UNTUNG TRI RAHMADI
F1A002040
TUGAS SOSIOLOGI KOMUNIKASI: ULASAN FILM THE TRUMAN SHOW
PENDAHULUAN
Tidak masuk akal. Kata-kata itu yang
kemudian terlintas setelah saya menyaksikan tayangan film layar lebar yang
berjudul The Truman Show pada pertemuan
kuliah Sosiologi Komunikasi di selasa yang lalu. Film ini memang mewakili
zamannya, yaitu era kita sekarang ini yang perkembangan teknologi dan
komunikasinya begitu pesat. Seakan-akan, film ini mewakili apa yang saya sebut
dengan “kesombongan zaman” yang merasa mampu untuk berbuat segalanya atas dunia
dan diri mereka sendiri. Di satu titik pandang, saya mencoba melihatnya dari
perspektif kritis. Film yang dibintangi oleh aktor komedian kawakan Jim Carrey
itu memang film yang diproduksi di daratan Amerika. Artinya, dalam cara
berfikir ini saya coba menerka-nerka bahwa film ini menjadi salah satu media
pembawa misi ideologi dari negara tersebut. Entah sebagai etalase kemajuan
peradaban yang coba dipamerkan, atau juga mungkin menjadi film simulator atas
tingkat kemampuan intelijen Amerika yang dari film ini memperlihatkan kehebatan
sekaligus ke-detailan mereka dalam melakukan aktifitas-aktifitas spionase.
Namun, satu poin positif yang dapat saya apresiasikan dari film itu adalah
keberbedaan isi cerita yang disuguhkan. Artinya, film ini sangat bercorak
kreatifitas pemikiran yang mungkin jika kita coba jadikan cermin bagi industri
film nasional, maka kita akan sangat malu dibuatnya. Betapa tidak, bahwa
film-film nasional yang katanya sekarang telah bergeliat kembali, selalu saja
tidak memunculkan nuansa yang baru selain kisah cinta para remaja, ataupun
tidak jauh dari film-film yang berbau mistis. Tapi, seperti yang dikatakan oleh
para ahli komunikasi, bahwa tayangan media dalam suatu negara adalah representasi
dari keadaan masyarakatnya. Artinya, dari pandangan ini kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa masyarakat kita yang tercakup dalam negara yang bernama Indonesia
itu kehidupan kesehariannya tidak terlepas dari permasalahan cinta para
remajanya, dan pemikiran mistis yang menjadi logika berfikir masyarakatnya.
Saya pikir inilah refleksi yang dapat di sarikan dari film tersebut dalam
perspektif kebangsaan kita. Suatu pandangan yang agak bernuansa miris-negatif
atas kondisi bangsa sendiri. Tapi sesungguhnya tidak dalam misi itu tulisan ini
ditulis, melainkan menjadi sebuah ulasan atas film The Truman Show yang kemarin telah kita sama-sama saksikan.
SINOPSIS
Film
ini mengisahkan tentang seseorang yang bernama depan Truman yang sejak dalam
kandungan hingga ia dilahirkan, dan saat tapak demi tapak hari ia menjalani
kehidupannya hingga usianya menginjak angka yang ketigapuluh dijadikan aktor
utama dari sebuah skenario raksasa industri sinema yang ia sendiri tidak
menyadarinya. Bertempat di sebuah pulau yang menjadi latar dari pembuatan film
biografi yang live atau disaksikan
secara langsung oleh jutaan pemirsa disetiap detiknya, dalam setiap harinya,
tanpa rehat iklan ataupun habisnya durasi penayangan. 24 Jam sehari, 60 menit
dalam satu jam, dan 60 detik dalam satu menitnya, Truman selalu dalam posisi
pengambilan gambar dari kamera-kamera yang ada disetiap tempat dimana tokoh
tersebut bertempat tinggal. Bahkan dikatakan jumlah kamera yang dioperasikan
sebanyak 5000 unit, dengan pemeran figuran sangat banyak yaitu sejumlah
penduduk pulau yang dinamakan Seahaven
tersebut.
Dari semenjak Truman dilahirkan,
hingga ia tumbuh menjadi remaja, ia menikah, bekerja, dan setiap detik ia
menghabiskan usianya tidak pernah sejenakpun lepas dari pengawasan kamera.
Selama lebih dari tigapuluh tahun ia menjalani skenario sepihak itu tanpa
pernah sedikitpun tersadar. Dan, baru kemudian pada usianya yang sudah
menginjak angka kepala tiga, ia merasakan kejanggalan-kejanggalan kehidupan
yang dijalaninya yang seolah-olah semuanya begitu sempurna. Keanehan-keanehan pula pernah dialaminya yang
mengasumsikan akan ketidakberesan kehidupan yang ia jalani. Salah satunya
ketika ia menghabiskan masa remajanya, ia saat itu jatuh cinta dengan seorang
wanita yang justru dalam skenario itu, wanita tersebut bukanlah aktris yang
dipersiapkan untuk menjadi istri dari Truman. Mereka kemudian menjalin hubungan
yang terjadi dengan sangat singkat. Sang wanita yang mengetahui bahwa Truman
hanyalah seorang aktor tungggal dalam skenario raksasa sebuah jalan cerita
industri sinema mencoba memberitahukan hal tersebut. Tapi karena Truman saat
itu hanyalah remaja biasa yang masih polos hanya bisa bertanya-tanya gerangan
apa yang dimaksud oleh sang wanita tersebut. Pertanyaan tersebut senantiasa ada
hingga kemudian ia mejalani kelanjutan kehidupannya dan menikah dengan seorang
wanita lain yang memang dipersiapkan untuk menjadi istrinya dalam film
kehidupan Truman itu.
Lalu, semua kejanggalan yang pernah
dialaminya itu, antara lain insiden dengan sang wanita masa lalu, kemudian
kisahnya dengan sang ayah yang tewas tenggelam ketika bersamanya , lalu
kemudian terjadi pula kejadian aneh pertemuannya dengan sang ayah yang
misterius, lalu juga perbincangan dengan ibu serta istrinya tentang satu dan
beberapa hal lain, kisah mekanisasi pola hidup masyarakat yang ia sadari dan
amati, hingga kemudian keinginannya yang membara untuk melakukan migrasi ke
Fiji yang selalu saja terbentur dengan keadaan sempurna yang menghalanginya.
Semua kejadian itu ia coba untuk memikirkannya satu persatu, dan kemudian ia
coba menjadikannya satu rantai peristiwa yang mengasumsikan akan satu hal,
yaitu keasingannya dalam kehidupan yang dibangunnya sendiri ditengah-tengah
peradaban masyarakat Seaheaven.
Pada titik itu, Truman belum benar-benar
sadar bahwa ia hanyalah menjadi satu bagian utama dan satu-satunya dari sebuah
skenario cerita dari sang sutradara. Hingga pasca kejadian klimaks upayanya
untuk melarikan diri, ia merencanakan secara rahasia keinginannya untuk
meloloskan diri untuk kedua kalinya dengan strategi muslihat yang ia bangun.
Dan, agaknya kali ini ia berhasil mengelabui sang sutradara film raksasa ini.
Ia berhasil melepaskan diri dari setiap tangkapan kamera yang selalu
mengintainya, dan akhirnya ia berhasil keluar dari kota menuju pelabuhan tempat
dimana ia akan melakukan perjalanan antar pulau dan melarikan diri dari Seaheaven.
Akhirnya, skenario cerita itu mengalami
kekacauan. Sang tokoh utama yaitu Truman mengetahui bahwa ia hanyalah seorang
aktor sebuah film panjang tentang kisah hidup dirinya sendiri, yang diperankan
oleh dirinya sendiri, dan itu dilakukan di sepanjang hidupnya sendiri, tanpa
sepengetahuan dirinya sendiri. Pada bagian akhir digambarkan betapa gigihnya
sang sutradara menghalangi Truman agar tidak dapat keluar dari latar Seaheaven. Dengan berbagai efek cuaca
seperti yang dilakukan di berbagai pembuatan film layar lebar. Disana terdapat
badai, gulungan ombak, dan digambarkan pula permainan perjalanan hari yang
dapat dengan mudah dirubah dan digonta-ganti. Betul-betul studio raksasa dan
pembuatan sinema yang serba bisa dan membuat saya berpendapat bahwa itu semua
mustahil adanya. Sangat tidak masuk akal, tapi merupakan film yang unik
sekaligus film yang menarik. Film ini tidak ditayangkan secara keseluruhan
karena memang ada “kesalahan tekhnis“. Tapi pada bagian penghujungnya
digambarkan Truman dengan kapal yang ditumpanginya terbentur suatu batas
dinding yang tak terlihat, dan itu meyakinkannya jika memang ia berada dalam
suatu kerangka rekayasa cerita kehidupan yang difilmkan secara nyata. The Truman Show, betul-betul film yang
mengandung imajinasi yang luar biasa.
ULASAN
Paling tidak, film ini mengkerangkakan kondisi
aktual sekarang ini, terutama kaitannya dengan dunia media, teknologi yang
menjadi penopangnya, serta kapitalisme yang menjadi penggeraknya. Film tersebut
merupakan salah satu tayangan yang unik. Seperti kebanyakan film maupun
tayangan acara lainnya yang mengajak emosi dari para penontonnya untuk ikut
ambil bagian dalam jalannya cerita, namun keunikannya terletak pada proses
pembuatannya yang nyata, langsung pada kehidupan tokoh pemerannya. Mirip
seperti reality show yang marak
ditayangkan oleh stasiun televisi akhir-akhir ini.
Tampaknya, film ini juga merupakan
semacam film simulasi kapitalisme dalam melancarkan aktifitasnya di dunia media
khususnya di lini perfilman. Secara tidak langsung, bagi mereka yang mengerti
akan dunia media sebagai industri kapitalisme, film ini seperti ingin bermaksud
mengatakan, ”Seperti inilah kami bekerja, membohongi para pemirsanya, mengeruk
keuntungan yang luar biasa banyaknya”. Diceritakan pula dalam film tersebut,
bahwa pembiayaan produksi serta keuntungan dari pembuatannya didapatkan dari
iklan komersil yang senantiasa terselip dalam setiap adegannya. Jadi walupun
dalam film tersebut penayangannya nonstop tanpa jeda, namun ia tetap dapat
eksis karena memang aliran dananya juga dapat terus mengalir dari iklan-iklan
dalam setiap adegan tersebut.
Satu hal yang paling mengenaskan
yang secara tersirat ditunjukkan oleh film tersebut adalah sisi kapitalisme
yang tanpa belas kasih mengeksploitasi suatu pihak untuk keberlangsungan
kepentingannya. Truman dikisahkan sebagai satu-satunya pihak yang dengan sangat
kejam dieksploitasi sedemikian rupa untuk memenuhi gairah kapitalis yang
berusaha untuk menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya dari acara reality show tersebut. Dan ini juga
merepresentasikan akan kisah sebenarnya kehidupan kita sekarang, dimana dunia
sepenuhnya sudah berada dalam genggaman kapitalisme dengan senjatanya bernama
teknologi, dan dengan pelurunya bernama media. Sedangkan minoritas yang
diceritakan dalam film tersebut adalah seorang wanita yang mencintai Truman dan
coba memberitahukan akan kejadian sebenarnya dari kehidupan Truman. Namun
sayang, posisinya yang lemah sebagai wanita, disamping juga wanita tersebut
hanyalah segelintir pihak yang sadar dan berani melawan semua keadaaan yang
sangat eksploitatif tersebut.
Film tersebut setidaknya pula
menggambarkan kita akan hal lain, yaitu tentang kehidupan masyarakat manusia
sekarang ini yang tidak lepas dari cengkraman industri media dan teknologi yang
selalu mengelilinginya, dengan disadari ataupun tidak, baik sebagai objek,
maupun sebagai subjek (pengguna). Tapi di atas itu semua, film tersebut
merupakan film yang sangat kreatif -sebagaimana kapitalisme yang juga sangat
kreatif- yang banyak meninggalkan pandangan-pandangan kritis akan kehidupan
yang kita jalani sekarang ini yang kesemuanya sangat mekanistis, setiapnya
bersifat dominatif. Dengan kata lain, setidaknya film tersebut juga punya peran
mencerdaskan pemirsanya, setidaknya bagi saya. Dan, pada hakikatnya inilah
peran asasi media, yaitu mencerdaskan, bukan justru menjadi media pembodohan,
sekali lagi bukan.