Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

HAKIKAT HIDUP

MERENUNGI HAKIKAT DAN TUJUAN HIDUP


            Pernahkah terjadi dalam hidup kita ketika kita tengah berada dalam sebuah perjalanan akan tetapi kita tidak mengetahui tempat yang ingin kita tuju? Dan ketika ditanyakan; “kenapa engkau bepergian, sementara engkau tidak mengetahui tempat tujuannya?”, kita hanya menjawab, “saya tidak tahu, yang saya tahu hanyalah saya harus bepergian, sebagaimana orang lain pun bepergian”.

Penggal cerita di atas mungkin hanya mengada-ada. Mana mungkin seseorang yang berangkat dari rumah dan berada di tengah perjalanan akan tetapi ia tidak mengetahui tujuan dari perjalanannya. Kita mungkin akan menganggap jika memang kejadian seperti itu benar-benar ada, pasti dilakukan oleh seseorang yang sudah tidak waras lagi.
           
Pembaca sekalian, cerita di atas hanyalah sebuah perumpamaan akan suatu hakikat kehidupan yang harus kita fahami, akan tetapi sering kita tidak menyadari. Bila kita coba merenung akan hakikat hidup kita, kita akan menemukan sebuah rumusan yang mirip dengan perumpamaan aktifitas bepergian seperti cerita di paragraf prolog di atas. Setiap dari kita sesungguhnya tengah berada dalam sebuah perjalanan menuju suatu tempat. Ada sebagian dari kita yang memahami tujuan dari perjalanan itu, akan tetapi ada pula yang bahkan tidak menyadari tujuan akan kemana ia pergi. Yang ia lakukan hanyalah melanjutkan perjalanan, dan membiarkan ayunan langkah kaki membawa kemanapun tempat ia akan sampai.
           
Seperti air yang mengalir, begitu mungkin filosofi hidup yang banyak dianut. Tak perlu ambil pusing apakah air itu akan membawa ke tempat yang baik dan bermanfaat, atau justru alirannya akan mengantar ke tempat yang kotor dan jorok. Bagi mereka, yang paling penting adalah senantiasa mengalir hingga akhir, tak pernah memikirkan apakah akhir yang ditemui adalah akhir yang baik, atau akhir yang buruk.
           
Pembaca yang budiman, setiap dari kita pasti memiliki kehidupan yang dijalani, entah sebagai seorang suami, seorang ayah, seorang karyawan, seorang kepala bagian, seorang pejabat pemerintahan, seorang pimpinan perusahaan dan sebagainya. Setiap dari kita pasti juga memiliki keinginan untuk sukses dan berhasil meraih segalanya, ingin menjadi orang kaya, punya rumah megah, punya kendaraan mewah dan juga sebagainya. Demi kehidupan yang kita jalani ataupun demi keinginan yang kita harapkan    terrealisasi, kita seringkali rela untuk melakukan segalanya, hingga terkadang kita melanggar aturan-aturan agama. Karena kecintaan kita kepada anak dan istri, kita rela korupsi. Karena keinginan kita untuk kaya, kita tak sungkan untuk sikut kanan-kiri dalam mencari rizki. Karena memperturut hawa nafsu diri, kita tak takut menerjang aturan syar’i.  
           
Begitulah kebanyakan manusia, melakukan apa saja tanpa pernah memikirkan pertanggungjawaban yang pasti adanya. Tak cukup halal yang dicari, hingga yang haram pun digandrungi. Yang paling nista adalah bagi mereka yang pernah mengatakan dan mempraktekkan ungkapan; “Mencari yang haram saja susah, apatah lagi yang halal”. Na’udzu billahi min dzaalik, kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk hanya mencari yang halal untuk kita dan anak istri kita.
           
Dalam segala model hidup yang kita jalani, sebagai orang kayakah, menjadi orang miskinkah, memiliki wajah yang tampankah, atau yang sedikit kurang beruntungkah, selaku pemimpinkah, atau sekedar bawahankah, semuanya bukanlah masalah yang sebenarnya, karena betapapun hal itu adalah sesuatu hal yang berbau duniawi yang tidak abadi. Yang kaya dapat menjadi miskin, yang tampan dapat memudar ketampanannya, yang saat ini memimpin suatu saat akan lengser, yang masih hidup pasti akan mati, semua itu adalah sesuatu yang pasti. Lantas, bagaimakah kita menyikapi semuanya? Yang harus kita lakukan adalah memahami hakikatnya, bukan sekedar apa yang terlihat ada.


Memahami hakikat hidup; Kunci keselamatan
           
Demikian indah dan agungnya Allah mencipta alam dunia, betapa sempurnanya pula Ia membentuk kita. Allah memberi kita dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, satu lisan untuk bicara, serta seluruh karunia yang dianugerahkan kepada kita; “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” [QS. At-Tiin(95): 4]. Maka dengan segala fasilitas yang sempurna Allah anugerahkan kepada kita, patutlah kiranya Allah menegaskan dalam firman-Nya; “Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” [QS. Ar-Rahman, diulang-ulang sebanyak lebih dari 30 kali di surat tersebut]
           
Diantara keniscayaan dalam kehidupan adalah kepastian akan kematian; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati” [QS. Al-Ankabut (29): 57]. Dan diantara kepastian akan kematian itu adalah ketidakpastian kapan datangnya, tahun depankah, bulan depankah, pekan depankah, esok harikah, atau beberapa jam lagi malaikat maut kan menjemput kita, tidak ada yang dapat menjawabnya; “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati[QS. Luqman (31): 34]. Oleh karena itu, hendaknya kita membekali diri kita dengan sebaik-baik bekal; “Dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” [QS. Al-Baqarah (2): 197]. Berbekallah kita dengan bekal takwa, agar ketika tiba-tiba kematian menjemput, keadaan kita mulia dengan berpegang teguh pada tali Allah dengan ucapan akhir Laa ilaa ha illallah; “Barangsiapa yang akhir ucapan dalam hidupnya adalah Laa ilaaha illallah, maka ia pasti masuk jannah”(HR. Abu Dawud)
           
Bila hidup ibarat perjalanan mencapai sebuah tujuan, dan setiap perjalanan memerlukan bekal, maka setelah bekal yang dipersiapkan itu, hal lain yang kita perlukan adalah rencana serta strategi perjalanan untuk mencapai tujuan. Allah berfirman mengenai hal ini; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).[QS. Al-Hasyr (59): 18]  


Ibadah: Misi manusia dicipta
           
Hal yang paling kritis yang seringkali kita lupakan adalah mengenai apa tujuan Allah menciptakan kita. Pertanyaan ini begitu penting untuk kita jawab, karena pertanyaan ini yang akan mengantarkan kita kepada kemuliaan kehidupan dengan kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, ataukah kehinaan menghampiri oleh karena kita persembahkan hidup kita kepada selain-Nya. Sudah seharusnyalah kita memahami tujuan kita diciptakan; Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” [QS. Adz-Dzaariat (51): 56].
           
Kenestapaan perjalanan kehidupan seorang manusia selalu diawali oleh ketidakmampuan menjawab pertanyaan “untuk apa ia hidup?”. Sebagaimana uraian di muka, ketidakmampuan menjawab pertanyaan tersebut akan menghasilkan kehidupan yang filosofinya seperti air, mengalir tanpa tahu akhir. Ketidakmampuan menjawab pertanyaan ini juga membuat seseorang bertingkah laku serba boleh (permisif), sehingga apapun akan ia lakukan untuk mengejar keinginannya. Selain itu, ada pula model orang yang bingung akan tujuan hidupnya, sebagaimana perumpamaan akan seseorang yang melakukan perjalanan tanpa tahu tujuannya, ia terombang-ambing oleh ketidakpastian arah, seperti kibaran bendera yang mengikuti ke manapun angin berhembus, maka sampai kapanpun ia akan senantiasa merasa hampa, hidupnya seakan tak berharga.
           
Membingkai kehidupan dunia dalam kerangka ibadah kepada-Nya, itu yang seharusnya ada dalam setiap jenak-jenak orientasi kita. Apapun peran kita, hendaknya kita jadikan sarana untuk beribadah kepada-Nya. Sebagai suami menjadi sarana ibadah kepada Allah, selaku ayah jadikan pula sarana ibadah, menjadi pemimpin, tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, apapun, harus menjadi sarana kita dalam beribadah kepada-Nya. Di setiap kedipan mata, tarikan nafas, lontaran kata, gerak dan perbuatan kita, usahakan menjadi ibadah kepada-Nya. Agar gemerlapnya dunia tidak akan mampu menipu kita. Kesementaraan di dunia jangan justru melenakan kita. Telah menunggu alam akhirat yang kekal. Di sanalah tempat kita sebenarnya. Pilihannya cuma dua, syurga dengan berbagai macam kenikmatannya, dipersembahkan bagi mereka yang bertakwa, atau neraka dengan sarat kepedihan yang akan sangat menyakitkan, yang diperuntukkan bagi mereka yang hidupnya dipenuhi kedurhakaan. Wallahu a’lam bish shawwab.[]AF
                


                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar