Total Tayangan Halaman

TIME

Rabu, 17 Oktober 2012

TRADISI NULIS VS TRADISI BICARA



                Celoteh kali ini masih tentang menulis. Sebenarnya, menulis itu bukanlah sesuatu yang sulit kita lakukan. Setiap kita yang pernah bersekolah, pasti bisa menulis. Walau dalam hal ini, menulis yang dimaksud bukan berarti sekedar menulis huruf demi huruf hingga menjadi kata, kata demi kata hingga menjelma menjadi kalimat, kalimat demi kalimat sampai tersusun menjadi sebuah paragraf, dan seterusnya. Akan tetapi, menulis yang dimaksudkan di sini berarti menuangkan buah pikir dan atau gagasan yang ada di kepala kita ke dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan tangan, atau dalam format microsof word atau juga program yang lain di PC masing-masing kita.
                Dalam pergaulan sehari-hari pastinya kita sering berbincang dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih bagi mereka yang memiliki hobi ngerumpi yang konon menjadi sifat yang banyak dimiliki dan diminati oleh orang Indonesia. Lihat saja acara yang menyuguhkan acara-acara rumpian yang tersebar di setiap stasiun televisi yang jumlahnya puluhan itu. Berderet-deret acara tentang gosip selebriti yang ditayangkan. Ramainya acara tersebut berarti memang ia digandrungi oleh banyak dari audience dan penikmat televisi di tanah air.
                Jika kita mau berfikir lebih produktif, keseharian kita yang tak lepas dari aktifitas ngobrol baik yang ngalor ngidul, pepesan kosong, atau gosip-gosip dan gunjingan yang sering mampir di telinga kita dapat kita arahkan ke dalam sesuatu aktifitas yang produktif. Jika tujuan kita ngobrol atau bercengkrama dengan orang-orang disekitar kita hanyalah ingin menyampaikan dan atau bertukar informasi tentang segala hal, maka pada hakikatnya menulis juga merupakan aktifitas yang sama persis; yakni kita ingin menyampaikan apa-apa yang ada di benak kita, yang kita ingin orang lain tahu akan pikiran dan pemikiran maupun keadaan kita kala itu. Maka sebetulnya setiap kita memiliki kemampuan menulis, karena menulis adalah “bentuk berbeda” dari cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan kebanyakan kita orang Indonesia berkepribadian komunikatif, yakni senang bersosialisasi dan berkelompok dengan sesamanya. Namun mengapa tradisi menulis tidak cukup menonjol dibanding tradisi bicara di negeri kita, padahal hakikatnya keduanya merupakan satu aktifitas yang tujuannya sama?
                Menulis dan bicara, sebagai satu bahasan diskursus ilmu komunikasi mungkin keduanya memiliki hakikat dan tujuan yang sama, hanya saja berbeda pada sisi interaksi yang terjalin dalam momen tersebut. Bicara, sebagaimana kita sering memulai atau merespon suatu pembicaraan, merupakan aktifitas timbal-balik yang secara langsung terjadi bagi dua orang yang berkomunikasi (real time), baik dengan perantaraan seperti telepon, atau dilaksanakan dengan langsung bertatap muka. Sedangkan menulis, harus diakui tidak semudah bicara, karena ia merupakan aktifitas yang membutuhkan daya curah pikiran yang ekstra, maupun pekerjaan yang membutuhkan lebih banyak indera dari tubuh kita.
                Bicara, memang teranggap lebih ringan dibanding menulis. Keseharian kita tidak terlepas dari aktifitas bicara, karena berbicara menjadi media komunikasi paling mudah, sederhana, sekaligus paling minim peluang missunderstandingnya dibanding sarana komunikasi yang lain. Berbicara kepada orang lain, atau bahkan berbicara kepada diri sendiri untuk tujuan positif berkerangka ilmu psikologis yang mungkin terkadang dilakukan sebagian dari kita, merupakan salah satu modal untuk bisa menulis. Artinya, jika dalam keseharian kita pasti bertemu orang lain dan dipastikan pula mengadakan proses komunikasi dengan mereka, maka semua pembicaraan itu bisa menjadi bahan yang paling mendasar dari modal kita untuk menulis. Bagaimana tidak, jika setiap interaksi kita dengan orang lain berisikan proses untuk saling menyampaikan pesan dan pesan itu hidup menjadi suatu objek dinamis dalam otak kita, maka saling berlempar pesan itu bisa beralih menjadi suatu pengembangan perasaan dan pemikiran tertentu dari apa yang sedari awal kita bicarakan. Hal ini bisa dicontohkan seperti curhat seseorang pada buku diary yang ia miliki. Kebiasaan menuliskan sesuatu pemikiran, perasaan, dan pengalaman di sebuah buku diary sesungguhnya merupakan aktifitas positif yang patut dilestarikan sebagaimana anjuran dan pengalaman para penulis ulung yang tidak jarang memulai aktifitas kepenulisannya melalui menulis di sebuah buku diary. Jika coba kita telisik lebih dalam, kebanyakan isi dari curhatan kita di buku diary merupakan tumpahan perasaan yang menjadi pengalaman kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka biasanya ia tidaklah jauh dari perasaan sebal kita pada suatu perbuatan atau bahkan pada orang lain. Ia juga bisa berisi perasaan berbunga kita atas suatu raihan target pencapaian diri, hingga momen-momen tertentu yang membawa nuansa merah jambu dalam hati kita. Aktifitas menulis di buku diary ini pada sebagian orang hanya terhenti pada sharing perasaan kepada sahabat yang paling kita percayai. Dan untuk yang terakhir inilah terkadang tradisi menulis menjadi tenggelam bahkan hilang dan tergantikan oleh tradisi bicara yang semakin mengemuka.
                Menulis dan bicara, sejatinya ia merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Serupa karena hakikatnya ia merupakan aktifitas komunikasi kita kepada diri kita sendiri atau kepda orang lain. Tak sama karena dalam aktifitas menulis membutuhkan curahan pikiran dan pemberdayaan indera yang lain yang dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lebih. Namun dari semua itu, tulisan ini sebetulnya ingin menegaskan sekaligus memotifasi, bahwa ketika kita mampu membaca dan menulis, kemudian kita juga sehari-hari berkomunikasi dengan orang lain, maka sejatinya kita juga bisa menulis dan menghasilkan karya. Alihkan setiap segala uneg-uneg, pemikiran, perasaan, hikmah, dan apapun yang terlintas di benak kita ke dalam sebuah tulisan sebagaimana kita juga menceritakannya pada orang lain. Maka dengan begitu, tradisi bicara yang menguasai mayoritas dalam porsi komunikasi kita sehari-hari dengan orang lain dapat sedikit demi sedikit bergeser menjadi tradisi menulis yang dengannya juga kita terpacu untuk mendayagunakan potensi otak kita menjadi lebih berbobot, yakni tidak sekedar bicara yang terlalu mudah untuk dilakukan, namun juga berfikir sebelum berbicara, yang itu terasah dalam aktifitas kita dalam menulis. (Bekasi, 18-10-2012; 06.51 WIB)          

Senin, 08 Oktober 2012

(MENCOBA) MENULIS (LAGI)



                     Menulis. Hmmm... sekian lama saya tinggalkan aktivitas ini. Bila dihitung-hitung, mungkin sudah sekitar separuh tahun saya tidak menulis untuk berbagai peruntukannya. Di samping berbagai kesibukan yang menyapa, mengurus kepindahan rumah, beradaptasi di rumah baru maupun tempat kerja baru, atau memang alasan terakhir yang saya sadari sendiri mungkin yang paling tepat; malas. Ya, betapa suatu urusan yang positif dan akan membawa hal kebaikan pada diri itu membutuhkan perjuangan yang lumayan berat. Perlu tekad yang membaja untuk memulai sesuatu yang baik, juga tekad-tekad berikutnya untuk menjaga sesuatu kebaikan yang sudah kita mulai tersebut.
                Di tempat kerja saya yang baru, beruntung saya memiliki seorang teman yang pengalaman hidupnya begitu inspiratif. Di samping kesukaannya menulis yang ini menjadi pelecut saya untuk (mencoba) kembali menulis, beliau telah melalui perjuangan keras dalam mengejawantahkan prinsip hidupnya. Satu cerita yang membuat saya begitu takjub adalah salah satu momen waktu dalam hidupnya beberapa masa sebelumnya, yakni keteguhannya memegang prinsip saat pada akhirnya ia memilih untuk off sebagai seorang guru berstatus PNS di salah satu provinsi di bagian timur negeri ini. Pilihan yang menurut sebagian (besar) orang mungkin di anggap bodoh dan konyol. Di republik ini pekerja berstatus PNS begitu menjadi idola sekaligus primadona yang karenanya setiap kali dibuka lowongan CPNS di berbagai tempat, peminatnya selalu membludak, bahkan tidak sedikit yang rela menyiapkan dana hingga puluhan juta rupiah sebagai pelicin untuk memuluskan mimpinya menjadi seorang PNS. Atau sebagaimana dorongan yang tak jemu dari ibunda untuk mengikuti tes CPNS (sebagaimana kakak saya dan suaminya yang telah lebih dulu berstatus PNS) di setiap kesempatan periode bukaannya.
                Teman saya yang satu ini begitu beda di antara teman yang lainnya. Ia memilih tidak melanjutkan pekerjaannya sebagai guru di sebuah sekolah negeri karena ia sudah tak lagi tahan dengan pola perilaku maupun budaya pendidikan di sekolah wilayah tersebut (yang saya kira juga di seluruh wilayah negeri ini) yang memaksanya untuk berbohong dan memanipulasi hasil belajar siswa-siswinya, terutama saat ujian akhir nasional tiba. ‘Ala kulli haal, saya mengagumi beliau dalam memegang prinsip, sebagaimana kekaguman saya pada rekan-rekan yang lain yang setiap mereka memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
                Kembali pada tema pembicaraan yakni tentang menulis (lagi). Entah kenapa rasanya malas untuk menuangkan buah pikir ke atas lembaran kertas. Ide dan tema bukannya tidak ada, mungkin sudah berserakan ide yang saya temukan dalam pengembaraan kehidupan sehari-hari. Namun satu yang pasti saya identifikasi dari “kemandulan” saya beberapa bulan ini adalah pada “pelitnya” saya untuk meluangkan waktu demi menulis. Virus jahat bernama “entar dulu” selalu memenangi pertarungan melawan sang lawan sejati “kerjakan sekarang juga”. Saya sering mencari alasan untuk mendukung si “entar dulu” ini. Yang capek lah, yang baru pulang lah, yang mau main sama Usamah dulu lah, yang mau santai-santai dulu lah, yang mau beres-beres rumah, yang...yang...pokoknya akan jadi banyak “yang” deh. Hal itu yang primernya membuat saya pada akhirnya tidak menulis satu pun karya.
Kembali kepada sang teman mantan PNS yang asli Makasar tadi, Ia pernah menceritakan kiatnya dalam beristiqamah menulis, simpel saja katanya, pokoknya rutinkan setiap hari untuk menulis. Menulis apa? Apapun! Ya, beliau benar, intinya memang selalu luangkan waktu sesibuk dan selelah apapun untuk menulis, dengan begitu kita akan terbiasa, bahkan boleh jadi kebiasaan itu akan tumbuh menjadi hobi, dan hobi menulis terlebih di zaman ini bisa membuat kita kaya, tentu saja dalam segala maknanya yang luas.
                Yang saya mesti lakukan adalah meluangkan waktu setiap hari untuk menulis, itu salah satu sum-sum poinnya. Nah kalau hal ini coba disinkronkan dengan kegiatan sehari-hari, maka ia akan bertarung kepentingan dengan waktu bekerja yang ditotal bisa sampai 9 jam di kantor. Ia juga akan berjibaku dengan hak mua’amalah istri dan anakku. Atau alokasi waktu-waktu yang lain yang jika di cari akan menjadi berderet-deret alasan. Ternyata kiat “meluangkan waktu” tidak boleh berjalan sendirian, ia juga tidak bisa tidak harus mengurutkan kiat lanjutannya yakni manajemen waktu. Ya, harus dibuat manajemen waktu yang benar, yang tepat, yang efektif, yang produktif. Caranya, yah dibuat saja perencanaannya, bertumpuk buku dan berkali training atau seminar kan sudah dilakoni, tinggal diamalkan dan diupayakan keistiqamahannya, bukan begitu akhi? So pasti.
                Tinggalkan segala hal yang tidak atau kurang manfaatnya. Kiat ini sebetulnya nyambung dan include dalam poin sebelumnya tentang manajemen waktu. Hanya mungkin perlu di tulis khusus untuk penegasan. So, jangan ada lagi waktu mubadzir untuk hal-hal yang sia-sia. Pokoknya harus selalu full azzam untuk merealisasikan mimpi terpampangnya karya-karya kita di display toko buku nasional di bawah tajuk “buku best seller”. Bisa? Pasti bisa!!
                (Mencoba) menulis (lagi). Semoga tulisan ini akan menjadi pemantik awal untuk menggapai tujuannya. Bukan hanya sekedar memulai kembali untuk menulis, tapi niatnya tidak lebih dari “tonjokan” bagi diri untuk menulis,menulis, dan menulis. Oleh karena itu wahai akhi, ayo terus menulis, dan jadikan ia sebagai gaya hidup. Hmmmm...menulis sebagai gaya hidup, keren juga. Yuk kita kampanyekan, he...he... (Bekasi, 9 Oktober 2012, 6.39 WIB)

Minggu, 20 Mei 2012

SETITIK IBRAH TENTANG PENDIDIKAN DI DALAM KELUARGA


Ahmad* namanya. Ia-lah salah satu santri yang menghuni asrama Zubair di periode 2009-2010. Ia berasal dari kota Bandung, sebuah daerah yang konon dahulu berjuluk Paris Van Java. Saat ini, ia duduk di kelas sembilan yang berarti itu adalah tahun terakhirnya di masa tiga tahun menjadi santri di SMP Nurul Fikri Boarding School.

Betapa saya ingin menceriterakan ulang sebuah pengalaman dengan keluarganya. Suatu ketika di hari Sabtu, Ayah, Ibu serta kedua adik Ahmad datang menjenguk sembari berniat mengajak Ahmad refreshing menginap di luar pesantren. Ketika mengobrol dengan sang ayah yang menanyakan tentang bagaimana keseharian Ahmad di asrama. Saya mencoba menjawab seadanya, bahwa Ahmad termasuk anak yang baik, mudah untuk bangun dan berangkat menuju ke masjid dan sekolah, serta rajin menjaga kebersihan. Intinya, ia adalah satu dari segelintir santri yang cukup mandiri yang mendiami asrama ini. Mendengar jawaban saya, sang ayah menimpali dengan menceritakan sekilas tentang pola pendidikan yang ia terapkan di rumah. Kemudian, sekonyong-konyong saya dihadapkan pada sebuah gambaran yang sangat aktual berkaitan dengan apa yang di ceritakan ayah Ahmad tentang pendidikan yang ia terapkan untuk anak-anaknya. Saat kami tengah saling bercakap tentang pola pendidikan ayah Ahmad di rumahnya, adik Ahmad paling kecil yang masih berusia dua tahun baru saja menyelesaikan keperluannya di kamar mandi. Seketika sang adik mengenakan celananya lengkap dengan celana dalam dan celana panjangnya seorang diri, tanpa dibantu oleh ibunya. Seketika saya terkagum. Bagi saya, itu menjadi gambaran pola pendidikan macam apa yang diterapkan oleh sang ayah. Maka demi melihat pengalaman itu, saya katakan kepada ayah Ahmad bahwa tidaklah heran saya dengan Ahmad yang memiliki pola hidup  mandiri, karena memang ia mendapatkan pengajaran itu di rumah langsung dari orang tuanya.

Mendengar komentar itu, sang ayah pun menceritakan suatu pengalaman unik saat Ahmad kecil. Suatu ketika, mereka melakukan perjalanan dengan menumpang angkot. Rupanya ada salah satu penumpang angkot yang membuang sampah sembarangan ketika di dalam angkot tersebut. Melihat itu, Ahmad kecil merespon dengan kalimat protes kepada penumpang tadi agar tidak membuang sampah sembarangan.

Berdecak kagum saya mendengar sekaligus mendapati pengalaman tentang kisah sebuah keluarga dalam menanamkan nilai-nilai pada anak-anak mereka. Ternyata memang itulah jawaban tentang misteri karakter dan kepribadian seorang anak yang berbeda-beda. Ada yang baik, rajin, jujur, menghargai orang lain, hemat dan mandiri. Akan tetapi ada juga sebaliknya yang agak kurang baik. Pembohong, kotor, berantakan, malas, dan sebagainya.

Setahun pertama pengalaman menjadi wali asrama di sekolah boarding ini menyuguhkan banyak sekali pelajaran, terutama tentang betapa urgennya pendidikan anak pada masa-masa awal di keluarga. Bahwa masa itu adalah masa emas di mana penanaman nilai-nilai ideal harus secara massif di berikan kepada anak-anak kita. Sebelum ia lebih mengenal dan belajar dari lingkungan yang lebih luas lagi yang ia dapatkan baik dari teman pergaulan, sekolah, apalagi racun berbentuk kotak hitam bergambar yang sering menjadi barang kesayangan banyak keluarga itu. Maka pendidikan awal di keluarga tidak boleh sesaatpun kita nomor duakan, karena di sanalah corak dasar kepribadian dari buah hati kita akan terbentuk. Jika kita lalai dalam memberikan perhatian dan pengajaran pada usia-usia seperti ini, boleh jadi kita akan kehilangan masa depannya yang cerah. 

Zaman yang belum berhenti berputar ini makin hari menyisakan cerita tentang kisah tak sedap seorang anak yang tercerabut dari nilai-nilai ideal yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Semoga kita sebagai orang tua mampu memahami akan pentingnya pendidikan yang kita berikan pada masa usia ini, dan tidak sedetikpun melimpahkan tanggung jawabnya pada orang selain kita. Sebagian dari kita mungkin sedikit skeptis atau bahkan apatis dengan peran pendidikan yang kita terapkan kepada anak-anak kita. Yang kita tahu, saat kita memberikan nafkah yang layak kepada mereka, maka itu sudahlah cukup tanggung jawab yang kita jalankan kepada mereka maupun kepada Allah Azza wa Jalla. Marilah kita bermohon, semoga Allah berikan kita benteng pemahaman yang kokoh terhadap persoalan mendidik anak yang memang tidak mudah ini, dan menunjukkan kita cara-cara yang benar dalam mendidik anak, hingga kelak mereka menjadi generasi yang membawa umat ke ufuk tinggi sebagaimana Islam yang tinggi dan tidak ada yang sanggup menandingi. Amin ya Rabbal ‘Aalamiin. [Abu Usamah UTR, awal Januari 2010]   
∗ Samaran

Sabtu, 19 Mei 2012

PPM dan Pembelajaran Mendulang Makna Kehidupan




            Ahad 13 Mei 2012, ba’da maghrib @ masjid Abdul Malik, seorang thalib berbagi pengalaman tentang apa saja yang Ia dapatkan selama sepekan di desa PPM dimana Ia ditempatkan. Dengan gaya cueknya Ia bercerita tentang berbagai hikmah yang Ia dan teman-teman kelompoknya dapatkan. Di esok paginya, sesuai jadwal jam mengajar, saya masuk di kelas 11 IPS thalibah, walau tidak saya minta secara khusus, di akhir-akhir sesi mengajar, menggebu-gebu para thalibah bergantian menceritakan pengalaman mereka selama PPM di desa masing-masing.
            PPM merupakan singkatan dari Praktik Pengabdian Masyarakat, sebuah program anyar yang digulirkan unit Pembinaan Santri Pesantren Ibnu Salam. Selama sepekan, dengan dibagi menjadi beberapa kelompok, para santri kelas 11 disebar di berbagai desa di sekitar Cinangka hingga Sirih. Sejak Senin hingga Ahad mereka mencoba beraktualisasi di masyarakat, menghasilkan pengalaman berharga yang belum pernah mereka rasakan.
            Walau tidak full mendampingi 24 jam selama 7 hari di Kamasan, saya merasakan betul bahwa para santri selama diterjunkan di desa merasa sangat enjoy dengan peran mereka. Mengajar siswa SD hingga SMP atau yang sederajat, belajar mengaji Qur’an di TPA atau rumah para guru ngaji selepas maghrib, dan kegiatan-kegiatan lain yang penuh manfaat menjadi sensasi yang benar-benar mereka nikmati. Dan saya yakin itu pula yang dirasakan oleh santri-santri yang ditempatkan di desa lain dari program PPM ini.
Tentang kedalaman kesan maupun keberhargaan makna terhadap keberadaan mereka selama mengabdi di wilayah masing-masing menjadi sesuatu yang bagi saya pribadi sangat menggetarkan sekaligus mengharukan. Hal itu dapat saya rasakan saat dalam jenak-jenak membersamai mereka dalam beberapa malam di posko PPM desa Kamasan. Mereka bercerita tentang kegiatan selama seharian bersama para murid madrasah diniyah dan tsanawiyah. Tentang murid-murid diniyah yang lincah dan jenaka. Tentang santri pengajian yang antusias saat dikisahkan sebuah cerita. Tentang plastik besar berisi makanan hasil kiriman kelompok santri pengajian. Tentang tingkah polah mereka yang nge-fans pada kakak santri PPMnya. Bahkan saat suatu pagi saya ikut merasakan menu breakfast asli masakan beberapa santri PPM. Kesemuanya menjadi suatu pengalaman unik dan menggetarkan hati bagi saya secara pribadi. Terlebih saat menghadiri acara perpisahan PPM yang menandai usainya masa pengabdian mereka di desa Kamasan. Bergerombol para murid yang pernah mereka ajar seperti merasa berat berpisah dengan kakak-kakak yang selama sepekan belajar bersama mereka.
Memungut makna. Ya, sepekan keberadaan para santri di berbagai desa pada program PPM ini bagi saya menginspirasikan satu hal tersebut. Dalam waktu yang sangat singkat ini mereka belajar tentang berbagai macam hal dari suatu makna hidup yang sebetulnya telah mereka dapatkan sehari-hari dalam kehidupan mereka, baik secara khusus sebagai santri NF, atau secara umum sebagai insan makhluk ciptaan-Nya. Dalam masa itu mereka belajar tentang nikmatnya bersekolah dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dari adik-adik mereka di desa PPM. Belajar tentang proses mendidik yang ternyata tidak mudah, yang harapannya, karenanya mereka dapat mengambil hikmah untuk tidak bersikap sulit dalam prosesnya untuk dididik, baik oleh gurunya di sekolah, atau oleh orang tua mereka di rumah. Belajar tentang nikmatnya memiliki orang tua yang sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka. Belajar tentang betapa senangnya dihargai, dihormati dan dirindukan oleh murid-murid, yang harapannya pula mereka juga dapat melakukan hal yang sama pada guru-guru mereka di sekolah atau di manapun. Belajar tentang betapa gembiranya saat mengajarkan sesuatu yang sesuatu itu dimengerti dan diikuti oleh para murid mereka. Belajar tentang betapa terenyuhnya saat kita tahu bahwa orang lain begitu merindukan dan mengharapkan kehadiran kita, dan bukan sebaliknya yakni membenci dan tidak menginginkan kita bersama mereka. Belajar, belajar dan belajar, ada begitu banyak pelajaran dalam masa mereka terjun ke masyarakat selama PPM ini.
Terdapat bermacam hikmah yang dapat mereka petik dari kegiatan ini, sebagaimana saratnya makna berharga yang tanpa sadar sebetulnya dapat mereka temukan dalam keseharian hidup mereka selama ini. Semoga masa satu pekan ini menjadi periode waktu mereka meraih percepatan ilmu mengenai kebijaksanaan dalam kehidupan yang karenanya mereka berhak untuk lebih dini meraih mimpi sebagai pribadi pemimpin para orang-orang yang bertakwa. Amiin...Amiin...Ya Rabbal ‘Aalamiin. (abu usamah UTR)

Kamis, 01 Maret 2012

ULASAN FILM THE TRUMAN SHOW


                                                                        UNTUNG TRI RAHMADI
                                                                        F1A002040
TUGAS SOSIOLOGI KOMUNIKASI: ULASAN FILM THE TRUMAN SHOW                 


PENDAHULUAN

            Tidak masuk akal. Kata-kata itu yang kemudian terlintas setelah saya menyaksikan tayangan film layar lebar yang berjudul The Truman Show pada pertemuan kuliah Sosiologi Komunikasi di selasa yang lalu. Film ini memang mewakili zamannya, yaitu era kita sekarang ini yang perkembangan teknologi dan komunikasinya begitu pesat. Seakan-akan, film ini mewakili apa yang saya sebut dengan “kesombongan zaman” yang merasa mampu untuk berbuat segalanya atas dunia dan diri mereka sendiri. Di satu titik pandang, saya mencoba melihatnya dari perspektif kritis. Film yang dibintangi oleh aktor komedian kawakan Jim Carrey itu memang film yang diproduksi di daratan Amerika. Artinya, dalam cara berfikir ini saya coba menerka-nerka bahwa film ini menjadi salah satu media pembawa misi ideologi dari negara tersebut. Entah sebagai etalase kemajuan peradaban yang coba dipamerkan, atau juga mungkin menjadi film simulator atas tingkat kemampuan intelijen Amerika yang dari film ini memperlihatkan kehebatan sekaligus ke-detailan mereka dalam melakukan aktifitas-aktifitas spionase. Namun, satu poin positif yang dapat saya apresiasikan dari film itu adalah keberbedaan isi cerita yang disuguhkan. Artinya, film ini sangat bercorak kreatifitas pemikiran yang mungkin jika kita coba jadikan cermin bagi industri film nasional, maka kita akan sangat malu dibuatnya. Betapa tidak, bahwa film-film nasional yang katanya sekarang telah bergeliat kembali, selalu saja tidak memunculkan nuansa yang baru selain kisah cinta para remaja, ataupun tidak jauh dari film-film yang berbau mistis. Tapi, seperti yang dikatakan oleh para ahli komunikasi, bahwa tayangan media dalam suatu negara adalah representasi dari keadaan masyarakatnya. Artinya, dari pandangan ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masyarakat kita yang tercakup dalam negara yang bernama Indonesia itu kehidupan kesehariannya tidak terlepas dari permasalahan cinta para remajanya, dan pemikiran mistis yang menjadi logika berfikir masyarakatnya. Saya pikir inilah refleksi yang dapat di sarikan dari film tersebut dalam perspektif kebangsaan kita. Suatu pandangan yang agak bernuansa miris-negatif atas kondisi bangsa sendiri. Tapi sesungguhnya tidak dalam misi itu tulisan ini ditulis, melainkan menjadi sebuah ulasan atas film The Truman Show yang kemarin telah kita sama-sama saksikan.
            

SINOPSIS

Film ini mengisahkan tentang seseorang yang bernama depan Truman yang sejak dalam kandungan hingga ia dilahirkan, dan saat tapak demi tapak hari ia menjalani kehidupannya hingga usianya menginjak angka yang ketigapuluh dijadikan aktor utama dari sebuah skenario raksasa industri sinema yang ia sendiri tidak menyadarinya. Bertempat di sebuah pulau yang menjadi latar dari pembuatan film biografi yang live atau disaksikan secara langsung oleh jutaan pemirsa disetiap detiknya, dalam setiap harinya, tanpa rehat iklan ataupun habisnya durasi penayangan. 24 Jam sehari, 60 menit dalam satu jam, dan 60 detik dalam satu menitnya, Truman selalu dalam posisi pengambilan gambar dari kamera-kamera yang ada disetiap tempat dimana tokoh tersebut bertempat tinggal. Bahkan dikatakan jumlah kamera yang dioperasikan sebanyak 5000 unit, dengan pemeran figuran sangat banyak yaitu sejumlah penduduk pulau yang dinamakan Seahaven tersebut. 

            Dari semenjak Truman dilahirkan, hingga ia tumbuh menjadi remaja, ia menikah, bekerja, dan setiap detik ia menghabiskan usianya tidak pernah sejenakpun lepas dari pengawasan kamera. Selama lebih dari tigapuluh tahun ia menjalani skenario sepihak itu tanpa pernah sedikitpun tersadar. Dan, baru kemudian pada usianya yang sudah menginjak angka kepala tiga, ia merasakan kejanggalan-kejanggalan kehidupan yang dijalaninya yang seolah-olah semuanya begitu sempurna. Keanehan-keanehan pula pernah dialaminya yang mengasumsikan akan ketidakberesan kehidupan yang ia jalani. Salah satunya ketika ia menghabiskan masa remajanya, ia saat itu jatuh cinta dengan seorang wanita yang justru dalam skenario itu, wanita tersebut bukanlah aktris yang dipersiapkan untuk menjadi istri dari Truman. Mereka kemudian menjalin hubungan yang terjadi dengan sangat singkat. Sang wanita yang mengetahui bahwa Truman hanyalah seorang aktor tungggal dalam skenario raksasa sebuah jalan cerita industri sinema mencoba memberitahukan hal tersebut. Tapi karena Truman saat itu hanyalah remaja biasa yang masih polos hanya bisa bertanya-tanya gerangan apa yang dimaksud oleh sang wanita tersebut. Pertanyaan tersebut senantiasa ada hingga kemudian ia mejalani kelanjutan kehidupannya dan menikah dengan seorang wanita lain yang memang dipersiapkan untuk menjadi istrinya dalam film kehidupan Truman itu. 

Lalu, semua kejanggalan yang pernah dialaminya itu, antara lain insiden dengan sang wanita masa lalu, kemudian kisahnya dengan sang ayah yang tewas tenggelam ketika bersamanya , lalu kemudian terjadi pula kejadian aneh pertemuannya dengan sang ayah yang misterius, lalu juga perbincangan dengan ibu serta istrinya tentang satu dan beberapa hal lain, kisah mekanisasi pola hidup masyarakat yang ia sadari dan amati, hingga kemudian keinginannya yang membara untuk melakukan migrasi ke Fiji yang selalu saja terbentur dengan keadaan sempurna yang menghalanginya. Semua kejadian itu ia coba untuk memikirkannya satu persatu, dan kemudian ia coba menjadikannya satu rantai peristiwa yang mengasumsikan akan satu hal, yaitu keasingannya dalam kehidupan yang dibangunnya sendiri ditengah-tengah peradaban masyarakat Seaheaven.

Pada titik itu, Truman belum benar-benar sadar bahwa ia hanyalah menjadi satu bagian utama dan satu-satunya dari sebuah skenario cerita dari sang sutradara. Hingga pasca kejadian klimaks upayanya untuk melarikan diri, ia merencanakan secara rahasia keinginannya untuk meloloskan diri untuk kedua kalinya dengan strategi muslihat yang ia bangun. Dan, agaknya kali ini ia berhasil mengelabui sang sutradara film raksasa ini. Ia berhasil melepaskan diri dari setiap tangkapan kamera yang selalu mengintainya, dan akhirnya ia berhasil keluar dari kota menuju pelabuhan tempat dimana ia akan melakukan perjalanan antar pulau dan melarikan diri dari Seaheaven.   

Akhirnya, skenario cerita itu mengalami kekacauan. Sang tokoh utama yaitu Truman mengetahui bahwa ia hanyalah seorang aktor sebuah film panjang tentang kisah hidup dirinya sendiri, yang diperankan oleh dirinya sendiri, dan itu dilakukan di sepanjang hidupnya sendiri, tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Pada bagian akhir digambarkan betapa gigihnya sang sutradara menghalangi Truman agar tidak dapat keluar dari latar Seaheaven. Dengan berbagai efek cuaca seperti yang dilakukan di berbagai pembuatan film layar lebar. Disana terdapat badai, gulungan ombak, dan digambarkan pula permainan perjalanan hari yang dapat dengan mudah dirubah dan digonta-ganti. Betul-betul studio raksasa dan pembuatan sinema yang serba bisa dan membuat saya berpendapat bahwa itu semua mustahil adanya. Sangat tidak masuk akal, tapi merupakan film yang unik sekaligus film yang menarik. Film ini tidak ditayangkan secara keseluruhan karena memang ada “kesalahan tekhnis“. Tapi pada bagian penghujungnya digambarkan Truman dengan kapal yang ditumpanginya terbentur suatu batas dinding yang tak terlihat, dan itu meyakinkannya jika memang ia berada dalam suatu kerangka rekayasa cerita kehidupan yang difilmkan secara nyata. The Truman Show, betul-betul film yang mengandung imajinasi yang luar biasa.    


ULASAN

            Paling tidak, film ini mengkerangkakan kondisi aktual sekarang ini, terutama kaitannya dengan dunia media, teknologi yang menjadi penopangnya, serta kapitalisme yang menjadi penggeraknya. Film tersebut merupakan salah satu tayangan yang unik. Seperti kebanyakan film maupun tayangan acara lainnya yang mengajak emosi dari para penontonnya untuk ikut ambil bagian dalam jalannya cerita, namun keunikannya terletak pada proses pembuatannya yang nyata, langsung pada kehidupan tokoh pemerannya. Mirip seperti reality show yang marak ditayangkan oleh stasiun televisi akhir-akhir ini.

            Tampaknya, film ini juga merupakan semacam film simulasi kapitalisme dalam melancarkan aktifitasnya di dunia media khususnya di lini perfilman. Secara tidak langsung, bagi mereka yang mengerti akan dunia media sebagai industri kapitalisme, film ini seperti ingin bermaksud mengatakan, ”Seperti inilah kami bekerja, membohongi para pemirsanya, mengeruk keuntungan yang luar biasa banyaknya”. Diceritakan pula dalam film tersebut, bahwa pembiayaan produksi serta keuntungan dari pembuatannya didapatkan dari iklan komersil yang senantiasa terselip dalam setiap adegannya. Jadi walupun dalam film tersebut penayangannya nonstop tanpa jeda, namun ia tetap dapat eksis karena memang aliran dananya juga dapat terus mengalir dari iklan-iklan dalam setiap adegan tersebut.

            Satu hal yang paling mengenaskan yang secara tersirat ditunjukkan oleh film tersebut adalah sisi kapitalisme yang tanpa belas kasih mengeksploitasi suatu pihak untuk keberlangsungan kepentingannya. Truman dikisahkan sebagai satu-satunya pihak yang dengan sangat kejam dieksploitasi sedemikian rupa untuk memenuhi gairah kapitalis yang berusaha untuk menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dari acara reality show tersebut. Dan ini juga merepresentasikan akan kisah sebenarnya kehidupan kita sekarang, dimana dunia sepenuhnya sudah berada dalam genggaman kapitalisme dengan senjatanya bernama teknologi, dan dengan pelurunya bernama media. Sedangkan minoritas yang diceritakan dalam film tersebut adalah seorang wanita yang mencintai Truman dan coba memberitahukan akan kejadian sebenarnya dari kehidupan Truman. Namun sayang, posisinya yang lemah sebagai wanita, disamping juga wanita tersebut hanyalah segelintir pihak yang sadar dan berani melawan semua keadaaan yang sangat eksploitatif tersebut.  

            Film tersebut setidaknya pula menggambarkan kita akan hal lain, yaitu tentang kehidupan masyarakat manusia sekarang ini yang tidak lepas dari cengkraman industri media dan teknologi yang selalu mengelilinginya, dengan disadari ataupun tidak, baik sebagai objek, maupun sebagai subjek (pengguna). Tapi di atas itu semua, film tersebut merupakan film yang sangat kreatif -sebagaimana kapitalisme yang juga sangat kreatif- yang banyak meninggalkan pandangan-pandangan kritis akan kehidupan yang kita jalani sekarang ini yang kesemuanya sangat mekanistis, setiapnya bersifat dominatif. Dengan kata lain, setidaknya film tersebut juga punya peran mencerdaskan pemirsanya, setidaknya bagi saya. Dan, pada hakikatnya inilah peran asasi media, yaitu mencerdaskan, bukan justru menjadi media pembodohan, sekali lagi bukan.