Menyusuri
jalanan antara Pengasinan Rawa Lumbu dan Kota Wisata Cibubur adalah rutinitasku
selama 6 hari dari Senin hingga Sabtu, buat apalagi jika bukan untuk bekerja
mencari nafkah. Perjalanan berpuluh kilo setiap harinya begitu rela kujalani
demi menyambung hidup dan menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga di
istana syurga yang tengah kubangun. Kesemuanya kulakoni dengan (semoga) ikhlas,
yang harapannya ianya menjadi satu posko pahala yang memenuhi pundi-pundi amal
shalihku. Allahumma amiin.
Adalah
pengalamanku melintasi setiap inchi jalan yang mengantarkanku menuju atau
kembali dari Cibubur yang ingin kubagi di tulisan ini. Aspal yang menjadi media
penyambung antar wilayah di nusantara ini memang penuh dengan undangan
kekesalan dan umpatan. Betapa tidak,
manakala kita coba sekilo saja
menyusuri ruas jalan yang membentangi medan NKRI umumnya, atau jakarta dan
sekitaran khususnya, maka kita akan pasti selalu jengkel dibuatnya. Adalah
lubang demi lubang di sana-sini yang begitu setia menemani setiap pengendara
yang tidak sama sekali berjumlah sedikit kecelakaan yang memakan korban
karenanya. Lubang-lubang yang jumlahnya mungkin lebih banyak daripada panjang
ruas jalan yang ada di seantero Indonesia (wualah, lebay brakalay).
Lubang-lubang yang bagiku amat sangat lebih menjengkelkan dibanding
lubang-lubang yang menjadi penghias tersembunyi dari gigi-gigi yang hampir
punah yang masih kumiliki (buka kartu).
Tidak
tepat memang jika kita menjadikan aspal hitam yang konon banyak diangkut dari
pulau Buton di selatan Sulawesi menjadi tersangka sekaligus terdakwa dalam
pembicaraan ini. Karena sang aspal hanyalah sekedar benda mati yang guru Bahasa
Indonesia kita dahulu di sekolah menyebutnya “objek penderita”. Namun yang amat
sangat paling terpenting adalah sang subjek dan si predikat yang membuat nasib
perjalanan umat manusia Indonesia ajlut-ajlutan
tak karu-karuan.
Suatu
kali, pernah kukatakan pada istriku saat melintasi suatu ruas jalanan yang
begitu amboi rusaknya, “Dek, untuk mendiagnosa apakah terdapat korupsi pada
suatu pemerintahan di sebuah negara atau daerah hanya cukup dari melihat dan
merasakan jalanan-jalanan wilayahnya, jikalau banyak yang rusak maka nyaris
vonis negeri atau wilayah koruptor itu sah untuk disematkan pada
pemerintahnya”. Namun, beberapa hari ini kupikirkan lagi perkataanku itu, dan setelah
menimbang dari pengalaman selama beribu kilometer yang telah kususuri dari
jalan-jalan NKRI, maka kupikir cukuplah jalan-jalan itu menjadi saksi sekaligus
bukti bahwa korupsi bukanlah lagi menjadi budaya anak negri, melainkan telah
menjelma menjadi semacam ideologi; ideologi korupsi.
“Aspal”,
ujar istriku demi menimpali perkataanku, “itu biar hitam tapi enak rasanya mas,
buktinya para pejabat yang menangani jalan pada doyan ngaspal”. Hah, benar juga
opini istriku ini. Setiap hari dari ujung barat sampai ujung timur ruas jalan
di ibukota dan sekitarnya (dan mungkin juga bapak kota dan sekitarnya) selalu
terdapat panitia abadi pengaspalan jalan dari pemerintah. Seolah jalan di
Indonesia bak kayu yang dimakan rayap yang perlu diperbaiki setiap hari tak
kenal henti. Atau seolah pula, sang jalan diperbaiki dan ditambal bukan dengan
aspal, melainkan dengan cendol yang selalu habis dikerubuti penggemarnya (ngga
nyambung) sehingga selalu perlu untuk ditambal dan ditambal lagi.
Persoalan
aspal di Indonesia memang betul-betul membuat kita jengkel. Sebagai pengendara
tentunya kita menginginkan jalan-jalan yang kita lalui begitu nyaman karena
berpermukaan rata dan halus sehalus sutra (ngga mungkin la yauw). Namun itulah
kiranya keadaan sebenarnya, nampak seperti peribahasa Jauh api dari panggangnya.
Seorang
ustadz dalam ceramahnya pernah membagi pengalamannya berwisata dakwah ke negeri
Uber Alez Jerman yang katanya jalan-jalan di sana halus bin mulus tak seperti
jalan-jalan nusantara. Malah yang membuat takjub katanya pula, manakala
terdapat jalan berlubang dan seorang pengendara mengalami kecelakaan lantaran
lubang tersebut, maka pemerintah maupun instansi terkait bisa dituntut
dipengadilan, maa syaa Allah...
Kosa
kata aspal di Indonesia sering disebut sebagai akronim dari “asli tapi palsu”. Mungkin
memang akronim ini sejatinya untuk menggambarkan definisi sebenarnya dari aspal
itu sendiri. Maksud saya, aspal yang bermakna suatu material berwarna hitam
legam yang digunakan untuk menutup dan meratakan jalan, namun karena banyak
jalan yang gampang rusak dan berlubang, mungkin memang sejatinya aspalnya aspal
alias asli tapi palsu, seolah-olah memang hitamnya aspal, tapi hitamnya luntur
dan padatnya melumer hingga menjadilah jalan-jalan berlubang yang menjadi
perhiasan jalan-jalan nusantara.
Saya
tak habis pikir tentang kondisi aspal di negeri ini, sebuah bidang garap yang
telah menjadi tugas salah satu kementrian kabinet. Bicara pajak pun, berapa
banyak pemilik kendaraan baik berroda dua, empat hingga lebih, yang telah menyumbang demi
membayar pajak tahunan dan lima tahunan kendaraan mereka. Namun jalan-jalan
masih saja rusak dan berlubang. Upaya perbaikan yang non-stop sepanjang tahun
di berbagai-bagai titik (saking banyaknya) pun tak menjadi solusi berlubangnya
jalan-jalan di republik ini. Yang terjadi hanyalah seperti sebuah kalimat
penggalan syair dangdut “gali lubang tutup lubang”, atau seperti juga sebuah
ungkapan yang sebenarnya bernuansa heroik; “tutup satu berlubang seribu”
(plesetan pepatah “mati satu tumbuh seribu”, maksa).
Yaah,
lagi-lagi inilah bangsa itu. Bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin mental
dan kepribadian. Jalan yang menjadi sarana transportasi penting hanyalah
menjadi sapi perah objek korupsi para elit maupun alit terkait. Yang ada
program-program perbaikan jalan hanya sebatas proyek keserakahan berupa
perampokan, pengemplangan, penggelapan uang rakyat, sehingga lubang-lubang yang
menghiasi jalan menjadi perhiasan abadi bagi para pengguna jalan. Padahal bisa
jadi sangat mudah untuk membuat jalan rata tanpa lubang jika memang pemerintah
berkomitmen untuk itu, sebagaimana jalan-jalan di negara-negara lain. Semoga
!!!! (Pengasinan, 13 November 2013, 06.39 WIB)