Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

UKKI PINDAH?(2007)

 UKKI, ANTARA REALITA SEKRE BERPINDAH
DAN IDEALITA PERISTIWA HIJRAH

            Bukan hanya gosip, tapi ini fakta. Bukan sekedar rumor, tapi ini nyata. Bukan pula sesumbar kata, tapi ini sudah menjadi realita. Yap, tulisan kali ini akan membahas tentang kepindahan sekre Lembaga Dakwah Kampus kita tercinta yang udah bener-bener terlaksana. Yang tadinya di area kampus depan, sekarang adanya di wilayah kampus belakang. Atau, yang tadinya ada di belakang masjid kampus Nurul ‘Ulum, sekarang ada di depan kampus peternakan. Belakang dan depan, tergantung konteksnya apa, dan dilihat dari sudut pandang mana. Tapi tulisan ini akan membahas dari frame “depan” bukan “belakang”. Maksudnya, kepindahan yang akan menjadikan kita selangkah lebih ke depan. Ups, bukan hanya selangkah, tapi dua, tiga, empat, dan ngga terhitung langkah dari kemajuan dakwah. Siap ikhwah?!?
***
            Dakwah dan perubahan, sesuatu yang menjadi niscaya. Karena dakwah tujuannya adalah merubah. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari gelap menjadi terang benderang. Dari Jahiliyah menjadi penuh hidayah. Dari diam, statis, stagnan, jumud menjadi harokah, pergerakan, perubahan, perbaikan. Dari skala individual pun sama. Kita menamakannya tarbiyah dzatiyah, sebagai bagian penting dari proses tarbiyah yang dilakukan secara berjama’ah. Tidak lain dan tidak bukan karena tujuannya adalah berubah, dari belum baik menjadi baik, dari baik menjadi semakin baik, begitu seterusnya. Maka hari-hari adalah evaluasi. Dakwah dan tarbiyah harus merubah diri, keluarga dan masyarakat menjadi senantiasa lebih baik lagi.
Berbicara perubahan, nampaknya relevan dengan bahasan kita sekarang ini. Tapi sebetulnya ngga sekedar berubah, tapi lebih tepat dengan kata “pindah”. Ngga pada ketinggalan informasi khan? Markaz Lembaga Dakwah Universitas sekarang menempati lokasi yang baru. Ada yang istimewa? Pasti ada, tapi bukan pada sebab-sebab kepindahannya, melainkan pada momentum kepindahannya. Menjadi sangat relevan dengan peristiwa hijrah, karena memang hijrah itu salah satu ciri dan maknanya adalah berpindah. Tapi ya ngga sekedar pindah, melainkan pindah yang bernilai strategi dakwah. Seperti rasulullah dan para sahabat. Dari Makkah ke Madinah. Dari sementara mengalah, hingga kembali untuk melakukan Fathu Makkah.
           
UKKI. Pindah +  hijrah = berubah          
            Lagi-lagi kita akan berbicara seputar paradigma, moga antum tidak bosan. Ada komentar yang membanjiri halaman sekre dakwah UKKI, kemarin, ketika berita kepindahan markaz dakwah sudah benar-benar fix, yang berbarengan dengan keluarnya SK rektorat. Ngga tanggung-tanggung, bukan cuma kita diminta untuk pindah            untuk menempati sekre baru di area baru PKM. Yang lucu, ketika kita mau memilih untuk menempati sekre yang berada pada bagian tengah pun, ternyata rektorat masih sangat “peduli” pada kita. Melalui salah satu sumber, ternyata katanya sekre kita sudah dipersiapkan di lokasi ruangan yang paling pojok deket dapur (hayo, udah pada pernah maen –silaturrahim- belum?). ‘Alaa kulli haal, dimanapun, pastinya dakwah tetep jalan. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya kami ucapkan pada bapak-bapak yang ada di gedung rektorat sana, Jazaakumulloh khoronil jazaa.
            Sekarang, kembali pada persoalan paradigma. Tentunya kepindahan sekre ini memunculkan banyak komentar dan pendapat. Nah, salah satu, salah dua, salah tiga dan salah semua (ngga ding) dari komentar itu adalah komentar yang menyatakan keberatan atas kepindahan sekre. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, lebih baik kita menyuwir ayam goreng, menebar cakwe, dan menabur kacang kedele, pasti akan jadi bubur ayam yang rasanya oke. Afwan, just kidding. Maksuuudnya, sekarang kita fikirkan dakwah dengan keadaan seperti yang sudah ada.
 Termasuk salah satu keberatan kita dengan kepindahan ini adalah karena gerakan dakwah kampus telah dijauhkan dari tambatan dan pelabuhan hati bagi para penyerunya. Yap, sekarang kita udah jauh dari Nurul ‘Ulum, meski hanya jauh secara fisik, tapi secara penambatan hati, tentunya kita selalu merasa dekat, sedekat kita pada “Nurul ‘Ulum-Nurul ‘Ulum’ yang lain, seperti kedekatan kita juga pada Fatimah, Al-Amanah, Al-Falah de es be(antum boleh sebut semua masjid yang antum ketahui). Yang pasti masjidku, adalah tempat dimana bergantungnya hatiku, dimanapun kamu, selalu. (Uh, koq kesannya melankolis ya?)
Okeh, kita sepakat salah satu sisi yang merugikan kita secara pribadi-pribadi dakwah adalah kejauhan fisik kita dari masjid kampus. But that’s all right, meski begitu, toh kita punya suatu pandangan lain tentang dakwah kampus yang konon selama ini dikenal eksklusif, elitis, atau apalah. Nah, dengan “manufer”  kepindahan (padahal terpaksa, he..he..he..), itu berarti saatnya bagi kita untuk menyibak tirai-tirai lama tentang ADK atau LDK yang teropinikan “negatif” itu.
Ikhwan wa akhwati fillah, benar kata Alloh bahwa setiap setelah kesulitan, pasti ada kemudahan, atau, mengutip Kartini, Habis gelap terbitlah terang. Kami pikir disinilah hikmah terbesar dari relokasi sekre. Bukan, bukan terusir, tapi sebagai titik tolak kebangkitan dakwah (shohwatudda’wah), atau dalam bahasa “khusus” kita, ekspansi dalam berharokah. Agak mirip rupanya dengan sirah rosululloh tentang hijrah (ngga lupa khan kisahnya?). Jadi memang dalam sirah tentang hijrah, diyakini bahwa peristiwa ini menjadi pijakan sang tauladan sepanjang zaman beserta para sahabatnya untuk melakukan quantum dakwah, hingga klimaksnya, rasululloh berhasil untuk melakukan peristiwa besar Fathu Makkah. Konteks kita semua, Fathu Makkah adalah penaklukkan kampus unsoed tercinta dengan dakwah. Saat syiar-syiar ke-islaman seakan begitu membahana. Ketika suasana dan iklim Islami terlihat begitu nyata. Pun tatkala keadilan, kesejahteraan, kemakmuran dapat terwujudkan dibawah naungan Islam. Antum boleh menyebutnya mimpi, tapi bahasa kami itulah visi.  
Jadi, dakwah adalah paradigma. Sesuatu rahasia yang membuat kita melihat  segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Keyakinan bahwa dibalik kesulitan-kesulitan gerak kita dalam berdakwah, tersimpan disana keindahan-keindahan perubahan agar lebih baik lagi dalam mempetualangi kehidupan, dengan dakwah tentunya. Khusus untuk masalah kepindahan sekre dakwah, tentunya ini adalah titik waktu kita dalam melakukan quantum dakwah, dari ekslusif ke inklusif, dari elitis ke massa, dari atas menara gading ke benar-benar turun kebawah, dari superior ke egaliter, tentunya dalam hal pendekatan dakwah, bukan tentang acuan manhajiyah dalam berdakwah. Pun bagi antum para pegiat dakwah yang tersebar di masing-masing garapan dakwah, entah garapan lini atau wilayah. Da’awi, siyasi ataupun ilmi, hendaknya hal ini pula menjadi titik tolak kebersamaan kita dalam merasakan kebangkitan dakwah. Mencoba menafsiri sub judulnya, pindah berarti hijrah, dan hijrah artinya berubah. Berpindah, berhijrah dan berubah bukan hanya fisiknya, tapi yang jauh lebih utama, perubahan pada tataran paradigma.
            Tapi tunggu dulu, ada yang masih mengganjal dari kepindahan ini. Yaitu tentang “pengkiblatan” dakwah kampus. Bila sebelumnya sekre adanya di area kampus depan, dan ini menjadi sebab beredarnya selentingan “penguasa” LDK ya anak-anak kampus depan. Maka sekarang ada tantangan baru, yaitu bagi anak kampus depan, cobalah buktikan bahwa bukan karena sebab teritorial kalian seakan-akan dominan. Pun bagi temen-temen kampus belakang, buktikan pula bahwa kalian akan juga berupaya untuk lebih militan. Afwan kalo paragraf terakhir agak bersifat relatif dan subyektif. Karena depan atau belakang, seperti yang sudah dijelaskan di permulaan, tergantung konteksnya, dan memandangnya dari sudut yang mana. Mengenai keberadaan sekre yang di depan menjadi di belakang, sebenernya itu bukan merupakan suatu masalah. Namun bila mencoba mencari poin dakwahnya, jawabannya adalah pada jiddiyah atau kesungguhan dalam dakwah. Jadi, di depan atau di belakang, untuk para pegiat dakwah, itu sama saja, sepakat ya ?!?.
OK, kira-kira begitu saja, semoga tulisan ini bermanfaat. Bila ada komentar, pendapat, atau sesuatu yang bisa di apresiasi, maka segeralah untuk dapat dibagi. Tentunya sampaikan langsung ke meja redaksi. Nggak boleh nitip sama akhi dan ukhti yang jadi pengurus UKKI. Ditunggu ya!?!

      

URGENSI ILMU

URGENSI ILMU DALAM ISLAM DAN KAITANNYA DALAM MENYONGSONG KEBANGKITAN UMAT


Setiap dari kita sudah mengetahui betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam menapaki arena kehidupan. Semua aktifitas yang kita lakukan tentunya mensyaratkan ilmu sebelum kita benar-benar melakukannya. Jika tidak, akan dapat dipastikan bahwa perbuatan yang kita lakukan tersebut hasilnya tidak akan optimal, bahkan dapat menjadi perbuatan yang kontraproduktif terhadap maksud yang kita ingin capai. Ambil saja satu contoh sederhana, dalam melakukan suatu perjalanan. Tentunya sebelum kita melakukan perjalanan, kita diharuskan mengetahui dahulu tempat yang akan kita tuju, kemudian alamat lengkapnya, dan dengan cara apa agar kita dapat sampai di tempat tersebut. Tidak bisa apabila kita ingin pergi ke suatu tempat tapi kita tidak tahu tempat itu lokasinya dimana, dan dengan cara apa kita untuk sampai di sana. Oleh karena itu sebelum benar-benar melakukan perbuatan bepergian itu kita butuh bekal ilmu dan pengetahuan. Jika tidak, maka jangankan sampai di tempat tujuan, kemungkinan justru kita akan tersesat di tengah perjalanan. Betapa pentingnya ilmu dan pengetahuan bagi seorang manusia dalam merealisasikan hajat hidupnya, dan tanpa ilmu maupun pengetahuan itu, ia bukan hanya tak akan pernah sampai pada maksud dan tujuan-tujuan yang diinginkan, tetapi dapat pula ia tersesat dalam rimba kehidupan.  
Dalam hidup dan kehidupan yang kita jalani, satu hal utama yang kita perlukan adalah ilmu agar kita dapat selamat dari godaan-godaan dunia yang melenakan. Oleh karena itu dalam Al-Qur’an tidak ada satu permohonan meminta tambahan yang Alloh perintahkan kepada nabi-Nya kecuali permintaan untuk menambahkan ilmu. Dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 114 Alloh berfirman;
“Dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu”.
Hal ini menjadi indikasi betapa Islam itu sangat memprioritaskan ilmu bagi setiap pemeluknya sebagai bekal dan prasyarat sebelum melakukan segala sesuatu dan meraih segala keinginan. Begitu pentingnya ilmu dalam Islam hingga ia di hukumi wajib dalam mencarinya, sebagaimana sabda nabi dalam sebuah hadits; “Menuntut ilmu itu wajib bagi seorang muslim” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Bukan hanya itu, menuntut ilmu dalam Islam juga memiliki keutamaan yang akan mengantarkan seorang hamba dimudahkan jalannya menuju syurga. Sebuah hadits yang sarat dengan nuansa motivasi pernah disabdakan oleh rasulullah kepada kita selaku umatnya; “Barangsiapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).  
Terdapat banyak ayat dalam Al-Qur’an yang mencela orang-orang bodoh yang tak berpengetahuan dan tak pernah merasa perlu untuk menuntut ilmu, diantaranya adalah;
“Sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. Al-An’aam: 35)  
“Aku berlindung kepada Alloh agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al-Baqarah: 67)
Di samping agama ini sangat mencela orang-orang yang bodoh, diperintahkan juga kepada kita untuk tidak berteman karib dengan orang-orang yang bodoh, karena memang bersahabat dengan mereka dapat memungkinkan kita juga untuk sama bodohnya seperti mereka, sebagaimana rasul menyuruh kita berteman dengan penjual minyak wangi yang dapat menyipratkan wanginya ke tubuh kita, dan memperingatkan kita untuk menjauhi seorang pandai besi yang dikhawatirkan apinya membakar dan mengotori pakaian kita (HR. Muslim). Mengenai hal ini Aloh sudah mensinyalemen dalam ayat-Nya;
“Dan berpalinglah kamu daripada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raaf: 199)
Ayat maupun hadits nabi yang senada masih sangat banyak. Kesemuanya merupakan motifasi bagi kita untuk selalu berupaya menjadi orang yang berilmu, dan memperingati kita untuk tidak menjadi orang yang bodoh. Maka, demi membaca dan mempelajari ajaran Islam tentang perintah untuk menjadi orang yang berilmu, seharusnya tidak ada ceritanya seorang muslim itu memiliki daya intelegensi yang rendah. Karena agama ini telah begitu sempurna mengajarkan kita akan nilai-nilai kebaikan dan memotivasi kita untuk meraih keutamaan. Sebaliknya, agama ini juga sangat mencela pemeluknya yang hanya puas dengan daya intelegensi yang biasa-biasa saja, terlebih yang IQ-nya “jongkok”.

Pembagian ilmu
            Secara umum, ilmu dapat dibagi ke dalam dua kategori berdasarkan karakteristiknya, yaitu ilmu agama dan ilmu dunia. Berikut akan diuraikan masing-masingnya terutama dari perspektif kebangkitan umat.
1. Ilmu agama
            Satu hal yang menjadi keprihatinan kita bersama pada saat ini adalah jauhnya umat Islam dari agamanya. Semakin banyak dari mereka yang merasa tidak perlu untuk mempelajari ilmu agama. Sekalipun terfikir untuk belajar ilmu agama dan sekaligus mengamalkannya, bayangan mereka hal itu akan dilakukan ketika mereka nanti menginjak usia tua, setelah pensiun dari tempat kerja serta saat anak-anak sudah dewasa. Bila saat-saat itu tiba, baru mereka mau serius untuk mempelajari agama. Padahal jika mereka mau sedikit saja merenungi, tidak ada yang mampu menjamin apakah usia hidup mereka di dunia akan sampai hingga usia senja. Jangan-jangan, sebelum sampai tua mereka sudah harus dijemput malaikat pencabut nyawa. Oleh karena itu, belajar ilmu agama merupakan kewajiban bagi siapapun, baik yang masih muda maupun yang telanjur tua. Karena ilmu agama merupakan bekal utama kita dalam meniti lautan kehidupan. Keselamatan mengarungi samuderanya sangat bergantung pada kefahaman terhadap ilmu agama. Ia menjadi penjaga segala urusan dunia, ia juga menjadi prasyarat untuk mendapatkan tiket ke syurga.
            Kefahaman umat terhadap agamanya menjadi satu kunci agar umat ini kembali meraih kejayaannya seperti dimasa yang lalu. Ketika agama benar-benar menjadi landasan gerak dan menjadi motor penyemangat untuk maju dalam segala aspeknya. Hingga kemudian kita kenal para ilmuwan muslim yang muncul berbarengan dengan era keemasan Islam. Itu karena mereka masih menjadikan Islam sebagai pedoman dalam mengarungi kehidupan. Mereka dekat pada agama, oleh karena itu mereka (baca: umat) mampu berjaya.
Tapi coba kita lihat masa kini, umat seperti tak berharga. Mereka seakan menjadi seperti apa yang pernah disabdakan oleh rasulullah tentang kondisi umatnya menjelang menjelang akhir zaman. Yaitu menjadi seperti buih di lautan, banyak jumlahnya tapi tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya menjadi bahan permainan dan olok-olokan umat lainnya yang memang sedang meraih kejayaannya karena memang mereka meninggalkan agama jauh di belakang mereka. Jadi memang sangat berbeda dengan kita. Jika kita maju bila memang kita benar-benar mengamalkan ajaran agama, tapi mereka maju justru karena mereka mencampakkan agama. Hal itu karena kandungan ajaran Islam yang terjamin kebenarannya, sebaliknya bagi mereka, agama yang mereka anut berisikan tentang ajaran yang penuh tahayul, bid’ah, dan kebohongan-kebohongan ilmu pengetahuan, sehingga benar apa yang pernah dikatakan oleh salah seorang tokoh Islam negeri tetangga, bahwa barat maju karena meninggalkan agama, sementara kita terpuruk justru karena kita meninggalkan agama. Dari sini kemudian kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika kita ingin maju, maka kita harus kembali kepada ajaran Islam nan mulia, dan mengamalkannya dalam realitas hidup keseharian kita dalam berbagai aspeknya.
2. Ilmu dunia
            Kategori ilmu yang kedua merupakan imbas dari pengamalan terhadap kategori ilmu yang pertama. Dari perspektif percaturan peradaban, ilmu keduniaan yang terbagi ke dalam dua rumpun besar ilmu pengetahuan yaitu rumpun eksakta dan rumpun sosial merupakan hasil ataupun dampak dari bagaimana umat mempedomani Islam dalam konteks hidup sehari-hari. Dalam hal ini, ilmu agama menjadi sebuah kekuatan ruh (semangat) yang akan menjadi tungku pembakar umat untuk terus menghasilkan karya-karya peradaban yang tentunya bernilai manfaat bagi umat manusia. Seperti telah dijelaskan di bagian awal tulisan, betapa Islam sangat menganjurkan pemeluknya agar menjadi manusia yang berilmu dan senantiasa bersemangat dalam menuntut ilmu. Bahkan salah satu hadits secara eksplisit menunjukkan kewajiban bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu. Meski satu yang harus ditekankan di sini bahwa mencari dan menuntut ilmu tidak selalu harus di bangku sekolah. Karena ilmu bukan hanya adanya di institusi pendidikan. Cakrawala ilmu tidak sesempit itu jika kita benar-benar mengerti hakikatnya. Karena menuntut ilmu atau secara formalistik diwakili oleh kata pendidikan, tujuan asasinya adalah agar seseorang menjadi tahu, setelah sebelumnya ia belum tahu. Maka seseorang yang dalam suatu hal ia belum tahu tapi karena ia mencari tahu kemudian ia menjadi tahu, pada hakikatnya ia merupakan orang yang berilmu. Ia sudah mencapai tujuan pendidikan yaitu merubah seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Sungguh menarik sebuah filosofi hidup seorang teman yang mengatakan bahwa “setiap orang adalah guru, setiap hal adalah ilmu, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap kejadian adalah pelajaran”. Untaian kalimat itu merupakan representasi dari sebuah kefahaman akan hakikat pendidikan.
            Terlebih dalam realita yang terjadi akhir-akhir ini di mana pendidikan dalam artian formal semakin sulit untuk dijangkau oleh mayoritas rakyat Indonesia. Hal itu karena biaya pendidikan formal semakin mahal sebagai akibat dari komersialisasi pendidikan yang digulirkan oleh pemerintah. Seperti dalam skala pendidikan tinggi misalnya, beberapa universitas sudah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang itu berarti institusi pendidikan tinggi yang sudah di BHMN-kan memiliki kebebasan untuk mengatur anggaran pembiayaan aktivitas pendidikannya. Akibatnya, mereka memungut biaya pendidikan yang mencekik para calon mahasiswa dengan mematok biaya kuliah yang tinggi. Institusi pendidikan menjadi terswastanisasi dan pemerintah melenggang, berlepas tangan akan kewajibannya dalam memberikan pendidikan kepada warga negaranya, sungguh sangat ironis.
            Melihat kondisi tersebut, maka hendaknya harus benar-benar digalakkan pendidikan model alternatif yang berbiaya murah, namun masih dapat memenuhi target kompetensi yang diharapkan. Disamping juga tidak lupa untuk terus mengingatkan pemerintah untuk tidak melupakan salah satu kewajibannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Mudah-mudahan nantinya hal itu dapat menyadarkan pemerintah agar benar-benar menjadikan sektor pendidikan menjadi fokus garapan prioritas dalam upayanya untuk bangkit dari keterpurukan. Sebagaimana kita belajar dari bangsa Jepang yang menjadikan sektor pendidikan menjadi satu fokus utama pembangunan pasca kejatuhan akibat perang dunia kedua di pertengahan abad 20 lalu. Dan saat ini kita dapat melihat hasil yang telah mereka rintis. Jepang menjadi salah satu negeri yang terkenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya yang maju. Maka jika memang kita benar-benar ingin bangkit dari krisis multidimensi ini, menjadi suatu keniscayaan memulainya dari satu sektor fundamen dalam kehidupan yaitu sektor pendidikan. Dan, semoga hal itu dapat kita wujudkan. Wallohu A’lam Bish Showwab. [ ] AF    



















           
            


           


           

HAKIKAT WAKTU SEBAGAI MODAL MERAIH KESUKSESAN HIDUP




Ibarat roda yang yang tak pernah berhenti berputar, itulah perumpamaan waktu yang senantiasa menjadi media kita dalam menjalani kehidupan. Adanya kehidupan bagi setiap kita, adalah terdapatnya perguliran waktu dalam setiap saatnya. Waktu juga laksana seorang penguasa kejam yang tak sedikitpun memiliki belas kasihan kepada rakyatnya, yang keputusannya tidak ada yang sanggup menawarnya. Permisalan lain mengenai waktu adalah ia laksana harta termahal dan aset tak tergantikan yang dimiliki oleh setiap manusia di seluruh muka bumi, barangsiapa yang telah kehilangannya, maka sekali-kali ia tidak akan kembali mendapatkannya. Demikianlah diantaranya perumpamaan waktu dalam hidup kita, yang kesemuanya itu menandaskan kepada kita akan nikmat waktu yang telah Allah berikan, yang menjadi nikmat yang seringkali terlupa dalam pergulatan keseharian hidup kita, yang juga menjadi modal paling utama kesuksesan kita menapaki kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.

Diantara pelajaran agung yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an untuk kita adalah tatkala Ia berfirman tentang perguliran waktu yang menjadi tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ia berfirman dalam kitab-Nya yang mulia; “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.”(QS. Yunus (10): 6)   

Waktu yang dianugerahi Allah kepada seorang manusia adalah sebentuk nikmat yang tak terharga nilainya, yang berulang-ulang Ia memberikan isyarat kepada kita akan keagungan nikmat tersebut. Beberapa surat maupun ayat yang Allah turunkan menjadi petanda untuk umat-Nya yang mau menggunakan akalnya untuk memikirkan betapa pentingnya nikmat tersebut bagi manusia. Wal-‘Ashr, Wadh-Dhuha, Wal-Fajr, adalah beberapa penggal ayat dalam Al-Qur’an yang menyiratkan keagungan nikmat ini bagi setiap kita. Bahkan para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan bahwa dalam ayat-ayat yang di dalamnya Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, maka hal itu menandakan akan penting dan agungnya sesuatu tersebut. Dan ketika Ia bersumpah atas nama waktu atau bagian-bagian waktu, maka hal itu merupakan penegasan akan hakikat sesuatu itu yang teramat penting.

Terkait betapa pentingnya hakikat waktu yang wajib kita syukuri dan kita gunakan dengan baik itu, ada ungkapan penuh hikmah; “Waktu laksana pedang, jika kita tidak mampu menggunakannya dengan baik, maka ia akan menebas kita”. Atau juga seperti yang pernah di ungkapkan oleh seseorang; ”Waktu tidak akan bersikap netral, ia akan menjadi teman yang setia atau menjadi musuh bebuyutan”. Beberapa kata-kata penuh hikmah tersebut merupakan hasil dari pemahaman akan hakikat waktu dan kehidupan, serta pertanggungjawaban yang akan kita laporkan di suatu hari yang telah pasti kedatangannya, sebagaimana rasul-Nya telah bersabda; “Tidak akan bergeser dua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sehingga ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang waktu mudanya untuk apa ia digunakan; tentang hartanya darimana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya”.(HR. Tirmidzi).

      Disadari atau tidak, waktu merupakan sesuatu yang senantiasa bergulir hingga mengantarkan kita ke setiap detik fase kehidupan kita. Adalah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menyadari hakikat waktu yang senantiasa bergulir ini, dan hendaklah ia tidak menjadi orang yang tertipu hingga menganggap bahwa ia akan hidup selamanya, atau ia hidup sebagaimana layaknya standar usia hidup umat muhammad yaitu kurang-lebih selama 60 tahun. Betapa banyak orang-orang disekeliling kita yang harus menamatkan usia hidupnya di dunia sebelum menginjak angka berpuluh-puluh tahun. Disamping itu, ada jenis ketertipuan lain yang sering tidak kita sadari, yaitu bahwa setiap kita memiliki keniscayaan selalu memiliki waktu yang senantiasa berkurang jatahnya, sebagaimana kebodohan kita atas kehura-huraan yang kita rayakan di setiap hari dimana kita dilahirkan atau sering kita sebut hari ulang tahun. Seorang yang memiliki akal yang ia gunakan untuk memikirkan nikmat waktu yang Allah berikan tidak akan menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang ia rayakan dengan kehura-huraan, namun justru hari itu menjadi hari dimana ia diajak merenung akan semakin berkurangnya jatah hidup dia di atas dunia, dan semakin dekatnya ia kepada kematian.


