Celoteh kali ini masih tentang
menulis. Sebenarnya, menulis itu bukanlah sesuatu yang sulit kita lakukan.
Setiap kita yang pernah bersekolah, pasti bisa menulis. Walau dalam hal ini, menulis
yang dimaksud bukan berarti sekedar menulis huruf demi huruf hingga menjadi
kata, kata demi kata hingga menjelma menjadi kalimat, kalimat demi kalimat
sampai tersusun menjadi sebuah paragraf, dan seterusnya. Akan tetapi, menulis yang
dimaksudkan di sini berarti menuangkan buah pikir dan atau gagasan yang ada di
kepala kita ke dalam bentuk tulisan, entah itu tulisan tangan, atau dalam format
microsof word atau juga program yang
lain di PC masing-masing kita.
Dalam pergaulan sehari-hari
pastinya kita sering berbincang dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih
bagi mereka yang memiliki hobi ngerumpi
yang konon menjadi sifat yang banyak dimiliki dan diminati oleh orang
Indonesia. Lihat saja acara yang menyuguhkan acara-acara rumpian yang tersebar di setiap stasiun televisi yang jumlahnya
puluhan itu. Berderet-deret acara tentang gosip selebriti yang ditayangkan.
Ramainya acara tersebut berarti memang ia digandrungi oleh banyak dari audience dan penikmat televisi di tanah
air.
Jika kita mau berfikir lebih
produktif, keseharian kita yang tak lepas dari aktifitas ngobrol baik yang ngalor ngidul, pepesan kosong, atau
gosip-gosip dan gunjingan yang sering mampir di telinga kita dapat kita arahkan
ke dalam sesuatu aktifitas yang produktif. Jika tujuan kita ngobrol atau bercengkrama dengan
orang-orang disekitar kita hanyalah ingin menyampaikan dan atau bertukar
informasi tentang segala hal, maka pada hakikatnya menulis juga merupakan
aktifitas yang sama persis; yakni kita ingin menyampaikan apa-apa yang ada
di benak kita, yang kita ingin orang lain tahu akan pikiran dan
pemikiran maupun keadaan kita kala itu. Maka sebetulnya setiap kita memiliki
kemampuan menulis, karena menulis adalah “bentuk berbeda” dari cara kita untuk
berkomunikasi dengan orang lain, dan kebanyakan kita orang Indonesia
berkepribadian komunikatif, yakni senang bersosialisasi dan berkelompok dengan
sesamanya. Namun mengapa tradisi menulis tidak cukup menonjol dibanding tradisi
bicara di negeri kita, padahal hakikatnya keduanya merupakan satu aktifitas
yang tujuannya sama?
Menulis dan bicara, sebagai satu
bahasan diskursus ilmu komunikasi mungkin keduanya memiliki hakikat dan tujuan
yang sama, hanya saja berbeda pada sisi interaksi yang terjalin dalam momen
tersebut. Bicara, sebagaimana kita sering memulai atau merespon suatu
pembicaraan, merupakan aktifitas timbal-balik yang secara langsung terjadi bagi
dua orang yang berkomunikasi (real time), baik dengan perantaraan seperti
telepon, atau dilaksanakan dengan langsung bertatap muka. Sedangkan menulis,
harus diakui tidak semudah bicara, karena ia merupakan aktifitas yang
membutuhkan daya curah pikiran yang ekstra, maupun pekerjaan yang membutuhkan
lebih banyak indera dari tubuh kita.
Bicara, memang teranggap lebih
ringan dibanding menulis. Keseharian kita tidak terlepas dari aktifitas bicara,
karena berbicara menjadi media komunikasi paling mudah, sederhana, sekaligus paling
minim peluang missunderstandingnya
dibanding sarana komunikasi yang lain. Berbicara kepada orang lain, atau bahkan
berbicara kepada diri sendiri untuk tujuan positif berkerangka ilmu psikologis yang
mungkin terkadang dilakukan sebagian dari kita, merupakan salah satu modal
untuk bisa menulis. Artinya, jika dalam keseharian kita pasti bertemu orang
lain dan dipastikan pula mengadakan proses komunikasi dengan mereka, maka semua
pembicaraan itu bisa menjadi bahan yang paling mendasar dari modal kita untuk
menulis. Bagaimana tidak, jika setiap interaksi kita dengan orang lain
berisikan proses untuk saling menyampaikan pesan dan pesan itu hidup menjadi
suatu objek dinamis dalam otak kita, maka saling berlempar pesan itu bisa
beralih menjadi suatu pengembangan perasaan dan pemikiran tertentu dari apa
yang sedari awal kita bicarakan. Hal ini bisa dicontohkan seperti curhat
seseorang pada buku diary yang ia
miliki. Kebiasaan menuliskan sesuatu pemikiran, perasaan, dan pengalaman di
sebuah buku diary sesungguhnya
merupakan aktifitas positif yang patut dilestarikan sebagaimana anjuran dan
pengalaman para penulis ulung yang tidak jarang memulai aktifitas
kepenulisannya melalui menulis di sebuah buku diary. Jika coba kita telisik lebih dalam, kebanyakan isi dari
curhatan kita di buku diary merupakan tumpahan perasaan yang menjadi pengalaman
kita dalam berinteraksi dengan orang lain. Maka biasanya ia tidaklah jauh dari
perasaan sebal kita pada suatu perbuatan atau bahkan pada orang lain. Ia juga
bisa berisi perasaan berbunga kita atas suatu raihan target pencapaian diri,
hingga momen-momen tertentu yang membawa nuansa merah jambu dalam hati kita. Aktifitas
menulis di buku diary ini pada sebagian orang hanya terhenti pada sharing perasaan kepada sahabat yang
paling kita percayai. Dan untuk yang terakhir inilah terkadang tradisi menulis
menjadi tenggelam bahkan hilang dan tergantikan oleh tradisi bicara yang
semakin mengemuka.
Menulis dan bicara, sejatinya ia
merupakan dua hal yang serupa tapi tak sama. Serupa karena hakikatnya ia
merupakan aktifitas komunikasi kita kepada diri kita sendiri atau kepda orang
lain. Tak sama karena dalam aktifitas menulis membutuhkan curahan pikiran dan
pemberdayaan indera yang lain yang dalam prosesnya membutuhkan waktu yang
lebih. Namun dari semua itu, tulisan ini sebetulnya ingin menegaskan sekaligus
memotifasi, bahwa ketika kita mampu membaca dan menulis, kemudian kita juga
sehari-hari berkomunikasi dengan orang lain, maka sejatinya kita juga bisa
menulis dan menghasilkan karya. Alihkan setiap segala uneg-uneg, pemikiran,
perasaan, hikmah, dan apapun yang terlintas di benak kita ke dalam sebuah
tulisan sebagaimana kita juga menceritakannya pada orang lain. Maka dengan
begitu, tradisi bicara yang menguasai mayoritas dalam porsi komunikasi kita
sehari-hari dengan orang lain dapat sedikit demi sedikit bergeser menjadi
tradisi menulis yang dengannya juga kita terpacu untuk mendayagunakan potensi
otak kita menjadi lebih berbobot, yakni tidak sekedar bicara yang terlalu mudah
untuk dilakukan, namun juga berfikir sebelum berbicara, yang itu terasah dalam
aktifitas kita dalam menulis. (Bekasi, 18-10-2012; 06.51 WIB)