Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 25 Januari 2015

MENDADAK INGGRIS





                Segala puji bagi Allah subhaana wa ta’ala yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai bahasa Inggris di kecamatan Pare, kabupaten Kediri. Sebagaimana telah kita mafhum bahwa di kecamatan inilah tempat banyak orang dari segala penjuru negeri datang untuk belajar bahasa Inggris, yang oleh karenanya Pare dikenal sebagai English village atau kampung Inggris. Tanggal 15 Juni hingga 8 Juli 2011 nama kami tercatat sebagai peserta dalam program Training System yang diselenggarkan oleh lembaga BEC, singkatan dari Basic English Course, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang usianya tertua di antara ratusan lembaga kursus lainnya di kecamatan ini. Lembaga ini didirikan tahun 1977 dan menjadi pionir dari sejarah berkembangnya Pare menjadi kampung Inggris.

Tiga Minggu Yang Berharga
Suatu pengalaman yang berharga selama lebih dari tiga minggu kami belajar di Pare untuk dapat mengerti bahasa Inggris dan menerapkannya dalam komunikasi sehari-hari terutama saat kami telah kembali ke Nurul Fikri. Pembelajaran bahasa Inggris terasa sangat menyenangkan bagi kami, dan target yang diinginkan BEC kami kira sangat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan kita di NF, yakni mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Maka dalam masa belajar itu, kami seperti tidak sabar untuk terus berlatih dan berlatih. Asyiknya belajar bahasa, kita tidak perlu menunggu momen tertentu untuk latihan bicara, karena sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang filsuf bernama Jurgen Habermas, bahwa sebagian besar waktu manusia dihabiskan dalam rangka aktivitas berbicara, karena menurutnya manusia adalah makhluk komunikasi. Maka dalam mengasah kemampuan berbahasa, yang harus dilakukan hanyalah bicara dan bicara. Jadi bicaralah dengan bahasa Inggris, dengan istri atau suamimu, dengan anakmu, dengan rekan-rekan kerjamu, atau bahkan seandainyapun engkau sedang sendiri, bicaralah pada dirimu sendiri dengan bahasa Inggris, itu akan menjadi kiat pembelajaran yang efektif dalam rangka meningkatkan kelancaranmu dalam berbahasa Inggris.

Mendadak Inggris
Walau hanya secuil ilmu mengenai tata bahasa Inggris yang kami dapatkan saat belajar di Pare, akan tetapi jika kami terus belajar (dengan menerapkannya), bukan tidak mungkin praktik bahasa Inggris kami bisa semakin excelent, dan dengan begitu bisa menjadi satu sumber pemicu dan pemacu pembudayaan bahasa asing di Nurul Fikri. Namun begitu, sesuatu yang berbeda dari apa yang menjadi kebiasaannya kadangkala menimbulkan suatu reaksi yang juga tidak biasa. Seperti contoh seorang preman yang tiba-tiba dalam waktu sekejap memiliki kebiasaan layaknya seorang alim nan shalih.  Mendadak alim, mungkin kita menyebutnya demikian, sebagaimana judul film dalam negeri; mendadak dangdut. Bagi mereka yang mengetahui kapasitas maupun kebiasaan sang preman, mesti akan merespon dengan kata-kata “ajaib”, “tumben”, “semalem ente ngimpi apaan”, “ente salah minum obat ya”, dan kata maupun kalimat lainnya yang menandakan akan kekagetan akan perubahan drastis dari sang preman. Begitupun dengan kami para alumnus Pare angkatan pertama (konon akan dikirimkan angkatan-angkatan berikutnya, we hope so..), sebagaimana misi dari sebulan pembelajaran kami di sana, yakni untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa civitas Nurul Fikri, maka sebagaimana kredo pendidikan, maupun teori dakwah yang menyebutkan “al-qudwah qabla ad-da’wah”, kamipun memiliki PR untuk dapat menerapkan hasil pembelajaran kami di Pare. Dengan kata lain, satu hal utama yang otomatis diharapkan dari kami selepas kembali dari Pare adalah just talk with english to everyone.  Maka sebagaimana hukum aksi-reaksi dalam “fenomena kemendadak-an” tadi, tentu saja ada perbedaan yang cukup kontras antara sebelum kami berangkat ke Pare dibanding sesudahnya.
Sebagaimana yang sudah kita mafhum, guru-guru yang dikirim pada tahap awal datang dari berbagai jurusan yang berbeda, dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari pasti bahasa Indonesia. Namun saat ini, mau tidak mau, rela tidak rela, kami harus merubah cara kami dalam bergaul dan berkomunikasi sebagaimana tujuan kami dikirim ke Pare. Maka kami dituntut untuk bicara menggunakan bahasa Inggris, baik kepada sesama guru, maupun kepada para santri. Perubahan itu pasti akan terlihat lumayan signifikan, dan respon terhadap fenoemena itu kami kira juga ada yang signifikan. Namun apapun itu, kami yakin kita semua mengharap kebaikan bagi diri kita mapun bagi peradaban yang tengah kita bangun melalui Nurul Fikri ini. Kita semua yakin bahwa bahasa menjadi salah satu kunci dalam memenangkan pertarungan dalam percaturan peradaban, atau bahkan dalam  kaitannya dengan mimpi-mimpi kesuksesan setiap kita. Bahasa adalah nilai tambah bagi seorang individu. Oleh karena itu, dapat berbicara dengan menggunakan bahasa asing bagi kita adalah suatu keutamaan yang harus kita raih dan miliki. Dengan alasan itu, kami kira sudah merupakan keharusan untuk mendukung program pembudayaan bahasa Inggris yang telah jauh hari dicanangkan oleh lembaga. Dan apabila kita mendapati rekan-rekan kita yang tengah belajar mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan praktik berbicara di kantor, di masjid, atau di kelas, sementara kita belum berani melakukannya, maka kita sudah kalah selangkah dari rekan kita tersebut.

At-tarbiyah Madal Hayah (Long Life Education)
Iqra’, satu kata yang menjadi pembuka dari puluhan ribu kata yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an ini sudah lebih dari cukup untuk kita sebagai umat Islam untuk senantiasa meneguhkan ideologi pembelajar dalam setiap diri kita. Salah satu bidang yang memiliki manfaat besar bila kita mempelajari dan menguasainya adalah bahasa asing. Maka pembelajaran tentang bahasa asing merupakan salah satu tangga subjek ilmu yang tidak bisa tidak harus kita pelajari. Darinya terbukti dan terciri akan peningkatan kualitas setiap diri. Sebagaimana rasulullah SAW yang menyuruh para shahabat beliau untuk belajar bahasa asing, Zaid bin Tsabit bahkan dapat menguasai bahasa Ibrani hanya dalam kurun waktu 17 hari.
Guru bahasa Inggris atau bukan, sudah pernah belajar di Pare atau hanya belum dapat kesempatan, apapun, hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita semua untuk belajar dan mempraktikkan penggunaan bahasa asing di Nurul Fikri ini, sebagaimana yang dahulu saya lakukan dengan menabung (membeli) buku tentang belajar bahasa asing. Atau bagi guru bahasa Arab, tidak perlu sungkan untuk mempraktikkan kemampuannya, takallam bi lughati arabiyah! Siapa tahu, setelah bahasa Inggris, kamipun akan berdialog dengan anda dengan bahasa al-Qur’an yang telah anda kuasai. Every moment is competition to beat our self. Tarbiyah madal hayah. Just be  a learning people, whereever, whenever, and forever. (Banana Comunity; teachers room, 2011-07-12,10.57 AM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar