Total Tayangan Halaman

TIME

Rabu, 21 Januari 2015

MAULID NABI DAN SEMANGAT MENAULADANKAN DIRI



             Memasuki bulan Rabiul Awwal umat Islam di Indonesia memiliki hajat nasional berupa penyelenggaraan kegiatan memperingati hari lahir Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Hampir di setiap masjid diadakan acara-acara yang mengajak kaum muslimin untuk menapak tilasi sejarah hidup dan perjalanan dakwah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sebuah kegiatan yang bertujuan mulia demi lebih mendekatkan umat Islam kepada Nabi junjungannya hingga menjadikan beliau sebagai sebenar-benar idola.
            Di masjid kita tercinta; Masjid Baitul Iman, pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan momen ini. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya turut diadakan pula acara peringatan maulid Nabi untuk tahun ini. Segenap kaum muslimin melalui kegiatan yang difasilitasi oleh kepengurusan Masjid Baitul Iman (MBI), akan diajak untuk merenungi dan menauladani kembali perikehidupan sang penghulu akhir zaman, ditengah ekspansi kehidupan materialistis yang begitu deras menyerbu pola pikir dan  gaya hidup kaum muslimin, hingga tanpa sadar orientasi hidupnya mulai bergeser sedikit demi sedikit. Lama kelamaan kepribadian Islam yang menjadi gaun kemuliaan kaum muslimin mulai luntur dan berganti menjadi kepribadian barat yang mendewa-dewakan materi. Lambat laun mereka pun melupakan sosok yang harusnya mereka jadikan idola dan barometer dalam hidup, dan menggantinya dengan profil manusia-manusia zaman modern yang menuhankan hawa nafsu, yang diwakili oleh para artis film dan sinetron, penyanyi dan grup band, politisi-politisi busuk, pemain sepak bola dan lain-lain yang kebanyakan mereka kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam.
           Peringatan Maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang senantiasa kita selenggarakan setiap tahunnya hendaknya menjadi bahan renungan kita. Betapa upaya untuk mengajak umat mencintai dan menauladani nabinya tak kurang-kurang kita telah lakukan setiap setahun sekali. Namun apakah hal itu sudah cukup untuk membuat kaum muslimin untuk mau mencintai Nabi mereka dengan kecintaan yang sungguh-sungguh, yakni dengan selalu berusaha untuk menyelami sirah (sejarah) perjalanan hidup beliau dan mencontoh berbagai sisi dari perikehidupan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal bukan hanya dari golongan umat Islam yang mengakui kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau, para tokoh intelektual barat pun mengagumi akan kehebatan beliau, sebagaimana salah satunya ditulis oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Michael H. Hart, seorang Nashrani yang di tahun 1978 merilis hasil penelitiannya terhadap sejarah tokoh-tokoh besar dan menjatuhkan pilihannya pada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia dan hanya menempatkan Yesus di urutan ke-3 di bukunya yang fenomenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia.
            Sungguh dalam sirah perjalanan hidup Nabi kita mengajarkan begitu banyak pelajaran yang tak ternilai. Beliau telah benar-benar menjadi sosok yang sempurna untuk dicintai dan ditauladani oleh kita semua. Tak cukup bila acara peringatan maulid Nabi ini hanyalah diselenggarakan setiap setahun sekali. Bahkan juga tak cukup bila diadakan peringatan sebulan sekali, atau seminggu sekali. Seyogyanya kita memperingati maulid Nabi setiap saat dengan cara selalu berusaha mengkaji dan mencontoh setiap sisi kehidupan beliau, membaca sirah beliau dan mendatangi majlis-majlis yang mengupas sunnah-sunnah beliau hingga kita mengamalkannya, walau mungkin tanpa harus pihak panitia menamakannya majlis peringatan maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Karena itulah sejatinya wujud dari kecintaan kita terhadap beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
            Namun apa yang terjadi di zaman ini dari fenomena peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lebih kepada ritual yang kering makna. Mungkin kita berramai-ramai menyenandungkan shalawat ke atas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mungkin pula kita berpartisipasi dalam gegap gempita acara tabligh akbarnya, namun setelah itu tidak ada yang berubah dari kehidupan kita. Ajakan sang mubaligh dalam ceramah tabligh sekedar kita nikmati sisi-sisi jenaka yang sejatinya ia hanya merupakan selingan agar ceramah tetap segar dan tidak monoton. Esensi peringatan maulid yang bertujuan untuk mengajak kita agar lebih mencintai Nabi dan menauladani beliau menjadi sesuatu yang seolah terbang jauh seiring kita meninggalkan majlis penyelenggaraan maulid tersebut. Sunnah-sunnah yang beliau wariskan masih serasa asing dikarenakan keengganan kita untuk mempelajarinya. Bahkan tak jarang di zaman ini, akibat ketidaktahuan kita akan sunnah nabi, kita menganggap aneh apabila ada seseorang yang mengamalkannya. Terlebih dalam situasi penuh fitnah yang dihembuskan musuh-musuh Islam terhadap berbagai amalan yang sejatinya di ajarkan dalam Islam. Sebagaimana kita mengetahui peristiwa bertubi dari tindakan terorisme yang selalu dikaitkan pelakunya dengan sekelompok umat Islam yang mengamalkan sebagian sunnah seperti memanjangkan jenggot, bercelana cingkrang, mengenakan jilbab syar’i bagi kaum perempuannya, dan lain sebagainya. Beragam peristiwa itu seolah menjadi rangkaian agenda yang telah disetting dengan tendensi untuk membuat umat Islam membenci saudaranya sendiri yang mengamalkan sunnah tersebut, yang kemudian membuat mereka membenci sunnah-sunnah nabinya, dan hingga akhirnya membenci agamanya sendiri na’udzu billaahi min dzaalika.
            Tentunya kita tidak ingin hal seperti yang disebutkan di atas terjadi. Maka melalui momentum kesekian dari peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diadakan masjid kita tercinta ini, marilah kita bersama untuk benar-benar mempelajari sirah perjalanan hidup beliau, mencontoh sifat-sifat beliau yang mulia, menuntut ilmu tentang sunnah-sunnah beliau yang sudah banyak kita lupakan, sehingga kita sebagai umat Islam benar-benar mampu meresapi sisi-sisi perikehidupan beliau, dan dengannya kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia sebagaimana kepribadian sang tauladan sepanjang zaman; Nabiyunaa Muhammad Shallu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa shahbihi. Wallaahu a’lam bish shawwaab

TELESCOPING THE SUPPLIES OF HUMAN RESOURCES FOR CULTURAL SECTOR IN THE FUTURE (A Brief Tracer Study of Cultural Science Students in Several Universities in Indonesia)





Besides caring to the abundant issues towards development, one of government’s efforts to build a better nation is by giving attention the cultural sector. Culture is what teaches people about the important key to make a wealthier nation – the equity and the civility. 
So far, the data about the amount and the state of human resources in cultural sector has not been well collected. Even the data about the supply of human resources for the future which is being prepared by many fields of studies, especially in cultural sciences are just the same. The nation’s wealth in the cultural sector which makes Indonesia become a very well known country among the foreign countries has not been supported by the awareness of the people to conserve and develop all the valuable cultural heritages. Still there is imbalance between the amount of tangible - intangible cultural heritages and the human resources who will take care of them. Thus, it is worrying to think that Indonesian cultural heritages will be disappearing day by day. So that it is not surprising if there are many countries claiming one of Indonesian cultural heritages as theirs. Indonesian also should not be angry towards what they do. 
We all know that many people are still not interested to work in the field of cultural sciences study, as we also know that the interest of the student candidates in Indonesia in cultural sciences study is not as big as their interest in another field of study in Indonesia. The majors like Sociology, Anthropology, History, Indonesian Literature, and Archeology still become the less preferences comparing to Medical Sciences, Engineering, Law, and some others which many students seek for in the entire nation. Moreover, the more specific majors like Arts, as what some Institutes in the field of arts and cultures provide, has few enthusiasts. These phenomena endanger the preservation of Indonesian Culture which becomes the everlasting wealth of our beloved Indonesia. Therefore, the research about students’ interest towards cultural sciences and their eagerness to dedicate themselves in the field of cultures becomes crucial to be conducted so that the result can be used to describe the supplies of human resources in cultural sector in the future. Moreover, it can also be the starting point to make a better policy in building and developing cultural sector as one of the most precious asset of our nation. 
The topic of this research is “Tracing the Interest of the Senior High School Graduates and Candidate of University Graduates to the Profession in the Cultural Sector” which was planned to be accomplished in two years. In 2014, the tracer study was conducted towards the graduates of senior high school who were in their early and last semesters in Cultural Sciences Program in the Universities chosen to become the place to do the study. For the students in their early semesters, the research aims to survey the congruence of their interest to study in the Faculty of Cultural Sciences. While for the students in their last semesters, the research aims to examine their interest and projection to work in the cultural sectors. In 2015, the research will confirm the 2014’s graduates who has been studied in the previous year in their work field and profession they were working on. 
This research will take place in 9 provinces in Indonesia. They are North Sumatera, West Sumatera, west Java, Central Java, Yogyakarta, east Java, North Sulawesi, South Sulawesi, and Bali. In each province, the data will be taken from some universities and institutes which have majors or study program in the area of Cultural Sciences. In the Universities, the research will take the sample from Sociology, Anthropology, Archeology, History, and Indonesian Literature Departments. While in the Institutes of Arts and Cultures, the sample will be taken from Dance, Music, Theatre and Visual Arts Departments. From each major or program, the sample taken will be 60% of the 2014 badge, 40% of 2011 badge, and 10% of 2010 badge in which population is based on the total admissions in every badge. The research is quantitative research with questionnaire as the primary instrument which will be answered by the students from various majors and badges as mentioned above. 
When this paper was written, the research just finished the data collection so that the result has not been ready to be presented. As the result of this research has been acquired, it is hoped that the result can show the overview of the supplies of human resources in cultural sector so that the relevant parties can make the best policies, especially for the Center for Human Resource Development of Culture, Agency of Research and Development,  Agency of Human Resource Development on Education and Culture and Education Quality Assurance, and Ministry of Education and Culture which will be mostly concerned with the result of this research.

Lastly, hopefully all of the cultural sectors as Indonesia’s Most Precious Heritage can be preserved and developed to be one of the development focuses in this new governmental era. Along with the development of the cultured human resources, Indonesia will be wealthier and more prosperous. The people will also live in the peace and harmony civilization in tapestry of life named Indonesia. (UTR, Centre for Research and Development of Culture, Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia)

Kamis, 04 September 2014

BELAJAR BUKAN HANYA DI SEKOLAH (Pesan untuk menjadi pribadi pembelajar)



                Membincang topik tentang “belajar” di masyarakat kita biasanya diasosiasikan dengan sebuah tempat dan atau institusi bernama “Sekolah”. Segera saja setelah kita mengangkat tema obrolan ini baik saat kongkow di warung kopi, atau ketika berada di majelis rumpi ibu-ibu di tukang sayur, atau mungkin sekedar diskusi ringan selepas shalat berjama’ah di masjid, tema tentang “belajar” atau “pembelajaran” hampir pasti kata yang mereka maksud adalah “sekolah”.

          “Belajar” dan “sekolah” adalah dua kosa kata yang menyiratkan kesan yang sama, walaupun pada dasarnya antara keduanya berbeda. Belajar adalah sebuah kata yang menunjukkan akan aktifitas, baik fisik dan terutama mental dari sesuatu yang akan membuat seseorang berubah lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan sekolah adalah sebuah tempat dan atau lembaga yang secara formal mewadahi seseorang untuk belajar.

            Menilik pada pengertian dari kedua kata tersebut, kita bisa mengambil hakikat yang sangat besar dan bermanfaat. Belajar yang merupakan suatu aktifitas dan atau kegiatan di mana dengannya kita bisa menjadi lebih tahu, lebih cerdas, lebih baik, lebih hebat, lebih bijak, yang itu menggunakan berbagai potensi ragawi yang kita miliki dari indera yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Maka belajar bisa kita lakukan kapanpun, dimanapun, kepada siapapun, dan belajar apapun. Dan dengan begitu, anggapan yang menyebutkan belajar identik dengan sekolah merupakan salah satu bentuk dari sesat pikir yang sering dianut oleh masyarakat kita. Yang tergambar dalam benak kebanyakan dari kita bahwa belajar itu adalah duduk di kelas, mengikuti pelajaran dari guru, mengerjakan tugas, mendapat nilai. Padahal belajar bukan hanya itu, dan belajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Sekolah hanyalah merupakan salah satu tempat untuk kita melakukan pembelajaran. Kelebihannya hanyalah pada sisi formalitasnya. Sementara jika kita menginginkan pembelajaran yang lebih luas, maka kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan belajar apa saja.

 Allah Ta’ala telah memberikan kita anugerah berupa potensi-potensi akal, jasad dan jiwa sebagai sarana untuk kita menyerap pengetahuan. Kita dapat belajar dari melihat, dari mendengar, dari memikirkan sesuatu, dari meniru dan melakukan sebuah hal yang baru secara mandiri. Kita dapat mendayagunakan seluruh potensi itu yang kemudian membuat kualitas kepribadian kita menjadi lebih baik.

              Di dunia ini ada orang-orang yang bersekolah dan sukses, sebagaimana ada orang-orang yang bersekolah tapi hidupnya sengsara. Dan di dunia ini juga ada orang-orang yang tidak bersekolah tapi juga sukses, sebagaimana terdapat orang-orang yang tidak bersekolah dan hidupnya nestapa. Jadi, sekolah atau tidak sekolah sama-sama bisa sukses, namun juga sama-sama bisa gagal. Apa yang membedakan hanyalah satu kata; belajar, atau dengan kata lain menjadi seorang pembelajar.

Bagi seorang pembelajar, sekolah atau tidak sekolah ia akan sukses. Karena ia betul-betul mendayagunakan segala potensi dan sumber daya yang ia miliki untuk menarik hikmah dan manfaat, yang dengan begitu ia selalu berubah lebih baik, siapapun orangnya, apapun profesinya.  Namun sayangnya, kata ini –belajar-, atau juga tempat ini –sekolah-, adalah dua kata yang mungkin paling dibenci oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya buat remaja yang sedang menempuh tangga pendidikan formal di sekolah. Betapa sering kita lihat para pemuda dan pemudi tidak menggunakan waktu-waktu belajarnya dengan baik di sekolah. Atau bahkan tidak jarang kita melihat para pelajar itu memilih untuk tidak bersekolah, entah itu mereka “cabut” saat jam-jam sekolah, atau memang mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih untuk menjadi pengangguran.

Sebetulnya tidak sepenuhnya orang yang tidak bersekolah itu tercela, karena memang sejatinya pembelajaran itu bisa dilakukan di mana-mana. Namun dalam kebanyakan kasus di negeri kita, para remaja yang memilih tidak belajar di sekolah biasanya juga tidak belajar di tempat manapun mereka berada. Mereka lebih memilih mejeng di mall dan atau nongkrong di pinggir jalan dan benar2 tidak memanfaatkan potensi waktu yang mereka miliki untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Nikmat waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka sering mereka buang percuma hingga tidak menghasilkan manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara kita menjadi tidak produktif dan selalu terpuruk, dikarenakan golongan remaja dan pemudanya tidak berusaha memanfaatkan waktunya untuk kebaikan mereka, terlebih demi pembangunan negara.

