Total Tayangan Halaman

TIME

Rabu, 21 Januari 2015

MAULID NABI DAN SEMANGAT MENAULADANKAN DIRI



             Memasuki bulan Rabiul Awwal umat Islam di Indonesia memiliki hajat nasional berupa penyelenggaraan kegiatan memperingati hari lahir Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Hampir di setiap masjid diadakan acara-acara yang mengajak kaum muslimin untuk menapak tilasi sejarah hidup dan perjalanan dakwah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sebuah kegiatan yang bertujuan mulia demi lebih mendekatkan umat Islam kepada Nabi junjungannya hingga menjadikan beliau sebagai sebenar-benar idola.
            Di masjid kita tercinta; Masjid Baitul Iman, pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan momen ini. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya turut diadakan pula acara peringatan maulid Nabi untuk tahun ini. Segenap kaum muslimin melalui kegiatan yang difasilitasi oleh kepengurusan Masjid Baitul Iman (MBI), akan diajak untuk merenungi dan menauladani kembali perikehidupan sang penghulu akhir zaman, ditengah ekspansi kehidupan materialistis yang begitu deras menyerbu pola pikir dan  gaya hidup kaum muslimin, hingga tanpa sadar orientasi hidupnya mulai bergeser sedikit demi sedikit. Lama kelamaan kepribadian Islam yang menjadi gaun kemuliaan kaum muslimin mulai luntur dan berganti menjadi kepribadian barat yang mendewa-dewakan materi. Lambat laun mereka pun melupakan sosok yang harusnya mereka jadikan idola dan barometer dalam hidup, dan menggantinya dengan profil manusia-manusia zaman modern yang menuhankan hawa nafsu, yang diwakili oleh para artis film dan sinetron, penyanyi dan grup band, politisi-politisi busuk, pemain sepak bola dan lain-lain yang kebanyakan mereka kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam.
           Peringatan Maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang senantiasa kita selenggarakan setiap tahunnya hendaknya menjadi bahan renungan kita. Betapa upaya untuk mengajak umat mencintai dan menauladani nabinya tak kurang-kurang kita telah lakukan setiap setahun sekali. Namun apakah hal itu sudah cukup untuk membuat kaum muslimin untuk mau mencintai Nabi mereka dengan kecintaan yang sungguh-sungguh, yakni dengan selalu berusaha untuk menyelami sirah (sejarah) perjalanan hidup beliau dan mencontoh berbagai sisi dari perikehidupan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal bukan hanya dari golongan umat Islam yang mengakui kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau, para tokoh intelektual barat pun mengagumi akan kehebatan beliau, sebagaimana salah satunya ditulis oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Michael H. Hart, seorang Nashrani yang di tahun 1978 merilis hasil penelitiannya terhadap sejarah tokoh-tokoh besar dan menjatuhkan pilihannya pada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia dan hanya menempatkan Yesus di urutan ke-3 di bukunya yang fenomenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia.
            Sungguh dalam sirah perjalanan hidup Nabi kita mengajarkan begitu banyak pelajaran yang tak ternilai. Beliau telah benar-benar menjadi sosok yang sempurna untuk dicintai dan ditauladani oleh kita semua. Tak cukup bila acara peringatan maulid Nabi ini hanyalah diselenggarakan setiap setahun sekali. Bahkan juga tak cukup bila diadakan peringatan sebulan sekali, atau seminggu sekali. Seyogyanya kita memperingati maulid Nabi setiap saat dengan cara selalu berusaha mengkaji dan mencontoh setiap sisi kehidupan beliau, membaca sirah beliau dan mendatangi majlis-majlis yang mengupas sunnah-sunnah beliau hingga kita mengamalkannya, walau mungkin tanpa harus pihak panitia menamakannya majlis peringatan maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Karena itulah sejatinya wujud dari kecintaan kita terhadap beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
            Namun apa yang terjadi di zaman ini dari fenomena peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lebih kepada ritual yang kering makna. Mungkin kita berramai-ramai menyenandungkan shalawat ke atas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mungkin pula kita berpartisipasi dalam gegap gempita acara tabligh akbarnya, namun setelah itu tidak ada yang berubah dari kehidupan kita. Ajakan sang mubaligh dalam ceramah tabligh sekedar kita nikmati sisi-sisi jenaka yang sejatinya ia hanya merupakan selingan agar ceramah tetap segar dan tidak monoton. Esensi peringatan maulid yang bertujuan untuk mengajak kita agar lebih mencintai Nabi dan menauladani beliau menjadi sesuatu yang seolah terbang jauh seiring kita meninggalkan majlis penyelenggaraan maulid tersebut. Sunnah-sunnah yang beliau wariskan masih serasa asing dikarenakan keengganan kita untuk mempelajarinya. Bahkan tak jarang di zaman ini, akibat ketidaktahuan kita akan sunnah nabi, kita menganggap aneh apabila ada seseorang yang mengamalkannya. Terlebih dalam situasi penuh fitnah yang dihembuskan musuh-musuh Islam terhadap berbagai amalan yang sejatinya di ajarkan dalam Islam. Sebagaimana kita mengetahui peristiwa bertubi dari tindakan terorisme yang selalu dikaitkan pelakunya dengan sekelompok umat Islam yang mengamalkan sebagian sunnah seperti memanjangkan jenggot, bercelana cingkrang, mengenakan jilbab syar’i bagi kaum perempuannya, dan lain sebagainya. Beragam peristiwa itu seolah menjadi rangkaian agenda yang telah disetting dengan tendensi untuk membuat umat Islam membenci saudaranya sendiri yang mengamalkan sunnah tersebut, yang kemudian membuat mereka membenci sunnah-sunnah nabinya, dan hingga akhirnya membenci agamanya sendiri na’udzu billaahi min dzaalika.
            Tentunya kita tidak ingin hal seperti yang disebutkan di atas terjadi. Maka melalui momentum kesekian dari peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diadakan masjid kita tercinta ini, marilah kita bersama untuk benar-benar mempelajari sirah perjalanan hidup beliau, mencontoh sifat-sifat beliau yang mulia, menuntut ilmu tentang sunnah-sunnah beliau yang sudah banyak kita lupakan, sehingga kita sebagai umat Islam benar-benar mampu meresapi sisi-sisi perikehidupan beliau, dan dengannya kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia sebagaimana kepribadian sang tauladan sepanjang zaman; Nabiyunaa Muhammad Shallu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa shahbihi. Wallaahu a’lam bish shawwaab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar