Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

ITSAR, MATA AIR IMAN YANG SEMAKIN TAK BER-ATSAR.

Mendengar kata itsar dan iffah, ingatan iman kita akan hinggap pada kisah dua orang sahabat muhajirin dan anshar saat peristiwa hijrah. Merekalah Abdurrahman bin ’Auf dan Saad bin Rabi’ radhiyallahu ’anhuma yang telah memberikan ketauladanan kepada kita akan dua sifat utama yang diajarkan oleh Islam yang mulia.
Al-kisah, telah sampailah sahabat muhajirin setelah menempuh perjalanan jauh dari Makkah menuju negeri hijrah Madinah. Tersebutlah salah satu sahabat mulia Abdurrahman bin ’Auf di dalam rombongan itu. Singkat cerita, tibalah saat awal interaksi dua komunitas iman, dimana terharumlah sejarah dengan peristiwa ta’akhi, pemersaudaraan antara satu orang muhajirin dan satu orang anshar yang diperintahkan oleh sang rasul tauladan sepanjang zaman. Qodarullah, terpilihlah sahabat anshar Saad bin Rabi’ menjadi saudara seiman Abdurrahman bin ’Auf. Hingga kemudian berdecak kagumlah kita akan penggalan kisah yang mereka peragakan dan terabadikan dalam diary iman sebagaimana diceritakan sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu:
”...dan berkatalah Saad kepada Abdurrahman; ’Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separuh hartaku dan ambilah. Dan aku mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, dan akan kuceraikan ia hingga engkau dapat memperistrinya...”.
Lalu, dengan pesona keagungan iman, Abdurrahman bin ’Auf menjawab; ”semoga Allah memberkatimu, isteri, serta hartamu. Tunjukkanlah saja letak pasar agar aku dapat berniaga”.
Subhaanallah, hampir-hampir tidak percaya saya mendengar kisah ini. Namun, begitulah kenyataannya. Sebuah peradaban masyarakat yang dibangun dengan iman, dilandaskan dengan aqidah, dan ditegakkan dengan syariah, telah mewarnai parade sejarah kegemilangan Islam. Tak heran kemudian Allah menggaransi mereka dengan jaminan syurga bagi mereka dan juga bagi sesiapa yang mengikuti jejaknya;
”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.(QS. At-Taubah:100)
Belajar dari dua pribadi agung Abdurrahman bin ’Auf dan Sa’ad bin Rabi’ yang telah mengajarkan kita dengan keteladanan akan buah keimanan. Adalah itsar dan iffah yang menjadi mahkota kemuliaan dua pribadi yang menjadi bagian generasi terbaik ini.
Secara bahasa, itsar berarti mementingkan orang lain lebih daripada diri sendiri. Sesungguhnya itsar adalah salah satu buah dari keimanan. Dan tidaklah muncul sifat ini pada diri sesorang kecuali itu adalah refleksi keimanan yang keluar dari kedalaman kalbu. Begitupun dengan iffah, ia adalah gaun iman yang menjadikan pemiliknya tinggi dan mulia. Iffah bermakna menjaga keterhormatan diri dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Sifat ini lahir dari pancaran iman yang kokoh, yang sumber utamanya adalah keyakinan yang penuh kepada Allah SWT Yang Maha Berkuasa atas makhluknya. Yang Maha memberikan manfaat, maupun menimpakan mudharat. Oleh karena itu, seorang yang berkarakter iffah tentunya mereka adalah pribadi-pribadi muwahid (yang bertauhid), yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya ilah yang haq yang mereka sembah. Dan kedua sifat itu menyempurna pada kisah dua pribadi generasi terbaik hasil binaan manusia terbaik sepanjang masa.

Itsar dan iffah dalam potret dan refleksi masa kini
Suatu hari, saya mendapati sepenggal pengalaman nyata yang menggambarkan akan contoh penerapan sifat itsar dan iffah dalam keseharian kita. Di sebuah bangunan kost-kostan, datanglah saya dan beberapa ikhwan untuk bersilaturrahim ke beberapa ikhwan yang menghuni wisma tersebut. Tidak disangka, ternyata salah satu ikhwan penghuni wisma tersebut sedang di uji dengan kondisi kesehatannya yang agak terganggu. Maka kamipun bercengkrama di kamarnya, hingga suatu kali al-akh yang sedang kurang enak badan tersebut menawarkan kepada kami sedikit makanan (buah) yang ia miliki. Dan salah satu diantara kami merespon dengan sunggingan senyum sambil menjawab; ”akhi, antum lebih membutuhkan”.
Lalu, demi berrefleksi terhadap fenomena itu, sayapun merasa ada sesuatu yang indah yang membuncah dalam dada. ”Ya, itsar dan iffah, subhaanallah...potret kemuliaan yang pernah terjadi di zaman nabi itu saya saksikan sendiri”, begitu apa yang saya fikirkan.
Mungkin antum menganggap komentar saya terlalu berlebihan, apalagi jika sandingan ataupun penisbatan kasusnya kepada kisah Abdurrahman dan Sa’ad. Betul!!! Memang hal itu sama sekali tidak sama. Tetapi hemat saya, ada kemiripan kasus meski dengan konteks maupun level yang berbeda.
Selain itu, sayapun memiliki pengalaman yang justru bertolakbelakang dengan apa yang baru saja saya ceritakan.
Al-kisah, tersebutlah seorang al-akh bernama A yang baru saja membeli makan siang (yang sebenernya sekaligus makan pagi). Lalu, tersebutlah pula seorang al-akh bernama B. Tatkala akh B mengetahui bahwa akh A membeli makanan, dengan serta merta ia ”menyerbunya” dan ”membantu” menyelesaikan hajat akh A tanpa sebelumnya memperhatikan apakah akh A sudah mempersilahkannya untuk ikut memakan makanannya. Melihat air mukanya, kelihatannya akh A tidak begitu ridha dengan apa yang dilakukan akh B, tapi mudah-mudahan saya salah dan Allah SWT mengampuni kesalahan saya.
’Ala kulli haal, memang boleh jadi hal itu sudah menjadi kebiasaan yang menjadi ”kesepakatan tak tertulis” dari kedua al-akh tersebut, tetapi sejauh pandangan saya, walau begitupun harus memperhatikan adab-adab yang di ajarkan oleh Nabi Shalallahu ’alaihi wa sallam. Lalu pikiran ”liar” dan ”nakal” saya langsung mengkaitkan fenomena terakhir ini dengan kisah Abdurrahman dan Sa’ad, namun dalam perspektif yang berkebalikan, yaitu yang konotasinya super negatif. Jika Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’ telah mempertunjukkan kita tauladan dalam hal itsar dan iffah, tetapi kasus dua orang al-akh ini menyandiwarakan kita contoh sikap ”pelit” dan ”nggragas”.
Astaghfirullah, afwan beribu afwan, tsumma afwan jiddan, tidak ada maksud saya untuk menyinggung seseorang dari antum, pembaca. Namun saya hanya mencoba mengangkat fenomena-fenomena kecil dan mungkin terkesan sepele dalam pergaulan tarbawi kita. Salah satu rerfleksi yang dapat saya tangkap dari fenomena semacam itu adalah betapa adab-adab bergaul kita sehari-hari sudah sedikit menjauh dari bingkai kaidah pergaulan yang rasulullah SAW telah ajarkan. Tapi begitupun saya juga menginsyafi, karena sesungguhnya tulisan ini sebetulnya utamanya menyinggung diri saya pribadi yang sering lupa untuk mengikuti tuntunan nabi.
Fhhhh... terasa begitu berat saya menulis beberapa paragraf terakhir. Mudah-mudahan antum tidak memberi saya ”mosi tidak percaya”. Karena –sekali lagi-, tidaklah saya membuat tulisan ini untuk menyinggung antum, tetapi hanyalah sebagai tausiyah untuk memperbaiki kualitas interaksi kita agar tetap dalam apa yang telah dituntunkan nabi-Nya. Meski sangat boleh jadi mekanisme tausiyah ini akan terlebih dahulu ”menyentil” dan menyinggung beberapa dari kita ketika kita membacanya. Tapi, terkadang memang tausiyah itu laksana pil pahit yang harus kita telan agar penyakit yang kita derita tersembuhkan, wallahu a’lam.
Sebetulnya, ada beberapa kasus lain yang menjadi potret dari bahasan kita kali ini, namun kiranya hal itu tidak terlalu penting. Poinnya adalah agar bagaimana satu-dua contoh yang terpaparkan tersebut bisa menjadi sarana refleksi dan evaluasi kita tentang sejauh mana semboyan Ar-rasul Qudwatuna menjadi bahasa amal kita, tidak hanya sebatas jargon indah yang tetap terangkai dalam bait kata-kata, tanpa sedikitpun berusaha mewujudkannya di alam nyata. Wallahu a’lam bish showwab. (Abu Usamah)                       

1 komentar:

  1. Ajakan untuk semua al akh,
    yuuuk belajar...
    belajar meneladani kehidupan generasi pilihan

    BalasHapus