Menjadi pribadi pembelajar sama sekali tak mengandung arti menjadi seorang murid di sekolah tertentu, atau menjadi mahasiswa kampus tertentu. Akan tetapi berpribadi pembelajar adalah menjadi seorang yang benar-benar berhasrat untuk selalu menjadikan setiap waktu mereka bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya. Mereka membaca buku, menonton berita, mendengar radio, berlatih ketrampilan berbahasa asing, menyimak wejangan orang-orang sukses, mengikuti training-training kompetensi. Mereka belajar berorganisasi, mereka terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mereka bergaul dan meluaskan hubungan pertemanan, mereka berhubungan baik dengan banyak orang. Mereka belajar mengemudikan kendaraan, mereka mengikuti kursus menjadi montir, atau kursus menjahit, atau pula kursus komputer. Pokoknya mereka benar-benar berusaha  memanfaatkan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kompetensi diri. Dan jika sudah begitu, persoalan kesuksesan, kemapanan materi, terjaminnya kualitas hidup, hanyalah merupakan hadiah yang pasti mereka dapatkan dengan sendirinya. Entah mereka menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yang sukses, pendidik dan akademisi yang berhasil, karyawan yang profesional, aparat negara yang amanah, atau sekedar menjadi petugas-petugas pelayan masyarakat di level apapun yang benar-benar berdedikasi tinggi.
Menjadi pribadi pembelajar adalah kunci akan kualitas hidup yang baik. Ia menjadi sebab kesuksesan seorang anak manusia, baik kesuksesan dunia, terlebih kesuksesan akhirat. Maka sudah selayaknya kita berusaha untuk menjadi pribadi pembelajar itu, meski tak mampu bersekolah tinggi-tinggi, tapi tetap berkesempatan untuk tetap berkompetisi menjadi yang terbaik. Kiranya tulisan ini akan ditutup oleh sebuah ungkapan inspiratif  tentang obsesi jiwa seorang pembelajar sejati ;
Setiap orang adalah guru
Setiap hal adalah ilmu
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap kejadian adalah pelajaran


Senin, 18 November 2013

CELOTEH ASPAL



                Menyusuri jalanan antara Pengasinan Rawa Lumbu dan Kota Wisata Cibubur adalah rutinitasku selama 6 hari dari Senin hingga Sabtu, buat apalagi jika bukan untuk bekerja mencari nafkah. Perjalanan berpuluh kilo setiap harinya begitu rela kujalani demi menyambung hidup dan menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di istana syurga yang tengah kubangun. Kesemuanya kulakoni dengan (semoga) ikhlas, yang harapannya ianya menjadi satu posko pahala yang memenuhi pundi-pundi amal shalihku. Allahumma amiin.

                Adalah pengalamanku melintasi setiap inchi jalan yang mengantarkanku menuju atau kembali dari Cibubur yang ingin kubagi di tulisan ini. Aspal yang menjadi media penyambung antar wilayah di nusantara ini memang penuh dengan undangan kekesalan dan umpatan.  Betapa tidak, manakala kita coba sekilo saja menyusuri ruas jalan yang membentangi medan NKRI umumnya, atau jakarta dan sekitaran khususnya, maka kita akan pasti selalu jengkel dibuatnya. Adalah lubang demi lubang di sana-sini yang begitu setia menemani setiap pengendara yang tidak sama sekali berjumlah sedikit kecelakaan yang memakan korban karenanya. Lubang-lubang yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada panjang ruas jalan yang ada di seantero Indonesia (wualah, lebay brakalay). Lubang-lubang yang bagiku amat sangat lebih menjengkelkan dibanding lubang-lubang yang menjadi penghias tersembunyi dari gigi-gigi yang hampir punah yang masih  kumiliki (buka kartu).

                Tidak tepat memang jika kita menjadikan aspal hitam yang konon banyak diangkut dari pulau Buton di selatan Sulawesi menjadi tersangka sekaligus terdakwa dalam pembicaraan ini. Karena sang aspal hanyalah sekedar benda mati yang guru Bahasa Indonesia kita dahulu di sekolah menyebutnya “objek penderita”. Namun yang amat sangat paling terpenting adalah sang subjek dan si predikat yang membuat nasib perjalanan umat manusia Indonesia ajlut-ajlutan tak karu-karuan.

                Suatu kali, pernah kukatakan pada istriku saat melintasi suatu ruas jalanan yang begitu amboi rusaknya, “Dek, untuk mendiagnosa apakah terdapat korupsi pada suatu pemerintahan di sebuah negara atau daerah hanya cukup dari melihat dan merasakan jalanan-jalanan wilayahnya, jikalau banyak yang rusak maka nyaris vonis negeri atau wilayah koruptor itu sah untuk disematkan pada pemerintahnya”. Namun, beberapa hari ini kupikirkan lagi perkataanku itu, dan setelah menimbang dari pengalaman selama beribu kilometer yang telah kususuri dari jalan-jalan NKRI, maka kupikir cukuplah jalan-jalan itu menjadi saksi sekaligus bukti bahwa korupsi bukanlah lagi menjadi budaya anak negri, melainkan telah menjelma menjadi semacam ideologi; ideologi korupsi.

                “Aspal”, ujar istriku demi menimpali perkataanku, “itu biar hitam tapi enak rasanya mas, buktinya para pejabat yang menangani jalan pada doyan ngaspal”. Hah, benar juga opini istriku ini. Setiap hari dari ujung barat sampai ujung timur ruas jalan di ibukota dan sekitarnya (dan mungkin juga bapak kota dan sekitarnya) selalu terdapat panitia abadi pengaspalan jalan dari pemerintah. Seolah jalan di Indonesia bak kayu yang dimakan rayap yang perlu diperbaiki setiap hari tak kenal henti. Atau seolah pula, sang jalan diperbaiki dan ditambal bukan dengan aspal, melainkan dengan cendol yang selalu habis dikerubuti penggemarnya (ngga nyambung) sehingga selalu perlu untuk ditambal dan ditambal lagi.

                Persoalan aspal di Indonesia memang betul-betul membuat kita jengkel. Sebagai pengendara tentunya kita menginginkan jalan-jalan yang kita lalui begitu nyaman karena berpermukaan rata dan halus sehalus sutra (ngga mungkin la yauw). Namun itulah kiranya keadaan sebenarnya, nampak seperti peribahasa Jauh api dari panggangnya.

                Seorang ustadz dalam ceramahnya pernah membagi pengalamannya berwisata dakwah ke negeri Uber Alez Jerman yang katanya jalan-jalan di sana halus bin mulus tak seperti jalan-jalan nusantara. Malah yang membuat takjub katanya pula, manakala terdapat jalan berlubang dan seorang pengendara mengalami kecelakaan lantaran lubang tersebut, maka pemerintah maupun instansi terkait bisa dituntut dipengadilan, maa syaa Allah...

                Kosa kata aspal di Indonesia sering disebut sebagai akronim dari “asli tapi palsu”. Mungkin memang akronim ini sejatinya untuk menggambarkan definisi sebenarnya dari aspal itu sendiri. Maksud saya, aspal yang bermakna suatu material berwarna hitam legam yang digunakan untuk menutup dan meratakan jalan, namun karena banyak jalan yang gampang rusak dan berlubang, mungkin memang sejatinya aspalnya aspal alias asli tapi palsu, seolah-olah memang hitamnya aspal, tapi hitamnya luntur dan padatnya melumer hingga menjadilah jalan-jalan berlubang yang menjadi perhiasan jalan-jalan nusantara.

                Saya tak habis pikir tentang kondisi aspal di negeri ini, sebuah bidang garap yang telah menjadi tugas salah satu kementrian kabinet. Bicara pajak pun, berapa banyak pemilik kendaraan baik berroda dua, empat  hingga lebih, yang telah menyumbang demi membayar pajak tahunan dan lima tahunan kendaraan mereka. Namun jalan-jalan masih saja rusak dan berlubang. Upaya perbaikan yang non-stop sepanjang tahun di berbagai-bagai titik (saking banyaknya) pun tak menjadi solusi berlubangnya jalan-jalan di republik ini. Yang terjadi hanyalah seperti sebuah kalimat penggalan syair dangdut “gali lubang tutup lubang”, atau seperti juga sebuah ungkapan yang sebenarnya bernuansa heroik; “tutup satu berlubang seribu” (plesetan pepatah “mati satu tumbuh seribu”, maksa).

                Yaah, lagi-lagi inilah bangsa itu. Bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin mental dan kepribadian. Jalan yang menjadi sarana transportasi penting hanyalah menjadi sapi perah objek korupsi para elit maupun alit terkait. Yang ada program-program perbaikan jalan hanya sebatas proyek keserakahan berupa perampokan, pengemplangan, penggelapan uang rakyat, sehingga lubang-lubang yang menghiasi jalan menjadi perhiasan abadi bagi para pengguna jalan. Padahal bisa jadi sangat mudah untuk membuat jalan rata tanpa lubang jika memang pemerintah berkomitmen untuk itu, sebagaimana jalan-jalan di negara-negara lain. Semoga !!!! (Pengasinan, 13 November 2013, 06.39 WIB)