“Hanya orang gila yang mengharapkan
hasil yang berbeda namun cara-cara yang ditempuh tetap sama”. (Albert Einstein)
Kiranya cukup tepat saya mengawali tulisan ini dengan hikmah yang lahir
dari seorang ilmuwan besar di atas. Maksud saya, siapa yang tak mengenal beliau,
seorang jenius yang telah meninggalkan jejak-jejak teori dan temuan ilmiah
dalam dunia ilmu pengetahuan. Agaknya -dalam hemat saya-, kata-kata di atas
menjadi salah satu rahasia alam pikir seorang Einstein hingga mampu menjadi
ilmuwan besar yang melahirkan banyak karya. Melalui pendekatan yang dinarasikan
Einstein di atas, saya mencoba untuk mengantarkan pembaca pada tema tulisan
ini, yakni yang menyangkut tentang evaluasi pendidikan, terutama dalam hal pembelajaran.
Sebagaimana kita tahu, diantara beberapa terobosan kebijakan pendidikan
terbaru Mendikbud Nadiem adalah mengenai dibekukannya sistem Ujian Nasional dan
akan diterapkannya kebijakan Asesmen Nasional. Diharapkan dengan sistem
evaluasi dan penilaian nasional ini dapat menghasilkan output pendidikan yang
berbeda dan lebih baik dibanding sebelumnya. Namun begitu, isu mengenai seperti
apa Asesmen Nasional ini akan diterapkan berkembang menjadi informasi-informasi
liar dan cenderung menyesatkan. Diantara contoh yang berkembang antara lain
sebagaimana beberapa pernyataan di bawah ini.
- AKM menggantikan UN
- AN sama dengan UN
- AKM mengukur prestasi siswa secara individu
- AKM menentukan kelulusan
- Perlu drilling soal melalui bimbel AKM
Sesat tangkap di atas lahir dan berkembang di tengah-tengah para
stakeholder pendidikan, hingga dimanfaatkan oleh lembaga2 bimbel maupun
kalangan penerbit dengan membuat dan menawarkan program2 yang berkaitan dengan
tips dan trik sukses menaklukkan AN-AKM. Berikut akan coba diuraikan mengenai
apa dan bagaimana Asesmen Nasional Tahun 2021.
Kenapa harus Asesmen Nasional?
Beberapa alasan mengapa harus ada AN diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Keprihatinan
terhadap hasil pengukuran prestasi siswa (PISA), sehingga perlu dilakukan
paradigma baru penilaian prestasi
2. Trend perundungan
yang cukup tinggi di kalangan pelajar --> secara rerata perbulan 41% siswa
mengalami perundungan
Apakah yang dimaksud dengan Asesmen
Nasional?
Asesmen Nasional bukanlah sistem yang berbeda nama namun berhakikat sama
dengan UN, karena memang berbeda baik secara sistem maupun hakikat. AN 2021
adalah pemetaan mutu pendidikan seluruh sekolah madrasah dan program kesetaraan,
sejak dikdas hingga dikmen, yang diukur melalui 3 instrumen pengukuran mutu,
yakni:
1. AKM --> mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai gambaran
hasil belajar kognitif
2. survei karakter --> mengukur sikap, nilai2, sebagai hasil belajar
non-kognitif dalam rangka mewujudkan profil pelajar Pancasila
3. survei lingkungan belajar --> mengukur kualitas pembelajaran
dilihat dari iklim sekolah dalam menunjang pembelajaran

1.
AKM
Dalam instrumen pengukuran ini, terdapat 2 sub pembagian yakni literasi
membaca dan literasi numerasi.
1.a. Literasi membaca: kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi,
merefleksi berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan
kapasitas individu sebagai WNI dan WN dunia agar dapat berkontribusi secara
produktif di masyarakat
Komponen2 --> (1) konten (teks informasi, teks sastra), (2) proses
kognitif (Menemukan informasi, interpretasi dan integrasi, evaluasi dan
refleksi), (3) konteks (personal, sosbud, saintifik)
1.b. Numerasi: kemampuan berfikir menggunakan konsep, prosedur, fakta,
dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari2 pada berbagai jenis
konteks yang relevan untuk individu sebagai WNI dan dunia
Komponen2 --> (1) konten (bilangan, pengukuran dan geometri, data dan
uncertainty, aljabar), (2) proses kognitif (pemahaman, aplikasi, penalaran),
(3) konteks (personal, sosial kultural, saintifik)
Bentuk soal (1) objektif --> PG konvensional, PG kompleks (memiliki
lebih dari 1 jawaban), menjodohkan, isian singkat, (2) non-objektif
2. Survei Karakter --> mengukur
dengan benchmark 6 elemen dalam profil pelajar Pancasila, yakni Imtaq
akhlak mulia, mandiri, nalar kritis, kreatif, gotong royong, kebhinekaan
global. Hasilnya berupa profil pelajar Pancasila dari tiap sekolah
3. Survei Lingkungan
Belajar --> mengukur iklim belajar satuan pendidikan; iklim keamanan
(keamanan dan wellbeing, sikap dan keyakinan guru, kebjakan dan program
sekolah), iklim kebhinekaan sekolah (praktik multikultural, sikap dan keyakinan
guru/ kepsek, kebijakan dan program sekolah), indeks sosek (pendidikan ortu,
profesi, fasiltas belajar di rumah), kualitas pembelajaran (manaj kelas,
dukungan afektif, aktivasi kognitif), pengembangan guru (refleksi dan perbaikan
pembelajaran, dukungan untuk refleksi guru)
Siapa yang dites dan bagaimana?
- Murid kelas 5 (maks 30), 8, dan 11 (maks 45),
dipilih scr random stratified di setiap sekolah, menggunakan instrumen tes
kmputer, dilakukan selama 2 hari dan diawasi
- Guru (semua populasi di sekolah), dilakukan
daring tanpa pengawasan, durasi 2 pekan
- Kepsek (sama seperti guru)
Tujuan dilakukan AN
1. Evaluasi kinerja
satuan pendidikan à AN memberi
gambaran tentang karakteristik esensial sebah sekolah yang efektif
2. Mendapatkan
informasi untuk perbaikan kualitas KBM, slanjutnya diharapkan berdampak pada
karakter dan kompetensi siswa à AN 2021 sebagai
baseline, pemetaan dan upaya perbaikan akan dilakukan di tahun2 setelahnya
Catatan:
1. Siswa mengerjakan 3
instrumen yang ada, sementara guru/ kepsek hanya mengerjakan Survei Lingkungan Belajar
2. Output Asesmen
Nasional
(a) AKM --> hasil belajar kognitif, (b) hasil survei karakter -->
hasil belajar sosial-enosional, (c) hasil Survei Lingkungan Belajar -->
karakteristik input dan proses pembelajaran
3. Pelaksanaan AN
dikoordinasikan oleh Kemdikbud bekerjasama dengan disdik, kanwil dan kantor
kemenag
4. Teknis pelaksanaan berbasis
komputer dan daring, dengan tipe soal adaptif (eskalatif)
Penutup; Jawaban terhadap pertanyaan
- AKM menggantikan UN
AKM tidak mengukur prestasi individu siswa
- AN sama dengan UN
berbeda, AN diujikan di kelas 5, 8, 11, dan tidak diikuti seluruh siswa
di sekolah
- AKM mengukur prestasi siswa secara individu
tidak, karena yang diukur adalah kinerja sekolah, meliputi literasi,
numerasi, karakter, dan lingkungan belajar
- AKM menentukan kelulusan
Tidak sama sekali, karena tujuannya hanyalah memetakan performansi
sekolah, dan bukan individu
- Perlu drilling soal melalui bimbel AKM
Tidak, karena AKM lebih menitik beratkan pada kemampuan penalaran,
sehingga model drilling soal, terutama soal yang masih dalam model konvensional
tak terlalu membantu.


