Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

UKKI PINDAH?(2007)

 UKKI, ANTARA REALITA SEKRE BERPINDAH
DAN IDEALITA PERISTIWA HIJRAH

            Bukan hanya gosip, tapi ini fakta. Bukan sekedar rumor, tapi ini nyata. Bukan pula sesumbar kata, tapi ini sudah menjadi realita. Yap, tulisan kali ini akan membahas tentang kepindahan sekre Lembaga Dakwah Kampus kita tercinta yang udah bener-bener terlaksana. Yang tadinya di area kampus depan, sekarang adanya di wilayah kampus belakang. Atau, yang tadinya ada di belakang masjid kampus Nurul ‘Ulum, sekarang ada di depan kampus peternakan. Belakang dan depan, tergantung konteksnya apa, dan dilihat dari sudut pandang mana. Tapi tulisan ini akan membahas dari frame “depan” bukan “belakang”. Maksudnya, kepindahan yang akan menjadikan kita selangkah lebih ke depan. Ups, bukan hanya selangkah, tapi dua, tiga, empat, dan ngga terhitung langkah dari kemajuan dakwah. Siap ikhwah?!?
***
            Dakwah dan perubahan, sesuatu yang menjadi niscaya. Karena dakwah tujuannya adalah merubah. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari gelap menjadi terang benderang. Dari Jahiliyah menjadi penuh hidayah. Dari diam, statis, stagnan, jumud menjadi harokah, pergerakan, perubahan, perbaikan. Dari skala individual pun sama. Kita menamakannya tarbiyah dzatiyah, sebagai bagian penting dari proses tarbiyah yang dilakukan secara berjama’ah. Tidak lain dan tidak bukan karena tujuannya adalah berubah, dari belum baik menjadi baik, dari baik menjadi semakin baik, begitu seterusnya. Maka hari-hari adalah evaluasi. Dakwah dan tarbiyah harus merubah diri, keluarga dan masyarakat menjadi senantiasa lebih baik lagi.
Berbicara perubahan, nampaknya relevan dengan bahasan kita sekarang ini. Tapi sebetulnya ngga sekedar berubah, tapi lebih tepat dengan kata “pindah”. Ngga pada ketinggalan informasi khan? Markaz Lembaga Dakwah Universitas sekarang menempati lokasi yang baru. Ada yang istimewa? Pasti ada, tapi bukan pada sebab-sebab kepindahannya, melainkan pada momentum kepindahannya. Menjadi sangat relevan dengan peristiwa hijrah, karena memang hijrah itu salah satu ciri dan maknanya adalah berpindah. Tapi ya ngga sekedar pindah, melainkan pindah yang bernilai strategi dakwah. Seperti rasulullah dan para sahabat. Dari Makkah ke Madinah. Dari sementara mengalah, hingga kembali untuk melakukan Fathu Makkah.
           
UKKI. Pindah +  hijrah = berubah          
            Lagi-lagi kita akan berbicara seputar paradigma, moga antum tidak bosan. Ada komentar yang membanjiri halaman sekre dakwah UKKI, kemarin, ketika berita kepindahan markaz dakwah sudah benar-benar fix, yang berbarengan dengan keluarnya SK rektorat. Ngga tanggung-tanggung, bukan cuma kita diminta untuk pindah            untuk menempati sekre baru di area baru PKM. Yang lucu, ketika kita mau memilih untuk menempati sekre yang berada pada bagian tengah pun, ternyata rektorat masih sangat “peduli” pada kita. Melalui salah satu sumber, ternyata katanya sekre kita sudah dipersiapkan di lokasi ruangan yang paling pojok deket dapur (hayo, udah pada pernah maen –silaturrahim- belum?). ‘Alaa kulli haal, dimanapun, pastinya dakwah tetep jalan. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya kami ucapkan pada bapak-bapak yang ada di gedung rektorat sana, Jazaakumulloh khoronil jazaa.
            Sekarang, kembali pada persoalan paradigma. Tentunya kepindahan sekre ini memunculkan banyak komentar dan pendapat. Nah, salah satu, salah dua, salah tiga dan salah semua (ngga ding) dari komentar itu adalah komentar yang menyatakan keberatan atas kepindahan sekre. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, lebih baik kita menyuwir ayam goreng, menebar cakwe, dan menabur kacang kedele, pasti akan jadi bubur ayam yang rasanya oke. Afwan, just kidding. Maksuuudnya, sekarang kita fikirkan dakwah dengan keadaan seperti yang sudah ada.
 Termasuk salah satu keberatan kita dengan kepindahan ini adalah karena gerakan dakwah kampus telah dijauhkan dari tambatan dan pelabuhan hati bagi para penyerunya. Yap, sekarang kita udah jauh dari Nurul ‘Ulum, meski hanya jauh secara fisik, tapi secara penambatan hati, tentunya kita selalu merasa dekat, sedekat kita pada “Nurul ‘Ulum-Nurul ‘Ulum’ yang lain, seperti kedekatan kita juga pada Fatimah, Al-Amanah, Al-Falah de es be(antum boleh sebut semua masjid yang antum ketahui). Yang pasti masjidku, adalah tempat dimana bergantungnya hatiku, dimanapun kamu, selalu. (Uh, koq kesannya melankolis ya?)
Okeh, kita sepakat salah satu sisi yang merugikan kita secara pribadi-pribadi dakwah adalah kejauhan fisik kita dari masjid kampus. But that’s all right, meski begitu, toh kita punya suatu pandangan lain tentang dakwah kampus yang konon selama ini dikenal eksklusif, elitis, atau apalah. Nah, dengan “manufer”  kepindahan (padahal terpaksa, he..he..he..), itu berarti saatnya bagi kita untuk menyibak tirai-tirai lama tentang ADK atau LDK yang teropinikan “negatif” itu.
Ikhwan wa akhwati fillah, benar kata Alloh bahwa setiap setelah kesulitan, pasti ada kemudahan, atau, mengutip Kartini, Habis gelap terbitlah terang. Kami pikir disinilah hikmah terbesar dari relokasi sekre. Bukan, bukan terusir, tapi sebagai titik tolak kebangkitan dakwah (shohwatudda’wah), atau dalam bahasa “khusus” kita, ekspansi dalam berharokah. Agak mirip rupanya dengan sirah rosululloh tentang hijrah (ngga lupa khan kisahnya?). Jadi memang dalam sirah tentang hijrah, diyakini bahwa peristiwa ini menjadi pijakan sang tauladan sepanjang zaman beserta para sahabatnya untuk melakukan quantum dakwah, hingga klimaksnya, rasululloh berhasil untuk melakukan peristiwa besar Fathu Makkah. Konteks kita semua, Fathu Makkah adalah penaklukkan kampus unsoed tercinta dengan dakwah. Saat syiar-syiar ke-islaman seakan begitu membahana. Ketika suasana dan iklim Islami terlihat begitu nyata. Pun tatkala keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dapat terwujudkan dibawah naungan Islam. Antum boleh menyebutnya mimpi, tapi bahasa kami itulah visi.  
Jadi, dakwah adalah paradigma. Sesuatu rahasia yang membuat kita melihat  segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Keyakinan bahwa dibalik kesulitan-kesulitan gerak kita dalam berdakwah, tersimpan disana keindahan-keindahan perubahan agar lebih baik lagi dalam mempetualangi kehidupan, dengan dakwah tentunya. Khusus untuk masalah kepindahan sekre dakwah, tentunya ini adalah titik waktu kita dalam melakukan quantum dakwah, dari ekslusif ke inklusif, dari elitis ke massa, dari atas menara gading ke benar-benar turun kebawah, dari superior ke egaliter, tentunya dalam hal pendekatan dakwah, bukan tentang acuan manhajiyah dalam berdakwah. Pun bagi antum para pegiat dakwah yang tersebar di masing-masing garapan dakwah, entah garapan lini atau wilayah. Da’awi, siyasi ataupun ilmi, hendaknya hal ini pula menjadi titik tolak kebersamaan kita dalam merasakan kebangkitan dakwah. Mencoba menafsiri sub judulnya, pindah berarti hijrah, dan hijrah artinya berubah. Berpindah, berhijrah dan berubah bukan hanya fisiknya, tapi yang jauh lebih utama, perubahan pada tataran paradigma.
            Tapi tunggu dulu, ada yang masih mengganjal dari kepindahan ini. Yaitu tentang “pengkiblatan” dakwah kampus. Bila sebelumnya sekre adanya di area kampus depan, dan ini menjadi sebab beredarnya selentingan “penguasa” LDK ya anak-anak kampus depan. Maka sekarang ada tantangan baru, yaitu bagi anak kampus depan, cobalah buktikan bahwa bukan karena sebab teritorial kalian seakan-akan dominan. Pun bagi temen-temen kampus belakang, buktikan pula bahwa kalian akan juga berupaya untuk lebih militan. Afwan kalo paragraf terakhir agak bersifat relatif dan subyektif. Karena depan atau belakang, seperti yang sudah dijelaskan di permulaan, tergantung konteksnya, dan memandangnya dari sudut yang mana. Mengenai keberadaan sekre yang di depan menjadi di belakang, sebenernya itu bukan merupakan suatu masalah. Namun bila mencoba mencari poin dakwahnya, jawabannya adalah pada jiddiyah atau kesungguhan dalam dakwah. Jadi, di depan atau di belakang, untuk para pegiat dakwah, itu sama saja, sepakat ya ?!?.
OK, kira-kira begitu saja, semoga tulisan ini bermanfaat. Bila ada komentar, pendapat, atau sesuatu yang bisa di apresiasi, maka segeralah untuk dapat dibagi. Tentunya sampaikan langsung ke meja redaksi. Nggak boleh nitip sama akhi dan ukhti yang jadi pengurus UKKI. Ditunggu ya!?!

      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar