Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 15 Mei 2011

RAMADHAN DAN ASA PERUBAHAN


          Sebentar lagi hitungan masa akan mengantarkan kita pada sebuah bulan yang mulia. Bulan yang tersimpan didalamnya berjuta keutamaan. Bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah (ampunan) serta jaminan kebebasan akan neraka yang apinya menyala-nyala. Bulan yang semua orang beriman menantikan untuk berharap berjumpa kembali serta menikmati lagi suguhan hidangan-Nya. Kita berdoa semoga Allah SWT menyampaikan kita pada bulan-Nya yang mulia dan mengilhamkan kita kemauan untuk meraih berjuta keutamaannya, Amin Yaa Robbal ’aalamiin.      

          Ramadhan merupakan bulan yang utama, yang secara ajaran agama maupun realitas historis umat Islam memiliki kedudukan tersendiri bila dibandingkan dengan bulan-bulan selainnya. Kita dapati dalam sejarah perjuangan umat Islam bahwa peristiwa-peristiwa besar terjadi di bulan ini. Kita ingat perang Badar, dimana sepasukan kaum muslim yang berjumlah 314 orang memenangkan peperangan meski harus melawan golongan kaum musyrikin yang berjumlah lebih dari seribu orang. Kita juga ingat peristiwa besar penaklukkan kota Mekkah (Fathu makkah) yang pula terjadi di bulan suci ramadhan. Pun dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Tidaklah terjadi peristiwa besar proklamasi kemerdekaan kecuali dibulan ini. Dan masih banyak lagi peristiwa yang menjadi titik tolak perubahan yang bersifat fundamental yang itu terjadi di bulan ini.

          Momen ramadhan disamping menyimpan berjuta keutamaan, ianya juga menjadi suatu titik waktu dimana banyak orang menemukan kesadaran untuk berubah. Dalam skala kelompok, kaum, atau bahkan umat dalam suatu bangsa pun demikian. Ramadhan menjadi suatu potongan masa bak kawah candradimuka. Ia laksana ”kursus singkat” yang paling efektif dalam membuat seseorang berubah untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu, banyak kisah maupun peristiwa besar dalam sejarah yang terjadi di bulan ramadhan. Semua itu menjadi salah satu rahasia hikmah yang terkandung dalam bulan yang penuh keberkahan, bulan ramadhan.

          Bila kita coba merenungi kondisi bangsa dan negara kita –dengan kejernihan hati-, pastilah kita akan merasakan miris dan prihatin. Betapa tidak, krisis multidimensi yang berkepanjangan yang kita rasakan tidak kunjung memberikan tanda akan berakhir. Kemiskinan, kebodohan, tindakan kriminalitas, pertikaian antar kelompok, demoralisasi yang massif dan beragam kata kenestapaan lain menjadi realita yang terjadi di bumi yang dahulu disebut zamrud khatulistiwa ini. Namun apapun yang terjadi, the show must go on, begitulah kondisi memprihatinkan negara kita. Dan sangat tidak bijak rasanya jikalau yang bisa kita lakukan hanyalah mengutuk keadaan. Akan jauh lebih baik manakala kita mencoba menyalakan lilin-lilin perbaikan walaupun hanya dengan sebatang nyala yang kita punya. Dan ramadhan dapat menjadi fase waktu dimana kita dapat menyalakan lilin-lilin tekad dan semangat di dalam masing-masing diri kita untuk dapat menjadi aktor-aktor perubahan di negeri tercinta.

          Salah satu alasan penjelas mengapa negeri kita terpuruk dalam segala dimensinya adalah pada faktor mental-mental kolektif para komponen bangsanya. Baik dari level pimpinan di segala stratanya, hingga pada mereka yang menjadi staff dan bawahannya dalam suatu lembaga. Dan semua itu menjalar secara massif kepada anggota masyarakat segala lapisan sosial. Mental-mental kolektif yang berorientasi destruktif dan antisosial yang mewujud pada praktik-praktik semacam keserakahan, korupsi, kolusi, nepotisme dan semacamnya pada jajaran elit bangsa dan negara, hingga mental-mental negatif vandalistik semacam pengrusakan, pertikaian, dan praktik kejahatan yang menjangkit golongan alit (massa). Dan semua itu memang bukan terjadi seketika, melainkan melalui proses yang cukup panjang sejak periode kekuasaan masa lalu.

Demi melihat realita yang demikian, tibalah saatnya bagi kita untuk sadar akan iklim negatif yang membentuk atmosfer sosial yang terjadi di negara kita ini, untuk kemudian menjadi aktor-aktor pemantik atmosfer sosial yang bercorak positif-konstruktif. Dan sangat relevan dengan momentum yang akan segera hadir di tengah-tengah kita yaitu bulan ramadhan.

Bulan ramadhan sering disebut pula sebagai bulan pendidikan (syahru at-tarbiyyah). Dalam bulan ini, secara sosial umat terkondisikan untuk merubah dirinya. Kewajiban puasa (shoum) dalam bulan ramadhan bagi umat Islam sesungguhnya menyiratkan hikmah sosial yang luar biasa untuk membentuk atmosfer kolektif sebuah umat maupun bangsa untuk berubah.  Hal itu dapat terwujudkan manakala esensi dari ramadhan itu sendiri mampu untuk dapat dimaknai oleh setiap pribadi muslim. Ramadhan sebagai bulan yang bertujuan membentuk pribadi bertaqwa hendaklah menjadi seutama makna. Bukan justru menjadi bulan yang berorientasi ekonomi-konsumsi, atau bahkan bulan yang biasa-biasa saja seperti bulan-bulan lainnya. Karena bulan ramadhan adalah bulan latihan (tadhrib) bagi setiap muslim untuk membiasakan diri mentaati kewajiban dan melakukan perbuatan-perbuatan kebaikan yang itu terkandung dalam setiap perintah baik yang wajib maupun yang sunnah.

Sebagaimana laiknya suatu kontingen olahraga yang akan didelegasikan untuk mengikuti sebuah kejuaraan bergengsi, tentunya jauh sebelum waktu penyelenggaraan kejuaraan itu dimulai, persiapan sudah betul-betul dilakukan. Maka diadakanlah pusat latihan demi menyongsong kejuaraan tersebut, yang harapannya agar delegasi yang dikirim dapat meraih prestasi maksimal. Dalam proses latihan tersebut, pastinya dilalui dengan sangat keras. Sebuah periode waktu penggodokan diri sang atlet untuk semakin meningkatkan kemampuan cabang olahraga yang digelutinya, agar ketika pertandingan tiba, ia dapat melaluinya dengan hasil yang gemilang. Bilapun boleh dianalogikan, kiranya seperti itulah proses ramadhan membentuk kita. Bahwa mungkin ada keberatan-keberatan yang kita rasakan ketika menjalani ibadah ramadhan. Sejak dini hari sudah harus bangun untuk makan sahur. Siang hari dilalui dengan lapar dan dahaga, serta berusaha untuk menjauhi segala perbuatan dosa yang dilakukan oleh mata, lisan dan telinga. Malamnya disunnahkan untuk berdiri melaksanakan sholat tarawih. Belum lagi bermacam ibadah lain yang apabila kita melaksanakannya di bulan ini, pahalanya dihitung berlipat-lipat dibanding ketika kita mengerjakannya di bulan lain. Di akhir ramadhan juga ada kewajiban bagi kita untuk membayar zakat fitrah yang nantinya hasil pengumpulan zakat itu akan dibagikan kepada mereka yang kurang beruntung dari golongan fakir dan miskin. Kesemuanya itu adalah bertujuan untuk membiasakan kita agar menjadi pribadi-pribadi robbani, yaitu pribadi-pribadi yang tidak pernah lepas dari perasaan dekat dan selalu diawasi oleh Allah SWT. Dan pula menjadi pribadi-pribadi yang memiliki ciri empati terhadap kondisi lingkungan sekitarnya yang kurang beruntung.

Bulan ramadhan adalah bulan penempaan setiap pribadi-pribadi beriman untuk semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan yang bukan hanya berdimensi vertikal hubungan kita kepada Allah SWT, tapi juga dimensi sosial-horizontal. Beginilah ajaran mulia ini mengajarkan kita. Bahwasanya ibadah yang sejatinya merupakan relasi teologis (penghambaan) seorang makhluk kepada kholik (penciptanya), tetapi ia pula terrefleksi pada hubungan sosial di antara sesama manusia. Dan kedua dimensi relasi tersebut haruslah berjalan seimbang tanpa ada ketimpangan di salah satunya. Hal inilah yang menjadi salah satu karakter dari Ad-diinul Islam, yaitu keseimbangan (at-tawazun).

Sungguh suatu hal yang sangat ironis apabila kita coba merenungi potret umat Islam hari ini, terutama pada aspek sosial-ekonomi. Bila kita coba perhatikan, sepertinya terdapat jurang yang lebar antara orang kaya dan orang miskin. Bahkan terlihat yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin, padahal agama kita yang mulia ini mengajarkan kepada kita akan nilai-nilai hubungan sosial yang dilandasi keadilan dan  kepedulian terhadap sesama, yang itu tercermin dalam berbagai macam bentuk ibadah yang disyariatkan. Maka ramadhan merupakan momentum kita untuk menajamkan kembali mata bathin kita. Berapa banyak dari kita yang lupa terhadap nasib orang-orang yang tidak seberuntung kita. Atau, berapa banyak dari kita yang bukan hanya melupakan dan tidak mempedulikan mereka, tapi juga telah berlaku zhalim dengan mengambil hak-hak mereka, naudzubillaahi min dzaalik. Maka ramadhan hendaknya semakin menajamkan kepekaan sosial kita. Jangan sampai kita termasuk seperti apa yang disabdakan oleh baginda rosululloh tatkala menyebut tidak beriman seseorang yang menyantap hidangan sampai kenyang, namun pada saat yang bersamaan ada salah seorang dari tetangganya yang kelaparan. Dan apabila komentar baginda rosululloh terhadap orang yang tidak memiliki kepedulian sosial saja sampai seperti itu –disebut tidak beriman-, apatah lagi mereka yang mengambil hak orang-orang miskin dengan mengkorupsi dana milik negara? 

Maka sebagaimana pesan yang sebelumnya disampaikan, marilah kita mencoba memulai menyalakan lilin-lilin perubahan dalam setiap diri kita. Dan kita jadikan ramadhan sebagai titik tolak sosial-massal dari upaya perubahan itu. Sehingga manakala hal itu sudah menjadi semacam gerakan kolektif  yang mengemuka, harapan nurani kita untuk perbaikan negeri tercinta bukan lagi hanya menjadi jargon yang sering diucapkan oleh lisan-lisan tidak jujur dari mereka yang memiliki ambisi kekuasaan. Maka ramadhan dan perubahan, mari kita wujudkan demi perbaikan negeri seperti apa yang kita idam-idamkan. Wallahu a’lam bish showwab.(Bang Utray)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar