Membincang topik tentang “belajar” di masyarakat kita biasanya diasosiasikan dengan sebuah tempat dan atau institusi bernama “Sekolah”. Segera saja setelah kita mengangkat tema obrolan ini baik saat kongkow di warung kopi, atau ketika berada di majelis rumpi ibu-ibu di tukang sayur, atau mungkin sekedar diskusi ringan selepas shalat berjama’ah di masjid, tema tentang “belajar” atau “pembelajaran” hampir pasti kata yang mereka maksud adalah “sekolah”.
“Belajar” dan “sekolah” adalah dua
kosa kata yang menyiratkan kesan yang sama, walaupun pada dasarnya antara
keduanya berbeda. Belajar adalah sebuah
kata yang menunjukkan akan aktifitas, baik fisik dan terutama mental dari
sesuatu yang akan membuat seseorang berubah lebih baik dari sebelumnya.
Sedangkan sekolah adalah sebuah tempat dan atau lembaga yang secara formal mewadahi
seseorang untuk belajar.
Menilik pada pengertian dari kedua
kata tersebut, kita bisa mengambil hakikat yang sangat besar dan bermanfaat. Belajar
yang merupakan suatu aktifitas dan atau kegiatan di mana dengannya kita bisa
menjadi lebih tahu, lebih cerdas, lebih baik, lebih hebat, lebih bijak, yang
itu menggunakan berbagai potensi ragawi yang kita miliki dari indera yang Allah
Ta’ala anugerahkan kepada kita. Maka belajar bisa kita lakukan kapanpun,
dimanapun, kepada siapapun, dan belajar apapun. Dan dengan begitu, anggapan
yang menyebutkan belajar identik dengan sekolah merupakan salah satu bentuk
dari sesat pikir yang sering dianut oleh masyarakat kita. Yang tergambar dalam
benak kebanyakan dari kita bahwa belajar itu adalah duduk di kelas, mengikuti
pelajaran dari guru, mengerjakan tugas, mendapat nilai. Padahal belajar bukan
hanya itu, dan belajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Sekolah hanyalah
merupakan salah satu tempat untuk kita melakukan pembelajaran. Kelebihannya
hanyalah pada sisi formalitasnya. Sementara jika kita menginginkan pembelajaran
yang lebih luas, maka kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja, kepada siapa
saja, dan belajar apa saja.
Allah Ta’ala
telah memberikan kita anugerah berupa potensi-potensi akal, jasad dan jiwa
sebagai sarana untuk kita menyerap pengetahuan. Kita dapat belajar dari
melihat, dari mendengar, dari memikirkan sesuatu, dari meniru dan melakukan sebuah
hal yang baru secara mandiri. Kita dapat mendayagunakan seluruh potensi itu
yang kemudian membuat kualitas kepribadian kita menjadi lebih baik.
Di dunia ini ada orang-orang yang
bersekolah dan sukses, sebagaimana ada orang-orang yang bersekolah tapi hidupnya
sengsara. Dan di dunia ini juga ada orang-orang yang tidak bersekolah tapi juga
sukses, sebagaimana terdapat orang-orang yang tidak bersekolah dan hidupnya nestapa.
Jadi, sekolah atau tidak sekolah sama-sama bisa sukses, namun juga sama-sama
bisa gagal. Apa yang membedakan hanyalah satu kata; belajar, atau dengan kata lain menjadi
seorang pembelajar.
Bagi seorang
pembelajar, sekolah atau tidak sekolah ia akan sukses. Karena ia betul-betul
mendayagunakan segala potensi dan sumber daya yang ia miliki untuk menarik
hikmah dan manfaat, yang dengan begitu ia selalu berubah lebih baik, siapapun
orangnya, apapun profesinya. Namun
sayangnya, kata ini –belajar-, atau juga tempat ini –sekolah-, adalah dua kata
yang mungkin paling dibenci oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya buat
remaja yang sedang menempuh tangga pendidikan formal di sekolah. Betapa sering
kita lihat para pemuda dan pemudi tidak menggunakan waktu-waktu belajarnya
dengan baik di sekolah. Atau bahkan tidak jarang kita melihat para pelajar itu
memilih untuk tidak bersekolah, entah itu mereka “cabut” saat jam-jam sekolah,
atau memang mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih
untuk menjadi pengangguran.
Sebetulnya
tidak sepenuhnya orang yang tidak bersekolah itu tercela, karena memang
sejatinya pembelajaran itu bisa dilakukan di mana-mana. Namun dalam kebanyakan
kasus di negeri kita, para remaja yang memilih tidak belajar di sekolah
biasanya juga tidak belajar di tempat manapun mereka berada. Mereka lebih
memilih mejeng di mall dan atau nongkrong
di pinggir jalan dan benar2 tidak memanfaatkan potensi waktu yang mereka miliki
untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Nikmat waktu yang Allah Ta’ala
anugerahkan kepada mereka sering mereka buang percuma hingga tidak menghasilkan
manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga, maupun
lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara kita menjadi
tidak produktif dan selalu terpuruk, dikarenakan golongan remaja dan pemudanya
tidak berusaha memanfaatkan waktunya untuk kebaikan mereka, terlebih demi
pembangunan negara.
Menjadi pribadi pembelajar sama sekali
tak mengandung arti menjadi seorang murid di sekolah tertentu, atau menjadi
mahasiswa kampus tertentu. Akan tetapi berpribadi pembelajar adalah menjadi
seorang yang benar-benar berhasrat untuk selalu menjadikan setiap waktu mereka
bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya. Mereka
membaca buku, menonton berita, mendengar radio, berlatih ketrampilan berbahasa
asing, menyimak wejangan orang-orang sukses, mengikuti training-training
kompetensi. Mereka belajar berorganisasi, mereka terlibat dalam kegiatan
kemasyarakatan, mereka bergaul dan meluaskan hubungan pertemanan, mereka
berhubungan baik dengan banyak orang. Mereka belajar mengemudikan kendaraan, mereka
mengikuti kursus menjadi montir, atau kursus menjahit, atau pula kursus
komputer. Pokoknya mereka benar-benar berusaha
memanfaatkan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kompetensi diri.
Dan jika sudah begitu, persoalan kesuksesan, kemapanan materi, terjaminnya
kualitas hidup, hanyalah merupakan hadiah yang pasti mereka dapatkan dengan
sendirinya. Entah mereka menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yang sukses,
pendidik dan akademisi yang berhasil, karyawan yang profesional, aparat negara
yang amanah, atau sekedar menjadi petugas-petugas pelayan masyarakat di level
apapun yang benar-benar berdedikasi tinggi.
Menjadi
pribadi pembelajar adalah kunci akan kualitas hidup yang baik. Ia menjadi sebab
kesuksesan seorang anak manusia, baik kesuksesan dunia, terlebih kesuksesan
akhirat. Maka sudah selayaknya kita berusaha untuk menjadi pribadi pembelajar
itu, meski tak mampu bersekolah tinggi-tinggi, tapi tetap berkesempatan untuk
tetap berkompetisi menjadi yang terbaik. Kiranya tulisan ini akan ditutup oleh sebuah
ungkapan inspiratif tentang obsesi jiwa
seorang pembelajar sejati ;
Setiap orang adalah guru
Setiap hal adalah ilmu
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap kejadian adalah pelajaran