Bagaimana waktu berlalu

            Bagaikan seseorang yang menaiki kereta api, ia merasa seolah-olah duduk dan berdiam diri di tempat duduknya, padahal kenyataannya kereta yang ia naiki berjalan semakin dekat dengan stasiun yang dituju. Dan stasiun itu bagi perjalanan kehidupan kita adalah laksana kematian yang pasti akan kita hadapi.

Ada detik-detik waktu yang begitu banyak kita buang dalam keseluruhan perjalanan hidup kita. Pernahkah kita renungkan bahwa 15 menit waktu yang kita biarkan tidak produktif disetiap harinya, itu sama saja dengan membuang waktu selama 11 hari dalam setahun. Atau pernahkan kita renungkan tentang 8 jam sehari semalam yang kita gunakan untuk beristirahat, ternyata jika rata-rata usia kita adalah 60 tahun, maka waktu kita untuk tidur menghabiskan masa selama 20 tahun dari keseluruhan usia hidup kita? Ada baiknya kita melihat tabel yang akan menjelaskan seberapa lama alokasi waktu yang kita gunakan dalam hidup ini untuk melakukan macam-macam aktifitasnya, dalam ukuran rata-rata normalnya kita hidup selama 60 tahun.

Kegiatan
Waktu
Mengikat tali sepatu
Menunggu lampu lalu lintas
Mencukur rambut
Menekan nomor telefon
Naik lift di kota-kota besar
Menyikat gigi
Menunggu bus
Menghabiskan waktu di dalam WC
Membaca buku
Menyantap makanan
Mencari Rizki
Menonton televisi
Tidur
8 hari
1 bulan
1 bulan
1 bulan
3 bulan
3 bulan
5 bulan
6 bulan
2 tahun
4 tahun
9 tahun
10 tahun
20 tahun
            
                Jika kita coba perhatikan dengan seksama tabel gambaran aktifitas kita selama hidup dan berapa lama durasi waktu total dalam mengerjakan setiap aktifitasnya, maka kita akan tercengang. Betapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengerjakan urusan-urusan yang tak pernah kita sadari ternyata jika ditotal banyak menghabiskan waktu yang cukup lama. Waktu-waktu seperti untuk mengikat sepatu, menunggu lampu lalu lintas, menunggu bus di halte, MCK, dan sebagainya. Perlu diketahui bahwa tabel gambaran penggunaan waktu di atas adalah milik seseorang yang hidupnya terbilang cukup standar, baik secara ekonomi serta secara keilmuwan. Jika ditotal waktu yang dihabiskan untuk setiap macam urusan itu yaitu selama 46 tahun, 8 bulan, 8 hari, dalam aktifitas yang lumayan produktif dan atau berkerangka produktifitas. Jika dirata-ratakan usianya adalah 60 tahun, maka sekitar 13 tahun 4 bulan diantaranya adalah waktu-waktu yang digunakan untuk hal lain yang boleh jadi berguna misalnya dengan bersilaturrahim, bercengkarama dengan anak, berdiskusi dengan istri atau suami dan sebagainya. Namun jika sekiranya durasi waktu tersebut menjadi masa yang tidak produktif atau bahkan kontraproduktif seperti ngerumpi dengan tetangga, bermalas-malasan, merokok, nongkrong di pinggir jalan, dan sebagainya, maka alangkah malangnya kita. Belum lagi jika keseluruhan durasi usia kita hidup yang dirata-ratakan selama 60 tahun, lantas sebagian besarnya kita isi dengan hal-hal yang negatif dan kontraproduktif, maka alangkah meruginya kita. Maka tepatlah kiranya Imam Syafi’i yang merenungi hikmah agung dari surat ‘Al-Ashr kemudian berkomentar; “Seandainya Alloh tidak menurunkan hujjah bagi manusia selain surat ini, niscaya telah cukup bagi mereka”. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS. Al-‘Ashr (103):1-3)


Kiat sukses dunia akhirat: Memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif

            Ada ungkapan bodoh di keseharian interaksi dalam masyarakat kaitannya dengan kelalaian dalam penggunaan waktu, dikatakan oleh sebagian mereka; “mari kita membuang waktu dengan melakukan ini dan ini”. Ungkapan “membuang waktu” konotasinya negatif, dan manakala sudah berkonotasi negatif, dapat dipastikan perbuatan yang dilakukan pun akan bernilai negatif. Tidak mungkin kita mengatakan perbuatan membaca Al-Qur’an dengan perbuatan “membuang waktu”, sebagaimana tidak mungkin kita mengatakan; “mari kita memproduktifkan waktu dengan begadang dan mengobrol di pinggir jalan”.

            Menjadi suatu hal yang harus kita fahami bersama bahwasanya terdapat satu kunci rahasia dalam meraih kesuksesan kehidupan baik di dunia terlebih di akhirat. Kunci sukses itu adalah pemanfaatan waktu dengan seoptimal mungkin untuk perbuatan-perbuatan yang bernilai positif dan produktif. Dan tidaklah terhalang mimpi kesuksesan seorang manusia kecuali karena ia tidak mampu memanfaatkan modal utama suksesnya –yaitu waktu- dengan perbuatan-perbuatan yang sama sekali tidak bermanfaat atau justru bernilai mudharat. Jika di Purwokerto sehari semalam ada 24 jam, kemudian di Puerto Rico juga sama, maka mengapa ada hasil yang berbeda dari para individu penduduknya? Jika orang Jepang dengan sehari-semalam 24 jam bisa menciptakan hasil tekhnologi yang maju pesat, maka mengapa kita dengan jatah waktu yang sama hanya bisa bertengkar dengan istri, bertikai dengan tetangga, berselisih dengan teman kerja, dan perbuatan-perbuatan tak berguna lainnya? Jika seorang pemimpin sukses sebuah negara mampu membangun negaranya menjadi negara yang maju peradabannya, maka mengapa kita untuk memimpin diri maupun keluarga saja tidak becus dan membuatnya menjadi berantakan?

            Saudara sekalian siapapun dan dimanapun kita, setiap dari kita pastinya memiliki mimpi untuk meraih kesuksesan diri, kehangatan hubungan dalam keluarga, keharmonisan interaksi dalam masyarakat, kemajuan negara dan peradaban, maka satu rahasia untuk merealisasikannya adalah dengan bagaimana kita menggunakan waktu yang Allah anugerahi dengan amal-amal produktif. Ada banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk membaca dan menelaah buku, mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, menguasai keilmuwan dan ketrampilan tertentu, meraih gelar sarjana, menjadi pebisnis yang handal, melayani kebutuhan orang lain, membersihkan dan merapihkan rumah, atau bahkan sekedar tersenyum kepada bapak-ibu dan anak-istri kita di rumah. Ada sangat banyak pilihan aktifitas yang dapat kita lakukan yang itu bernilai produktif. Maka manfaatkan waktu, dan hidup kita insyaAllah akan lebih baik dan lebih sukses selalu. Wallahu a’lam bish shawwab  [UTR]
             

HAKIKAT HIDUP

MERENUNGI HAKIKAT DAN TUJUAN HIDUP


            Pernahkah terjadi dalam hidup kita ketika kita tengah berada dalam sebuah perjalanan akan tetapi kita tidak mengetahui tempat yang ingin kita tuju? Dan ketika ditanyakan; “kenapa engkau bepergian, sementara engkau tidak mengetahui tempat tujuannya?”, kita hanya menjawab, “saya tidak tahu, yang saya tahu hanyalah saya harus bepergian, sebagaimana orang lain pun bepergian”.

Penggal cerita di atas mungkin hanya mengada-ada. Mana mungkin seseorang yang berangkat dari rumah dan berada di tengah perjalanan akan tetapi ia tidak mengetahui tujuan dari perjalanannya. Kita mungkin akan menganggap jika memang kejadian seperti itu benar-benar ada, pasti dilakukan oleh seseorang yang sudah tidak waras lagi.
           
Pembaca sekalian, cerita di atas hanyalah sebuah perumpamaan akan suatu hakikat kehidupan yang harus kita fahami, akan tetapi sering kita tidak menyadari. Bila kita coba merenung akan hakikat hidup kita, kita akan menemukan sebuah rumusan yang mirip dengan perumpamaan aktifitas bepergian seperti cerita di paragraf prolog di atas. Setiap dari kita sesungguhnya tengah berada dalam sebuah perjalanan menuju suatu tempat. Ada sebagian dari kita yang memahami tujuan dari perjalanan itu, akan tetapi ada pula yang bahkan tidak menyadari tujuan akan kemana ia pergi. Yang ia lakukan hanyalah melanjutkan perjalanan, dan membiarkan ayunan langkah kaki membawa kemanapun tempat ia akan sampai.
           
Seperti air yang mengalir, begitu mungkin filosofi hidup yang banyak dianut. Tak perlu ambil pusing apakah air itu akan membawa ke tempat yang baik dan bermanfaat, atau justru alirannya akan mengantar ke tempat yang kotor dan jorok. Bagi mereka, yang paling penting adalah senantiasa mengalir hingga akhir, tak pernah memikirkan apakah akhir yang ditemui adalah akhir yang baik, atau akhir yang buruk.
           
Pembaca yang budiman, setiap dari kita pasti memiliki kehidupan yang dijalani, entah sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang karyawan, seorang kepala bagian, seorang pejabat pemerintahan, seorang pimpinan perusahaan dan sebagainya. Setiap dari kita pasti juga memiliki keinginan untuk sukses dan berhasil meraih segalanya, ingin menjadi orang kaya, punya rumah megah, punya kendaraan mewah dan juga sebagainya. Demi kehidupan yang kita jalani ataupun demi keinginan yang kita harapkan    terrealisasi, kita seringkali rela untuk melakukan segalanya, hingga terkadang kita melanggar aturan-aturan agama. Karena kecintaan kita kepada anak dan istri, kita rela korupsi. Karena keinginan kita untuk kaya, kita tak sungkan untuk sikut kanan-kiri dalam mencari rizki. Karena memperturut hawa nafsu diri, kita tak takut menerjang aturan syar’i.  
           
Begitulah kebanyakan manusia, melakukan apa saja tanpa pernah memikirkan pertanggungjawaban yang pasti adanya. Tak cukup halal yang dicari, hingga yang haram pun digandrungi. Yang paling nista adalah bagi mereka yang pernah mengatakan dan mempraktekkan ungkapan; “Mencari yang haram saja susah, apatah lagi yang halal”. Na’udzu billahi min dzaalik, kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk hanya mencari yang halal untuk kita dan anak istri kita.
           
Dalam segala model hidup yang kita jalani, sebagai orang kayakah, menjadi orang miskinkah, memiliki wajah yang tampankah, atau yang sedikit kurang beruntungkah, selaku pemimpinkah, atau sekedar bawahankah, semuanya bukanlah masalah yang sebenarnya, karena betapapun hal itu adalah sesuatu hal yang berbau duniawi yang tidak abadi. Yang kaya dapat menjadi miskin, yang tampan dapat memudar ketampanannya, yang saat ini memimpin suatu saat akan lengser, yang masih hidup pasti akan mati, semua itu adalah sesuatu yang pasti. Lantas, bagaimakah kita menyikapi semuanya? Yang harus kita lakukan adalah memahami hakikatnya, bukan sekedar apa yang terlihat ada.


Memahami hakikat hidup; Kunci keselamatan
           
Demikian indah dan agungnya Allah mencipta alam dunia, betapa sempurnanya pula Ia membentuk kita. Allah memberi kita dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu lisan untuk bicara, serta seluruh karunia yang dianugerahkan kepada kita; “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [QS. At-Tiin(95): 4]. Maka dengan segala fasilitas yang sempurna Allah anugerahkan kepada kita, patutlah kiranya Allah menegaskan dalam firman-Nya; “Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” [QS. Ar-Rahman, diulang-ulang sebanyak lebih dari 30 kali di surat tersebut]
           
Diantara keniscayaan dalam kehidupan adalah kepastian akan kematian; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” [QS. Al-Ankabut (29): 57]. Dan diantara kepastian akan kematian itu adalah ketidakpastian kapan datangnya, tahun depankah, bulan depankah, pekan depankah, esok harikah, atau beberapa jam lagi malaikat maut kan menjemput kita, tidak ada yang dapat menjawabnya; “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati[QS. Luqman (31): 34]. Oleh karena itu, hendaknya kita membekali diri kita dengan sebaik-baik bekal; “Dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” [QS. Al-Baqarah (2): 197]. Berbekallah kita dengan bekal takwa, agar ketika tiba-tiba kematian menjemput, keadaan kita mulia dengan berpegang teguh pada tali Allah dengan ucapan akhir Laa ilaa ha illallah; “Barangsiapa yang akhir ucapan dalam hidupnya adalah Laa ilaaha illallah, maka ia pasti masuk jannah”(HR. Abu Dawud)
           
Bila hidup ibarat perjalanan mencapai sebuah tujuan, dan setiap perjalanan memerlukan bekal, maka setelah bekal yang dipersiapkan itu, hal lain yang kita perlukan adalah rencana serta strategi perjalanan untuk mencapai tujuan. Allah berfirman mengenai hal ini; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).[QS. Al-Hasyr (59): 18]  


Ibadah: Misi manusia dicipta
           
Hal yang paling kritis yang seringkali kita lupakan adalah mengenai apa tujuan Allah menciptakan kita. Pertanyaan ini begitu penting untuk kita jawab, karena pertanyaan ini yang akan mengantarkan kita kepada kemuliaan kehidupan dengan kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, ataukah kehinaan menghampiri oleh karena kita persembahkan hidup kita kepada selain-Nya. Sudah seharusnyalah kita memahami tujuan kita diciptakan; Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzaariat (51): 56].
           
Kenestapaan perjalanan kehidupan seorang manusia selalu diawali oleh ketidakmampuan menjawab pertanyaan “untuk apa ia hidup?”. Sebagaimana uraian di muka, ketidakmampuan menjawab pertanyaan tersebut akan menghasilkan kehidupan yang filosofinya seperti air, mengalir tanpa tahu akhir. Ketidakmampuan menjawab pertanyaan ini juga membuat seseorang bertingkah laku serba boleh (permisif), sehingga apapun akan ia lakukan untuk mengejar keinginannya. Selain itu, ada pula model orang yang bingung akan tujuan hidupnya, sebagaimana perumpamaan akan seseorang yang melakukan perjalanan tanpa tahu tujuannya, ia terombang-ambing oleh ketidakpastian arah, seperti kibaran bendera yang mengikuti ke manapun angin berhembus, maka sampai kapanpun ia akan senantiasa merasa hampa, hidupnya seakan tak berharga.
           
Membingkai kehidupan dunia dalam kerangka ibadah kepada-Nya, itu yang seharusnya ada dalam setiap jenak-jenak orientasi kita. Apapun peran kita, hendaknya kita jadikan sarana untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai suami menjadi sarana ibadah kepada Allah, selaku ayah jadikan pula sarana ibadah, menjadi pemimpin, tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, apapun, harus menjadi sarana kita dalam beribadah kepada-Nya. Di setiap kedipan mata, tarikan nafas, lontaran kata, gerak dan perbuatan kita, usahakan menjadi ibadah kepada-Nya. Agar gemerlapnya dunia tidak akan mampu menipu kita. Kesementaraan di dunia jangan justru melenakan kita. Telah menunggu alam akhirat yang kekal. Di sanalah tempat kita sebenarnya. Pilihannya cuma dua, syurga dengan berbagai macam kenikmatannya, dipersembahkan bagi mereka yang bertakwa, atau neraka dengan sarat kepedihan yang akan sangat menyakitkan, yang diperuntukkan bagi mereka yang hidupnya dipenuhi kedurhakaan. Wallahu a’lam bish shawwab.[]AF
                


                         

MARI BERBICARA TENTANG CINTA



Jikalau ada sesuatu yang dikatakan paling indah membahagia yang dirasakan seorang manusia dalam hidupnya, maka mungkin kata ini adalah yang selalu muncul terlontarkan oleh siapapun yang menjawabnya. Adalah cinta yang menjadi suatu tema yang senantiasa mengiringi roda hidup sejarah manusia, dari awal dunia dicipta, hingga nanti saat dimana hari kiamat tiba. Bisa dibilang, cinta adalah ruh kehidupan manusia. Tanpanya, hidup seakan hampa tiada makna. Bukan kehidupan namanya jika tidak menyelipkan kata ini menjadi salah satu sub tema dalam setiap persoalan yang pernah dihadapi oleh siapapun manusia. 
Cinta memang suatu kata yang tidak pernah basi untuk dibicarakan oleh siapapun, dalam saat kapanpun, dan di tempat manapun. Ianya menjadi isu yang universal yang pernah dirasakan oleh setiap manusia normal yang pernah hidup di alam dunia ini. Hal itu karena cinta adalah sebuah fitrah, suatu ciri dari tabiat seorang manusia. Bilapun ada seseorang yang mengklaim bahwa ia tidak pernah jatuh cinta, maka kita boleh curiga akan hakikat kemanusiaannya.
            Alloh telah sempurna ketika mencipta alam ini, tiada secuilpun kekurangan ketika Ia mencipta bumi dan langit dunia dalam enam masa (QS.7:54). Oleh karena itu, Dia juga menciptakan cinta di alam manusia, sesuatu yang menandakan bukti kesempurnaan penciptaan oleh yang Maha Sempurna dalam mencipta alam semesta. Alloh menghadirkan cinta sebagai suatu sarana bagi seorang manusia untuk mendapatkan bahagia. Ia juga menjadikan cinta sebagai salah satu unsur dalam beribadah kepada-Nya.
            Beberapa ahli sastra mengatakan sesuatu tentang cinta, bahwa ia menjadikan pengecut menjadi pemberani, yang bakhil jadi penderma, menjadikan si bodoh pintar, memfasihkan lidah yang kelu, mempertajam pena bagi si pengarang, menguatkan si lemah dan melemahkan seorang yang kuat, mendatangkan kegembiraan di dalam jiwa dan kesenangan di dalam hati. Dan, mungkin sudah tidak lagi terhitung ungkapan-ungkapan semakna yang pernah dilontarkan oleh para ahli sastra dan siapapun manusia demi mengapresiasikan apa yang mereka fahami dari sebuah kata sederhana, cinta.
            Cinta. Mungkin ia mirip sebuah senjata superdahsyat yang sanggup untuk merubah sesuatu yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk dapat dirubah sebelumnya. seperti yang diungkap oleh para sastrawan di atas, karena cinta-lah sesosok manusia dapat berubah 180 derajat dalam hidup dan kehidupannya.
            Cinta merupakan salah satu landasan hidup dan pijakan gerak seorang anak manusia. Oleh karenanya kita diajarkan bahwa cinta menjadi salah satu asas dalam aqidah kita sebagai seorang muslim. Hingga kita mengenal salah satu kategori syirik kepada Alloh adalah syirkul mahabbah, syirik cinta. Kita memahami bahwa cinta dalam pandangan kita adalah cinta yang pertama dan utama yang ditujukan hanya kepada Alloh semata, dan cinta kepada selainnya adalah cinta yang tidak boleh keluar dari bingkai cinta kepada Dia yang kita sembah dengan segala ke-Maha Sempurnaan-Nya dalam segala wujud penciptaan. Dan manakala prinsip cinta yang sudah digariskan oleh Alloh dan Rosul-Nya tersebut kita langgar, sudah menunggu di alam neraka siksaan yang menjadi ganjaran oleh karena kesalahan kita terhadap pemaknaan dan penempatan prioritas cinta ketika kita hidup di dunia.
            Cinta kepada Alloh adalah salah satu unsur dalam beribadah, dan ia menjadi sifat wajib yang mesti ada dan dimiliki oleh setiap hamba. Sebagaimana apa yang difirmankan Alloh dalam surat Al-Baqoroh ayat 165:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh”.
            Dalam ayat tersebut Alloh mencirikan secara tegas sebuah karakter dari seorang mu’min dalam mengaplikasikan fitrah cinta, setelah sebelumnya Alloh menjelaskan bahwa ada makna kesepadanan antara aktifitas penyembahan kepada-Nya, dengan kedudukan penyaluran rasa cinta. Secara singkat mungkin ayat ini dapat dibahasakan bahwa menyembah adalah mencinta, oleh karena itu seorang beriman hanya menempatkan cinta kepada Alloh sebagai cinta pertama dan utama, sebelum cinta-cinta kepada yang lainnya. Artinya, cinta adalah salah satu asas dalam beraqidah. Bilamana dalam hal ini kita tersalah, maka akan suramlah nasib seorang manusia, baik itu di dunia, terlebih di akhirat sana. Mengenai hal ini, Alloh pun telah mencontohkan, bagaimana dunia dengan segala perhiasannya kadangkala mampu menyesatkan kita akan kaidah dalam memprioritaskan cinta. Dalam Qur’an Surat At-Taubah ayat 24 Alloh berfirman:
“Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Alloh dan Rosul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya". Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”.
            Coba kita perhatikan ayat ini. Segala hal yang dapat memalingkan cinta kita kepada Alloh telah disebutkan. Secara garis besar Alloh membagi menjadi dua kecintaan, yaitu kecintaan yang berlebihan kepada keluarga, dan kecintaan yang berlebihan kepada harta. Kedua cinta ini yang memang biasanya dapat memerosokkan seorang hamba ke lembah kesesatan. Atau, kedua cinta ini yang juga sering menjadi tandingan kecintaan kepada Alloh. Seperti kisah seorang anak dari khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq yang bernama Abdurrahman. Ia memiliki istri yang cantik jelita, yang karenanya, Abdurrahman pernah telat untuk datang menghadiri sholat berjama’ah di masjid. Abu Bakar merasa khawatir terhadap anaknya ini. Lalu ia perintahkan anaknya itu untuk menceraikan istrinya. Sebagai anak yang sangat berbakti, Abdurrahman pun menuruti perintah sang ayah, walaupun ada rasa nelangsa di ufuk dada yang terlukis dalam bait kata-kata:

Demi Alloh, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari kan terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
            Tak pernah kudapatiorang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia
Dithalaq karena dosanya
Dia berakhlak mulia
Beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi perkerti tinggi
Bersifat pemalu, dan halus tutur katanya

Mendengar itu, luluh kemudian hati sang Ayah. Maka diizinkanlah mereka rujuk kembali. Tidak berapa lama setelah itu, Abdurrahman pun membuktikan ketinggian cintanya. Dalam sebuah seruan jihad ia memenuhinya, dan ia syahid di medannya sebagai seorang syuhada. Ia telah benar-benar membuktikan kesucian dan ketinggian cintanya kepada Alloh Subhaana wa Ta’ala.
Kisah di atas memang terkesan terlalu tinggi bagi kita. Tapi paling tidak ada sebuah pelajaran agung tentang cinta yang dapat kita ambil hikmahnya. Betapa seorang Abu bakar merasa khawatir kalau kecintaan Abdurrahman terhadap istrinya tumbuh berkembang menjadi tidak sehat, yaitu kecintaan yang mengalahkan cintanya kepada Alloh. Dari kisah inipun kita dapat menarik pelajaran lain. Bahwa cinta yang diikat dengan halalan thoyyiban dalam mahligai pernikahan pun kadangkala dapat menjadi batu ujian bagi dua orang hamba dalam meraih ridho-Nya. Lalu bagaimana dengan kisah cinta remaja dan pemuda zaman sekarang yang sudah sangat menggejala, sehingga apa yang mereka sebut dengan pacaran itu tidak jarang menjadi penyebab mereka melakukan perbuatan berzina. Padahal dalam sebuah ayat dikatakan bahwa mendekati zina saja kita sudah dilarang.
 “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk”(QS.Al-Isro:32)
            Maka menjadi sebuah peringatan bagi kita semua. Ada aturan dalam Islam yang mengajarkan tentang cinta. Pun, ada etika dalam Islam yang mengatur tentang bagaimana kita berinteraksi dengan sesama, khususnya yang berkenaan dengan hubungan kecendrungan rasa dengan seseorang di kehidupan kita, terutama bagi para pemuda yang belum memiliki keinginan untuk segera menggenapkan separuh agama. Pacaran, dengan segala aktivitasnya adalah termasuk ke dalam perbuatan “mendekati zina”. Maka untuk mendekatinya saja dilarang, apatah lagi jika melakukannya.

PENUTUP
            Menjadi suatu hal yang wajib kita fahami dari agama Islam ini adalah kemenyeluruhan dalam ajarannya. Sehingga tidak ada secuilpun dimensi aktifitas yang itu tidak luput dari pengaturan Islam, apalagi ajaran Islam tentang cinta. Fitrah cinta dan kecendrungan rasa menjadi suatu hal yang sangat manusiawi yang pasti dirasakan oleh setiap manusia. Bagi agama ini, cinta menjadi suatu persoalan agung yang benar-benar di perhatikan. Karena ia menjadi salah satu pilar dari sesuatu yang paling mendasar dalam bangunan agama. Ia merupakan salah satu unsur dalam ibadah, sekaligus menjadi asas dalam beraqidah. Maka menjadi bukti kesempurnaan iman seseorang adalah kemengertiannya dan kelurusannya dalam mengaplikasikan fitrah cinta. Sekalipun jangan sampai terjadi kita terjerembab dalam kubangan kesesatan yang disebabkan oleh kesalahan kita dalam menyalurkan rasa cinta. Karena jika saja itu sampai terjadi pada diri kita, maka bersiap saja dihampiri oleh rasa sengsara yang tiada batasnya, hanya karena cinta yang tidak kita sanggup untuk mengaturnya. Wallohu a’lam bish showwab.(Bang Utray)