Total Tayangan Halaman

TIME

Rabu, 21 Januari 2015

TELESCOPING THE SUPPLIES OF HUMAN RESOURCES FOR CULTURAL SECTOR IN THE FUTURE (A Brief Tracer Study of Cultural Science Students in Several Universities in Indonesia)





Besides caring to the abundant issues towards development, one of government’s efforts to build a better nation is by giving attention the cultural sector. Culture is what teaches people about the important key to make a wealthier nation – the equity and the civility. 
So far, the data about the amount and the state of human resources in cultural sector has not been well collected. Even the data about the supply of human resources for the future which is being prepared by many fields of studies, especially in cultural sciences are just the same. The nation’s wealth in the cultural sector which makes Indonesia become a very well known country among the foreign countries has not been supported by the awareness of the people to conserve and develop all the valuable cultural heritages. Still there is imbalance between the amount of tangible - intangible cultural heritages and the human resources who will take care of them. Thus, it is worrying to think that Indonesian cultural heritages will be disappearing day by day. So that it is not surprising if there are many countries claiming one of Indonesian cultural heritages as theirs. Indonesian also should not be angry towards what they do. 
We all know that many people are still not interested to work in the field of cultural sciences study, as we also know that the interest of the student candidates in Indonesia in cultural sciences study is not as big as their interest in another field of study in Indonesia. The majors like Sociology, Anthropology, History, Indonesian Literature, and Archeology still become the less preferences comparing to Medical Sciences, Engineering, Law, and some others which many students seek for in the entire nation. Moreover, the more specific majors like Arts, as what some Institutes in the field of arts and cultures provide, has few enthusiasts. These phenomena endanger the preservation of Indonesian Culture which becomes the everlasting wealth of our beloved Indonesia. Therefore, the research about students’ interest towards cultural sciences and their eagerness to dedicate themselves in the field of cultures becomes crucial to be conducted so that the result can be used to describe the supplies of human resources in cultural sector in the future. Moreover, it can also be the starting point to make a better policy in building and developing cultural sector as one of the most precious asset of our nation. 
The topic of this research is “Tracing the Interest of the Senior High School Graduates and Candidate of University Graduates to the Profession in the Cultural Sector” which was planned to be accomplished in two years. In 2014, the tracer study was conducted towards the graduates of senior high school who were in their early and last semesters in Cultural Sciences Program in the Universities chosen to become the place to do the study. For the students in their early semesters, the research aims to survey the congruence of their interest to study in the Faculty of Cultural Sciences. While for the students in their last semesters, the research aims to examine their interest and projection to work in the cultural sectors. In 2015, the research will confirm the 2014’s graduates who has been studied in the previous year in their work field and profession they were working on. 
This research will take place in 9 provinces in Indonesia. They are North Sumatera, West Sumatera, west Java, Central Java, Yogyakarta, east Java, North Sulawesi, South Sulawesi, and Bali. In each province, the data will be taken from some universities and institutes which have majors or study program in the area of Cultural Sciences. In the Universities, the research will take the sample from Sociology, Anthropology, Archeology, History, and Indonesian Literature Departments. While in the Institutes of Arts and Cultures, the sample will be taken from Dance, Music, Theatre and Visual Arts Departments. From each major or program, the sample taken will be 60% of the 2014 badge, 40% of 2011 badge, and 10% of 2010 badge in which population is based on the total admissions in every badge. The research is quantitative research with questionnaire as the primary instrument which will be answered by the students from various majors and badges as mentioned above. 
When this paper was written, the research just finished the data collection so that the result has not been ready to be presented. As the result of this research has been acquired, it is hoped that the result can show the overview of the supplies of human resources in cultural sector so that the relevant parties can make the best policies, especially for the Center for Human Resource Development of Culture, Agency of Research and Development,  Agency of Human Resource Development on Education and Culture and Education Quality Assurance, and Ministry of Education and Culture which will be mostly concerned with the result of this research.

Lastly, hopefully all of the cultural sectors as Indonesia’s Most Precious Heritage can be preserved and developed to be one of the development focuses in this new governmental era. Along with the development of the cultured human resources, Indonesia will be wealthier and more prosperous. The people will also live in the peace and harmony civilization in tapestry of life named Indonesia. (UTR, Centre for Research and Development of Culture, Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia)

Kamis, 04 September 2014

BELAJAR BUKAN HANYA DI SEKOLAH (Pesan untuk menjadi pribadi pembelajar)



                Membincang topik tentang “belajar” di masyarakat kita biasanya diasosiasikan dengan sebuah tempat dan atau institusi bernama “Sekolah”. Segera saja setelah kita mengangkat tema obrolan ini baik saat kongkow di warung kopi, atau ketika berada di majelis rumpi ibu-ibu di tukang sayur, atau mungkin sekedar diskusi ringan selepas shalat berjama’ah di masjid, tema tentang “belajar” atau “pembelajaran” hampir pasti kata yang mereka maksud adalah “sekolah”.

          “Belajar” dan “sekolah” adalah dua kosa kata yang menyiratkan kesan yang sama, walaupun pada dasarnya antara keduanya berbeda. Belajar adalah sebuah kata yang menunjukkan akan aktifitas, baik fisik dan terutama mental dari sesuatu yang akan membuat seseorang berubah lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan sekolah adalah sebuah tempat dan atau lembaga yang secara formal mewadahi seseorang untuk belajar.

            Menilik pada pengertian dari kedua kata tersebut, kita bisa mengambil hakikat yang sangat besar dan bermanfaat. Belajar yang merupakan suatu aktifitas dan atau kegiatan di mana dengannya kita bisa menjadi lebih tahu, lebih cerdas, lebih baik, lebih hebat, lebih bijak, yang itu menggunakan berbagai potensi ragawi yang kita miliki dari indera yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Maka belajar bisa kita lakukan kapanpun, dimanapun, kepada siapapun, dan belajar apapun. Dan dengan begitu, anggapan yang menyebutkan belajar identik dengan sekolah merupakan salah satu bentuk dari sesat pikir yang sering dianut oleh masyarakat kita. Yang tergambar dalam benak kebanyakan dari kita bahwa belajar itu adalah duduk di kelas, mengikuti pelajaran dari guru, mengerjakan tugas, mendapat nilai. Padahal belajar bukan hanya itu, dan belajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Sekolah hanyalah merupakan salah satu tempat untuk kita melakukan pembelajaran. Kelebihannya hanyalah pada sisi formalitasnya. Sementara jika kita menginginkan pembelajaran yang lebih luas, maka kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan belajar apa saja.

 Allah Ta’ala telah memberikan kita anugerah berupa potensi-potensi akal, jasad dan jiwa sebagai sarana untuk kita menyerap pengetahuan. Kita dapat belajar dari melihat, dari mendengar, dari memikirkan sesuatu, dari meniru dan melakukan sebuah hal yang baru secara mandiri. Kita dapat mendayagunakan seluruh potensi itu yang kemudian membuat kualitas kepribadian kita menjadi lebih baik.

              Di dunia ini ada orang-orang yang bersekolah dan sukses, sebagaimana ada orang-orang yang bersekolah tapi hidupnya sengsara. Dan di dunia ini juga ada orang-orang yang tidak bersekolah tapi juga sukses, sebagaimana terdapat orang-orang yang tidak bersekolah dan hidupnya nestapa. Jadi, sekolah atau tidak sekolah sama-sama bisa sukses, namun juga sama-sama bisa gagal. Apa yang membedakan hanyalah satu kata; belajar, atau dengan kata lain menjadi seorang pembelajar.

Bagi seorang pembelajar, sekolah atau tidak sekolah ia akan sukses. Karena ia betul-betul mendayagunakan segala potensi dan sumber daya yang ia miliki untuk menarik hikmah dan manfaat, yang dengan begitu ia selalu berubah lebih baik, siapapun orangnya, apapun profesinya.  Namun sayangnya, kata ini –belajar-, atau juga tempat ini –sekolah-, adalah dua kata yang mungkin paling dibenci oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya buat remaja yang sedang menempuh tangga pendidikan formal di sekolah. Betapa sering kita lihat para pemuda dan pemudi tidak menggunakan waktu-waktu belajarnya dengan baik di sekolah. Atau bahkan tidak jarang kita melihat para pelajar itu memilih untuk tidak bersekolah, entah itu mereka “cabut” saat jam-jam sekolah, atau memang mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih untuk menjadi pengangguran.

Sebetulnya tidak sepenuhnya orang yang tidak bersekolah itu tercela, karena memang sejatinya pembelajaran itu bisa dilakukan di mana-mana. Namun dalam kebanyakan kasus di negeri kita, para remaja yang memilih tidak belajar di sekolah biasanya juga tidak belajar di tempat manapun mereka berada. Mereka lebih memilih mejeng di mall dan atau nongkrong di pinggir jalan dan benar2 tidak memanfaatkan potensi waktu yang mereka miliki untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Nikmat waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka sering mereka buang percuma hingga tidak menghasilkan manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara kita menjadi tidak produktif dan selalu terpuruk, dikarenakan golongan remaja dan pemudanya tidak berusaha memanfaatkan waktunya untuk kebaikan mereka, terlebih demi pembangunan negara.

Menjadi pribadi pembelajar sama sekali tak mengandung arti menjadi seorang murid di sekolah tertentu, atau menjadi mahasiswa kampus tertentu. Akan tetapi berpribadi pembelajar adalah menjadi seorang yang benar-benar berhasrat untuk selalu menjadikan setiap waktu mereka bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya. Mereka membaca buku, menonton berita, mendengar radio, berlatih ketrampilan berbahasa asing, menyimak wejangan orang-orang sukses, mengikuti training-training kompetensi. Mereka belajar berorganisasi, mereka terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mereka bergaul dan meluaskan hubungan pertemanan, mereka berhubungan baik dengan banyak orang. Mereka belajar mengemudikan kendaraan, mereka mengikuti kursus menjadi montir, atau kursus menjahit, atau pula kursus komputer. Pokoknya mereka benar-benar berusaha  memanfaatkan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kompetensi diri. Dan jika sudah begitu, persoalan kesuksesan, kemapanan materi, terjaminnya kualitas hidup, hanyalah merupakan hadiah yang pasti mereka dapatkan dengan sendirinya. Entah mereka menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yang sukses, pendidik dan akademisi yang berhasil, karyawan yang profesional, aparat negara yang amanah, atau sekedar menjadi petugas-petugas pelayan masyarakat di level apapun yang benar-benar berdedikasi tinggi.
Menjadi pribadi pembelajar adalah kunci akan kualitas hidup yang baik. Ia menjadi sebab kesuksesan seorang anak manusia, baik kesuksesan dunia, terlebih kesuksesan akhirat. Maka sudah selayaknya kita berusaha untuk menjadi pribadi pembelajar itu, meski tak mampu bersekolah tinggi-tinggi, tapi tetap berkesempatan untuk tetap berkompetisi menjadi yang terbaik. Kiranya tulisan ini akan ditutup oleh sebuah ungkapan inspiratif  tentang obsesi jiwa seorang pembelajar sejati ;
Setiap orang adalah guru
Setiap hal adalah ilmu
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap kejadian adalah pelajaran


Senin, 18 November 2013

CELOTEH ASPAL



                Menyusuri jalanan antara Pengasinan Rawa Lumbu dan Kota Wisata Cibubur adalah rutinitasku selama 6 hari dari Senin hingga Sabtu, buat apalagi jika bukan untuk bekerja mencari nafkah. Perjalanan berpuluh kilo setiap harinya begitu rela kujalani demi menyambung hidup dan menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di istana syurga yang tengah kubangun. Kesemuanya kulakoni dengan (semoga) ikhlas, yang harapannya ianya menjadi satu posko pahala yang memenuhi pundi-pundi amal shalihku. Allahumma amiin.

                Adalah pengalamanku melintasi setiap inchi jalan yang mengantarkanku menuju atau kembali dari Cibubur yang ingin kubagi di tulisan ini. Aspal yang menjadi media penyambung antar wilayah di nusantara ini memang penuh dengan undangan kekesalan dan umpatan.  Betapa tidak, manakala kita coba sekilo saja menyusuri ruas jalan yang membentangi medan NKRI umumnya, atau jakarta dan sekitaran khususnya, maka kita akan pasti selalu jengkel dibuatnya. Adalah lubang demi lubang di sana-sini yang begitu setia menemani setiap pengendara yang tidak sama sekali berjumlah sedikit kecelakaan yang memakan korban karenanya. Lubang-lubang yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada panjang ruas jalan yang ada di seantero Indonesia (wualah, lebay brakalay). Lubang-lubang yang bagiku amat sangat lebih menjengkelkan dibanding lubang-lubang yang menjadi penghias tersembunyi dari gigi-gigi yang hampir punah yang masih  kumiliki (buka kartu).

                Tidak tepat memang jika kita menjadikan aspal hitam yang konon banyak diangkut dari pulau Buton di selatan Sulawesi menjadi tersangka sekaligus terdakwa dalam pembicaraan ini. Karena sang aspal hanyalah sekedar benda mati yang guru Bahasa Indonesia kita dahulu di sekolah menyebutnya “objek penderita”. Namun yang amat sangat paling terpenting adalah sang subjek dan si predikat yang membuat nasib perjalanan umat manusia Indonesia ajlut-ajlutan tak karu-karuan.

                Suatu kali, pernah kukatakan pada istriku saat melintasi suatu ruas jalanan yang begitu amboi rusaknya, “Dek, untuk mendiagnosa apakah terdapat korupsi pada suatu pemerintahan di sebuah negara atau daerah hanya cukup dari melihat dan merasakan jalanan-jalanan wilayahnya, jikalau banyak yang rusak maka nyaris vonis negeri atau wilayah koruptor itu sah untuk disematkan pada pemerintahnya”. Namun, beberapa hari ini kupikirkan lagi perkataanku itu, dan setelah menimbang dari pengalaman selama beribu kilometer yang telah kususuri dari jalan-jalan NKRI, maka kupikir cukuplah jalan-jalan itu menjadi saksi sekaligus bukti bahwa korupsi bukanlah lagi menjadi budaya anak negri, melainkan telah menjelma menjadi semacam ideologi; ideologi korupsi.

                “Aspal”, ujar istriku demi menimpali perkataanku, “itu biar hitam tapi enak rasanya mas, buktinya para pejabat yang menangani jalan pada doyan ngaspal”. Hah, benar juga opini istriku ini. Setiap hari dari ujung barat sampai ujung timur ruas jalan di ibukota dan sekitarnya (dan mungkin juga bapak kota dan sekitarnya) selalu terdapat panitia abadi pengaspalan jalan dari pemerintah. Seolah jalan di Indonesia bak kayu yang dimakan rayap yang perlu diperbaiki setiap hari tak kenal henti. Atau seolah pula, sang jalan diperbaiki dan ditambal bukan dengan aspal, melainkan dengan cendol yang selalu habis dikerubuti penggemarnya (ngga nyambung) sehingga selalu perlu untuk ditambal dan ditambal lagi.

                Persoalan aspal di Indonesia memang betul-betul membuat kita jengkel. Sebagai pengendara tentunya kita menginginkan jalan-jalan yang kita lalui begitu nyaman karena berpermukaan rata dan halus sehalus sutra (ngga mungkin la yauw). Namun itulah kiranya keadaan sebenarnya, nampak seperti peribahasa Jauh api dari panggangnya.

                Seorang ustadz dalam ceramahnya pernah membagi pengalamannya berwisata dakwah ke negeri Uber Alez Jerman yang katanya jalan-jalan di sana halus bin mulus tak seperti jalan-jalan nusantara. Malah yang membuat takjub katanya pula, manakala terdapat jalan berlubang dan seorang pengendara mengalami kecelakaan lantaran lubang tersebut, maka pemerintah maupun instansi terkait bisa dituntut dipengadilan, maa syaa Allah...

                Kosa kata aspal di Indonesia sering disebut sebagai akronim dari “asli tapi palsu”. Mungkin memang akronim ini sejatinya untuk menggambarkan definisi sebenarnya dari aspal itu sendiri. Maksud saya, aspal yang bermakna suatu material berwarna hitam legam yang digunakan untuk menutup dan meratakan jalan, namun karena banyak jalan yang gampang rusak dan berlubang, mungkin memang sejatinya aspalnya aspal alias asli tapi palsu, seolah-olah memang hitamnya aspal, tapi hitamnya luntur dan padatnya melumer hingga menjadilah jalan-jalan berlubang yang menjadi perhiasan jalan-jalan nusantara.

                Saya tak habis pikir tentang kondisi aspal di negeri ini, sebuah bidang garap yang telah menjadi tugas salah satu kementrian kabinet. Bicara pajak pun, berapa banyak pemilik kendaraan baik berroda dua, empat  hingga lebih, yang telah menyumbang demi membayar pajak tahunan dan lima tahunan kendaraan mereka. Namun jalan-jalan masih saja rusak dan berlubang. Upaya perbaikan yang non-stop sepanjang tahun di berbagai-bagai titik (saking banyaknya) pun tak menjadi solusi berlubangnya jalan-jalan di republik ini. Yang terjadi hanyalah seperti sebuah kalimat penggalan syair dangdut “gali lubang tutup lubang”, atau seperti juga sebuah ungkapan yang sebenarnya bernuansa heroik; “tutup satu berlubang seribu” (plesetan pepatah “mati satu tumbuh seribu”, maksa).

                Yaah, lagi-lagi inilah bangsa itu. Bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin mental dan kepribadian. Jalan yang menjadi sarana transportasi penting hanyalah menjadi sapi perah objek korupsi para elit maupun alit terkait. Yang ada program-program perbaikan jalan hanya sebatas proyek keserakahan berupa perampokan, pengemplangan, penggelapan uang rakyat, sehingga lubang-lubang yang menghiasi jalan menjadi perhiasan abadi bagi para pengguna jalan. Padahal bisa jadi sangat mudah untuk membuat jalan rata tanpa lubang jika memang pemerintah berkomitmen untuk itu, sebagaimana jalan-jalan di negara-negara lain. Semoga !!!! (Pengasinan, 13 November 2013, 06.39 WIB)
               

Kamis, 25 Oktober 2012

MENGHAPUS JEJAKMU (Sepenggal Kisah Dari Masa Lalu)



              Sabtu pagi, 20 Oktober 2012, sekitar pukul 8 kurang dikit, saat ku mengisi bensin motorku di salah satu SPBU yang lokasinya searah dengan jalan menuju kantor, qadarallah sang SPBU dengan kerasnya memasang speaker yang memutarkan sebuah lagu yang dahulu pernah menjadi saksi dalam kepingan waktu penuh hikmah perjalanan hidupku.

Engkau bukanlah segalaku
Bukan tempat tuk hentikan langkahku
Sesudah semua berlalu
Biar hujan menghapus jejakmu

            Sabtu kala ku berangkat kerja pagi itu udara terasa dingin, terang saja karena sekitar ba’da shubuh sebelumnya hujan mengguyur Bekasi dengan sangat derasnya. Jalanan yang masih meninggalkan jejak-jejak basahnya seperti seolah bersekongkol mengajakku kembali untuk mengingat masa lalu dimana bait lagu yang kudengar di SPBU itu menjadi sepenggal saksi proses hidup mematangkan kepribadianku.
            Sejenak ku pun teringat dengan dua sosok ikhwan yang kukenal di tempat kerjaku sekarang. Dua ikhwan yang insyaAllah shalih, yang pengalaman hidup mereka baru-baru ini, adalah mirip dengan pengalamanku di masa lalu yang salah satu diantaranya menyelipkan bait lagu di atas sebagai prasasti hikmahnya.
            Bukanlah perbuatan yang dibenarkan dalam Islam yakni mendengarkan musik yang memang banyak ulama menghukuminya haram. Namun izinkan ku bercerita masa laluku yang tengah menjalani proses hidup, yang mohon maklum manakala masih terdapat lelaku yang tak sesuai dengan ilmu.
            Seperti dua ikhwan yang baru saja mengalami kegagalan dalam prosesnya menggenapkan setengah diin, aku pun pernah mengalami hal serupa sebelum akhirnya ku menikah dengan istriku sekarang. Suatu kisah hidup yang akhirnya kubagi dengan mereka berdua untuk meneguhkan dan menguatkan mereka akan sikap yang telah mereka ambil. Jika yang satu terpaksa menghentikan proses karena orang tua sang akhwat belum meridhai anaknya dipinang sebelum meraih gelar S2. Yang satu lagi memilih berhenti berproses karena sang akhwat memprasyaratkan sesuatu yang baginya tidak dikenal dalam koridor syar’i dan hanya ma’ruf pada kalangan tertentu dari kelompok pergerakan Islam. Kisahku agaknya lebih mirip dengan ikhwan yang kedua yang dengan gagahnya memilih berhenti dari proses dan memilih untuk menghapus jejakmu dan mencari yang lainJ.  
            Seperti kebanyakan ikhwan yang telah terhitung ba’ah, diriku pada masa kuliah dahulu mungkin lebih dewasa dari usianya, atau memang dibanding usia teman-teman, usiaku 2-3 tahun lebih tua dibanding mereka, maka mungkin yang lebih tepat bukan lebih dewasa dari usianya, tetapi cukup dewasa sesuai kadar usianya, he...he...he...
            Pada masa itu, terkhusus di saat-saat berada di semester penghujung, keinginan untuk menikah begitu kuat. Motivasi diin dan ketaksanggupan membendung gelora gharizah menjadi pendorong paling deras untuk menyegerakan menikah, hingga akhirnya kuberanikan diri untuk “menembak” seorang akhwat dengan maksud mengajaknya menikah sebagai satu-satunya jalan bagiku.
            Tak seperti sebagian orang yang tak siap dengan jawaban ini; TIDAK!!, terlebih dalam masalah se-sensitif ini, buatku kata itu seperti angin segar yang tak kalah sejuknya apabila sang akhwat berkata “YA” pada ajakanku kepadanya untuk menikah. Kuanggap perasaanku saat situasi itu sebagai bukti dan pertanggungjawabanku atas klaim “dewasa sesuai usianya” yang telah kutulis di paragraf sebelumnya(he...he...bukan bermaksud ujub, riya’ wal sum’ah lhoJ)
            Mindset seorang ikhwan dalam prosesnya menuju pernikahan, kuistilahkan pendirianku dengan kalimat panjang itu, yang pula kubagi dengan dua ikhwan shalih di awal cerita tulisan ini. Betapa masa penantian jawaban terhadap ajakan menikah dapat menjadi situasi kritis bagi seorang ikhwan. Beberapa cerita yang pernah kudapat justru fenomena itu bisa menjadikan sang ikhwan “rusak” keikhwanannya, menjadikannya gelap mata, atau goyah citarasa fikrah imaniyahnya. Namun kesemua itu tidak terjadi padaku. Bukan lagi sakit hati, bukan pula kecewa. Yang kurasa justru semacam keteguhan dan keyakinan diri yang semakin membuncah akan hal jodoh. Cara berfikirku yang kuperoleh dari pengembaraan membaca buku, menghadiri kajian tentang pernikahan, istifadah dari kisah dan fenomena berumah tangga dari ikhwan dan akhwat yang telah mendahului, merupakan jejak-jejak langkah yang membentuk fikrahku seperti saat itu. Penolakan itu lebih terasa seperti “kesempatan memberi” yang terlewat untuk sang akhwat, dan hal yang kusiapkan untuk kuberi itu justru semakin hebat, yang jika tiba saatnya nanti kan kuberikan kepada akhwat yang lebih tepatJ.
            Pertanyaan “bersediakah engkau menjadi istriku?” yang kita ajukan kepada salah seorang akhwat adalah sebuah keputusan yang teramat berat dan perlu pertimbangan matang yang keluar dari fondasi berfikir yang mantap. Maka seyogyanya kita tidak main-main dalam keputusan ini. Maka masa panjang diriku sebagai bujang yang kulalui dengan berbagai kesibukan tarbiyah merupakan persiapanku untuk menghadapi saat-saat seperti ini, saat dimana kita mengatakan kepada seorang akhwat yang akan ber-untung (maksudnya yang akan menjadi istri Untung –penggalan namaku-, he...); “Ukhti bersediakah Anti menjadi permaisuri di istana syurgaku?”
            Tarbiyah dzatiyah seorang al-akh, sejatinya ia merupakan persiapan yang sungguh bagi seorang ikhwan untuk menghebatkan dirinya, yang kehebatan itu akan ia persembahkan untuk rumah tangga yang akan ia bangun dengan seorang istri yang shalihah dan anak-pinak yang shalih. Dengan mindset menghebatkan diri seperti ini, maka nama dan sosok seorang ukhti yang kelak kan menjadi istri dan ibu anak-anak kita menjadi sekunder dan menempati posisi urut ke-7 (pembaca boleh menuliskan sendiri no urutnya). Satu kriteria yang pertama dan utama hanyalah diwakili satu kata; SHALIHAH. Dan qarinah dari keshaliha-an sang akhwat bukanlah hasil karangan dan hayalan kita, namun merupakan hak penuh dari penjelasan para ulama terhadap nash-nash yang tersebar dari syariat terhadap permasalahan ini. Maka dalam mindset seperti ini, hari-hari menanti seorang ukhti, hanyalah merupakan saat-saat menghebatkan diri seorang ikhwan menuju kesejatian fikrah imaniyah dan pemenuhan target muwashafat tarbiyahnya. Dan di saat tiba waktunya untuk menikah dan meminang seorang akhwat, itu hanyalah merupakan momen dimana memilih seseorang yang tlah kita persiapkan untuknya “kado terindah” yang kita miliki. Posisi jiwa seperti ini yang membuat seorang ikhwan selalu merdeka manakala pada akhirnya ia memilih seorang akhwat yang ternyata tidak terlalu ridha padanya dan menolaknya. Maka selanjutnya ia hanyalah perlu untuk bersyair “menghapus jejakmu” sambil kembali menata diri dan membuka lembaran baru dengan biodata “calon istri” yang lain yang akan ridha dengan agama dan akhlak kita saat ia berkata “YA” pada proposal syurga dalam rumah tangga yang kita ajukanJ.(Bekasi, 24 Oktober 2012, 14.36 WIB)