IKHWATI FILLAH, LETS TALK ABOUT MAISYAH
Perhatian!!! Tulisan ini banyak menggunakan pemaksaan bahasa,
harap bisa di mengerti, sanggup mengikuti dan terutama dapat terprovokasi
Kuliah, dakwah dan maisyah, trilogi ideal bagi aktifis dakwah yang sedang menghabiskan masa pengabdian hidupnya di lahan kehidupan kampus. Meski mungkin ada mis-realistis (istilah saya untuk menyebut ke-taksesuaian antara konsep idealis dan aplikasi realistis), bahwa dalam fase kita ber-kuliah dan menggeluti aktifitas dakwah, masih banyak yang mem-paradigma dalam benak masing-masing dari kita bahwa belum saatnya bagi kita untuk berfikir masalah maisyah, karena seperti kebanyakan kita, kehidupan kita masih saja bergantung pada kemurahan hati orang tua. Kenapa saya sebut kemurahan hati? Karena dalam hitungan usia yang tidak sekedar remaja, melainkan sudah patut disebut dewasa (atau bahkan sudah bisa disebut tua), kita masih saja belum bersikap mandiri, merasakan kenikmatan hidup di zona nyaman dengan menyandarkan diri pada jerih payah orang tua dalam mencari nafkah. Ups, sebelumnya saya coba menghakimi diri. Karena sebetulnya tulisan ini hanyalah menjadi luapan hati yang merasa malu untuk bercermin atas perikehidupan yang telah menjadi tauladan sempurna pada diri nabi.
Kuliah, dakwah dan maisyah, mungkinkah?
Kita sudah sama-sama hafal satu poin dalam muwashofat tarbiyah, qodirun ‘alal kasbi, memiliki sumber penghasilan. Kita juga sudah sangat faham akan urgensi maaliyah (harta) dalam menopang kerja-kerja dakwah. Dapat dipastikan tidak ada program dakwah yang terlaksana tanpa dukungan akan dana. Oleh karena itu seorang sahabat mulia Saad bin Abi Waqqash ra pernah berdo’a; “Ya Alloh, sesungguhnya yang sedikit tidak mencukupiku, maka berikanlah kepadaku harta yang banyak yang akan memberi manfaat bagi diriku dan memberi kemaslahatan bagi kaum muslimin”. Coba kita perhatikan permintaan Saad. Yang sedikit tentu saja kurang dapat membuat kita hidup cukup dan bahagia, meski memang kebahagiaan tidak semata bersumberkan harta. Oleh karena itu yang diminta Saad adalah sesuatu yang mencukupkan kebutuhannya, tapi tidak perlu yang melimpah. Itu yang pertama, sedang yang kedua, permintaan “yang banyak” untuk kebermanfaatan bagi umat. Jadi gampangnya, minta kecukupan untuk konsumsi diri dan keluarga, dan mohon yang banyak untuk dapat dipergunakan untuk membantu sesama, dan untuk mendukung program dakwah tentunya. Namun kita kembali kepada pertanyaan pada sub judul di atas. Sembari kuliah, berusaha berkontribusi penuh dalam dakwah, tetapi juga mampu ber-maisyah. Apakah itu mungkin untuk kita lakukan. Saya hanya mampu menjawab mungkin saja, walau mungkin saya belum benar-benar dapat membuktikannya. Jadi sebenarnya untuk apa saya menulis tausiyah ini, jawabannya yaitu untuk memotifasi diri. Mudah-mudahan bukan menjadi seperti ayat yang menerangkan sebab Alloh berfirman kaburo maktan, tidak lain hanya karena mengatakan apa-apa yang kita tidak lakukan.
Ikhwati fillah, cobalah kita sekarang berfikir laksana seorang kapitalis, dengan catatan kapitalis tetapi yang islamis. Saat ini kita hidup ditengah-tengah komunitas peradaban manusia yang sangat banyak jumlahnya. Kita kira-kira saja ada sekitar sedikitnya 20 ribu manusia yang berhabitat di tiga kelurahan sekitar kampus kita tercinta, Karang Wangkal, Grendeng, dan Sumampir. Dari beribu mahasiswa itu pastinya tidak ada satupun mereka yang tidak memiliki kebutuhan. Kita ambil satu contoh kebutuhan yaitu makan. Seirit-iritnya mahasiswa, pastinya di juga membutuhkan makan, atau seshalih-shalihnya ikhwah juga tidak mungkin dia shaum setiap hari karena memang tidak ada contohnya. Paling banter, shaum Daud yang bisa di amalkan. Nah, dari sini saya coba menyodorkan pertanyaan. Mungkinkah ketika kita mencoba berjualan makanan, maka barang jualan makanan kita akan tidak laku. Nggak usah berfikir membuka warung makan, coba saja jualan makanan kecil meski kecil-kecilan seperti pernah dicontohkan oleh Akh Ipan. OK, kalo kira-kira ini belum memotifasi kita untuk optimis membuka peluang usaha, kita coba sekali lagi melakukan eksplorasi. Jika tadi saya sampaikan sedikitnya ada sekitar 20 ribu mahasiswa yang berdomisili di sekitar kampus, dan umpamanya setiap dari mereka dibiayakan hidupnya oleh orang tua sebesar 200 ribu perbulannya. Maka 200 ribu dikalikan 20 ribu mahasiswa, berarti ada sekitar 4 milyar berputar dalam sebulan di wilayah sekitar Purwokerto utara, dan itu adalah uang semua, bukan semata hitung-hitungan pelajaran akuntansi di fakultas ekonomi. Nah, dari jumlah uang yang berpotensi berputar sebanyak itu, sepertinya tidak mungkin jika kita membuka unit usaha akan tidak berkembang. Satu hal yang harus kita siasati dalam membuka lahan usaha adalah produk usaha itu sendiri dan peluang segmentasi pasarnya. Jika kita sekarang berada di lingkungan kehidupan kampus maka tentunya produk yang akan kita jual tidak jauh seputar kebutuhan mahasiswa. Selanjutnya, saya mohon antum jangan tanya tambahan alasan pemotivasi yang lain lagi, walau sebetulnya masih ada bentuk motivasi yang ngga sekedar berdimensi ekonomi, tapi juga dimensi agama dan juga tuntutan syariat di dalamnya (maksyudnya?!?)
Next, sekarang saya yang bertanya. Dapatkah antum melihat kondisi di atas dengan kacamata potensi bisnis(baca:maisyah and juga maaliyah penopang kerja dakwah)??? Pada intinya ini yang diharapkan dapat saya dan antum miliki. Keterampilan untuk dapat melihat segala potensi yang begitu banyak menghampar disekeliling kita, sebanyak partikel udara yang kita hirup disetiap tarikan nafasnya. Dan, mencoba untuk mencari sumber penghasilan atau tambahan uang jajan juga modal tabungan tidak harus nantinya seketika kita mendapat keuntungan yang berlipat ganda. Namun dalam fase kita sekarang ini, minimal kita dapat mengasah naluri bisnis yang masih terendap dalam setiap diri kita. Sehingga ketika nanti sudah lulus dan berpredikat sarjana, kita tidak mengalami apa yang sering disebut “sindrom kelulusan” karena melihat kompetisi di dunia kerja yang super ketat. Jadi tunggu apalagi, galilah potensi, carilah inspirasi, cobalah mulai mengkreatifkan diri untuk belajar mencari rizki. Maka dakwah pun akan semakin terdukung menuju percepatan shohwah, dan fase perjalanan hidup pun akan semakin terjalani dengan lebih mudah. Biidznillah. (Abu Fauzan Asy-Syahadah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar