Total Tayangan Halaman

TIME

Senin, 30 Januari 2012

The Power of Attitude





           The power of attitude, buku ini menarik perhatianku pada Indonesian Book Fair Desember 2011 lalu. Selain harganya yang murah (sebagai sebuah buku yang full colour dan HC) yang cuma 20 rebu perak, buku ini memiliki judul dan topik yang begitu menggugahku untuk membeli dan melahap habis isinya. “Sikap adalah satu hal kecil yang membuat sebuah perbedaan besar”, ini kalimat yang banyak didengung-dengungkan oleh sang penulis; Mac Anderson.

Didalamnya Ia banyak menulis tentang kisah dan perspektif tentang sikap-sikap yang membuat hidup menjadi lebih hidup. Jika di buka lembar demi lembarnya, Anderson banyak menceritakan tentang ide dan tips untuk mengembangkan sikap positif. Tentang definisi sikap itu sendiri Ia tidak menuliskannya secara gamblang. Akan tetapi Anderson lebih sering mengupas tentang program-program pikiran maupun habbits apa yang mesti kita kembangkan untuk mendapatkan sikap yang positif itu.

          Dalam perjalanan membuka setiap halamannya, disamping kita akan menemukan gaya bercerita Anderson dalam menyampaikan nilai tentang sebuah sikap yang positif, kita akan menemukan setiap pergantian judul yang selalu diawali oleh kata mutiara maupun kalimat motivasi dengan tema besar macam hasrat, impian, lakukan sekarang juga, sukses, keteguhan hati, memaafkan, perdamaian, dan sebagainya. Lewat buku ini , Anderson ingin menyampaikan bahwa sikap –yang tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari-, merupakan sebuah tool yang akan menentukan kebahagiaan dan kesuksesan kita. Sebagai seorang pengusaha sekaligus penulis buku dan trainer, Mac Anderson telah mewariskan ide-ide yang cukup berharga dalam kaitannya dengan perpektif kesuksesan dan kebahagiaan yang katanya berpangkal pada sikap. 

           Sikap bagiku tidak lebih dari bagian terkecil dari kepribadian, atau kepribadian pada akhirnya merupakan rangkaian sikap yang kita tunjukkan dan dilihat serta dinilai oleh orang lain yang mengetahui, mengenal, dan berinteraksi dengan kita sehari-hari. Tentang kedudukannya yang begitu penting dalam konteks dakwah, bagiku sikap akan menjadi kunci pembuka pintu hati dari para mad’u kita. Bahkan mereka mengenal kita dari sikap yang kita tebarkan dalam keseharian mereka berinteraksi dengan kita. Dan kalaupun kita coba mengevaluasi manakala dakwah kita yang telah berbilang masa namun belumlah kita petik buahnya, maka mungkin yang menjadi awal bahan evaluas kita adalah mengenai sikap kita yang ditangkap oleh mereka. ‘Alaa kulli haal, tertarik untuk membacanya, silahkan cari pada stand penerbit Ufuk pada bookfair-bookfair berikutnya (tapi hati-hati pada penerbit ini, karena ‘manhaj’nya agak kurang bersahabat pada kelompok aktivis pengajian, bisa dilihat dari judul, tema dan isi dari buku-buku yang diterbitkan).Wallahu a’lam bish shawwab

Selasa, 09 Agustus 2011

ISTRI DAN BUAH HATI, ANUGERAH SEKALIGUS AMANAH YANG HARUS DI JAGA





                Teringat masa saat masih kuliah dahulu. Dalam gegap gempita aktifitas seorang mahasiswa yang memiliki segudang obsesi terhadap proyek perbaikan umat. Menyeruak sebongkah gelisah dari goa kesendirianku saat itu. Ya, betapa hati ini saat itu menginginkan seorang pendamping hidup untuk mengisi kesepian itu. Hingga saatnya tiba takdir yang tiada pernah berdusta, seorang perempuan yang dengan segenap kerendahan hatinya mau menerimaku menjadi suaminya. Kini, 2 tahun lebih telah berlalu sejak masa itu. Telah menghiasi dan membahagiakan hariku seorang istri dan seorang mujahid kecilku. Usamah, sudah setahun lewat delapan bulan kini usianya. Suami sekaligus ayah, betapa dua status itu menjadi medan tempurku untuk mengimplementasikan satu ayat yang selalu ku ingat; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim:6)

                Memiliki keluarga seperti memiliki suatu harta yang tak ternilai harganya. Seorang istri yang menentramkan hati, dilengkapi dengan seorang anak yang lucu dan membahagiakan jiwa, bagiku semua itu merupakan anugerah yang paling berharga yang kupunya. Suatu karunia yang Allah tetapkan pada makhluk-Nya, sebagaimana Ia memfirmankannya atas utusan-Nya Ibrahim ‘alaihi salam; “Dan Kami telah memberikan kepada-nya lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh”.(QS. Al-Anbiya:72).  Ya, memiliki buah hati adalah suatu anugerah tersendiri bagi seorang muslim, karena ia adalah nikmat yang tidak setiap orang maupun keluarga mendapatkannya. Maka sudah selayaknya seorang muslim yang telah berkeluarga dan memiliki buah hati untuk senantiasa mensyukuri nikmat agung ini. Suatu bagian dari untaian nikmat yang tak terhitung Allah berikan pada kita, yang karenanya ayat agung ini sangat hebat terasa; “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(QS. Ar-Rahman, Allah sebutkan ayat ini lebih dari 30 kali)

Memiliki buah hati, disamping ia merupakan anugerah dan nikmat yang agung, ia juga merupakan amanah yang Allah titipkan pada kita. Selayaknya amanah, maka ia harus dijaga dan dipelihara dalam rangka misi untuk apa ia sesungguhnya diciptakan. Kalau dalam sebuah ayat Allah nyatakan misi kita hidup didunia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Maka misi seorang anak yang Allah titipkan pada kita adalah untuk menjaga dan memelihara fitrah kehambaannya untuk selalu beribadah hanya kepada-Nya semata. Itu adalah tugas dan amanah teragung yang Allah amanahkan pada kita berkaitan dengan anak-anak kita. Tugas yang dalam ayat sebelumnya dinyatakan pada Ibrahim alaihi salam, yakni untuk kita upayakan agar Allah menjadikan mereka orang-orang yang saleh sebagaimana Ibrahim senantiasa berusaha dan berdoa hingga Allah jadikan Ishak dan Ya’qub orang-orang saleh penerus risalah suci ayah mereka. Suatu tugas yang tidak ringan yang Allah bebankan pada setiap kita selaku kepala keluarga. Sesuatu yang karenanya pula disamping Allah sebutkan sebagai anugerah, Ia juga menyebutnya sebagai fitnah; Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan) bagimu, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar(QS.at-Taghabun:15).

Al-Qur’an dalam redaksi 30 juznya adalah firman Allah yang tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Berpegang teguh padanya adalah kunci kesuksesan hidup kita dalam apapun episodenya, termasuk dalam episode besar dalam hidup yakni berrumah tangga. Dalam realita hidup yang ada dihadapan kita saat ini, terhampar pemandangan yang tak sedap dipandang terkait fenomena rumah tangga. Ketidakharmonisan hubungan antara suami dan istri menjadi rahasia umum yang terjadi di banyak kehidupan rumah tangga, tidak sedikit pula yang mengakibatkan keretakan yang berujung pada perceraian. Jika kondisi umum rumah tangga yang terjadi adalah fenomena-fenomena semacam ini, maka apalagi yang bisa diharapkan dari bangunan sosial masyarakat manakala keluarga-keluarga yang ada sebagai satuan terkecilnya dilanda keguncangan. Inilah yang menjadi faktor utama generasi muda kita saat ini yang penuh dengan problematika. Semuanya bermula dari keluarga. Kebaikan akhlak seorang anak datang dari kebaikan pengajaran dari keluarganya. Demikan juga keburukannya, adalah efek yang datang dari keadaan dalam keluarga. Maka al-Qur’an memberikan rumus yang jelas dan tegas tentang kehidupan berkeluarga ini. Pedoman umum hingga khusus, semuanya di atur dalam kitab suci al-Qur’an dan dalam hadits rasul-Nya yang mulia.

Al-qur’an memberikan pandangan yang jelas sejelas matahari yang bersinar di tengah hari terhadap praktik berrumah tangga. Dari mulai tujuan dalam pernikahan, cara, kriteria pasangan yang ingin dinikahi, gambaran rumah tangga ideal, maupun segi-segi lain dalam hubungan pernikahan, segalanya diberikan rumusan detailnya, semacam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tekhnis dalam suatu tata aturan organisasi atau buku petunjuk manual pengoperasian alat tekhnologi tertentu. Kita tinggal menjalankannya berdasarkan apa yang tercantum didalamnya, semudah itu. Namun kemudahan itu tidak difahami oleh sebagian besar umat manusia yang hidup terutama dizaman ini. Mereka menjalani setiap episode hidup mereka dengan tanpa pedoman dan panduan, dan menjalankan episode kehidupan itu berdasar naluri semata. Dalam konteks pernikahan, banyak diantara pasangan suami istri tidak memiliki konsep yang benar dalam pernikahan mereka. Banyak diantara mereka yang hanya memahami bahwa pernikahan hanya sekedar tugas perkembangan yang harus dilalui tanpa bekal hakikat ilmunya. Padahal sudah menjadi suatu kebenaran umum bahwa untuk melakukan sesuatu harus diketahui dulu akan sesuatu yang akan dilakukan itu. Bukan hanya untuk diketahui secara sepintas, tapi mendalami sedalam hakikat yang bisa kita gali dari sesuatu itu. Dan hakikat terdalam dari sesuatu yang ada di dunia ini adalah tentang bagaimana agama mengatur tentangnya. Karena hanya agama yang mampu menjawab dan menjelaskan segala pertanyaan yang ada dalam benak umat manusia dengan tujuan akhir kebaikan dan kebahagiaan bagi manusia itu sendiri.

Maka al-Qur’an adalah pula kitab tentang pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya dijelaskan rahasia-rahasia kebahagiaannya. Padanya didapatkan rumus-rumus penyelesaian dari persoalan yang muncul, apapun itu. Jika kehidupan adalah kumpulan soal dalam ujian, maka al-Qur’an adalah kunci jawabannya. Jika kita memilikinya, sudah pasti kehidupan yang kita jalani akan dinilai sempurna, oleh Allah Azza wa Jalla Rabb yang Maha Benar dalam penilaiannya. 

USAMAH, TEMAN BERMAINNYA, DAN HIKMAH TENTANG PENDIDIKAN ANAK




Usamah, itu nama anakku. Usianya saat ini sudah lebih dari satu setengah tahun, satu tahun delapan bulan tepatnya. Kata orang, masa usia anakku adalah masa yang mereka sebut “sedang lucu-lucunya”, “dan akan semakin lucu”, itu kata temanku yang anaknya sudah lebih besar.

Usamah. Polah tingkahnya lucu dan menggemaskan. Ada jenak dimana kami tergelak, atau takjub, atau sesuatu yang membuat kami senang juga bangga sebagai orang tua yang mendidiknya. Salah satunya momen yang ingin kuceritakan kali ini.

Beberapa pekan terakhir Usamah sedang menikmati kemampuan barunya yakni memasang puzzle huruf maupun kendaraan. Ia sudah lumayan lihai dalam memasang bentuk-bentuk huruf maupun kendaraan yang sebelumnya kami cerai beraikan. Suatu kali, sebagaimana biasanya, beberapa anak tetangga ada yang bermain di rumah kami. Salah satunya adalah seorang anak perempuan yang kami pernah dengar dari orang tuanya bahwa usianya sudah menginjak dua setengah tahun. Anak ini meminta untuk diambilkan permainan puzzle milik Usamah. Setelah di ambilkan dan ditebar di hadapannya, ia mulai beraksi untuk memasang kembali puzzle yang telah kami bongkar. Beberapa lama kami perhatikan, ia kesulitan untuk memasangnya kembali. Kelihatannya ia memang belum paham cara bermain puzzle, sehingga yang ia lakukan adalah mencoba memasangnya secara asal-asalan tanpa memperhatikan pola dan bentuk dari pecahan-pecahan puzzle tersebut. Melihat fenomena itu membuat kami berfikir, bahwa kemampuan untuk memasang kembali puzzle, kami kira bukan berfaktor pada kecerdasan ansich. Kami betul-betul mencoba menafikan bahwa anak kami lebih cerdas dari teman bermainnya tersebut, walau usia di antara mereka cukup berjarak. Akan tetapi kami menyimpulkan bahwa kemampuan Usamah untuk memasang kembali puzzle yang terserak adalah karena pengajaran dan pembiasaan dari lingkungan sosialnya, dalam hal ini adalah kami selaku orang tuanya. Lagi-lagi dari pengalaman ini kami menyimpulkan, bahwa kalaulah kemampuan merangkai puzzle ini disandingkan dengan dimensi kecerdasan, kami kira kecerdasan itu sendiri adalah produk dari latihan. Itu artinya bahwa kemampuan merangkai puzzle adalah hasil dari pembelajaran, dan kemajuan hasil dalam pembelajaran kami kira tidak berhubungan langsung dengan fase usia. Artinya, semua kemampuan dan pengetahuan yang dapat dimiliki seseorang dalam hidupnya adalah hasil dari pembelajaran yang ia lakukan, kapanpun ia memulai mempelajari itu. Jika sang anak perempuan tadi dalam usianya yang dua setengah tahun diajarkan permainan memasang puzzle, lambat laun ia akan bisa merangkainya setelah beberapa waktu masa belajarnya. Jika Usamah dapat memasang kembali puzzle yang tercerai saat usianya satu tahun delapan bulan, kami kira itu berfaktor dari pengajaran dan pembiasaan yang kami terapkan padanya beberapa masa sebelumnya.

Merenungkan fenomena itu membuat kami kembali tercenung, hingga kemudian kami teringat pada nama-nama besar dalam sejarah macam al-Imam asy-Syafi’i. Tujuh tahun hafal al-Qur’an dan sembilan tahun hafal ribuan hadits dalam al-Muwatha’ Imam Malik. Di usianya yang ke tigabelas tahun bahkan disebutkan bahwa al-Imam Asy-Syafi’i sudah menjadi seorang mufti alias ahli fatwa. Subhaanallah, tidak heran jika kemudian beliau menjadi salah satu imam madzhab yang pengikutnya begitu banyak, konon termasuk mayoritas kaum muslimin di negeri kita.

Fenomena kemampuan  merangkai puzzle di usia 1,8 tahun ataupun kemampuan menghafal al-Qur’an di usia tujuh tahun, lagi-lagi memaksa kami untuk terus berfikir hingga kami menemukan potongan-potongan puzzle rahasia kehidupan. Bahwa capaian-capaian prestasi yang diperoleh oleh manusia adalah hasil dari proses belajar dan berlatih yang ia lakukan sebelumnya. Dan semakin dini belajar, semakin cepat ia akan cakap dalam bidang apa yang ia pelajari. Bukan hanya imam Syafi’i –yang notabene hidup di zaman lampau- yang dapat meraih kemampuan yang luar biasa dalam bidang agama, di zaman ini pun kita mengenal Muhammad Hussein Thaba’ Thaba’i, sosok yang usia lima tahunnya sudah mampu menghafal bukan hanya redaksi tigapuluh juz dari al-Qur’an, tapi juga kata demi katanya, ada di halaman berapa dalam mushaf, berada di juz berapa, juga tafsir dan maknanya. Bahkan hafidz cilik ini juga mengimplementasikan ayat-ayat al-Qur’an dalam kehidupannya sehari-hari, berbicara dengannya, dan menasehati orang lain persis dengan ayat-ayat yang terdapat dalam enamribuah lebih jumlah seluruhnya. Kehebatan anak itu dijelaskan oleh kemampuan kedua orang tuanya yang memang hafidz Qur’an maupun pengajaran dan pembiasaan mereka berdua terhadap anak-anaknya.  Hal ini juga yang terjadi pada diri asy-Syafi’i. Ia dilahirkan dari rahim seorang Ibu sekaligus pendidik yang hebat, serta ber-ayahkan seorang ksatria yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Sungguh, anak hebat hampir selalu dapat dijelaskan oleh keadaan orang tuanya yang juga hebat.

Jika kita meluaskan cakrawala ilmu pada macam-macam disiplin yang ada, dan kita arahkan anak-anak kita pada salah satu atau lebih darinya, lalu kita ajarkan, kita biasakan, kita latih mereka dengan mengerahkan segala kemampuan kita dari segi tenaga, waktu, harta, pikiran, kami yakin anak-anak kita itu akan melesat meninggalkan busurnya menuju sasaran kemana ia akan kita targetkan. Bila kita menginginkan anak-anak kita menjadi hebat di bidang apapun yang kita inginkan, maka berpikirlah keras untuk menuju ke arahnya. Dan lagi, usahakanlah sejak dini untuk mengajarkannya dengan pengajaran-pengajaran yang maksimal dan penuh hikmah. Biasakanlah ia, latihlah ia, menjadi apapun ia sebagaimana potensi serta arahan kita. Manfaatkan usia-usia emasnya untuk ditransfer pengetahuan dan kemampuan tertentu, karena pengajaran dan pembiasaan pada masa-masa ini menorehkan kesan yang mendalam pada pribadi seorang anak. Dan jangan sekali-kali menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak-anak di masa ini kepada orang lain, apalagi kepada pembantu maupun babysitter. Jangankan kepada mereka, kepada seseorang dari keluarga kita yang lain juga mengundang resiko yang tidak sedikit. Itu karena pengaruh orang-orang terdekat sangat besar kepada anak-anak pada usia emas yakni fase balita. Dan jika kita memiliki keinginan spesifik akan seperti apa anak kita, maka untuk mencapainya harus dilakukan strategi-strategi tertentu yang kita sepakati dengan pasangan hidup kita. Dan jika dalam kehidupan pendidikan anak-anak kita masuk orang-orang baru, dipastikan orientasi dan strateginya juga berbeda, hatta mungkin ia adalah orang tua kita atau kakek dan nenek dari anak-anak kita. Tentu saja dapat dipastikan pemikiran kita dan orang tua kita berbeda dalam hal pendidikan anak. Dalam arah, dalam strategi, dalam cara, dalam media, dan seterusnya.

Berbicara tentang pendidikan anak adalah berbicara mengenai hal paling penting dalam keluarga, yakni akan kita bentuk seperti apa anak-anak kita kelak. Karena berawal dari keinginan kita sebagai orang tuanya, maka semua pemikiran turunan dari hal itu juga hak prerogratif kita, dan hanya kita yang mengetahui detailnya. Termasuk pembelajaran, latihan maupun pembiasaan tertentu yang kita tanamkan pada anak-anak kita yang sebaiknya kita lakukan sedini mungkin. Jadi, seperti isi slogan iklan terkenal yang sering kita dengar; “Buat anak koq coba-coba..”, kiranya kita sebagai orang tua juga harus menggunakan dan menerapkannya dalam mendidik anak-anak kita, dengan hanya satu hal yang kita maksudkan, bahwa pendidikan anak-anak kita adalah yang paling penting dalam perjalanan kita merenda surga dalam rumah tangga. (Perpust thalib, 10 Agustus 2011; 9.30 WIB)          


