Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 18 November 2013

CELOTEH ASPAL



                Menyusuri jalanan antara Pengasinan Rawa Lumbu dan Kota Wisata Cibubur adalah rutinitasku selama 6 hari dari Senin hingga Sabtu, buat apalagi jika bukan untuk bekerja mencari nafkah. Perjalanan berpuluh kilo setiap harinya begitu rela kujalani demi menyambung hidup dan menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di istana syurga yang tengah kubangun. Kesemuanya kulakoni dengan (semoga) ikhlas, yang harapannya ianya menjadi satu posko pahala yang memenuhi pundi-pundi amal shalihku. Allahumma amiin.

                Adalah pengalamanku melintasi setiap inchi jalan yang mengantarkanku menuju atau kembali dari Cibubur yang ingin kubagi di tulisan ini. Aspal yang menjadi media penyambung antar wilayah di nusantara ini memang penuh dengan undangan kekesalan dan umpatan.  Betapa tidak, manakala kita coba sekilo saja menyusuri ruas jalan yang membentangi medan NKRI umumnya, atau jakarta dan sekitaran khususnya, maka kita akan pasti selalu jengkel dibuatnya. Adalah lubang demi lubang di sana-sini yang begitu setia menemani setiap pengendara yang tidak sama sekali berjumlah sedikit kecelakaan yang memakan korban karenanya. Lubang-lubang yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada panjang ruas jalan yang ada di seantero Indonesia (wualah, lebay brakalay). Lubang-lubang yang bagiku amat sangat lebih menjengkelkan dibanding lubang-lubang yang menjadi penghias tersembunyi dari gigi-gigi yang hampir punah yang masih  kumiliki (buka kartu).

                Tidak tepat memang jika kita menjadikan aspal hitam yang konon banyak diangkut dari pulau Buton di selatan Sulawesi menjadi tersangka sekaligus terdakwa dalam pembicaraan ini. Karena sang aspal hanyalah sekedar benda mati yang guru Bahasa Indonesia kita dahulu di sekolah menyebutnya “objek penderita”. Namun yang amat sangat paling terpenting adalah sang subjek dan si predikat yang membuat nasib perjalanan umat manusia Indonesia ajlut-ajlutan tak karu-karuan.

                Suatu kali, pernah kukatakan pada istriku saat melintasi suatu ruas jalanan yang begitu amboi rusaknya, “Dek, untuk mendiagnosa apakah terdapat korupsi pada suatu pemerintahan di sebuah negara atau daerah hanya cukup dari melihat dan merasakan jalanan-jalanan wilayahnya, jikalau banyak yang rusak maka nyaris vonis negeri atau wilayah koruptor itu sah untuk disematkan pada pemerintahnya”. Namun, beberapa hari ini kupikirkan lagi perkataanku itu, dan setelah menimbang dari pengalaman selama beribu kilometer yang telah kususuri dari jalan-jalan NKRI, maka kupikir cukuplah jalan-jalan itu menjadi saksi sekaligus bukti bahwa korupsi bukanlah lagi menjadi budaya anak negri, melainkan telah menjelma menjadi semacam ideologi; ideologi korupsi.

                “Aspal”, ujar istriku demi menimpali perkataanku, “itu biar hitam tapi enak rasanya mas, buktinya para pejabat yang menangani jalan pada doyan ngaspal”. Hah, benar juga opini istriku ini. Setiap hari dari ujung barat sampai ujung timur ruas jalan di ibukota dan sekitarnya (dan mungkin juga bapak kota dan sekitarnya) selalu terdapat panitia abadi pengaspalan jalan dari pemerintah. Seolah jalan di Indonesia bak kayu yang dimakan rayap yang perlu diperbaiki setiap hari tak kenal henti. Atau seolah pula, sang jalan diperbaiki dan ditambal bukan dengan aspal, melainkan dengan cendol yang selalu habis dikerubuti penggemarnya (ngga nyambung) sehingga selalu perlu untuk ditambal dan ditambal lagi.

                Persoalan aspal di Indonesia memang betul-betul membuat kita jengkel. Sebagai pengendara tentunya kita menginginkan jalan-jalan yang kita lalui begitu nyaman karena berpermukaan rata dan halus sehalus sutra (ngga mungkin la yauw). Namun itulah kiranya keadaan sebenarnya, nampak seperti peribahasa Jauh api dari panggangnya.

                Seorang ustadz dalam ceramahnya pernah membagi pengalamannya berwisata dakwah ke negeri Uber Alez Jerman yang katanya jalan-jalan di sana halus bin mulus tak seperti jalan-jalan nusantara. Malah yang membuat takjub katanya pula, manakala terdapat jalan berlubang dan seorang pengendara mengalami kecelakaan lantaran lubang tersebut, maka pemerintah maupun instansi terkait bisa dituntut dipengadilan, maa syaa Allah...

                Kosa kata aspal di Indonesia sering disebut sebagai akronim dari “asli tapi palsu”. Mungkin memang akronim ini sejatinya untuk menggambarkan definisi sebenarnya dari aspal itu sendiri. Maksud saya, aspal yang bermakna suatu material berwarna hitam legam yang digunakan untuk menutup dan meratakan jalan, namun karena banyak jalan yang gampang rusak dan berlubang, mungkin memang sejatinya aspalnya aspal alias asli tapi palsu, seolah-olah memang hitamnya aspal, tapi hitamnya luntur dan padatnya melumer hingga menjadilah jalan-jalan berlubang yang menjadi perhiasan jalan-jalan nusantara.

                Saya tak habis pikir tentang kondisi aspal di negeri ini, sebuah bidang garap yang telah menjadi tugas salah satu kementrian kabinet. Bicara pajak pun, berapa banyak pemilik kendaraan baik berroda dua, empat  hingga lebih, yang telah menyumbang demi membayar pajak tahunan dan lima tahunan kendaraan mereka. Namun jalan-jalan masih saja rusak dan berlubang. Upaya perbaikan yang non-stop sepanjang tahun di berbagai-bagai titik (saking banyaknya) pun tak menjadi solusi berlubangnya jalan-jalan di republik ini. Yang terjadi hanyalah seperti sebuah kalimat penggalan syair dangdut “gali lubang tutup lubang”, atau seperti juga sebuah ungkapan yang sebenarnya bernuansa heroik; “tutup satu berlubang seribu” (plesetan pepatah “mati satu tumbuh seribu”, maksa).

                Yaah, lagi-lagi inilah bangsa itu. Bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin mental dan kepribadian. Jalan yang menjadi sarana transportasi penting hanyalah menjadi sapi perah objek korupsi para elit maupun alit terkait. Yang ada program-program perbaikan jalan hanya sebatas proyek keserakahan berupa perampokan, pengemplangan, penggelapan uang rakyat, sehingga lubang-lubang yang menghiasi jalan menjadi perhiasan abadi bagi para pengguna jalan. Padahal bisa jadi sangat mudah untuk membuat jalan rata tanpa lubang jika memang pemerintah berkomitmen untuk itu, sebagaimana jalan-jalan di negara-negara lain. Semoga !!!! (Pengasinan, 13 November 2013, 06.39 WIB)
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar