Ahad 13 Mei 2012, ba’da maghrib @
masjid Abdul Malik, seorang thalib berbagi
pengalaman tentang apa saja yang Ia dapatkan selama sepekan di desa PPM dimana
Ia ditempatkan. Dengan gaya cueknya
Ia bercerita tentang berbagai hikmah yang Ia dan teman-teman kelompoknya
dapatkan. Di esok paginya, sesuai jadwal jam mengajar, saya masuk di kelas 11
IPS thalibah, walau tidak saya minta
secara khusus, di akhir-akhir sesi mengajar, menggebu-gebu para thalibah bergantian menceritakan
pengalaman mereka selama PPM di desa masing-masing.
PPM merupakan singkatan dari Praktik
Pengabdian Masyarakat, sebuah program anyar
yang digulirkan unit Pembinaan Santri Pesantren Ibnu Salam. Selama sepekan,
dengan dibagi menjadi beberapa kelompok, para santri kelas 11 disebar di
berbagai desa di sekitar Cinangka hingga Sirih. Sejak Senin hingga Ahad mereka
mencoba beraktualisasi di masyarakat, menghasilkan pengalaman berharga yang
belum pernah mereka rasakan.
Walau tidak full mendampingi 24 jam selama 7 hari di Kamasan, saya merasakan
betul bahwa para santri selama diterjunkan di desa merasa sangat enjoy dengan peran mereka. Mengajar
siswa SD hingga SMP atau yang sederajat, belajar mengaji Qur’an di TPA atau
rumah para guru ngaji selepas maghrib, dan kegiatan-kegiatan lain yang penuh
manfaat menjadi sensasi yang benar-benar mereka nikmati. Dan saya yakin itu
pula yang dirasakan oleh santri-santri yang ditempatkan di desa lain dari
program PPM ini.
Tentang kedalaman kesan maupun keberhargaan makna terhadap
keberadaan mereka selama mengabdi di wilayah masing-masing menjadi sesuatu yang
bagi saya pribadi sangat menggetarkan sekaligus mengharukan. Hal itu dapat saya
rasakan saat dalam jenak-jenak membersamai mereka dalam beberapa malam di posko
PPM desa Kamasan. Mereka bercerita tentang kegiatan selama seharian bersama
para murid madrasah diniyah dan tsanawiyah. Tentang murid-murid diniyah yang
lincah dan jenaka. Tentang santri pengajian yang antusias saat dikisahkan sebuah
cerita. Tentang plastik besar berisi makanan hasil kiriman kelompok santri
pengajian. Tentang tingkah polah mereka yang nge-fans pada kakak santri PPMnya.
Bahkan saat suatu pagi saya ikut merasakan menu breakfast asli masakan beberapa santri PPM. Kesemuanya menjadi
suatu pengalaman unik dan menggetarkan hati bagi saya secara pribadi. Terlebih
saat menghadiri acara perpisahan PPM yang menandai usainya masa pengabdian
mereka di desa Kamasan. Bergerombol para murid yang pernah mereka ajar seperti
merasa berat berpisah dengan kakak-kakak yang selama sepekan belajar bersama
mereka.
Memungut makna. Ya,
sepekan keberadaan para santri di berbagai desa pada program PPM ini bagi saya
menginspirasikan satu hal tersebut. Dalam waktu yang sangat singkat ini mereka
belajar tentang berbagai macam hal dari suatu makna hidup yang sebetulnya telah
mereka dapatkan sehari-hari dalam kehidupan mereka, baik secara khusus sebagai
santri NF, atau secara umum sebagai insan makhluk ciptaan-Nya. Dalam masa itu
mereka belajar tentang nikmatnya bersekolah dengan fasilitas yang jauh lebih
lengkap dari adik-adik mereka di desa PPM. Belajar tentang proses mendidik yang
ternyata tidak mudah, yang harapannya, karenanya mereka dapat mengambil hikmah
untuk tidak bersikap sulit dalam prosesnya untuk dididik, baik oleh gurunya di
sekolah, atau oleh orang tua mereka di rumah. Belajar tentang nikmatnya
memiliki orang tua yang sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Belajar tentang betapa senangnya dihargai, dihormati dan dirindukan oleh
murid-murid, yang harapannya pula mereka juga dapat melakukan hal yang sama
pada guru-guru mereka di sekolah atau di manapun. Belajar tentang betapa
gembiranya saat mengajarkan sesuatu yang sesuatu itu dimengerti dan diikuti
oleh para murid mereka. Belajar tentang betapa terenyuhnya saat kita tahu bahwa
orang lain begitu merindukan dan mengharapkan kehadiran kita, dan bukan
sebaliknya yakni membenci dan tidak menginginkan kita bersama mereka. Belajar,
belajar dan belajar, ada begitu banyak pelajaran dalam masa mereka terjun ke
masyarakat selama PPM ini.
Terdapat
bermacam hikmah yang dapat mereka petik dari kegiatan ini, sebagaimana saratnya
makna berharga yang tanpa sadar sebetulnya dapat mereka temukan dalam
keseharian hidup mereka selama ini. Semoga masa satu pekan ini menjadi periode
waktu mereka meraih percepatan ilmu mengenai kebijaksanaan dalam kehidupan yang
karenanya mereka berhak untuk lebih dini meraih mimpi sebagai pribadi pemimpin
para orang-orang yang bertakwa. Amiin...Amiin...Ya
Rabbal ‘Aalamiin. (abu usamah UTR)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar