Total Tayangan Halaman

TIME

Kamis, 16 Februari 2012

Catatan Harian Republik Zubair 3: Yuk Gelorakan pagi......


Salah satu yang sering dikoar-koar oleh wali asrama (dan wakilnya) adalah tentang habits  atawa kebiasaan yang positif yaitu menyibukkan diri di waktu pagi. It means, waktu pagi terutama setelah sholat shubuh sering digunakan oleh banyak santri untuk kembali melanjutkan aktivitas malamnya alias tidur, padahal pagi dan malam kan beda, sebagaimana malam yang nggak sama dengan pagi (koq dibolak-balik ya?!#@!). Waktu malam adalah waktu yang amat sangat paling tepat untuk merapatkan mripat (baca: mata, –bahasa djawa-), sedangkan waktu pagi adalah waktu yang paling sangat amat pantas untuk beraktifitas, hingga semua pekerjaan tuntas, tas...tas...

            Bicara pekerjaan, kan banyak sekali tuh yang bisa kita bereskan, contoh untuk skala kamar tidur, kita bisa merapikan tempat tidur beserta spreinya, bantal beserta gulingnya, buku-buku beserta meja belajarnya, lantai beserta segala kekotoran dan kekacauan kondisinya, ininya beserta itunya, itunya beserta ininya, puokoknya buanyak deh yang bisa dikerjakan. Eh itu baru skala kamar tidur lho, belum bicara koridor, RSG, halaman asrama,de el el. Jadi, ngeliat setumpuk pekerjaan (baca:tanggungjawab) kaya gitcu, kayaknya back to sleep in the morning bukan pilihan tepat dech. Kalo alasan itu semua belum cukup, terakhir nih ustadz tunjukkin doa Rosululloh yang hanya dimengerti oleh mereka yang menggelorakan pagi dengan aktivitas, ingat!!! hanya mereka yang mengerti akan keutamaan waktu pagi, bukan yang habis shubuh diterusin tidur lagi. Rasululloh pernah berdoa; “Ya Alloh, berkahilah umatku di waktu pagi(HR. Abu Daud). (Pagi yang hebat di Zubair,25 Juli ’09)
               

Catatan Harian Republik Zubair 4: 20:20 dan 3:30......


            Bukan!! maksud tulisan judul di atas bukan menunjuk pada jam delapan malam lewat dua puluh, dan atau jam stengah empat dini hari, melainkan menyimbolkan sebuah hukuman atas pelanggaran tertentu terhadap peraturan yang berlaku di Republik Zubair. Angka-angka ini akhir-akhir ini muncul ke permukaan hingga menjadi semacam “momok” bagi mereka yang dikenakan peraturan ini.

            20:20, ia berdefinisi hukuman 2o ribu plus push up 20x ketika penghuni melanggar ketentuan piket asrama yang dibebankan kepada setiap pemilik kamar, dari kamar 1 hingga 8. 3:30 berdefinisi hukuman 3x istighfar dan 30x push up ketika ada “Zubair mania” yang melanggar ketentuan tentang berkata-kata. Belum lagi tentang sholat 5 waktu yang diharuskan ke masjid, yang salah satu waktu saja tidak dijalankan, maka dijamin 30x push up sudah menunggu untuk dikerjakan. Nah kalo 5 waktu mangkir, jumlah push up-nya berapa? Mesti baru ngitung aja udah cape’, pegimana push up-nya? Dijamin Gempor tu tangan...

            Sebetulnya, apa sih tujuan diberlakukannya hukuman itu? Kalo kita mau jujur (sebagaimana sering dikatakan oleh tim DT di masjid), terutama jika dilihat dari sudut pandang perubahan dan peningkatan diri kita menuju diri yang lebih baik, beberapa aturan itu bernilai sangat positif. Tidak lain adalah agar kita terbiasa untuk melakukan sesuatu yang baik. Sebagaimana yang pernah disampaikan tentang visi Zubair oleh wali asrama, yaitu bahwa ketika lulus nanti, diharapkan bahwa calon alumni Zubair 2009-2010 adalah menjadi orang-orang  yang pribadinya teratur, disiplin dan bertanggungjawab. Nah, jika kita menylogankan waj’alna lil muttaqiina imaama, maka kayaknya 3 sifat tadi adalah bagian dari kriterianya deh. Gmn,setuju ato tidak? (Dhuha, 6 Ajustus wua yibu cembilan)  
           

Senin, 13 Februari 2012

MENJADI GURU PROFESIONAL DAN ISLAMI


Investasi terbaik yang dilakukan sebuah bangsa terhadap masa depannya adalah pada bidang pendidikan, salah satunya pada program penyiapan sumber daya guru yang berkualitas. Hal itu karena guru menjadi ujung tombak suatu proses pendidikan. Guru yang berkualitas merupakan guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi. Berikut adalah pointer gagasan mengenai guru yang profesional, islami dan berdaya saing tinggi yang kami uraikan berdasar asumsi dasar bahwa keberhasilan suatu peran bertolak dari jelas dan gamblangnya gambaran pemahaman atau mindset kita terhadap peran tersebut.

A. MEMAHAMI HAKIKAT TUGAS  KEGURUAN
1.       Guru: pekerjaan panggilan jiwa
Suatu pekerjaan berat akan terasa ringan jika dilakukan dengan segenap rasa cinta. Tugas mendidik generasi merupakan tanggung jawab agung yang diemban oleh seorang guru. Nasib sebuah bangsa maupun umat ada di pundak guru. Maka pekerjaan agung ini harus merupakan gerak lahir yang muncul dari dasar jiwa terdalam seseorang.
2.       Tugas utama seorang guru: Belajar!
Profesi guru, semua orang pasti sangat mafhum bahwa pekerjaan utamanya adalah mendidik dan mengajar. Namun seorang guru profesional adalah guru yang sangat memahami bahwa tugas mengajar tidak bisa dilakukan dengan efektif dan maksimal hasilnya kecuali sang guru tersebut yang senantiasa belajar. Maka seorang guru profesional dan Islami adalah seorang guru pembelajar.
3.       Guru: sosok berkarakter
Akhir-akhir ini banyak digembar-gemborkan tentang urgensi pendidikan karakter. Pengkajian maupun seminar-seminar diadakan dimana-mana, namun tentang bagaimana pendidikan berkarakter, semakin banyak dikaji semakin bias maksudnya. Bagi kami, pendidikan karakter bagi peserta didik takkan bisa di rasakan efektif hasilnya tanpa terlebih dahulu mencetak guru-guru yang berkarakter. Dan satu elemen yang mesti ada dalam karakter seorang guru adalah passion yang ia miliki dalam menerapkan nilai-nilai ideal seperti kedisiplinan, kesungguhan, kejujuran, kedermawanan dan akhlak luhur lainnya bagi diri dan peserta didiknya, maka dengan begitu, seorang guru akan memiliki karakter yang kuat yang akan memunculkan pengaruh pada peserta didiknya.
4.       Guru: pekerjaan syurga
Pada hakikatnya, pekerjaan seorang guru adalah mewariskan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu agama yang ia miliki untuk ia dakwahkan, juga ilmu dari bidang studi yang ia ajarkan. Dalam banyak hadits dikabarkan begitu banyak keutamaan yang didapatkan seorang guru, terutama guru yang berjiwa ustadz, atau guru yang bukan hanya mengajarkan ilmu dari bidang studi yang diampunya, tapi juga menghubungkannya dengan fungsi penghambaan pada Rabbnya.

B. GURU DAN AMBISI MEMPERBAHARUI DIRI
                Pekerjaan sebagai seorang guru mengharuskan seseorang untuk terus memperbaharui dirinya. Bagaimana tidak, jika zaman terus berubah, ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan tentu saja usia seorang guru senantiasa bertambah, jika diantara semua hal yang berubah tersebut tidak dibarengi dengan wawasan, ilmu, maupun kompetensi yang juga tidak berubah, maka suatu keniscayaan kita akan menjadi guru yang terlindas zaman. Menjadi guru yang miskin nilai karena tak ada sesuatupun yang baru, yang berubah, yang akan didapatkan oleh murid-muridnya. Maka seorang guru yang profesional dan Islami merupakan seorang guru yang memiliki hasrat yang tinggi untuk senantiasa memperbaharui diri, tak kenal usianya sudah udzur dimakan waktu, terlebih para guru yang masih muda, semuanya berkewajiban untuk senantiasa meng-up grade ilmu dan kompetensinya, paling minimal ia harus selalu meningkatkan kemampuan wajib seorang guru, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, serta kompetensi sosial. Wallahu a’lam bish shawwab.(Abu Usamah UTR)

Senin, 30 Januari 2012

The Power of Attitude





           The power of attitude, buku ini menarik perhatianku pada Indonesian Book Fair Desember 2011 lalu. Selain harganya yang murah (sebagai sebuah buku yang full colour dan HC) yang cuma 20 rebu perak, buku ini memiliki judul dan topik yang begitu menggugahku untuk membeli dan melahap habis isinya. “Sikap adalah satu hal kecil yang membuat sebuah perbedaan besar”, ini kalimat yang banyak didengung-dengungkan oleh sang penulis; Mac Anderson.

Didalamnya Ia banyak menulis tentang kisah dan perspektif tentang sikap-sikap yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Jika di buka lembar demi lembarnya, Anderson banyak menceritakan tentang ide dan tips untuk mengembangkan sikap positif. Tentang definisi sikap itu sendiri Ia tidak menuliskannya secara gamblang. Akan tetapi Anderson lebih sering mengupas tentang program-program pikiran maupun habbits apa yang mesti kita kembangkan untuk mendapatkan sikap yang positif itu.

          Dalam perjalanan membuka setiap halamannya, disamping kita akan menemukan gaya bercerita Anderson dalam menyampaikan nilai tentang sebuah sikap yang positif, kita akan menemukan setiap pergantian judul yang selalu diawali oleh kata mutiara maupun kalimat motivasi dengan tema besar macam hasrat, impian, lakukan sekarang juga, sukses, keteguhan hati, memaafkan, perdamaian, dan sebagainya. Lewat buku ini , Anderson ingin menyampaikan bahwa sikap –yang tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari-, merupakan sebuah tool yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Sebagai seorang pengusaha sekaligus penulis buku dan trainer, Mac Anderson telah mewariskan ide-ide yang cukup berharga dalam kaitannya dengan perpektif kesuksesan dan kebahagiaan yang katanya berpangkal pada sikap. 

           Sikap bagiku tidak lebih dari bagian terkecil dari kepribadian, atau kepribadian pada akhirnya merupakan rangkaian sikap yang kita tunjukkan dan dilihat serta dinilai oleh orang lain yang mengetahui, mengenal, dan berinteraksi dengan kita sehari-hari. Tentang kedudukannya yang begitu penting dalam konteks dakwah, bagiku sikap akan menjadi kunci pembuka pintu hati dari para mad’u kita. Bahkan mereka mengenal kita dari sikap yang kita tebarkan dalam keseharian mereka berinteraksi dengan kita. Dan kalaupun kita coba mengevaluasi manakala dakwah kita yang telah berbilang masa namun belumlah kita petik buahnya, maka mungkin yang menjadi awal bahan evaluas kita adalah mengenai sikap kita yang ditangkap oleh mereka. ‘Alaa kulli haal, tertarik untuk membacanya, silahkan cari pada stand penerbit Ufuk pada bookfair-bookfair berikutnya (tapi hati-hati pada penerbit ini, karena ‘manhaj’nya agak kurang bersahabat pada kelompok aktivis pengajian, bisa dilihat dari judul, tema dan isi dari buku-buku yang diterbitkan).Wallahu a’lam bish shawwab

Selasa, 09 Agustus 2011

ISTRI DAN BUAH HATI, ANUGERAH SEKALIGUS AMANAH YANG HARUS DI JAGA





                Teringat masa saat masih kuliah dahulu. Dalam gegap gempita aktifitas seorang mahasiswa yang memiliki segudang obsesi terhadap proyek perbaikan umat. Menyeruak sebongkah gelisah dari goa kesendirianku saat itu. Ya, betapa hati ini saat itu menginginkan seorang pendamping hidup untuk mengisi kesepian itu. Hingga saatnya tiba takdir yang tiada pernah berdusta, seorang perempuan yang dengan segenap kerendahan hatinya mau menerimaku menjadi suaminya. Kini, 2 tahun lebih telah berlalu sejak masa itu. Telah menghiasi dan membahagiakan hariku seorang istri dan seorang mujahid kecilku. Usamah, sudah setahun lewat delapan bulan kini usianya. Suami sekaligus ayah, betapa dua status itu menjadi medan tempurku untuk mengimplementasikan satu ayat yang selalu ku ingat; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim:6)

                Memiliki keluarga seperti memiliki suatu harta yang tak ternilai harganya. Seorang istri yang menentramkan hati, dilengkapi dengan seorang anak yang lucu dan membahagiakan jiwa, bagiku semua itu merupakan anugerah yang paling berharga yang kupunya. Suatu karunia yang Allah tetapkan pada makhluk-Nya, sebagaimana Ia memfirmankannya atas utusan-Nya Ibrahim ‘alaihi salam; “Dan Kami telah memberikan kepada-nya lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh”.(QS. Al-Anbiya:72).  Ya, memiliki buah hati adalah suatu anugerah tersendiri bagi seorang muslim, karena ia adalah nikmat yang tidak setiap orang maupun keluarga mendapatkannya. Maka sudah selayaknya seorang muslim yang telah berkeluarga dan memiliki buah hati untuk senantiasa mensyukuri nikmat agung ini. Suatu bagian dari untaian nikmat yang tak terhitung Allah berikan pada kita, yang karenanya ayat agung ini sangat hebat terasa; “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. Ar-Rahman, Allah sebutkan ayat ini lebih dari 30 kali)

Memiliki buah hati, disamping ia merupakan anugerah dan nikmat yang agung, ia juga merupakan amanah yang Allah titipkan pada kita. Selayaknya amanah, maka ia harus dijaga dan dipelihara dalam rangka misi untuk apa ia sesungguhnya diciptakan. Kalau dalam sebuah ayat Allah nyatakan misi kita hidup didunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka misi seorang anak yang Allah titipkan pada kita adalah untuk menjaga dan memelihara fitrah kehambaannya untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya semata. Itu adalah tugas dan amanah teragung yang Allah amanahkan pada kita berkaitan dengan anak-anak kita. Tugas yang dalam ayat sebelumnya dinyatakan pada Ibrahim alaihi salam, yakni untuk kita upayakan agar Allah menjadikan mereka orang-orang yang saleh sebagaimana Ibrahim senantiasa berusaha dan berdoa hingga Allah jadikan Ishak dan Ya’qub orang-orang saleh penerus risalah suci ayah mereka. Suatu tugas yang tidak ringan yang Allah bebankan pada setiap kita selaku kepala keluarga. Sesuatu yang karenanya pula disamping Allah sebutkan sebagai anugerah, Ia juga menyebutnya sebagai fitnah; Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar(QS.at-Taghabun:15).

Al-Qur’an dalam redaksi 30 juznya adalah firman Allah yang tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Berpegang teguh padanya adalah kunci kesuksesan hidup kita dalam apapun episodenya, termasuk dalam episode besar dalam hidup yakni berrumah tangga. Dalam realita hidup yang ada dihadapan kita saat ini, terhampar pemandangan yang tak sedap dipandang terkait fenomena rumah tangga. Ketidakharmonisan hubungan antara suami dan istri menjadi rahasia umum yang terjadi di banyak kehidupan rumah tangga, tidak sedikit pula yang mengakibatkan keretakan yang berujung pada perceraian. Jika kondisi umum rumah tangga yang terjadi adalah fenomena-fenomena semacam ini, maka apalagi yang bisa diharapkan dari bangunan sosial masyarakat manakala keluarga-keluarga yang ada sebagai satuan terkecilnya dilanda keguncangan. Inilah yang menjadi faktor utama generasi muda kita saat ini yang penuh dengan problematika. Semuanya bermula dari keluarga. Kebaikan akhlak seorang anak datang dari kebaikan pengajaran dari keluarganya. Demikan juga keburukannya, adalah efek yang datang dari keadaan dalam keluarga. Maka al-Qur’an memberikan rumus yang jelas dan tegas tentang kehidupan berkeluarga ini. Pedoman umum hingga khusus, semuanya di atur dalam kitab suci al-Qur’an dan dalam hadits rasul-Nya yang mulia.

Al-qur’an memberikan pandangan yang jelas sejelas matahari yang bersinar di tengah hari terhadap praktik berrumah tangga. Dari mulai tujuan dalam pernikahan, cara, kriteria pasangan yang ingin dinikahi, gambaran rumah tangga ideal, maupun segi-segi lain dalam hubungan pernikahan, segalanya diberikan rumusan detailnya, semacam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tekhnis dalam suatu tata aturan organisasi atau buku petunjuk manual pengoperasian alat tekhnologi tertentu. Kita tinggal menjalankannya berdasarkan apa yang tercantum didalamnya, semudah itu. Namun kemudahan itu tidak difahami oleh sebagian besar umat manusia yang hidup terutama dizaman ini. Mereka menjalani setiap episode hidup mereka dengan tanpa pedoman dan panduan, dan menjalankan episode kehidupan itu berdasar naluri semata. Dalam konteks pernikahan, banyak diantara pasangan suami istri tidak memiliki konsep yang benar dalam pernikahan mereka. Banyak diantara mereka yang hanya memahami bahwa pernikahan hanya sekedar tugas perkembangan yang harus dilalui tanpa bekal hakikat ilmunya. Padahal sudah menjadi suatu kebenaran umum bahwa untuk melakukan sesuatu harus diketahui dulu akan sesuatu yang akan dilakukan itu. Bukan hanya untuk diketahui secara sepintas, tapi mendalami sedalam hakikat yang bisa kita gali dari sesuatu itu. Dan hakikat terdalam dari sesuatu yang ada di dunia ini adalah tentang bagaimana agama mengatur tentangnya. Karena hanya agama yang mampu menjawab dan menjelaskan segala pertanyaan yang ada dalam benak umat manusia dengan tujuan akhir kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia itu sendiri.

Maka al-Qur’an adalah pula kitab tentang pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya dijelaskan rahasia-rahasia kebahagiaannya. Padanya didapatkan rumus-rumus penyelesaian dari persoalan yang muncul, apapun itu. Jika kehidupan adalah kumpulan soal dalam ujian, maka al-Qur’an adalah kunci jawabannya. Jika kita memilikinya, sudah pasti kehidupan yang kita jalani akan dinilai sempurna, oleh Allah Azza wa Jalla Rabb yang Maha Benar dalam penilaiannya. 

USAMAH, TEMAN BERMAINNYA, DAN HIKMAH TENTANG PENDIDIKAN ANAK




Usamah, itu nama anakku. Usianya saat ini sudah lebih dari satu setengah tahun, satu tahun delapan bulan tepatnya. Kata orang, masa usia anakku adalah masa yang mereka sebut “sedang lucu-lucunya”, “dan akan semakin lucu”, itu kata temanku yang anaknya sudah lebih besar.

Usamah. Polah tingkahnya lucu dan menggemaskan. Ada jenak dimana kami tergelak, atau takjub, atau sesuatu yang membuat kami senang juga bangga sebagai orang tua yang mendidiknya. Salah satunya momen yang ingin kuceritakan kali ini.

Beberapa pekan terakhir Usamah sedang menikmati kemampuan barunya yakni memasang puzzle huruf maupun kendaraan. Ia sudah lumayan lihai dalam memasang bentuk-bentuk huruf maupun kendaraan yang sebelumnya kami cerai beraikan. Suatu kali, sebagaimana biasanya, beberapa anak tetangga ada yang bermain di rumah kami. Salah satunya adalah seorang anak perempuan yang kami pernah dengar dari orang tuanya bahwa usianya sudah menginjak dua setengah tahun. Anak ini meminta untuk diambilkan permainan puzzle milik Usamah. Setelah di ambilkan dan ditebar di hadapannya, ia mulai beraksi untuk memasang kembali puzzle yang telah kami bongkar. Beberapa lama kami perhatikan, ia kesulitan untuk memasangnya kembali. Kelihatannya ia memang belum paham cara bermain puzzle, sehingga yang ia lakukan adalah mencoba memasangnya secara asal-asalan tanpa memperhatikan pola dan bentuk dari pecahan-pecahan puzzle tersebut. Melihat fenomena itu membuat kami berfikir, bahwa kemampuan untuk memasang kembali puzzle, kami kira bukan berfaktor pada kecerdasan ansich. Kami betul-betul mencoba menafikan bahwa anak kami lebih cerdas dari teman bermainnya tersebut, walau usia di antara mereka cukup berjarak. Akan tetapi kami menyimpulkan bahwa kemampuan Usamah untuk memasang kembali puzzle yang terserak adalah karena pengajaran dan pembiasaan dari lingkungan sosialnya, dalam hal ini adalah kami selaku orang tuanya. Lagi-lagi dari pengalaman ini kami menyimpulkan, bahwa kalaulah kemampuan merangkai puzzle ini disandingkan dengan dimensi kecerdasan, kami kira kecerdasan itu sendiri adalah produk dari latihan. Itu artinya bahwa kemampuan merangkai puzzle adalah hasil dari pembelajaran, dan kemajuan hasil dalam pembelajaran kami kira tidak berhubungan langsung dengan fase usia. Artinya, semua kemampuan dan pengetahuan yang dapat dimiliki seseorang dalam hidupnya adalah hasil dari pembelajaran yang ia lakukan, kapanpun ia memulai mempelajari itu. Jika sang anak perempuan tadi dalam usianya yang dua setengah tahun diajarkan permainan memasang puzzle, lambat laun ia akan bisa merangkainya setelah beberapa waktu masa belajarnya. Jika Usamah dapat memasang kembali puzzle yang tercerai saat usianya satu tahun delapan bulan, kami kira itu berfaktor dari pengajaran dan pembiasaan yang kami terapkan padanya beberapa masa sebelumnya.

Merenungkan fenomena itu membuat kami kembali tercenung, hingga kemudian kami teringat pada nama-nama besar dalam sejarah macam al-Imam asy-Syafi’i. Tujuh tahun hafal al-Qur’an dan sembilan tahun hafal ribuan hadits dalam al-Muwatha’ Imam Malik. Di usianya yang ke tigabelas tahun bahkan disebutkan bahwa al-Imam Asy-Syafi’i sudah menjadi seorang mufti alias ahli fatwa. Subhaanallah, tidak heran jika kemudian beliau menjadi salah satu imam madzhab yang pengikutnya begitu banyak, konon termasuk mayoritas kaum muslimin di negeri kita.

Fenomena kemampuan  merangkai puzzle di usia 1,8 tahun ataupun kemampuan menghafal al-Qur’an di usia tujuh tahun, lagi-lagi memaksa kami untuk terus berfikir hingga kami menemukan potongan-potongan puzzle rahasia kehidupan. Bahwa capaian-capaian prestasi yang diperoleh oleh manusia adalah hasil dari proses belajar dan berlatih yang ia lakukan sebelumnya. Dan semakin dini belajar, semakin cepat ia akan cakap dalam bidang apa yang ia pelajari. Bukan hanya imam Syafi’i –yang notabene hidup di zaman lampau- yang dapat meraih kemampuan yang luar biasa dalam bidang agama, di zaman ini pun kita mengenal Muhammad Hussein Thaba’ Thaba’i, sosok yang usia lima tahunnya sudah mampu menghafal bukan hanya redaksi tigapuluh juz dari al-Qur’an, tapi juga kata demi katanya, ada di halaman berapa dalam mushaf, berada di juz berapa, juga tafsir dan maknanya. Bahkan hafidz cilik ini juga mengimplementasikan ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupannya sehari-hari, berbicara dengannya, dan menasehati orang lain persis dengan ayat-ayat yang terdapat dalam enamribuah lebih jumlah seluruhnya. Kehebatan anak itu dijelaskan oleh kemampuan kedua orang tuanya yang memang hafidz Qur’an maupun pengajaran dan pembiasaan mereka berdua terhadap anak-anaknya.  Hal ini juga yang terjadi pada diri asy-Syafi’i. Ia dilahirkan dari rahim seorang Ibu sekaligus pendidik yang hebat, serta ber-ayahkan seorang ksatria yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sungguh, anak hebat hampir selalu dapat dijelaskan oleh keadaan orang tuanya yang juga hebat.

Jika kita meluaskan cakrawala ilmu pada macam-macam disiplin yang ada, dan kita arahkan anak-anak kita pada salah satu atau lebih darinya, lalu kita ajarkan, kita biasakan, kita latih mereka dengan mengerahkan segala kemampuan kita dari segi tenaga, waktu, harta, pikiran, kami yakin anak-anak kita itu akan melesat meninggalkan busurnya menuju sasaran kemana ia akan kita targetkan. Bila kita menginginkan anak-anak kita menjadi hebat di bidang apapun yang kita inginkan, maka berpikirlah keras untuk menuju ke arahnya. Dan lagi, usahakanlah sejak dini untuk mengajarkannya dengan pengajaran-pengajaran yang maksimal dan penuh hikmah. Biasakanlah ia, latihlah ia, menjadi apapun ia sebagaimana potensi serta arahan kita. Manfaatkan usia-usia emasnya untuk ditransfer pengetahuan dan kemampuan tertentu, karena pengajaran dan pembiasaan pada masa-masa ini menorehkan kesan yang mendalam pada pribadi seorang anak. Dan jangan sekali-kali menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anak di masa ini kepada orang lain, apalagi kepada pembantu maupun babysitter. Jangankan kepada mereka, kepada seseorang dari keluarga kita yang lain juga mengundang resiko yang tidak sedikit. Itu karena pengaruh orang-orang terdekat sangat besar kepada anak-anak pada usia emas yakni fase balita. Dan jika kita memiliki keinginan spesifik akan seperti apa anak kita, maka untuk mencapainya harus dilakukan strategi-strategi tertentu yang kita sepakati dengan pasangan hidup kita. Dan jika dalam kehidupan pendidikan anak-anak kita masuk orang-orang baru, dipastikan orientasi dan strateginya juga berbeda, hatta mungkin ia adalah orang tua kita atau kakek dan nenek dari anak-anak kita. Tentu saja dapat dipastikan pemikiran kita dan orang tua kita berbeda dalam hal pendidikan anak. Dalam arah, dalam strategi, dalam cara, dalam media, dan seterusnya.

Berbicara tentang pendidikan anak adalah berbicara mengenai hal paling penting dalam keluarga, yakni akan kita bentuk seperti apa anak-anak kita kelak. Karena berawal dari keinginan kita sebagai orang tuanya, maka semua pemikiran turunan dari hal itu juga hak prerogratif kita, dan hanya kita yang mengetahui detailnya. Termasuk pembelajaran, latihan maupun pembiasaan tertentu yang kita tanamkan pada anak-anak kita yang sebaiknya kita lakukan sedini mungkin. Jadi, seperti isi slogan iklan terkenal yang sering kita dengar; “Buat anak koq coba-coba..”, kiranya kita sebagai orang tua juga harus menggunakan dan menerapkannya dalam mendidik anak-anak kita, dengan hanya satu hal yang kita maksudkan, bahwa pendidikan anak-anak kita adalah yang paling penting dalam perjalanan kita merenda surga dalam rumah tangga. (Perpust thalib, 10 Agustus 2011; 9.30 WIB)          


24 JAM PERTAMA DI PARE


24 JAM PERTAMA DI PARE


                Terik panas siang hari menyambut kami hari itu. Nganjuk, sebuah daerah di Timur Jawa yang menjadi perhentian sementara sebelum menuju Pare. Tidak sampai menunggu, sejak  turun dari Rosalia yang mengantarkan kami, telah menunggu seorang bapak yang menjemput kami dengan van hijaunya dan akan mengantarkan kami menuju Pare yang jaraknya sekitar 60 km. Setelah mampir ke stasiun Kertosono untuk mengetahui jadwal kereta api, lalu kami menghentikan sejenak kendaraan demi memenuhi hak tubuh untuk menerima asupan makanan. Kala itu, warung bakso merk Barokah menjadi santapan pertama kami di kota ini.
Sekitar pukul 14 kami tiba di rumah singgah kami selama belajar di Pare. InsyaAllah, dirumah ini kami akan menghabiskan masa selama 20 hari demi mempelajari bahasa Inggris. Tempat kami belajar nanti letaknya tidak jauh dari rumah singgah, mungkin sekitar 50 meter dengan berjalan kaki.   Pare, sebagaimana yang sering kami dengar, merupakan suatu perkampungan yang banyak berdiri lembaga kursus bahasa Inggris. Dari penghitungan manual sebuah peta wilayah yang kami lihat, terdapat sekitar 50-an tempat kursus di desa ini. Tidak seluruhnya merupakan lembaga kursus bahasa Inggris, sekitar 3-4 di antaranya merupakan tempat kursus bahasa Arab, dan ada juga 1-2 lainnya merupakan tempat kursus bahasa Jepang.
Mungkin tidak sebagaimana yang dengan hebohnya kami dengar, bahwa Pare adalah sebuah desa atau lebih tepatnya kampung bahasa yang konon para penduduk hingga pedagang-pedagangnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Entah itu cerita yang berlebihan (atau melebih-lebihkan), atau memang penangkapan kesan hingga ekspektasi  kami maupun orang-orang yang belum pernah kesana yang membayangkan bahwa Pare is English village. Apa yang kami dapati selama dua hari menginjakkan kaki di desa ini tidak menunjukkan fakta itu. Penduduk maupun pedagang yang mangkal maupun berseliweran disepanjang jalan desa ini masih berbahasa sesuai dengan bahasa ibu mereka yakni bahasa Jawa. Adapun keunikkan desa ini memang pada banyaknya tempat kursus bahasa yang bertebaran di setiap sudutnya, dan karena itulah mungkin desa ini dikenal sebagai kampung bahasa, namun bukan warga desanya yang menggunakan bahasa asing (Inggris) sebagai bahasa sehari-hari. Kalau disebut tempat ini adalah tempat yang kondusif untuk mendalami bahasa inggris, itu karena banyaknya lembaga kursus bahasa, sehingga menyedot banyak perhatian dari masyarakat bukan hanya Jawa, tapi juga seluruh Indonesia untuk datang ke tempat ini dan belajar bahasa Inggris secara intensif selama kurun waktu tertentu.
Yang menarik bagi kami pribadi dari desa ini adalah sejarah yang membentuk Pare menjadi desa yang memiliki banyak lembaga kursus seperti sekarang ini. Sewaktu dalam perjalanan dari Nganjuk menuju Pare, bapak penjemput kami bercerita bahwa Pare mulai menjadi desa yang memiliki keistimewaan dengan lembaga kursusnya di awali dari sekitar tahun 77 yang mulai tumbuh dan berdiri beberapa tempat kursus. Lalu tahun demi tahun berganti, tempat kursus itu semakin banyak, yang gaungnya semakin bergema pada sekitar tahun 90-an. Saat itu Pare menjadi suatu wilayah yang dikenal sebagai kampung bahasa, sehingga berdatanganlah para pelajar yang memanfaatkan waktu liburan sekolah maupun kuliahnya untuk belajar bahasa Inggris di sini. Awalnya mungkin hanya pelajar disekitar Jawa yang berbondong-bondong untuk belajar kesini, terutama saat-saat liburan sekolah maupun kuliah. Mereka mengambil program singkat (short course) pada lembaga-lembaga bahasa di desa ini. Namun lama kelamaan, seiring dengan zaman yang semakin berkembang yang seringnya disebut dengan istilah zaman globalisasi, tempat ini semakin terkenal ke seantero daerah nusantara. Yang datang pun bukan hanya para pelajar yang sekedar memanfaatkan waktu liburan mereka, namun sekarang juga banyak dari mereka yang sudah bukan pelajar lagi. Sejauh yang kami dapati dari hasil survey sekilas maupun pengalaman teman-teman yang pernah kesini, profil mereka  yakni tidak jauh dari mantan mahasiswa, yang mengisi waktu senggang selama menunggu panggilan kerja, atau juga para guru dan pendidik, baik guru bahasa Inggris yang ingin mengetahui metode pembelajaran disini, maupun guru atau pendidik dari mata pelajaran lain yang biasanya dikirim untuk belajar disini dalam rangka misi lembaga mereka dalam mengembangkan bahasa di tempat mereka mengajar.
Beberapa guru bahasa inggris yang pernah ke kampung bahasa ini pernah menuturkan tentang metode pembelajaran bahasa Inggris di tempat ini. Bagi mereka, sebenarnya metode yang digunakan biasa-biasa saja, bahkan mereka menyebutnya metode klasik, sembari menjelaskan bagaiman pemblejaran bahasa Inggris dengan metode klasik itu. Ketika saya mendengar penuturannya (sesaat sebelum kami berangkat ke Pare), sempat terbersit tanya; jika metodenya biasa-biasa saja (klasik bahkan), lalu apa nilai jual Pare ini sebagai kampung bahasa yang terkenal dimana-mana. Bahkan ketika kami membuktikan sendiri ke-“biasa”-an Pare ini sebagai kampung bahasa, kami semakin merasa yakin bahwa memang Pare ini sebagai suatu kampung yang sedikit unik, bukan karena aspek tertentu yang beda  dari kampung ini seperti para penduduknya yang dalam kesehariannya mereka berbahasa inggris, atau juga bukan karena para guru dan metode pembelajarannya yang spektakuler, akan tetapi kami melihat penjelasannya ada pada terkonsentrasinya lembaga kursus bahasa di tempat ini, dan sesuatu yang lain yang dijelaskan melalui kajian perkembangan zaman.
Sebagaimana yang telah selintas di paparkan mengenai perkembangan zaman yang lazim disebut  zaman globalisasi. Pada titik ini kita menyadari bahwa bahasa menjadi kunci paling penting memasuki percaturan global, karena sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli, bahwa memasuki zaman globalisasi, kita akan berada pada dunia yang melebur, dunia yang ruang dan waktunya semakin menyempit, dunia yang seperti sebuah perkampungan global (global village). Maka dalam karakter zaman seperti ini, agar interaksi dan interrelasi berjalan baik dan lancar, diperlukan suatu keseragaman tanda (bahasa sebagai tanda paling utama) sehingga dapat dimengerti oleh mereka semua yang berkomunikasi.  Maka muncullah istilah bahasa internasional, yakni bahasa-bahasa yang telah diakui secara global sebagai bahasa yang digunakan berkomunikasi dalam perhelatan multination. Dan bahasa inggris adalah menjadi bahasa pertama yang disepakati sebagai bahasa dunia, sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk menguasainya jika ingin senantiasa berperan dalam percaturan global dalam bidang ekonomi, politik, sosial-budaya dan sebagainya. Maka Pare sebagai kampung belajar bahasa menjawab tantangan itu dengan menawarkan paket pembelajaran massal yang terlokalisir di sebuah desa kecil. Sebuah solusi sekaligus ladang ekonomi yang luas menjanjikan. Tertarik untuk belajar bahasa Inggris di Pare? Atau tercetus ide brilian mengenai proyek bangun desa terinspirasi dari Pare? (aBu uSaMaH aS-sAdAtAny, 15 Juni 2011; 19.40)