Memasuki
bulan Rabiul Awwal umat Islam di
Indonesia memiliki hajat nasional berupa penyelenggaraan kegiatan memperingati
hari lahir Nabi Muhammad Shallallaahu
‘alaihi wa Sallam. Hampir di setiap masjid diadakan acara-acara yang
mengajak kaum muslimin untuk menapak tilasi sejarah hidup dan perjalanan dakwah
beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Sebuah kegiatan yang bertujuan mulia demi lebih mendekatkan umat Islam kepada Nabi
junjungannya hingga menjadikan beliau sebagai sebenar-benar idola.
Di masjid kita tercinta; Masjid
Baitul Iman, pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan momen ini. Sebagaimana
tahun-tahun sebelumnya turut diadakan pula acara peringatan maulid Nabi untuk
tahun ini. Segenap kaum muslimin melalui kegiatan yang difasilitasi oleh
kepengurusan Masjid Baitul Iman (MBI), akan diajak untuk merenungi dan
menauladani kembali perikehidupan sang penghulu akhir zaman, ditengah ekspansi
kehidupan materialistis yang begitu deras menyerbu pola pikir dan gaya hidup kaum muslimin, hingga tanpa sadar
orientasi hidupnya mulai bergeser sedikit demi sedikit. Lama kelamaan
kepribadian Islam yang menjadi gaun kemuliaan kaum muslimin mulai luntur dan
berganti menjadi kepribadian barat yang mendewa-dewakan materi. Lambat laun
mereka pun melupakan sosok yang harusnya mereka jadikan idola dan barometer
dalam hidup, dan menggantinya dengan profil manusia-manusia zaman modern yang
menuhankan hawa nafsu, yang diwakili oleh para artis film dan sinetron,
penyanyi dan grup band, politisi-politisi busuk, pemain sepak bola dan
lain-lain yang kebanyakan mereka kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam.
Peringatan Maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang
senantiasa kita selenggarakan setiap tahunnya hendaknya menjadi bahan renungan
kita. Betapa upaya untuk mengajak umat mencintai dan menauladani nabinya tak
kurang-kurang kita telah lakukan setiap setahun sekali. Namun apakah hal itu
sudah cukup untuk membuat kaum muslimin untuk mau mencintai Nabi mereka dengan
kecintaan yang sungguh-sungguh, yakni dengan selalu berusaha untuk menyelami
sirah (sejarah) perjalanan hidup beliau dan mencontoh berbagai sisi dari
perikehidupan beliau Shallallaahu ‘alaihi
wa Sallam. Padahal bukan hanya dari golongan umat Islam yang mengakui
kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau, para tokoh intelektual barat pun
mengagumi akan kehebatan beliau, sebagaimana salah satunya ditulis oleh seorang
ilmuwan berkebangsaan Amerika Michael H. Hart, seorang Nashrani yang di tahun
1978 merilis hasil penelitiannya terhadap sejarah tokoh-tokoh besar dan
menjatuhkan pilihannya pada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tokoh paling berpengaruh
dalam sejarah dunia dan hanya menempatkan Yesus di urutan ke-3 di bukunya yang
fenomenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh
Dalam Sejarah Dunia.
Sungguh dalam sirah perjalanan hidup
Nabi kita mengajarkan begitu banyak pelajaran yang tak ternilai. Beliau telah
benar-benar menjadi sosok yang sempurna untuk dicintai dan ditauladani oleh
kita semua. Tak cukup bila acara peringatan maulid Nabi ini hanyalah
diselenggarakan setiap setahun sekali. Bahkan juga tak cukup bila diadakan peringatan
sebulan sekali, atau seminggu sekali. Seyogyanya kita memperingati maulid Nabi setiap
saat dengan cara selalu berusaha mengkaji dan mencontoh setiap sisi kehidupan
beliau, membaca sirah beliau dan mendatangi majlis-majlis yang mengupas sunnah-sunnah
beliau hingga kita mengamalkannya, walau
mungkin tanpa harus pihak panitia menamakannya majlis peringatan maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Karena
itulah sejatinya wujud dari kecintaan kita terhadap beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Namun apa yang terjadi di zaman ini
dari fenomena peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lebih kepada ritual yang kering
makna. Mungkin kita berramai-ramai menyenandungkan shalawat ke atas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mungkin
pula kita berpartisipasi dalam gegap gempita acara tabligh akbarnya, namun
setelah itu tidak ada yang berubah dari kehidupan kita. Ajakan sang mubaligh
dalam ceramah tabligh sekedar kita nikmati sisi-sisi jenaka yang sejatinya ia
hanya merupakan selingan agar ceramah tetap segar dan tidak monoton. Esensi
peringatan maulid yang bertujuan untuk mengajak kita agar lebih mencintai Nabi
dan menauladani beliau menjadi sesuatu yang seolah terbang jauh seiring kita
meninggalkan majlis penyelenggaraan maulid tersebut. Sunnah-sunnah yang beliau
wariskan masih serasa asing dikarenakan keengganan kita untuk mempelajarinya.
Bahkan tak jarang di zaman ini, akibat ketidaktahuan kita akan sunnah nabi,
kita menganggap aneh apabila ada seseorang yang mengamalkannya. Terlebih dalam
situasi penuh fitnah yang dihembuskan musuh-musuh Islam terhadap berbagai amalan
yang sejatinya di ajarkan dalam Islam. Sebagaimana kita mengetahui peristiwa
bertubi dari tindakan terorisme yang selalu dikaitkan pelakunya dengan sekelompok
umat Islam yang mengamalkan sebagian sunnah seperti memanjangkan jenggot,
bercelana cingkrang, mengenakan jilbab syar’i bagi kaum perempuannya, dan lain
sebagainya. Beragam peristiwa itu seolah menjadi rangkaian agenda yang telah
disetting dengan tendensi untuk membuat umat Islam membenci saudaranya sendiri
yang mengamalkan sunnah tersebut, yang kemudian membuat mereka membenci
sunnah-sunnah nabinya, dan hingga akhirnya membenci agamanya sendiri na’udzu billaahi min dzaalika.
Tentunya kita tidak ingin hal
seperti yang disebutkan di atas terjadi. Maka melalui momentum kesekian dari
peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu
‘alaihi wa Sallam yang diadakan masjid kita tercinta ini, marilah kita
bersama untuk benar-benar mempelajari sirah perjalanan hidup beliau, mencontoh
sifat-sifat beliau yang mulia, menuntut ilmu tentang sunnah-sunnah beliau yang
sudah banyak kita lupakan, sehingga kita sebagai umat Islam benar-benar mampu
meresapi sisi-sisi perikehidupan beliau, dan dengannya kita menjadi pribadi
yang berakhlak mulia sebagaimana kepribadian sang tauladan sepanjang zaman; Nabiyunaa
Muhammad Shallu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa
shahbihi. Wallaahu a’lam bish shawwaab
