AGAR SEMANGAT RAMADHAN KITA SENANTIASA MEMBARA
Jika ada sesuatu dalam dunia ini yang perputarannya tak pernah sesaatpun terhenti, maka sesuatu itu pasti adalah waktu. Waktu bergulir begitu cepat, mengantarkan kita kepada setiap detik perjalanan hidup dan membawa kita pada berbagai pengalaman juga keadaan. Saat ini, entah sudah Ramadhan yang kali keberapa yang pernah kita temui. Waktu ini, seakan tanpa terasa Ramadhan telah menginjak pertengahan jumlah hari. Mari kita mengevaluasi diri, sampai di sini sudah sejauh mana peningkatan kualitas diri yang telah kita raih di ramadhan kali ini. Terutama seberapa besar penjagaan kita terhadap semangat menjalankan Ramadhan. Karena semangat adalah modal utama kita untuk dapat meraih setiap impian kehidupan. Termasuk juga impian tentang capaian target Ramadhan yang sudah kita canangkan di hari-hari sebelumnya.
Bila kita coba memperhatikan fenomena Ramadhan ketika memasuki waktu-waktu seperti sekarang ini, maka ada sesuatu yang mungkin menarik berkenaan dengan intensitas aktivitas ibadah khususnya ibadah shalat berjama’ah. Pada banyak masjid sudah terlihat jama’ahnya semakin menyusut jumlahnya. Mungkin yang kentara dalam hal ini adalah pada saat-saat pelaksanaan shalat tarawih. Bila pada sepekan pertama bulan Ramadhan, masjid-masjid sampai tidak bisa menampung jama’ah, tapi pada pekan-pekan selanjutnya jumlah jama’ah semakin menyurut. Barisan shaf shalat yang tadinya sampai membludak hingga ke luar masjid semakin berkurang seiring bertambahnya hari Ramadhan. Kita dapat melihat fenomena ini berlaku di sebagian besar masjid maupun daerah dimana terdapat mayoritas umat Islam. Hal yang mungkin juga kita rasakan bahwasanya semangat untuk menjalani aktivitas ibadah Ramadhan kian hari semakin hilang tertelan oleh waktu. Semua suka cita menyambut Ramadhan seakan menguap oleh karena ketidakcakapan kita dalam menjaga konsistensi iman dan semangat menjalankan Ramadhan.
Itu berkenaan dengan ibadah shalat malam kita, sekarang coba kita evaluasi tentang semangat kita untuk menjalankan puasa disetiap hari di bulan Ramadhan. Dari bangun pagi untuk melakukan sahur, apakah terdapat penurunan-penurunan semangat untuk melaksanakannya. Mungkin sudah banyak dari kita yang mulai malas-malasan untuk bangun di hari yang masih dini untuk mengisi perut kita agar senantiasa fit di sepanjang hari. Bukan cuma itu, sebenarnya alasan kenapa kita harus melakukan sahur adalah juga terdapat keberkahan dan keutamaan di dalamnya seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasulullah. Setelah itupun kita coba mengingati hari-hari Ramadhan kita akhir-akhir ini terutama di pagi hari setelah melakukan sahur. Berapa banyak dari kita yang kemudian setelah sahur tidak kembali ke tempat tidur dan menyiapkan diri untuk melakukan shalat shubuh di masjid. Setelah itu, berapa banyak dari kita yang konsisten untuk melakukan aktifitas amaliah seperti wirid maupun tadarus qur’an setelah kembali dari melaksanakan shalat shubuh di masjid. Tidak jarang dari kita yang mungkin juga menjadikan puasa Ramadhan sebagai alasan untuk tidak optimal dalam beraktifitas.
Memang salah satu tabiat fitrah yang dimiliki oleh kita sebagai manusia adalah kecendrungan untuk terhinggapi rasa bosan, dalam segala aktifitas, di setiap kesempatan waktu. Hal itu memang sebuah hal yang sangat manusiawi. Kita bukan malaikat yang tak diberikan potensi untuk mengalami penurunan semangat dalam melaksanakan amal. Rasulullah pernah bersabda tentang tabiat iman bahwa menjadi sebuah keniscayaan bahwa iman itu yaziidu wa yanqusu (dapat mengalami peningkatan dan juga penurunan). Artinya jikapun iman seperti itu, apatah lagi dengan amalan yang mengikuti di belakangnya. Karena amalan itu pada hakikatnya bersifat korelatif (berhubungan) secara positif dengan iman. Seseorang yang mengaku sebagai orang yang beriman tentunya memiliki amalan-amalan ketaatan sebagai konsekwensi dan parameter keimanannya. Terkait dengan Ramadhan, adalah sebuah hal yang lumrah jika ketika kita menjalani hari-harinya terdapat titik-titik waktu dimana kita mengalami kejenuhan. Tapi, jangan jadikan ini sebagai apologi kita untuk kemudian tidak berusaha untuk memperbaikinya. Justru ketika kita mengalami kejenuhan, maka yang kita harus lakukan adalah memanfaatkan titik jenuh itu untuk kemudian melejitkannya hingga melebihi semangat kita di waktu-waktu sebelumnya. Kita mengupayakan siklus iman kita agar senantiasa menunjukkan grafik yang meningkat. Jikapun turun, maka kita berusaha untuk memacunya hingga mencapai tingkat grafik yang lebih tinggi dari titik tertinggi sebelumnya, dan begitu seterusnya.
Lantas, dalam kerangka menjaga ke-istiqomahan iman dan amal serta semangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan, hal-hal seperti apa yang dapat kita lakukan? Setidaknya ada beberapa cara bagi kita untuk senantiasa dapat menjaga dan memelihara semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang juga dapat berpengaruh pada penjagaan iman dan amalan kita di bulan-bulan berikutnya.
- Senantiasa mengingat keutamaan-keutamaan Ramadhan
Dalam kajian pra maupun ketika Ramadhan, kita mungkin sudah banyak mendapatkan berbagai materi mengenai keutamaan yang itu terdapat di bulan Ramadhan. Namun, tidak ada salahnya dalam kesempatan ini berbagai keutamaan yang melekat di bulan Ramadhan itu kita ulangi lagi kembali. Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit ra, bahwa suatu hari menjelang Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pada bulan itu Allah akan mengampunimu, lalu rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapuskan, dan pada bulan itu doa dikabulkan. Allah Swt memandang perlombaanmu pada bulan Ramadhan itu dan membangga-banggakanmu kepada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kebaikanmu pada Allah. Sesungguhnya celakalah orang yang pada bulan itu terhalang tidak mendapatkan rahmat Allah ‘Azza wa jalla”.
Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan di ampuni dosa-dosanya di masa lalu”.
Disebutkan pula dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisi bahwa telah bersabda Rasulullah:
“…Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan satu perbuatan sunnah di dalamnya, dia bagaikan melakukan satu kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa melakukan satu kewajiban pada bulan ini, maka dia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan yang lain…”.
Dalam malam sepuluh terakhir Ramadhan, kita juga sudah mengetahui pula bahwa di malam-malam ganjil pada waktu itu, ada satu malam yang Ia nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Maka barangsiapa yang berhasil meraih malam kemuliaan itu, sesungguhnya ia menjadi orang-orang yang paling beruntung dalam meraih keutamaan Ramadhan.
2. Mempelajari pengalaman Rasulullah Saw dan para pendahulu yang shalih dalam beribadah di bulan Ramadhan.
Bukan bandingannya memang ketika kita mencoba bercermin kepada pengalaman Rasulullah Saw, sahabat serta para pendahulu yang shalih dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Tapi, sesungguhnya dengan kita mempelajari pengalaman-pengalaman Ramadhan mereka, diharapkan kita akan termotivasi untuk dapat banyak beramal seperti amalan mereka. Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai salah satu imam madzhab yang pengikutnya konon mayoritas di negeri ini. Dalam biografinya disebutkan bahwa dibulan Ramadhan beliau mampu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam sebulan Ramadhan. Kita mungkin mustahil dapat menyamai “rekor” beliau dalam mengkhatamkan al-Qur’an, tapi paling tidak ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk dapat sekurangnya mengkhatamkan al-Qur’an sekali saja di bulan Ramadhan. Jika imam syafi’i sanggup mengkhatamkan al-Qur’an dalam sebulan sebanyak 60 kali khatam, itu berarti dalam sehari beliau rata-rata berhasil khatam sebanyak 2 kali, yang jika di-juzkan berarti sehari berhasil membaca 60 juz. Maka suatu hal yang tidak sulit bagi kita mengkhatamkan al-Qur’an 1 kali dalam sebulan, yang berarti kita hanya harus membaca 1 juz dalam seharinya.
3. Membuat misi Ramadhan dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya.
Salah satu kiat kita dalam meraih kesuksesan dalam hidup adalah mencoba menargetkan capaian kesuksesan itu baik dalam bentuknya, maupun dalam waktu per-realisasiannya. Dalam meraih kesuksesan dan ke-istiqomahan Ramadhan pun demikian. Kita wajib memiliki target-target Ramadhan yang akan kita kejar pencapaiannya. Misalnya, sejak awal Ramadhan yang lalu kita menargetkan bahwa Ramadhan ini kita akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan merokok. Atau juga bagi muslimah misalnya, ia bertekad untuk menutup aurat dengan berjilbab secara sempurna mulai bulan Ramadhan ini dan bulan-bulan seterusnya. Atau pula kita menargetkan dalam Ramadhan ini harus khatam al-Qur’an minimal satu kali. Juga target-target yang lain yang bisa kita canangkan. Pun seumpama kita sudah menginjak hari yang ke-13 bulan Ramadhan dan kita belum membuat targetan-targetan yang akan kita capai terkait peningkatan kualitas diri kita, maka tidak ada kata terlambat untuk membuat dan mencoba merealisasikannya saat ini juga.
4. Senantiasa mengingat kematian dan kemungkinan bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.
Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui kapan ajal seseorang itu datang. Oleh karena itu seorang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah seseorang yang selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang pasti. Dan, tidak ada yang dapat mengingkari dan menghindari kepastian bahwa kita semua akan mati. Oleh karena itu yang harus kita lakukan dalam menghadapi kematian adalah berbekal diri dalam menyongsongnya. Dan, “…sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…”.(QS. al-Baqarah [2]: 197). Maka Ramadhan ini bisa jadi Ramadhan kita untuk yang terakhir kali dalam hidup ini. Oleh karena itu jangan disiakan kesempatannya yang terbentang luas untuk kita memupuk amal dan memperbanyak bekal berupa ibadah dalam bulan penuh keutamaan bulan ramadhan. Dan juga, sebagai tujuan dari wajibnya Ramadhan bagi kita semua adalah “…agar kamu bertaqwa”.(QS. al-Baqarah [2]: 183). Mari kita mencoba untuk mewujudkannya.
- Bergabung bersama mereka yang memiliki semangat dalam meraih berbagai keutamaan pahala Ramadhan.
Dalam penjelasan teori sosiologi dikatakan bahwa lingkungan pergaulan seseorang sangat mempengaruhi perilaku orang tersebut. Jauh sebelum teori itu dicetuskan kira-kira 1500 tahun sebelumnya, Rasulullah Saw telah mengingatkan kita; “Seseorang itu berada di bawah agama temannya. Oleh karena itu hendaknya ia melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Muslim dan Abu Daud).
Kita sadari atau tidak, sesungguhnya lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perilaku dan kebiasaan kita. Oleh dari itu kita sering menemukan bahwa seorang pemabuk biasanya bergaul dengan pemabuk juga, dan seorang ahli ilmu maupun ahli ibadah akan berteman akrab dengan ahli ilmu ataupun ahli ibadah juga. Hal ini merupakan sunatullah dalam kehidupan sosial. Maka dari itu dalam kompetisi meraih kemuliaan bulan Ramadhan, kita harus mencoba untuk selalu menjaga lingkungan pergaulan yang kondusif, dan terutama lingkungan pergaulan yang akan memacu kita untuk senantiasa berbanyak-banyak amalan keta’atan kita kepada Allah Swt.
Bulan Ramadhan pada hakikatnya juga merupakan bulan ishlah (perbaikan) serta bulan tarbiyah (pendidikan). Banyak sudah tercatat bahwa madrasah Ramadhan ini telah benar-benar merubah seseorang menjadi orang-orang yang lebih baik dalam kualitas dirinya di hadapan manusia dan terutama dalam pandangan Allah Swt. Oleh karena itu mari kita bersama-sama untuk selalu bersemangat dalam meraih berbagai keutamaannya. Hingga nanti kita dapat berjumpa hari ‘Idul Fitri dengan senyum berseri, dan dengan kualitas diri yang lebih baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari.
Wallahu a’lam bish showwab. AF[][]