba mengisi acara dengan tayangan-tayangan serupa.

Fenomena ini paling tidak jika dilacak kita temukan embrionya di sekitar tahun 2001. Sinetron Pernikahan Dini ketika itu menjadi sinetron yang berhasil meraih rating tertinggi sebagai sinetron yang paling digemari oleh masyarakat. Secara moral sinetron ini tidak sama sekali memberi arahan positif bagi penikmatnya, karena dikisahkan bahwa dua orang tokoh utama dari sinetron tersebut yaitu Syahrul Gunawan dan Agnes Monica adalah dua orang insan muda mudi yang harus rela menikah di usia remaja dikarenakan kesalahan mereka dalam pergaulan (baca:pacaran), sehingga mereka melakukan apa yang diistilahkan oleh masyarakat kita dengan Married By Accident (MBA). 

Kesuksesan tayangan inipun menginspirasikan para produsen sinetron lainnya sehingga pasca itu banyak sekali tayangan sinetron yang berkisah tentang kisah remaja dan pemuda terutama tentang romantika cinta di kehidupan mereka. Memang dari sinetron-sinetron dengan genre tersebut sedikit banyak terdapat pula pesan-pesan moral yang dapat dipetik, tetapi efek negatifnya tidak kalah banyaknya, bahkan mungkin lebih dominan. Mungkin disini tidak dapat disuguhkan dengan data yang riil tetang efek negatif dari tayangan-tayangan sinetron remaja tersebut, tetapi jika kita mencoba mengamati acara-acara berita kriminal, kasus-kasus tentang perkosaan, aborsi, pembunuhan yang berlatar belakang fenomena pergaulan bebas, pelecehan seksual di kalangan remaja dan sebagainya, angkanya menjadi semakin membengkak. Ataupun fenomena-fenomena tersebut dapat kita perhatikan di seputar lingkaran interaksi sosial kita di keseharian. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap wilayah masyarakat terjadi banyak kasus pernikahan yang berlatar belakang “kecelakaan”. Dan banyak pengamat mengasumsikan bahwa fenomena tersebut adalah ekses dari tayangan media yang memang mengajarkan dan mengarahkan kepada perilaku-perilaku tersebut.
            Dalam analisa tentang dampak media bagi perilaku konsumennya, banyak sekali hasil survey yang membuktikan bahwa penetrasi yang dilakukan oleh media audio-visual (televisi) itu memiliki prosentase yang paling tinggi dibanding media-media lainnya. Setidaknya riset yang dilakukan oleh sebuah lembaga asing menyebutkan bahwa televisi memiliki prosentase sebesar 90,7%, radio 39%, surat kabar 29,8%, majalah 22,4%, internet 8,8%, dan bioskop 15% (data Media Index-Nielsen Research 2004). Karena itu bisa dimengerti kenapa kondisi yang terjadi belakangan ini di kalangan remaja dan pemuda kita semakin mengarah ke perilaku yang negatif-destruktif dengan segala bentuk dan turunannya.
            Para pakar komunikasi mengasumsikan sebuah teori yang disebut bullet theory (teori peluru) yang menggambarkan efek media yang begitu masif dalam mengkonstruksi sebuah realitas sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu realitas sosial dalam masyarakat sesungguhnya menjadi cerminan dari apa yang disuguhkan oleh tayangan media televisi. Dalam hal ini, televisi menjadi agen pembentuk budaya dalam masyarakat. Atau, televisi menjadi media penciptaan budaya populer di dalam masyarakat.
   Ada kalangan yang menganggap budaya pop sebagai budaya rendahan. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu untuk komoditas konsumen merupakan budaya rendahan (substandard). Karena budaya populer dibuat untuk kesenangan masyarakat atau untuk kepentingan komersial dan bersifat dangkal, setiap tayangan dalam objek penelitian ini yang diproduksi dan ditampilkan digunakan untuk mencari keuntungan bagi para industrialis dan kapitalis. Menurut Mahzab Frankfurt, budaya populer adalah budaya massa, yang dihasilkan oleh industri budaya, yang menggambarkan stabilitas maupun kesinambungan kapitalisme.
Dalam hal ini, eksploitasi yang di lakukan oleh kapitalis mewujud pada pembentukan nilai moral kalangan remaja. Artinya ada dua “dosa besar” yang dilakukan oleh kapitalis pada fenomena yang telah banyak dipaparkan di atas, yaitu penumpukan modal dan keuntungan yang berlandaskan keserakahan, dan yang paling buruk adalah upaya reproduksi norma ke arah demoralisasi masyarakat. Sehingga dalam kondisi negara yang serba memprihatinkan pasca krisis moneter menimpa hampir genap satu dasa warsa, kaum muda sebagai ujung tombak perbaikan pun sekarang susah untuk dijadikan tumpuan harapan. Dan hal ini akan terus terjadi dan menjadi semacam lingkaran setan keterpurukan negeri. Maka dapat dimengerti pula jika sampai sejauh ini bangsa ini belum bisa bangkit dari krisis yang mendera, bahkan semakin hari krisis yang terjadi semakin parah yaitu krisis mental dan moral, dan menjadi malapetaka besar jika kaum muda pun tidak ketinggalan termangsa oleh kondisi ini. Bahkan, merekalah sasaran utama kebobrokan yang dilancarkan oleh para kapitalis beserta pihak-pihak yang berada dibelakangnya, dengan kepentingan mereka yang tentunya juga lebih spesifik dari sekedar penumpukan modal, atau lebih dalam dari sekedar kapitalisasi, apakah itu? Marilah kita coba menelusuri dari kesatuan pandangan akan ideologi, moral dan religi. Ini yang seharusnya di ungkap dan dipelajari oleh seluruh komponen negeri.





DAFTAR PUSTAKA

McQuail, Dennis. 1987, Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta: Penerbit Erlangga

Piliang, Yasraf Amir. 1998, Sebuah Dunia yang Dilipat. Bandung: Penerbit Mizan

Tester, Keith. 2003, Media, Budaya dan Moralitas. Yogyakarta: Juxtapose.

Wirodono, Sunardian. 2005, Matikan TV-Mu. Yogyakarta: Resist Book