Usamah, itu nama anakku. Usianya saat ini sudah lebih dari satu setengah tahun, satu tahun delapan bulan tepatnya. Kata orang, masa usia anakku adalah masa yang mereka sebut “sedang lucu-lucunya”, “dan akan semakin lucu”, itu kata temanku yang anaknya sudah lebih besar.
Usamah. Polah tingkahnya lucu dan menggemaskan. Ada jenak dimana kami tergelak, atau takjub, atau sesuatu yang membuat kami senang juga bangga sebagai orang tua yang mendidiknya. Salah satunya momen yang ingin kuceritakan kali ini.
Beberapa pekan terakhir Usamah sedang menikmati kemampuan barunya yakni memasang puzzle huruf maupun kendaraan. Ia sudah lumayan lihai dalam memasang bentuk-bentuk huruf maupun kendaraan yang sebelumnya kami cerai beraikan. Suatu kali, sebagaimana biasanya, beberapa anak tetangga ada yang bermain di rumah kami. Salah satunya adalah seorang anak perempuan yang kami pernah dengar dari orang tuanya bahwa usianya sudah menginjak dua setengah tahun. Anak ini meminta untuk diambilkan permainan puzzle milik Usamah. Setelah di ambilkan dan ditebar di hadapannya, ia mulai beraksi untuk memasang kembali puzzle yang telah kami bongkar. Beberapa lama kami perhatikan, ia kesulitan untuk memasangnya kembali. Kelihatannya ia memang belum paham cara bermain puzzle, sehingga yang ia lakukan adalah mencoba memasangnya secara asal-asalan tanpa memperhatikan pola dan bentuk dari pecahan-pecahan puzzle tersebut. Melihat fenomena itu membuat kami berfikir, bahwa kemampuan untuk memasang kembali puzzle, kami kira bukan berfaktor pada kecerdasan ansich. Kami betul-betul mencoba menafikan bahwa anak kami lebih cerdas dari teman bermainnya tersebut, walau usia di antara mereka cukup berjarak. Akan tetapi kami menyimpulkan bahwa kemampuan Usamah untuk memasang kembali puzzle yang terserak adalah karena pengajaran dan pembiasaan dari lingkungan sosialnya, dalam hal ini adalah kami selaku orang tuanya. Lagi-lagi dari pengalaman ini kami menyimpulkan, bahwa kalaulah kemampuan merangkai puzzle ini disandingkan dengan dimensi kecerdasan, kami kira kecerdasan itu sendiri adalah produk dari latihan. Itu artinya bahwa kemampuan merangkai puzzle adalah hasil dari pembelajaran, dan kemajuan hasil dalam pembelajaran kami kira tidak berhubungan langsung dengan fase usia. Artinya, semua kemampuan dan pengetahuan yang dapat dimiliki seseorang dalam hidupnya adalah hasil dari pembelajaran yang ia lakukan, kapanpun ia memulai mempelajari itu. Jika sang anak perempuan tadi dalam usianya yang dua setengah tahun diajarkan permainan memasang puzzle, lambat laun ia akan bisa merangkainya setelah beberapa waktu masa belajarnya. Jika Usamah dapat memasang kembali puzzle yang tercerai saat usianya satu tahun delapan bulan, kami kira itu berfaktor dari pengajaran dan pembiasaan yang kami terapkan padanya beberapa masa sebelumnya.
Merenungkan fenomena itu membuat kami kembali tercenung, hingga kemudian kami teringat pada nama-nama besar dalam sejarah macam al-Imam asy-Syafi’i. Tujuh tahun hafal al-Qur’an dan sembilan tahun hafal ribuan hadits dalam al-Muwatha’ Imam Malik. Di usianya yang ke tigabelas tahun bahkan disebutkan bahwa al-Imam Asy-Syafi’i sudah menjadi seorang mufti alias ahli fatwa. Subhaanallah, tidak heran jika kemudian beliau menjadi salah satu imam madzhab yang pengikutnya begitu banyak, konon termasuk mayoritas kaum muslimin di negeri kita.
Fenomena kemampuan merangkai puzzle di usia 1,8 tahun ataupun kemampuan menghafal al-Qur’an di usia tujuh tahun, lagi-lagi memaksa kami untuk terus berfikir hingga kami menemukan potongan-potongan puzzle rahasia kehidupan. Bahwa capaian-capaian prestasi yang diperoleh oleh manusia adalah hasil dari proses belajar dan berlatih yang ia lakukan sebelumnya. Dan semakin dini belajar, semakin cepat ia akan cakap dalam bidang apa yang ia pelajari. Bukan hanya imam Syafi’i –yang notabene hidup di zaman lampau- yang dapat meraih kemampuan yang luar biasa dalam bidang agama, di zaman ini pun kita mengenal Muhammad Hussein Thaba’ Thaba’i, sosok yang usia lima tahunnya sudah mampu menghafal bukan hanya redaksi tigapuluh juz dari al-Qur’an, tapi juga kata demi katanya, ada di halaman berapa dalam mushaf, berada di juz berapa, juga tafsir dan maknanya. Bahkan hafidz cilik ini juga mengimplementasikan ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupannya sehari-hari, berbicara dengannya, dan menasehati orang lain persis dengan ayat-ayat yang terdapat dalam enamribuah lebih jumlah seluruhnya. Kehebatan anak itu dijelaskan oleh kemampuan kedua orang tuanya yang memang hafidz Qur’an maupun pengajaran dan pembiasaan mereka berdua terhadap anak-anaknya. Hal ini juga yang terjadi pada diri asy-Syafi’i. Ia dilahirkan dari rahim seorang Ibu sekaligus pendidik yang hebat, serta ber-ayahkan seorang ksatria yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sungguh, anak hebat hampir selalu dapat dijelaskan oleh keadaan orang tuanya yang juga hebat.
Jika kita meluaskan cakrawala ilmu pada macam-macam disiplin yang ada, dan kita arahkan anak-anak kita pada salah satu atau lebih darinya, lalu kita ajarkan, kita biasakan, kita latih mereka dengan mengerahkan segala kemampuan kita dari segi tenaga, waktu, harta, pikiran, kami yakin anak-anak kita itu akan melesat meninggalkan busurnya menuju sasaran kemana ia akan kita targetkan. Bila kita menginginkan anak-anak kita menjadi hebat di bidang apapun yang kita inginkan, maka berpikirlah keras untuk menuju ke arahnya. Dan lagi, usahakanlah sejak dini untuk mengajarkannya dengan pengajaran-pengajaran yang maksimal dan penuh hikmah. Biasakanlah ia, latihlah ia, menjadi apapun ia sebagaimana potensi serta arahan kita. Manfaatkan usia-usia emasnya untuk ditransfer pengetahuan dan kemampuan tertentu, karena pengajaran dan pembiasaan pada masa-masa ini menorehkan kesan yang mendalam pada pribadi seorang anak. Dan jangan sekali-kali menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anak di masa ini kepada orang lain, apalagi kepada pembantu maupun babysitter. Jangankan kepada mereka, kepada seseorang dari keluarga kita yang lain juga mengundang resiko yang tidak sedikit. Itu karena pengaruh orang-orang terdekat sangat besar kepada anak-anak pada usia emas yakni fase balita. Dan jika kita memiliki keinginan spesifik akan seperti apa anak kita, maka untuk mencapainya harus dilakukan strategi-strategi tertentu yang kita sepakati dengan pasangan hidup kita. Dan jika dalam kehidupan pendidikan anak-anak kita masuk orang-orang baru, dipastikan orientasi dan strateginya juga berbeda, hatta mungkin ia adalah orang tua kita atau kakek dan nenek dari anak-anak kita. Tentu saja dapat dipastikan pemikiran kita dan orang tua kita berbeda dalam hal pendidikan anak. Dalam arah, dalam strategi, dalam cara, dalam media, dan seterusnya.
Berbicara tentang pendidikan anak adalah berbicara mengenai hal paling penting dalam keluarga, yakni akan kita bentuk seperti apa anak-anak kita kelak. Karena berawal dari keinginan kita sebagai orang tuanya, maka semua pemikiran turunan dari hal itu juga hak prerogratif kita, dan hanya kita yang mengetahui detailnya. Termasuk pembelajaran, latihan maupun pembiasaan tertentu yang kita tanamkan pada anak-anak kita yang sebaiknya kita lakukan sedini mungkin. Jadi, seperti isi slogan iklan terkenal yang sering kita dengar; “Buat anak koq coba-coba..”, kiranya kita sebagai orang tua juga harus menggunakan dan menerapkannya dalam mendidik anak-anak kita, dengan hanya satu hal yang kita maksudkan, bahwa pendidikan anak-anak kita adalah yang paling penting dalam perjalanan kita merenda surga dalam rumah tangga. (Perpust thalib, 10 Agustus 2011; 9.30 WIB)