Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

HAKIKAT WAKTU SEBAGAI MODAL MERAIH KESUKSESAN HIDUP




Ibarat roda yang yang tak pernah berhenti berputar, itulah perumpamaan waktu yang senantiasa menjadi media kita dalam menjalani kehidupan. Adanya kehidupan bagi setiap kita, adalah terdapatnya perguliran waktu dalam setiap saatnya. Waktu juga laksana seorang penguasa kejam yang tak sedikitpun memiliki belas kasihan kepada rakyatnya, yang keputusannya tidak ada yang sanggup menawarnya. Permisalan lain mengenai waktu adalah ia laksana harta termahal dan aset tak tergantikan yang dimiliki oleh setiap manusia di seluruh muka bumi, barangsiapa yang telah kehilangannya, maka sekali-kali ia tidak akan kembali mendapatkannya. Demikianlah diantaranya perumpamaan waktu dalam hidup kita, yang kesemuanya itu menandaskan kepada kita akan nikmat waktu yang telah Allah berikan, yang menjadi nikmat yang seringkali terlupa dalam pergulatan keseharian hidup kita, yang juga menjadi modal paling utama kesuksesan kita menapaki kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.

Diantara pelajaran agung yang Allah ajarkan dalam Al-Qur’an untuk kita adalah tatkala Ia berfirman tentang perguliran waktu yang menjadi tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ia berfirman dalam kitab-Nya yang mulia; “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.”(QS. Yunus (10): 6)   

Waktu yang dianugerahi Allah kepada seorang manusia adalah sebentuk nikmat yang tak terharga nilainya, yang berulang-ulang Ia memberikan isyarat kepada kita akan keagungan nikmat tersebut. Beberapa surat maupun ayat yang Allah turunkan menjadi petanda untuk umat-Nya yang mau menggunakan akalnya untuk memikirkan betapa pentingnya nikmat tersebut bagi manusia. Wal-‘Ashr, Wadh-Dhuha, Wal-Fajr, adalah beberapa penggal ayat dalam Al-Qur’an yang menyiratkan keagungan nikmat ini bagi setiap kita. Bahkan para mufassir (ahli tafsir) menjelaskan bahwa dalam ayat-ayat yang di dalamnya Allah bersumpah dengan makhluk-Nya, maka hal itu menandakan akan penting dan agungnya sesuatu tersebut. Dan ketika Ia bersumpah atas nama waktu atau bagian-bagian waktu, maka hal itu merupakan penegasan akan hakikat sesuatu itu yang teramat penting.

Terkait betapa pentingnya hakikat waktu yang wajib kita syukuri dan kita gunakan dengan baik itu, ada ungkapan penuh hikmah; “Waktu laksana pedang, jika kita tidak mampu menggunakannya dengan baik, maka ia akan menebas kita”. Atau juga seperti yang pernah di ungkapkan oleh seseorang; ”Waktu tidak akan bersikap netral, ia akan menjadi teman yang setia atau menjadi musuh bebuyutan”. Beberapa kata-kata penuh hikmah tersebut merupakan hasil dari pemahaman akan hakikat waktu dan kehidupan, serta pertanggungjawaban yang akan kita laporkan di suatu hari yang telah pasti kedatangannya, sebagaimana rasul-Nya telah bersabda; “Tidak akan bergeser dua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Tuhannya sehingga ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang waktu mudanya untuk apa ia digunakan; tentang hartanya darimana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia amalkan dengannya”.(HR. Tirmidzi).

      Disadari atau tidak, waktu merupakan sesuatu yang senantiasa bergulir hingga mengantarkan kita ke setiap detik fase kehidupan kita. Adalah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menyadari hakikat waktu yang senantiasa bergulir ini, dan hendaklah ia tidak menjadi orang yang tertipu hingga menganggap bahwa ia akan hidup selamanya, atau ia hidup sebagaimana layaknya standar usia hidup umat muhammad yaitu kurang-lebih selama 60 tahun. Betapa banyak orang-orang disekeliling kita yang harus menamatkan usia hidupnya di dunia sebelum menginjak angka berpuluh-puluh tahun. Disamping itu, ada jenis ketertipuan lain yang sering tidak kita sadari, yaitu bahwa setiap kita memiliki keniscayaan selalu memiliki waktu yang senantiasa berkurang jatahnya, sebagaimana kebodohan kita atas kehura-huraan yang kita rayakan di setiap hari dimana kita dilahirkan atau sering kita sebut hari ulang tahun. Seorang yang memiliki akal yang ia gunakan untuk memikirkan nikmat waktu yang Allah berikan tidak akan menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang ia rayakan dengan kehura-huraan, namun justru hari itu menjadi hari dimana ia diajak merenung akan semakin berkurangnya jatah hidup dia di atas dunia, dan semakin dekatnya ia kepada kematian.


Bagaimana waktu berlalu

            Bagaikan seseorang yang menaiki kereta api, ia merasa seolah-olah duduk dan berdiam diri di tempat duduknya, padahal kenyataannya kereta yang ia naiki berjalan semakin dekat dengan stasiun yang dituju. Dan stasiun itu bagi perjalanan kehidupan kita adalah laksana kematian yang pasti akan kita hadapi.

Ada detik-detik waktu yang begitu banyak kita buang dalam keseluruhan perjalanan hidup kita. Pernahkah kita renungkan bahwa 15 menit waktu yang kita biarkan tidak produktif disetiap harinya, itu sama saja dengan membuang waktu selama 11 hari dalam setahun. Atau pernahkan kita renungkan tentang 8 jam sehari semalam yang kita gunakan untuk beristirahat, ternyata jika rata-rata usia kita adalah 60 tahun, maka waktu kita untuk tidur menghabiskan masa selama 20 tahun dari keseluruhan usia hidup kita? Ada baiknya kita melihat tabel yang akan menjelaskan seberapa lama alokasi waktu yang kita gunakan dalam hidup ini untuk melakukan macam-macam aktifitasnya, dalam ukuran rata-rata normalnya kita hidup selama 60 tahun.

Kegiatan
Waktu
Mengikat tali sepatu
Menunggu lampu lalu lintas
Mencukur rambut
Menekan nomor telefon
Naik lift di kota-kota besar
Menyikat gigi
Menunggu bus
Menghabiskan waktu di dalam WC
Membaca buku
Menyantap makanan
Mencari Rizki
Menonton televisi
Tidur
8 hari
1 bulan
1 bulan
1 bulan
3 bulan
3 bulan
5 bulan
6 bulan
2 tahun
4 tahun
9 tahun
10 tahun
20 tahun
            
                Jika kita coba perhatikan dengan seksama tabel gambaran aktifitas kita selama hidup dan berapa lama durasi waktu total dalam mengerjakan setiap aktifitasnya, maka kita akan tercengang. Betapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mengerjakan urusan-urusan yang tak pernah kita sadari ternyata jika ditotal banyak menghabiskan waktu yang cukup lama. Waktu-waktu seperti untuk mengikat sepatu, menunggu lampu lalu lintas, menunggu bus di halte, MCK, dan sebagainya. Perlu diketahui bahwa tabel gambaran penggunaan waktu di atas adalah milik seseorang yang hidupnya terbilang cukup standar, baik secara ekonomi serta secara keilmuwan. Jika ditotal waktu yang dihabiskan untuk setiap macam urusan itu yaitu selama 46 tahun, 8 bulan, 8 hari, dalam aktifitas yang lumayan produktif dan atau berkerangka produktifitas. Jika dirata-ratakan usianya adalah 60 tahun, maka sekitar 13 tahun 4 bulan diantaranya adalah waktu-waktu yang digunakan untuk hal lain yang boleh jadi berguna misalnya dengan bersilaturrahim, bercengkarama dengan anak, berdiskusi dengan istri atau suami dan sebagainya. Namun jika sekiranya durasi waktu tersebut menjadi masa yang tidak produktif atau bahkan kontraproduktif seperti ngerumpi dengan tetangga, bermalas-malasan, merokok, nongkrong di pinggir jalan, dan sebagainya, maka alangkah malangnya kita. Belum lagi jika keseluruhan durasi usia kita hidup yang dirata-ratakan selama 60 tahun, lantas sebagian besarnya kita isi dengan hal-hal yang negatif dan kontraproduktif, maka alangkah meruginya kita. Maka tepatlah kiranya Imam Syafi’i yang merenungi hikmah agung dari surat ‘Al-Ashr kemudian berkomentar; “Seandainya Alloh tidak menurunkan hujjah bagi manusia selain surat ini, niscaya telah cukup bagi mereka”. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS. Al-‘Ashr (103):1-3)


Kiat sukses dunia akhirat: Memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif

            Ada ungkapan bodoh di keseharian interaksi dalam masyarakat kaitannya dengan kelalaian dalam penggunaan waktu, dikatakan oleh sebagian mereka; “mari kita membuang waktu dengan melakukan ini dan ini”. Ungkapan “membuang waktu” konotasinya negatif, dan manakala sudah berkonotasi negatif, dapat dipastikan perbuatan yang dilakukan pun akan bernilai negatif. Tidak mungkin kita mengatakan perbuatan membaca Al-Qur’an dengan perbuatan “membuang waktu”, sebagaimana tidak mungkin kita mengatakan; “mari kita memproduktifkan waktu dengan begadang dan mengobrol di pinggir jalan”.

            Menjadi suatu hal yang harus kita fahami bersama bahwasanya terdapat satu kunci rahasia dalam meraih kesuksesan kehidupan baik di dunia terlebih di akhirat. Kunci sukses itu adalah pemanfaatan waktu dengan seoptimal mungkin untuk perbuatan-perbuatan yang bernilai positif dan produktif. Dan tidaklah terhalang mimpi kesuksesan seorang manusia kecuali karena ia tidak mampu memanfaatkan modal utama suksesnya –yaitu waktu- dengan perbuatan-perbuatan yang sama sekali tidak bermanfaat atau justru bernilai mudharat. Jika di Purwokerto sehari semalam ada 24 jam, kemudian di Puerto Rico juga sama, maka mengapa ada hasil yang berbeda dari para individu penduduknya? Jika orang Jepang dengan sehari-semalam 24 jam bisa menciptakan hasil tekhnologi yang maju pesat, maka mengapa kita dengan jatah waktu yang sama hanya bisa bertengkar dengan istri, bertikai dengan tetangga, berselisih dengan teman kerja, dan perbuatan-perbuatan tak berguna lainnya? Jika seorang pemimpin sukses sebuah negara mampu membangun negaranya menjadi negara yang maju peradabannya, maka mengapa kita untuk memimpin diri maupun keluarga saja tidak becus dan membuatnya menjadi berantakan?

            Saudara sekalian siapapun dan dimanapun kita, setiap dari kita pastinya memiliki mimpi untuk meraih kesuksesan diri, kehangatan hubungan dalam keluarga, keharmonisan interaksi dalam masyarakat, kemajuan negara dan peradaban, maka satu rahasia untuk merealisasikannya adalah dengan bagaimana kita menggunakan waktu yang Allah anugerahi dengan amal-amal produktif. Ada banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk membaca dan menelaah buku, mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, menguasai keilmuwan dan ketrampilan tertentu, meraih gelar sarjana, menjadi pebisnis yang handal, melayani kebutuhan orang lain, membersihkan dan merapihkan rumah, atau bahkan sekedar tersenyum kepada bapak-ibu dan anak-istri kita di rumah. Ada sangat banyak pilihan aktifitas yang dapat kita lakukan yang itu bernilai produktif. Maka manfaatkan waktu, dan hidup kita insyaAllah akan lebih baik dan lebih sukses selalu. Wallahu a’lam bish shawwab  [UTR]
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar