Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

RENUNGAN ISRA’ MI’RAJ BAGI INDONESIA

RENUNGAN ISRA’ MI’RAJ BAGI INDONESIA
DAN UMAT ISLAM SE-DUNIA

            Senin yang lalu, 21 Agustus 2006 Masehi, bertepatan dengan 27 Rajab 1427 Hijriyah, umat Islam di Indonesia dan dunia kembali berkesempatan untuk mengadakan acara peringatan Isra’ Mi’raj yang memang biasa diadakan oleh mayoritas masyarakat setiap tahunnya. Dalam konteks kenegaraanpun, pemerintahan Republik Indonesia juga melakukan hal serupa. Berbondong-bondong para pejabat maupun tamu undangan dari berbagai Negara tak lupa berpartisipasi untuk datang menghadiri acara peringatan ynag dilaksanakan di masjid istiqlal, seperti yang kemarin juga telah dilaksanakan. Terlepas dari perbedaan pemahaman antara umat Islam yang biasa melaksanakan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj dengan yang tidak, sesungguhnya peristiwa itu menyimpan banyak hikmah untuk kita renungkan, baik yang berkenaan dengan peristiwa itu sendiri bagi pensyariatan berbagai perintah agama, pelajaran-pelajaran yang mengiringinya, serta refleksi yang berkaitan dengan konteks kekinian umat Islam, dan juga Masjidil Aqsho sendiri sebagai tempat yang tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa besar Isra’ Mi’raj.
            Dalam momentum Isra’ Mi’raj kali ini, kita memperingatinya masih dalam suasana perayaan Hari Ulang Tahun kemerdekaan. Ada rangkaian nuansa bagi umat dan bangsa yang semestinya dapat kita gunakan sebagai momentum kebangkitan. Terdapat kandungan hikmah yang juga dapat kita gali dari dua peristiwa besar ini bagi kita sebagai warga Negara, dan yang paling penting yaitu bagi kita sebagai umat beragama. Kalau peristiwa kemerdekaan kita tandai dengan keterbebasan kita dari cengkeraman tangan penjajah, maka ada pula pelajaran kemerdekaan dari peristiwa Isra’ Mi’raj, bahkan disinilah letak pengajaran akan esensi kemerdekaan bagi umat manusia, yaitu kemerdekaan sebagai seorang hamba yang hanya menyembah yang menciptakannya, Alloh Subhana Wa Ta’ala. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj-lah umat Islam menerima perintah untuk menunaikan sholat lima waktu dalam seharinya. Sholat sebagai tiang agama menjadi salah satu pilar peribadatan dari seorang manusia kepada Robb-Nya. Ia menjadi seperti apa yang pernah disabdakan oleh rosul-Nya, “Sebagai pembeda antara keislaman dan kekafiran”(HR. Muslim).
            Sebagai umat manusia, kita hidup dalam rangkaian kebutuhan yang amat kompleks, sehingga tak jarang kebutuhan-kebutuhan itu menjadi obsesi utama kita, dan kita melupakan kedudukan kita sebagai seorang hamba. Oleh karena berobsesi ingin menjadi seorang yang kaya raya, memiliki pangkat setinggi-tingginya, dan beristrikan wanita yang cantik jelita, kita kemudian melupakan kodrat kita sebagai seorang makhluk yang ada penciptanya. Kita lupa untuk menyembah yang menciptakan kita. Kita terbudaki oleh nafsu kita terhadap ke-semuan dunia. Sedikit demi sedikit kita terhanyut oleh beragam kesenangan dunia yang satu persatu hadir dihadapan kita. Atau bagi mereka yang lebih beruntung, dunia hadir dengan hamparan keindahannya yang tidak jarang membuat seseorang bersifat sombong seakan ia telah memiliki segalanya. Namun ketika sang ajal dengan pasti menghampirinya, ia baru ingat akan kealpaannya kepada Robb-Nya. Ia merasakan sakit yang luar biasa karena tercabutnya nyawa. Tiada yang tersisa kecuali kesombongan yang akan menjadi tiketnya menikmati dahsyatnya siksaan neraka. Semua itu tidak terjadi kecuali karena ia telah mempertuhankan hawa nafsunya yang selalu mengajaknya kepada perbuatan yang buruk-buruk dan menjauhi perbuatan ketaatan kepada Alloh SWT. Maka renungan Isra’ Mi’raj bagi pribadi adalah sebuah introspeksi akan segala keterlalaian diri dari kewajiban yang telah dibebankan kepada masing-masing hamba-Nya. Kemerdekaan yang secara kolektif kita rayakan kemarin hendaknya kita sempurnakan dengan pemahaman akan kemerdekaan hakiki yang menyentuh bingkai hidup setiap pribadi. Bahwa peribadatan dalam segala bentuknya haruslah kita niatkan untuk mencari ridho dan pahala dari Alloh SWT. Kehidupan dengan segala ke-urgenan kebutuhannya jangan sampai melalaikan diri kita dari seutama maksud keberadaan kita ketika Alloh menciptakannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya, “Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.(QS. Adz-Dzariat:56)
            Dalam lembar sejarah kisah yang mengiringi peristiwa Isra’ Mi’raj, kita mengenal nama Abu Bakar yang mendapat julukan “Ash-Shidiq”. Sahabat khalifah pertama selepas era Rosululloh ini merupakan sahabat yang paling utama di antara sahabat-sahabat lainnya. Hingga rosululloh menyebutkan sesuatu perkataan untuk beliau, “Jika aku mengambil kekasih dari umatku, aku pasti mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku, namun ia adalah saudaraku dan sahabatku”. (HR. Bukhari). Dalam penggalan cerita yang mewarnai peristiwa Isra’ Mi’raj ini, Abu Bakar membuktikan keimanannya yang sempurna kepada ke-rosulan Muhammad SAW. Disaat kebanyakan penduduk Makkah menyangsikan pengakuan rosululloh setelah melakukan Isra’ Mi’raj, maka Abu Bakar adalah segelintir dari para sahabat yang tanpa ragu-ragu langsung mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh rasul-Nya. Hingga kemudian dikatakan Abu Bakar “Ash-Shidiq”-yang benar/jujur-. Dalam kisah ini terdapat pelajaran tentang totalitas keimanan yang di contohkan oleh Abu Bakar. Bahwa keimanan kepada Alloh dan rosul-Nya haruslah di berikan secara sempurna. Bukan cuma itu, kita juga berkewajiban untuk mengimani secara penuh kepada rukun keimanan lainnya tanpa keraguan sedikitpun. Jangan sekali-kali ada diantara kita yang mengaku beriman kepada Alloh tapi di saat yang bersamaan juga mengimani sesembahan lain seperti meyakini kekuatan sebuah pohon, batu, kuburan dan benda-benda pusaka macam keris dan sebagainya yang dipercaya memiliki kekuatan yang sanggup menolongnya. Sekali saja kita mengakui hal itu, maka musnah sudah semua yang kita amalkan di jalan Alloh SWT. Sholat kita, puasa kita, haji kita, sedekah kita, dan perbuatan baik kita yang lain, jika kita masih juga mempercayai dan mengibadahi dzat selain Alloh SWT, maka semua itu tidak akan ada gunanya disisi Alloh jika kita belum bertaubat secara murni kepada-Nya dan meninggalkan semua sesembahan selain Alloh itu. Rukun iman adalah pondasi hidup seorang manusia. Tanpanya, masa depan dunia akhirat tak akan bisa selamat. Maka peringatan Isra’ Mi’raj ini merupakan salah satu momentum evaluasi keimanan kita kepada Alloh dan kesempurnaan ke-tauhidan kepada-Nya, apakah ianya masih murni, atau sudah banyak terkotori; “Jika kamu mempersekutukan (Alloh), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu hendaklah Alloh saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”(Az-Zumar:65-66)
            Berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj juga, adalah sebuah tempat yang menjadi salah satu tempat suci bagi umat Islam. Tempat yang menjadi masjid pertama kaum muslim. Tempat yang menyejarah dalam untaian indahnya kisah nubuwwah. Tempat itu adalah Masjidil Aqsho di Palestina.
Hari ini menjadi keprihatinan kita bersama bahwa Palestina masih berada dalam cengkeraman tangan kotor penjajah zionis Israel. Masjid Al-Aqsho mereka duduki dan hinakan. Umat muslim disana mereka usir dan bantai. Keadaan itupun didiamkan begitu saja. Seakan disana tidak terjadi apa-apa. PBB pun yang katanya berperan sebagai polisi dunia tidak banyak yang di lakukan kecuali sekedar upaya-upaya formalistik diplomatis untuk menyelesaikan permasalahan ini. Padahal telah terjadi disana kejahatan besar kemanusiaan. Penjajahan biadab dari sebuah bangsa terhadap sebuah Negara. Pembantaian dan pengusiran yang dilakukan secara massal tanpa perikemanusiaan. Kondisi terakhir dilaporkan semakin memburuk. Israel yang disebut oleh Al-Qur’an sebagai bangsa kera karena sifat pembangkangannya saat ini juga mencoba mengusik Libanon. Gencatan senjata yang secara tak adil disepakati pun ternyata dilanggar oleh mereka. Kalaupun ada keajaiban dunia yang muncul di abad 20 dan 21 ini adalah kejahatan yang dilakukan oleh Israel atas bangsa dan Negara Palestina. Sejak tahun 1948 penjajahan yang mereka lakukan seakan tidak pernah diangkat sebagai permasalahan dunia. Tertutup rapi dari pandangan akan terjadinya sebuah kejahatan kemanusiaan. Hal itu karena Palestina adalah Negara yang penduduknya mayoritas Islam, dan Israel adalah penguasa yang dengan kekuatannya telah merajai seluruh sektor kehidupan Negara di seluruh dunia. Yang terjadi disana bukan semata-mata pertikaian karena perebutan dan pencaplokan wilayah, tapi juga perseteruan yang disebabkan keberbedaan aqidah. Umat muslim hendaknya peduli dengan nasib Palestina. Disamping mereka adalah saudara kita se-agama, disanalah juga terletak masjid Al-Aqsho. Salah satu tempat mulia yang Alloh sebutkan dalam Al-qur’an, “Maha Suci Alloh yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsho yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami”. (QS. Al-Isro’:1)   
Keadaan umat muslim saat ini juga betul-betul menyedihkan. Kebodohan dan kemiskinan adalah penyakit-penyakit yang biasa menjangkit Negara-negara muslim. Kita menjadi umat yang terbelakang oleh karena kita jauh dan dijauhkan dari pedoman hidup kita Al-qur’an dan As-sunnah. Berapa banyak dari kita yang menjadikan Islam sebagai way of life dalam kehidupan sehari-hari. Yang semakin marak dijumpai, adalah kampanye untuk meninggalkan ajaran Islam yang murni. Banyak dari saudara-saudara kita yang mencoba untuk memisahkan agama dari kehidupan mereka sehari-hari. Sekulerisasi merebak dimana-mana, bahkan juga terjadi di negeri kita tercinta. Agama mereka tempatkan pada ruang-ruang privat saja, sementara wilayah publik diserahkan kepada hukum yang di buat oleh manusia. Islam tidak boleh mengatur pemerintahan. Ia juga tidak boleh campur tangan dalam urusan publik lain. Atas nama demokrasi dan kebebasan berekspresi mereka menyebut pornografi dan pornoaksi sebagai sebuah bentuk karya seni. Upaya untuk memfilterisasi tayangan-tayangan televisi agar tidak berbau pornografi pun tidak kunjung mendapat respon positif dari para wakil rakyat maupun masyarakat luas untuk segera mensahkan UU anti pornografi dan pornoaksi. Tidak tahu dimana rimba nasib UU itu sekarang ini. Tanpanya, para produser televisi, aktor-aktris hingga para selebritis dengan bebasnya mencekoki generasi muda dengan kebejatan dan ketidakbermoralan tayangan yang mereka pertontonkan. Entah dengan argumen apapun yang mereka jadikan alasan, yang jelas mereka mewakili satu kepentingan pragmatis yaitu usaha-usaha kapitalis mengumpulkan modal mencari keuntungan pribadi. Selain itu, disadari atau tidak, semua itu juga merupakan efek dari gerakan strategis-sistematis para musuh Islam agar generasi muda Islam menjadi generasi yang terbelakang. Sehingga dengan begitu dapat dengan mudah mereka bohongi dan pecundangi.
Oleh karena itu, dalam tulisan ini, melalui dua momentum besar ini, mari kita bangkit dari keterlalaian kita. Inilah saatnya bagi kita semua untuk sadar akan kondisi keterbelakangan yang menimpa kita. Kebodohan kita akan ajaran agama menjadi sebab mendasar akan keterbelakangan kita. Maka wajib bagi kita semua untuk bangkit dari kondisi memprihatinkan ini. Dimulai dari diri, keluarga dan lingkungan sekitar kita. Mulai dari yang kecil, dan lakukan sekarang juga. Gencarkan gerakan kembali kepada agama, agar masa depan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga. Wallohu a’lam bish showwab. (AF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar