Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 18 November 2013

CELOTEH ASPAL



                Menyusuri jalanan antara Pengasinan Rawa Lumbu dan Kota Wisata Cibubur adalah rutinitasku selama 6 hari dari Senin hingga Sabtu, buat apalagi jika bukan untuk bekerja mencari nafkah. Perjalanan berpuluh kilo setiap harinya begitu rela kujalani demi menyambung hidup dan menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di istana syurga yang tengah kubangun. Kesemuanya kulakoni dengan (semoga) ikhlas, yang harapannya ianya menjadi satu posko pahala yang memenuhi pundi-pundi amal shalihku. Allahumma amiin.

                Adalah pengalamanku melintasi setiap inchi jalan yang mengantarkanku menuju atau kembali dari Cibubur yang ingin kubagi di tulisan ini. Aspal yang menjadi media penyambung antar wilayah di nusantara ini memang penuh dengan undangan kekesalan dan umpatan.  Betapa tidak, manakala kita coba sekilo saja menyusuri ruas jalan yang membentangi medan NKRI umumnya, atau jakarta dan sekitaran khususnya, maka kita akan pasti selalu jengkel dibuatnya. Adalah lubang demi lubang di sana-sini yang begitu setia menemani setiap pengendara yang tidak sama sekali berjumlah sedikit kecelakaan yang memakan korban karenanya. Lubang-lubang yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada panjang ruas jalan yang ada di seantero Indonesia (wualah, lebay brakalay). Lubang-lubang yang bagiku amat sangat lebih menjengkelkan dibanding lubang-lubang yang menjadi penghias tersembunyi dari gigi-gigi yang hampir punah yang masih  kumiliki (buka kartu).

                Tidak tepat memang jika kita menjadikan aspal hitam yang konon banyak diangkut dari pulau Buton di selatan Sulawesi menjadi tersangka sekaligus terdakwa dalam pembicaraan ini. Karena sang aspal hanyalah sekedar benda mati yang guru Bahasa Indonesia kita dahulu di sekolah menyebutnya “objek penderita”. Namun yang amat sangat paling terpenting adalah sang subjek dan si predikat yang membuat nasib perjalanan umat manusia Indonesia ajlut-ajlutan tak karu-karuan.

                Suatu kali, pernah kukatakan pada istriku saat melintasi suatu ruas jalanan yang begitu amboi rusaknya, “Dek, untuk mendiagnosa apakah terdapat korupsi pada suatu pemerintahan di sebuah negara atau daerah hanya cukup dari melihat dan merasakan jalanan-jalanan wilayahnya, jikalau banyak yang rusak maka nyaris vonis negeri atau wilayah koruptor itu sah untuk disematkan pada pemerintahnya”. Namun, beberapa hari ini kupikirkan lagi perkataanku itu, dan setelah menimbang dari pengalaman selama beribu kilometer yang telah kususuri dari jalan-jalan NKRI, maka kupikir cukuplah jalan-jalan itu menjadi saksi sekaligus bukti bahwa korupsi bukanlah lagi menjadi budaya anak negri, melainkan telah menjelma menjadi semacam ideologi; ideologi korupsi.

                “Aspal”, ujar istriku demi menimpali perkataanku, “itu biar hitam tapi enak rasanya mas, buktinya para pejabat yang menangani jalan pada doyan ngaspal”. Hah, benar juga opini istriku ini. Setiap hari dari ujung barat sampai ujung timur ruas jalan di ibukota dan sekitarnya (dan mungkin juga bapak kota dan sekitarnya) selalu terdapat panitia abadi pengaspalan jalan dari pemerintah. Seolah jalan di Indonesia bak kayu yang dimakan rayap yang perlu diperbaiki setiap hari tak kenal henti. Atau seolah pula, sang jalan diperbaiki dan ditambal bukan dengan aspal, melainkan dengan cendol yang selalu habis dikerubuti penggemarnya (ngga nyambung) sehingga selalu perlu untuk ditambal dan ditambal lagi.

                Persoalan aspal di Indonesia memang betul-betul membuat kita jengkel. Sebagai pengendara tentunya kita menginginkan jalan-jalan yang kita lalui begitu nyaman karena berpermukaan rata dan halus sehalus sutra (ngga mungkin la yauw). Namun itulah kiranya keadaan sebenarnya, nampak seperti peribahasa Jauh api dari panggangnya.

                Seorang ustadz dalam ceramahnya pernah membagi pengalamannya berwisata dakwah ke negeri Uber Alez Jerman yang katanya jalan-jalan di sana halus bin mulus tak seperti jalan-jalan nusantara. Malah yang membuat takjub katanya pula, manakala terdapat jalan berlubang dan seorang pengendara mengalami kecelakaan lantaran lubang tersebut, maka pemerintah maupun instansi terkait bisa dituntut dipengadilan, maa syaa Allah...

                Kosa kata aspal di Indonesia sering disebut sebagai akronim dari “asli tapi palsu”. Mungkin memang akronim ini sejatinya untuk menggambarkan definisi sebenarnya dari aspal itu sendiri. Maksud saya, aspal yang bermakna suatu material berwarna hitam legam yang digunakan untuk menutup dan meratakan jalan, namun karena banyak jalan yang gampang rusak dan berlubang, mungkin memang sejatinya aspalnya aspal alias asli tapi palsu, seolah-olah memang hitamnya aspal, tapi hitamnya luntur dan padatnya melumer hingga menjadilah jalan-jalan berlubang yang menjadi perhiasan jalan-jalan nusantara.

                Saya tak habis pikir tentang kondisi aspal di negeri ini, sebuah bidang garap yang telah menjadi tugas salah satu kementrian kabinet. Bicara pajak pun, berapa banyak pemilik kendaraan baik berroda dua, empat  hingga lebih, yang telah menyumbang demi membayar pajak tahunan dan lima tahunan kendaraan mereka. Namun jalan-jalan masih saja rusak dan berlubang. Upaya perbaikan yang non-stop sepanjang tahun di berbagai-bagai titik (saking banyaknya) pun tak menjadi solusi berlubangnya jalan-jalan di republik ini. Yang terjadi hanyalah seperti sebuah kalimat penggalan syair dangdut “gali lubang tutup lubang”, atau seperti juga sebuah ungkapan yang sebenarnya bernuansa heroik; “tutup satu berlubang seribu” (plesetan pepatah “mati satu tumbuh seribu”, maksa).

                Yaah, lagi-lagi inilah bangsa itu. Bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin mental dan kepribadian. Jalan yang menjadi sarana transportasi penting hanyalah menjadi sapi perah objek korupsi para elit maupun alit terkait. Yang ada program-program perbaikan jalan hanya sebatas proyek keserakahan berupa perampokan, pengemplangan, penggelapan uang rakyat, sehingga lubang-lubang yang menghiasi jalan menjadi perhiasan abadi bagi para pengguna jalan. Padahal bisa jadi sangat mudah untuk membuat jalan rata tanpa lubang jika memang pemerintah berkomitmen untuk itu, sebagaimana jalan-jalan di negara-negara lain. Semoga !!!! (Pengasinan, 13 November 2013, 06.39 WIB)
               

Kamis, 25 Oktober 2012

MENGHAPUS JEJAKMU (Sepenggal Kisah Dari Masa Lalu)



              Sabtu pagi, 20 Oktober 2012, sekitar pukul 8 kurang dikit, saat ku mengisi bensin motorku di salah satu SPBU yang lokasinya searah dengan jalan menuju kantor, qadarallah sang SPBU dengan kerasnya memasang speaker yang memutarkan sebuah lagu yang dahulu pernah menjadi saksi dalam kepingan waktu penuh hikmah perjalanan hidupku.

Engkau bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Sesudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu

            Sabtu kala ku berangkat kerja pagi itu udara terasa dingin, terang saja karena sekitar ba’da shubuh sebelumnya hujan mengguyur Bekasi dengan sangat derasnya. Jalanan yang masih meninggalkan jejak-jejak basahnya seperti seolah bersekongkol mengajakku kembali untuk mengingat masa lalu dimana bait lagu yang kudengar di SPBU itu menjadi sepenggal saksi proses hidup mematangkan kepribadianku.
            Sejenak ku pun teringat dengan dua sosok ikhwan yang kukenal di tempat kerjaku sekarang. Dua ikhwan yang insyaAllah shalih, yang pengalaman hidup mereka baru-baru ini, adalah mirip dengan pengalamanku di masa lalu yang salah satu diantaranya menyelipkan bait lagu di atas sebagai prasasti hikmahnya.
            Bukanlah perbuatan yang dibenarkan dalam Islam yakni mendengarkan musik yang memang banyak ulama menghukuminya haram. Namun izinkan ku bercerita masa laluku yang tengah menjalani proses hidup, yang mohon maklum manakala masih terdapat lelaku yang tak sesuai dengan ilmu.
            Seperti dua ikhwan yang baru saja mengalami kegagalan dalam prosesnya menggenapkan setengah diin, aku pun pernah mengalami hal serupa sebelum akhirnya ku menikah dengan istriku sekarang. Suatu kisah hidup yang akhirnya kubagi dengan mereka berdua untuk meneguhkan dan menguatkan mereka akan sikap yang telah mereka ambil. Jika yang satu terpaksa menghentikan proses karena orang tua sang akhwat belum meridhai anaknya dipinang sebelum meraih gelar S2. Yang satu lagi memilih berhenti berproses karena sang akhwat memprasyaratkan sesuatu yang baginya tidak dikenal dalam koridor syar’i dan hanya ma’ruf pada kalangan tertentu dari kelompok pergerakan Islam. Kisahku agaknya lebih mirip dengan ikhwan yang kedua yang dengan gagahnya memilih berhenti dari proses dan memilih untuk menghapus jejakmu dan mencari yang lainJ.  
            Seperti kebanyakan ikhwan yang telah terhitung ba’ah, diriku pada masa kuliah dahulu mungkin lebih dewasa dari usianya, atau memang dibanding usia teman-teman, usiaku 2-3 tahun lebih tua dibanding mereka, maka mungkin yang lebih tepat bukan lebih dewasa dari usianya, tetapi cukup dewasa sesuai kadar usianya, he...he...he...
            Pada masa itu, terkhusus di saat-saat berada di semester penghujung, keinginan untuk menikah begitu kuat. Motivasi diin dan ketaksanggupan membendung gelora gharizah menjadi pendorong paling deras untuk menyegerakan menikah, hingga akhirnya kuberanikan diri untuk “menembak” seorang akhwat dengan maksud mengajaknya menikah sebagai satu-satunya jalan bagiku.
            Tak seperti sebagian orang yang tak siap dengan jawaban ini; TIDAK!!, terlebih dalam masalah se-sensitif ini, buatku kata itu seperti angin segar yang tak kalah sejuknya apabila sang akhwat berkata “YA” pada ajakanku kepadanya untuk menikah. Kuanggap perasaanku saat situasi itu sebagai bukti dan pertanggungjawabanku atas klaim “dewasa sesuai usianya” yang telah kutulis di paragraf sebelumnya(he...he...bukan bermaksud ujub, riya’ wal sum’ah lhoJ)
            Mindset seorang ikhwan dalam prosesnya menuju pernikahan, kuistilahkan pendirianku dengan kalimat panjang itu, yang pula kubagi dengan dua ikhwan shalih di awal cerita tulisan ini. Betapa masa penantian jawaban terhadap ajakan menikah dapat menjadi situasi kritis bagi seorang ikhwan. Beberapa cerita yang pernah kudapat justru fenomena itu bisa menjadikan sang ikhwan “rusak” keikhwanannya, menjadikannya gelap mata, atau goyah citarasa fikrah imaniyahnya. Namun kesemua itu tidak terjadi padaku. Bukan lagi sakit hati, bukan pula kecewa. Yang kurasa justru semacam keteguhan dan keyakinan diri yang semakin membuncah akan hal jodoh. Cara berfikirku yang kuperoleh dari pengembaraan membaca buku, menghadiri kajian tentang pernikahan, istifadah dari kisah dan fenomena berumah tangga dari ikhwan dan akhwat yang telah mendahului, merupakan jejak-jejak langkah yang membentuk fikrahku seperti saat itu. Penolakan itu lebih terasa seperti “kesempatan memberi” yang terlewat untuk sang akhwat, dan hal yang kusiapkan untuk kuberi itu justru semakin hebat, yang jika tiba saatnya nanti kan kuberikan kepada akhwat yang lebih tepatJ.
            Pertanyaan “bersediakah engkau menjadi istriku?” yang kita ajukan kepada salah seorang akhwat adalah sebuah keputusan yang teramat berat dan perlu pertimbangan matang yang keluar dari fondasi berfikir yang mantap. Maka seyogyanya kita tidak main-main dalam keputusan ini. Maka masa panjang diriku sebagai bujang yang kulalui dengan berbagai kesibukan tarbiyah merupakan persiapanku untuk menghadapi saat-saat seperti ini, saat dimana kita mengatakan kepada seorang akhwat yang akan ber-untung (maksudnya yang akan menjadi istri Untung –penggalan namaku-, he...); “Ukhti bersediakah Anti menjadi permaisuri di istana syurgaku?”
            Tarbiyah dzatiyah seorang al-akh, sejatinya ia merupakan persiapan yang sungguh bagi seorang ikhwan untuk menghebatkan dirinya, yang kehebatan itu akan ia persembahkan untuk rumah tangga yang akan ia bangun dengan seorang istri yang shalihah dan anak-pinak yang shalih. Dengan mindset menghebatkan diri seperti ini, maka nama dan sosok seorang ukhti yang kelak kan menjadi istri dan ibu anak-anak kita menjadi sekunder dan menempati posisi urut ke-7 (pembaca boleh menuliskan sendiri no urutnya). Satu kriteria yang pertama dan utama hanyalah diwakili satu kata; SHALIHAH. Dan qarinah dari keshaliha-an sang akhwat bukanlah hasil karangan dan hayalan kita, namun merupakan hak penuh dari penjelasan para ulama terhadap nash-nash yang tersebar dari syariat terhadap permasalahan ini. Maka dalam mindset seperti ini, hari-hari menanti seorang ukhti, hanyalah merupakan saat-saat menghebatkan diri seorang ikhwan menuju kesejatian fikrah imaniyah dan pemenuhan target muwashafat tarbiyahnya. Dan di saat tiba waktunya untuk menikah dan meminang seorang akhwat, itu hanyalah merupakan momen dimana memilih seseorang yang tlah kita persiapkan untuknya “kado terindah” yang kita miliki. Posisi jiwa seperti ini yang membuat seorang ikhwan selalu merdeka manakala pada akhirnya ia memilih seorang akhwat yang ternyata tidak terlalu ridha padanya dan menolaknya. Maka selanjutnya ia hanyalah perlu untuk bersyair “menghapus jejakmu” sambil kembali menata diri dan membuka lembaran baru dengan biodata “calon istri” yang lain yang akan ridha dengan agama dan akhlak kita saat ia berkata “YA” pada proposal syurga dalam rumah tangga yang kita ajukanJ.(Bekasi, 24 Oktober 2012, 14.36 WIB)

Rabu, 17 Oktober 2012

TRADISI NULIS VS TRADISI BICARA



                Celoteh kali ini masih tentang menulis. Sebenarnya, menulis itu bukanlah sesuatu yang sulit kita lakukan. Setiap kita yang pernah bersekolah, pasti bisa menulis. Walau dalam hal ini, menulis yang dimaksud bukan berarti sekedar menulis huruf demi huruf hingga menjadi kata, kata demi kata hingga menjelma menjadi kalimat, kalimat demi kalimat sampai tersusun menjadi sebuah paragraf, dan seterusnya. Akan tetapi, menulis yang dimaksudkan di sini berarti menuangkan buah pikir dan atau gagasan yang ada di kepala kita ke dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan tangan, atau dalam format microsof word atau juga program yang lain di PC masing-masing kita.
                Dalam pergaulan sehari-hari pastinya kita sering berbincang dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih bagi mereka yang memiliki hobi ngerumpi yang konon menjadi sifat yang banyak dimiliki dan diminati oleh orang Indonesia. Lihat saja acara yang menyuguhkan acara-acara rumpian yang tersebar di setiap stasiun televisi yang jumlahnya puluhan itu. Berderet-deret acara tentang gosip selebriti yang ditayangkan. Ramainya acara tersebut berarti memang ia digandrungi oleh banyak dari audience dan penikmat televisi di tanah air.
                Jika kita mau berfikir lebih produktif, keseharian kita yang tak lepas dari aktifitas ngobrol baik yang ngalor ngidul, pepesan kosong, atau gosip-gosip dan gunjingan yang sering mampir di telinga kita dapat kita arahkan ke dalam sesuatu aktifitas yang produktif. Jika tujuan kita ngobrol atau bercengkrama dengan orang-orang disekitar kita hanyalah ingin menyampaikan dan atau bertukar informasi tentang segala hal, maka pada hakikatnya menulis juga merupakan aktifitas yang sama persis; yakni kita ingin menyampaikan apa-apa yang ada di benak kita, yang kita ingin orang lain tahu akan pikiran dan pemikiran maupun keadaan kita kala itu. Maka sebetulnya setiap kita memiliki kemampuan menulis, karena menulis adalah “bentuk berbeda” dari cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan kebanyakan kita orang Indonesia berkepribadian komunikatif, yakni senang bersosialisasi dan berkelompok dengan sesamanya. Namun mengapa tradisi menulis tidak cukup menonjol dibanding tradisi bicara di negeri kita, padahal hakikatnya keduanya merupakan satu aktifitas yang tujuannya sama?
                Menulis dan bicara, sebagai satu bahasan diskursus ilmu komunikasi mungkin keduanya memiliki hakikat dan tujuan yang sama, hanya saja berbeda pada sisi interaksi yang terjalin dalam momen tersebut. Bicara, sebagaimana kita sering memulai atau merespon suatu pembicaraan, merupakan aktifitas timbal-balik yang secara langsung terjadi bagi dua orang yang berkomunikasi (real time), baik dengan perantaraan seperti telepon, atau dilaksanakan dengan langsung bertatap muka. Sedangkan menulis, harus diakui tidak semudah bicara, karena ia merupakan aktifitas yang membutuhkan daya curah pikiran yang ekstra, maupun pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak indera dari tubuh kita.
                Bicara, memang teranggap lebih ringan dibanding menulis. Keseharian kita tidak terlepas dari aktifitas bicara, karena berbicara menjadi media komunikasi paling mudah, sederhana, sekaligus paling minim peluang missunderstandingnya dibanding sarana komunikasi yang lain. Berbicara kepada orang lain, atau bahkan berbicara kepada diri sendiri untuk tujuan positif berkerangka ilmu psikologis yang mungkin terkadang dilakukan sebagian dari kita, merupakan salah satu modal untuk bisa menulis. Artinya, jika dalam keseharian kita pasti bertemu orang lain dan dipastikan pula mengadakan proses komunikasi dengan mereka, maka semua pembicaraan itu bisa menjadi bahan yang paling mendasar dari modal kita untuk menulis. Bagaimana tidak, jika setiap interaksi kita dengan orang lain berisikan proses untuk saling menyampaikan pesan dan pesan itu hidup menjadi suatu objek dinamis dalam otak kita, maka saling berlempar pesan itu bisa beralih menjadi suatu pengembangan perasaan dan pemikiran tertentu dari apa yang sedari awal kita bicarakan. Hal ini bisa dicontohkan seperti curhat seseorang pada buku diary yang ia miliki. Kebiasaan menuliskan sesuatu pemikiran, perasaan, dan pengalaman di sebuah buku diary sesungguhnya merupakan aktifitas positif yang patut dilestarikan sebagaimana anjuran dan pengalaman para penulis ulung yang tidak jarang memulai aktifitas kepenulisannya melalui menulis di sebuah buku diary. Jika coba kita telisik lebih dalam, kebanyakan isi dari curhatan kita di buku diary merupakan tumpahan perasaan yang menjadi pengalaman kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka biasanya ia tidaklah jauh dari perasaan sebal kita pada suatu perbuatan atau bahkan pada orang lain. Ia juga bisa berisi perasaan berbunga kita atas suatu raihan target pencapaian diri, hingga momen-momen tertentu yang membawa nuansa merah jambu dalam hati kita. Aktifitas menulis di buku diary ini pada sebagian orang hanya terhenti pada sharing perasaan kepada sahabat yang paling kita percayai. Dan untuk yang terakhir inilah terkadang tradisi menulis menjadi tenggelam bahkan hilang dan tergantikan oleh tradisi bicara yang semakin mengemuka.
                Menulis dan bicara, sejatinya ia merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Serupa karena hakikatnya ia merupakan aktifitas komunikasi kita kepada diri kita sendiri atau kepda orang lain. Tak sama karena dalam aktifitas menulis membutuhkan curahan pikiran dan pemberdayaan indera yang lain yang dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lebih. Namun dari semua itu, tulisan ini sebetulnya ingin menegaskan sekaligus memotifasi, bahwa ketika kita mampu membaca dan menulis, kemudian kita juga sehari-hari berkomunikasi dengan orang lain, maka sejatinya kita juga bisa menulis dan menghasilkan karya. Alihkan setiap segala uneg-uneg, pemikiran, perasaan, hikmah, dan apapun yang terlintas di benak kita ke dalam sebuah tulisan sebagaimana kita juga menceritakannya pada orang lain. Maka dengan begitu, tradisi bicara yang menguasai mayoritas dalam porsi komunikasi kita sehari-hari dengan orang lain dapat sedikit demi sedikit bergeser menjadi tradisi menulis yang dengannya juga kita terpacu untuk mendayagunakan potensi otak kita menjadi lebih berbobot, yakni tidak sekedar bicara yang terlalu mudah untuk dilakukan, namun juga berfikir sebelum berbicara, yang itu terasah dalam aktifitas kita dalam menulis. (Bekasi, 18-10-2012; 06.51 WIB)          

Senin, 08 Oktober 2012

(MENCOBA) MENULIS (LAGI)



                     Menulis. Hmmm... sekian lama saya tinggalkan aktivitas ini. Bila dihitung-hitung, mungkin sudah sekitar separuh tahun saya tidak menulis untuk berbagai peruntukannya. Di samping berbagai kesibukan yang menyapa, mengurus kepindahan rumah, beradaptasi di rumah baru maupun tempat kerja baru, atau memang alasan terakhir yang saya sadari sendiri mungkin yang paling tepat; malas. Ya, betapa suatu urusan yang positif dan akan membawa hal kebaikan pada diri itu membutuhkan perjuangan yang lumayan berat. Perlu tekad yang membaja untuk memulai sesuatu yang baik, juga tekad-tekad berikutnya untuk menjaga sesuatu kebaikan yang sudah kita mulai tersebut.
                Di tempat kerja saya yang baru, beruntung saya memiliki seorang teman yang pengalaman hidupnya begitu inspiratif. Di samping kesukaannya menulis yang ini menjadi pelecut saya untuk (mencoba) kembali menulis, beliau telah melalui perjuangan keras dalam mengejawantahkan prinsip hidupnya. Satu cerita yang membuat saya begitu takjub adalah salah satu momen waktu dalam hidupnya beberapa masa sebelumnya, yakni keteguhannya memegang prinsip saat pada akhirnya ia memilih untuk off sebagai seorang guru berstatus PNS di salah satu provinsi di bagian timur negeri ini. Pilihan yang menurut sebagian (besar) orang mungkin di anggap bodoh dan konyol. Di republik ini pekerja berstatus PNS begitu menjadi idola sekaligus primadona yang karenanya setiap kali dibuka lowongan CPNS di berbagai tempat, peminatnya selalu membludak, bahkan tidak sedikit yang rela menyiapkan dana hingga puluhan juta rupiah sebagai pelicin untuk memuluskan mimpinya menjadi seorang PNS. Atau sebagaimana dorongan yang tak jemu dari ibunda untuk mengikuti tes CPNS (sebagaimana kakak saya dan suaminya yang telah lebih dulu berstatus PNS) di setiap kesempatan periode bukaannya.
                Teman saya yang satu ini begitu beda di antara teman yang lainnya. Ia memilih tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah negeri karena ia sudah tak lagi tahan dengan pola perilaku maupun budaya pendidikan di sekolah wilayah tersebut (yang saya kira juga di seluruh wilayah negeri ini) yang memaksanya untuk berbohong dan memanipulasi hasil belajar siswa-siswinya, terutama saat ujian akhir nasional tiba. ‘Ala kulli haal, saya mengagumi beliau dalam memegang prinsip, sebagaimana kekaguman saya pada rekan-rekan yang lain yang setiap mereka memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
                Kembali pada tema pembicaraan yakni tentang menulis (lagi). Entah kenapa rasanya malas untuk menuangkan buah pikir ke atas lembaran kertas. Ide dan tema bukannya tidak ada, mungkin sudah berserakan ide yang saya temukan dalam pengembaraan kehidupan sehari-hari. Namun satu yang pasti saya identifikasi dari “kemandulan” saya beberapa bulan ini adalah pada “pelitnya” saya untuk meluangkan waktu demi menulis. Virus jahat bernama “entar dulu” selalu memenangi pertarungan melawan sang lawan sejati “kerjakan sekarang juga”. Saya sering mencari alasan untuk mendukung si “entar dulu” ini. Yang capek lah, yang baru pulang lah, yang mau main sama Usamah dulu lah, yang mau santai-santai dulu lah, yang mau beres-beres rumah, yang...yang...pokoknya akan jadi banyak “yang” deh. Hal itu yang primernya membuat saya pada akhirnya tidak menulis satu pun karya.
Kembali kepada sang teman mantan PNS yang asli Makasar tadi, Ia pernah menceritakan kiatnya dalam beristiqamah menulis, simpel saja katanya, pokoknya rutinkan setiap hari untuk menulis. Menulis apa? Apapun! Ya, beliau benar, intinya memang selalu luangkan waktu sesibuk dan selelah apapun untuk menulis, dengan begitu kita akan terbiasa, bahkan boleh jadi kebiasaan itu akan tumbuh menjadi hobi, dan hobi menulis terlebih di zaman ini bisa membuat kita kaya, tentu saja dalam segala maknanya yang luas.
                Yang saya mesti lakukan adalah meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, itu salah satu sum-sum poinnya. Nah kalau hal ini coba disinkronkan dengan kegiatan sehari-hari, maka ia akan bertarung kepentingan dengan waktu bekerja yang ditotal bisa sampai 9 jam di kantor. Ia juga akan berjibaku dengan hak mua’amalah istri dan anakku. Atau alokasi waktu-waktu yang lain yang jika di cari akan menjadi berderet-deret alasan. Ternyata kiat “meluangkan waktu” tidak boleh berjalan sendirian, ia juga tidak bisa tidak harus mengurutkan kiat lanjutannya yakni manajemen waktu. Ya, harus dibuat manajemen waktu yang benar, yang tepat, yang efektif, yang produktif. Caranya, yah dibuat saja perencanaannya, bertumpuk buku dan berkali training atau seminar kan sudah dilakoni, tinggal diamalkan dan diupayakan keistiqamahannya, bukan begitu akhi? So pasti.
                Tinggalkan segala hal yang tidak atau kurang manfaatnya. Kiat ini sebetulnya nyambung dan include dalam poin sebelumnya tentang manajemen waktu. Hanya mungkin perlu di tulis khusus untuk penegasan. So, jangan ada lagi waktu mubadzir untuk hal-hal yang sia-sia. Pokoknya harus selalu full azzam untuk merealisasikan mimpi terpampangnya karya-karya kita di display toko buku nasional di bawah tajuk “buku best seller”. Bisa? Pasti bisa!!
                (Mencoba) menulis (lagi). Semoga tulisan ini akan menjadi pemantik awal untuk menggapai tujuannya. Bukan hanya sekedar memulai kembali untuk menulis, tapi niatnya tidak lebih dari “tonjokan” bagi diri untuk menulis,menulis, dan menulis. Oleh karena itu wahai akhi, ayo terus menulis, dan jadikan ia sebagai gaya hidup. Hmmmm...menulis sebagai gaya hidup, keren juga. Yuk kita kampanyekan, he...he... (Bekasi, 9 Oktober 2012, 6.39 WIB)