Berdiri saya di depan Tugu Perdamaian, sebuah
tugu monumental dalam napak tilas sejarah kelam masyarakat Sampit, Kabupaten
Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Sebuah tragedi kemanusiaan yang
siapapun orangnya tentu tak menginginkannya terjadi. Namun demikianlah
terkadang kehidupan harus berjalan. Pil pahit peristiwa Sampit 14 tahun yang
lalu menjadi pelajaran besar bagi semua elemen bangsa dalam membangun
sejarahnya.
Kunjungan ke Sampit di pekan kedua bulan Juni
tahun 2015 ini menjadi salah satu nikmat besar yang saya rasakan dalam masa
jelang Ramadhan 1436 Hijriyah yang akan kembali menyapa sepekan ke depan. Seperti
biasa, tugas untuk melakukan penelitian mengenai sebuah tema mengantarkan kami
ke kota yang pernah memendam luka yang dalam yang bukan hanya dirasakan oleh
mereka yang terlibat didalamnya, akan tetapi juga kita semua sebagai bangsa
Indonesia, bahkan selaku umat manusia.
Menyusuri jalan demi jalan di kota Sampit,
hingga berkesempatan pula berada di atas perahu yang mengambang di sungai
Mentaya, seolah mengajak benak saya mengembara pada masa tragedi itu
berlangsung. Februari 2001 menjadi bulan banjir darah di setiap jengkal tanah
maupun air di kota tersebut. Tak berlebihan jika saya mengatakan demikian. Bagi
kita yang pernah menyaksikan cuplikan video dokumentasi ketika peristiwa itu
terjadi, saya kira mau tak mau menyetujui apa yang saya katakan. Dengan tidak
bermaksud menyudutkan pihak-pihak yang tertuduh sebagai pelaku peristiwa sadis
dan sangat mengerikan itu, kita dapat dengan mudah melihat betapa nyawa umat
manusia seperti tak ada harganya akibat kemurkaan massal yang tak mampu terbendung
hingga menjebol batas perbedaan hakikat antara umat manusia dan sekawanan hewan
berdarah dingin di gurun Afrika.
Dan inilah lagi-lagi pelajaran besar yang
harus dipetik bangsa dan negara ini. Tak bijak jika sekedar menyudutkan dan
memvonis salah masyarakat etnik Dayak tanpa melihat perbandingan sebab-musabab
mereka melakukan pembantaian biadab terhadap etnik Madura. Peristiwa banjir
darah itu hanyalah sekedar puncak dari bermacam persoalan sosial yang telah akut dan berlarut,
hingga membuat sebuah kondisi umum kemasyarakatan yang tak berjalan seimbang,
yang bukan tak mungkin warga dari etnik Madura juga turut andil dalam
menciptakannya. Atau boleh jadi peristiwa itu hanyalah merupakan klimaks dari
kegagalan pemerintah maupun aparat daerah untuk mengonstruksi sebuah masyarakat
yang harmonis dan tanpa ketimpangan. Inilah letusan besar gunung sosial yang
benar-benar meluluhlantakkan bangunan kemanusiaan umat manusia, yang
tanda-tanda pra letusannya begitu nyata, bahkan dibuat sendiri oleh pihak-pihak
yang terlibat didalamnya, dengan tanpa kesadaran evaluatif mereka untuk
berfikir, bahwa sebagaimana mereka membuatnya, dan mereka pula yang sejatinya
mampu mencegahnya.
Melintas pikiran saya tentang memori luka yang
pernah dirasakan oleh masyarakat etnik Madura dari peristiwa ini. Mungkin
memang kehidupan telah kembali berjalan normal seperti sebelum kejadian. Saya
mencoba bertanya ke beberapa orang di Sampit; apakah warga etnik Madura telah
kembali dan menjalani hidup di kota ini seperti sedia kala? Dan jawaban mereka
“ya”, disusul penjelasan berupa saran untuk pergi mengunjungi pasar-pasar dan
menyaksikan sendiri keberadaan mereka di kota Sampit. Namun begitu, siapakah
yang bisa menjamin luka itu benar-benar sembuh di benak anak-cucu generasi dari
etnik Madura di kemudian hari. Mengingat ini merupakan peristiwa traumatis
sosial buat mereka, dimana banyak dari anggota keluarga mereka menjadi korban
yang harus meregang nyawa dengan cara-cara yang sangat jauh di luar batas
nurani kita sebagai umat manusia. Maka diperlukan pengkajian yang intensif dari
pihak pemerintah baik pusat maupun daerah untuk dapat terus memantau dan
mengawal jalannya roda sosial masyarakat Sampit dalam waktu yang bukan hanya
setahun-dua tahun, melainkan sepanjang tahun hingga bergantinya generasi demi
generasi yang mengisi kehidupan sosial daerah Sampit. Disinilah urgensi dari
diperlukannya peran para ahli pengkaji ilmu sosial humaniora, yang hasil kajian
mereka menjadi media monitoring dan pengawal sehatnya putaran roda sosial
masyarakat Sampit. Agar tragedi kelam kemanusiaan yang pernah terjadi di kota
ini tak lagi terulangi di sini, atau di manapun dari wilayah NKRI.