24 JAM PERTAMA DI PARE


24 JAM PERTAMA DI PARE


                Terik panas siang hari menyambut kami hari itu. Nganjuk, sebuah daerah di Timur Jawa yang menjadi perhentian sementara sebelum menuju Pare. Tidak sampai menunggu, sejak  turun dari Rosalia yang mengantarkan kami, telah menunggu seorang bapak yang menjemput kami dengan van hijaunya dan akan mengantarkan kami menuju Pare yang jaraknya sekitar 60 km. Setelah mampir ke stasiun Kertosono untuk mengetahui jadwal kereta api, lalu kami menghentikan sejenak kendaraan demi memenuhi hak tubuh untuk menerima asupan makanan. Kala itu, warung bakso merk Barokah menjadi santapan pertama kami di kota ini.
Sekitar pukul 14 kami tiba di rumah singgah kami selama belajar di Pare. InsyaAllah, dirumah ini kami akan menghabiskan masa selama 20 hari demi mempelajari bahasa Inggris. Tempat kami belajar nanti letaknya tidak jauh dari rumah singgah, mungkin sekitar 50 meter dengan berjalan kaki.   Pare, sebagaimana yang sering kami dengar, merupakan suatu perkampungan yang banyak berdiri lembaga kursus bahasa Inggris. Dari penghitungan manual sebuah peta wilayah yang kami lihat, terdapat sekitar 50-an tempat kursus di desa ini. Tidak seluruhnya merupakan lembaga kursus bahasa Inggris, sekitar 3-4 di antaranya merupakan tempat kursus bahasa Arab, dan ada juga 1-2 lainnya merupakan tempat kursus bahasa Jepang.
Mungkin tidak sebagaimana yang dengan hebohnya kami dengar, bahwa Pare adalah sebuah desa atau lebih tepatnya kampung bahasa yang konon para penduduk hingga pedagang-pedagangnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Entah itu cerita yang berlebihan (atau melebih-lebihkan), atau memang penangkapan kesan hingga ekspektasi  kami maupun orang-orang yang belum pernah kesana yang membayangkan bahwa Pare is English village. Apa yang kami dapati selama dua hari menginjakkan kaki di desa ini tidak menunjukkan fakta itu. Penduduk maupun pedagang yang mangkal maupun berseliweran disepanjang jalan desa ini masih berbahasa sesuai dengan bahasa ibu mereka yakni bahasa Jawa. Adapun keunikkan desa ini memang pada banyaknya tempat kursus bahasa yang bertebaran di setiap sudutnya, dan karena itulah mungkin desa ini dikenal sebagai kampung bahasa, namun bukan warga desanya yang menggunakan bahasa asing (Inggris) sebagai bahasa sehari-hari. Kalau disebut tempat ini adalah tempat yang kondusif untuk mendalami bahasa inggris, itu karena banyaknya lembaga kursus bahasa, sehingga menyedot banyak perhatian dari masyarakat bukan hanya Jawa, tapi juga seluruh Indonesia untuk datang ke tempat ini dan belajar bahasa Inggris secara intensif selama kurun waktu tertentu.
Yang menarik bagi kami pribadi dari desa ini adalah sejarah yang membentuk Pare menjadi desa yang memiliki banyak lembaga kursus seperti sekarang ini. Sewaktu dalam perjalanan dari Nganjuk menuju Pare, bapak penjemput kami bercerita bahwa Pare mulai menjadi desa yang memiliki keistimewaan dengan lembaga kursusnya di awali dari sekitar tahun 77 yang mulai tumbuh dan berdiri beberapa tempat kursus. Lalu tahun demi tahun berganti, tempat kursus itu semakin banyak, yang gaungnya semakin bergema pada sekitar tahun 90-an. Saat itu Pare menjadi suatu wilayah yang dikenal sebagai kampung bahasa, sehingga berdatanganlah para pelajar yang memanfaatkan waktu liburan sekolah maupun kuliahnya untuk belajar bahasa Inggris di sini. Awalnya mungkin hanya pelajar disekitar Jawa yang berbondong-bondong untuk belajar kesini, terutama saat-saat liburan sekolah maupun kuliah. Mereka mengambil program singkat (short course) pada lembaga-lembaga bahasa di desa ini. Namun lama kelamaan, seiring dengan zaman yang semakin berkembang yang seringnya disebut dengan istilah zaman globalisasi, tempat ini semakin terkenal ke seantero daerah nusantara. Yang datang pun bukan hanya para pelajar yang sekedar memanfaatkan waktu liburan mereka, namun sekarang juga banyak dari mereka yang sudah bukan pelajar lagi. Sejauh yang kami dapati dari hasil survey sekilas maupun pengalaman teman-teman yang pernah kesini, profil mereka  yakni tidak jauh dari mantan mahasiswa, yang mengisi waktu senggang selama menunggu panggilan kerja, atau juga para guru dan pendidik, baik guru bahasa Inggris yang ingin mengetahui metode pembelajaran disini, maupun guru atau pendidik dari mata pelajaran lain yang biasanya dikirim untuk belajar disini dalam rangka misi lembaga mereka dalam mengembangkan bahasa di tempat mereka mengajar.
Beberapa guru bahasa inggris yang pernah ke kampung bahasa ini pernah menuturkan tentang metode pembelajaran bahasa Inggris di tempat ini. Bagi mereka, sebenarnya metode yang digunakan biasa-biasa saja, bahkan mereka menyebutnya metode klasik, sembari menjelaskan bagaiman pemblejaran bahasa Inggris dengan metode klasik itu. Ketika saya mendengar penuturannya (sesaat sebelum kami berangkat ke Pare), sempat terbersit tanya; jika metodenya biasa-biasa saja (klasik bahkan), lalu apa nilai jual Pare ini sebagai kampung bahasa yang terkenal dimana-mana. Bahkan ketika kami membuktikan sendiri ke-“biasa”-an Pare ini sebagai kampung bahasa, kami semakin merasa yakin bahwa memang Pare ini sebagai suatu kampung yang sedikit unik, bukan karena aspek tertentu yang beda  dari kampung ini seperti para penduduknya yang dalam kesehariannya mereka berbahasa inggris, atau juga bukan karena para guru dan metode pembelajarannya yang spektakuler, akan tetapi kami melihat penjelasannya ada pada terkonsentrasinya lembaga kursus bahasa di tempat ini, dan sesuatu yang lain yang dijelaskan melalui kajian perkembangan zaman.
Sebagaimana yang telah selintas di paparkan mengenai perkembangan zaman yang lazim disebut  zaman globalisasi. Pada titik ini kita menyadari bahwa bahasa menjadi kunci paling penting memasuki percaturan global, karena sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli, bahwa memasuki zaman globalisasi, kita akan berada pada dunia yang melebur, dunia yang ruang dan waktunya semakin menyempit, dunia yang seperti sebuah perkampungan global (global village). Maka dalam karakter zaman seperti ini, agar interaksi dan interrelasi berjalan baik dan lancar, diperlukan suatu keseragaman tanda (bahasa sebagai tanda paling utama) sehingga dapat dimengerti oleh mereka semua yang berkomunikasi.  Maka muncullah istilah bahasa internasional, yakni bahasa-bahasa yang telah diakui secara global sebagai bahasa yang digunakan berkomunikasi dalam perhelatan multination. Dan bahasa inggris adalah menjadi bahasa pertama yang disepakati sebagai bahasa dunia, sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk menguasainya jika ingin senantiasa berperan dalam percaturan global dalam bidang ekonomi, politik, sosial-budaya dan sebagainya. Maka Pare sebagai kampung belajar bahasa menjawab tantangan itu dengan menawarkan paket pembelajaran massal yang terlokalisir di sebuah desa kecil. Sebuah solusi sekaligus ladang ekonomi yang luas menjanjikan. Tertarik untuk belajar bahasa Inggris di Pare? Atau tercetus ide brilian mengenai proyek bangun desa terinspirasi dari Pare? (aBu uSaMaH aS-sAdAtAny, 15 Juni 2011; 19.40)



Minggu, 15 Mei 2011

AGAR SEMANGAT RAMADHAN KITA SENANTIASA MEMBARA

AGAR SEMANGAT RAMADHAN KITA SENANTIASA MEMBARA

            Jika ada sesuatu dalam dunia ini yang perputarannya tak pernah sesaatpun terhenti, maka sesuatu itu pasti adalah waktu. Waktu bergulir begitu cepat, mengantarkan kita kepada setiap detik perjalanan hidup dan membawa kita pada berbagai pengalaman juga keadaan. Saat ini, entah sudah Ramadhan yang kali keberapa yang pernah kita temui. Waktu ini, seakan tanpa terasa Ramadhan telah menginjak pertengahan jumlah hari. Mari kita mengevaluasi diri, sampai di sini sudah sejauh mana peningkatan kualitas diri yang telah kita raih di ramadhan kali ini. Terutama seberapa besar penjagaan kita terhadap semangat menjalankan Ramadhan. Karena semangat adalah modal utama kita untuk dapat meraih setiap impian kehidupan. Termasuk juga impian tentang capaian target Ramadhan yang sudah kita canangkan di hari-hari sebelumnya.
            Bila kita coba memperhatikan fenomena Ramadhan ketika memasuki waktu-waktu seperti sekarang ini, maka ada sesuatu yang mungkin menarik berkenaan dengan intensitas aktivitas ibadah khususnya ibadah shalat berjama’ah. Pada banyak masjid sudah terlihat jama’ahnya semakin menyusut jumlahnya. Mungkin yang kentara dalam hal ini adalah pada saat-saat pelaksanaan shalat tarawih. Bila pada sepekan pertama bulan Ramadhan, masjid-masjid sampai tidak bisa menampung jama’ah, tapi pada pekan-pekan selanjutnya jumlah jama’ah semakin menyurut. Barisan shaf shalat yang tadinya sampai membludak hingga ke luar masjid semakin berkurang seiring bertambahnya hari Ramadhan. Kita dapat melihat fenomena ini berlaku di sebagian besar masjid maupun daerah dimana terdapat mayoritas umat Islam. Hal yang mungkin juga kita rasakan bahwasanya semangat untuk menjalani aktivitas ibadah Ramadhan kian hari semakin hilang tertelan oleh waktu. Semua suka cita menyambut Ramadhan seakan menguap oleh karena ketidakcakapan kita dalam menjaga konsistensi iman dan semangat menjalankan Ramadhan.
Itu berkenaan dengan ibadah shalat malam kita, sekarang coba kita evaluasi tentang semangat kita untuk menjalankan puasa disetiap hari di bulan Ramadhan. Dari bangun pagi untuk melakukan sahur, apakah terdapat penurunan-penurunan semangat untuk melaksanakannya. Mungkin sudah banyak dari kita yang mulai malas-malasan untuk bangun di hari yang masih dini untuk mengisi perut kita agar senantiasa fit di sepanjang hari. Bukan cuma itu, sebenarnya alasan kenapa kita harus melakukan sahur adalah juga terdapat keberkahan dan keutamaan di dalamnya seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasulullah. Setelah itupun kita coba mengingati hari-hari Ramadhan kita akhir-akhir ini terutama di pagi hari setelah melakukan sahur. Berapa banyak dari kita yang kemudian setelah sahur tidak kembali ke tempat tidur dan menyiapkan diri untuk melakukan shalat shubuh di masjid. Setelah itu, berapa banyak dari kita yang konsisten untuk melakukan aktifitas amaliah seperti wirid maupun tadarus qur’an setelah kembali dari melaksanakan shalat shubuh di masjid. Tidak jarang dari kita yang mungkin juga menjadikan puasa Ramadhan sebagai alasan untuk tidak optimal dalam beraktifitas.
Memang salah satu tabiat fitrah yang dimiliki oleh kita sebagai manusia adalah kecendrungan untuk terhinggapi rasa bosan, dalam segala aktifitas, di setiap kesempatan waktu. Hal itu memang sebuah hal yang sangat manusiawi. Kita bukan malaikat yang tak diberikan potensi untuk mengalami penurunan semangat dalam melaksanakan amal. Rasulullah pernah bersabda tentang tabiat iman bahwa menjadi sebuah keniscayaan bahwa iman itu yaziidu wa yanqusu (dapat mengalami peningkatan dan juga penurunan). Artinya jikapun iman seperti itu, apatah lagi dengan amalan yang mengikuti di belakangnya. Karena amalan itu pada hakikatnya bersifat korelatif (berhubungan) secara positif dengan iman. Seseorang yang mengaku sebagai orang yang beriman tentunya memiliki amalan-amalan ketaatan sebagai konsekwensi dan parameter keimanannya. Terkait dengan Ramadhan, adalah sebuah hal yang lumrah jika ketika kita menjalani hari-harinya terdapat titik-titik waktu dimana kita mengalami kejenuhan. Tapi, jangan jadikan ini sebagai apologi kita untuk kemudian tidak berusaha untuk memperbaikinya. Justru ketika kita mengalami kejenuhan, maka yang kita harus lakukan adalah memanfaatkan titik jenuh itu untuk kemudian melejitkannya hingga melebihi semangat kita di waktu-waktu sebelumnya. Kita mengupayakan siklus iman kita agar senantiasa menunjukkan grafik yang meningkat. Jikapun turun, maka kita berusaha untuk memacunya hingga mencapai tingkat grafik yang lebih tinggi dari titik tertinggi sebelumnya, dan begitu seterusnya.
Lantas, dalam kerangka menjaga ke-istiqomahan iman dan amal serta semangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan, hal-hal seperti apa yang dapat kita lakukan?  Setidaknya ada beberapa cara bagi kita untuk senantiasa dapat menjaga dan memelihara semangat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang juga dapat berpengaruh pada penjagaan iman dan amalan kita di bulan-bulan berikutnya.

  1. Senantiasa mengingat keutamaan-keutamaan Ramadhan
      Dalam kajian pra maupun ketika Ramadhan, kita mungkin sudah banyak mendapatkan berbagai materi mengenai keutamaan yang itu terdapat di bulan Ramadhan. Namun, tidak ada salahnya dalam kesempatan ini berbagai keutamaan yang melekat di bulan Ramadhan itu kita ulangi lagi kembali. Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit ra, bahwa suatu hari menjelang Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pada bulan itu Allah akan mengampunimu, lalu rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapuskan, dan pada bulan itu doa dikabulkan. Allah Swt memandang perlombaanmu pada bulan Ramadhan itu dan membangga-banggakanmu kepada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah kebaikanmu pada Allah. Sesungguhnya celakalah orang yang pada bulan itu terhalang tidak mendapatkan rahmat Allah ‘Azza wa jalla”.
Telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan di ampuni dosa-dosanya di masa lalu”.
Disebutkan pula dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisi bahwa telah bersabda Rasulullah:
“…Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan satu perbuatan sunnah di dalamnya,  dia bagaikan melakukan satu kewajiban di bulan yang lain. Barangsiapa melakukan satu kewajiban pada bulan ini, maka dia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan yang lain…”.
Dalam malam sepuluh terakhir Ramadhan, kita juga sudah mengetahui pula bahwa di malam-malam ganjil pada waktu itu, ada satu malam yang Ia nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Maka barangsiapa yang berhasil meraih malam kemuliaan itu, sesungguhnya ia menjadi orang-orang yang paling beruntung dalam meraih keutamaan Ramadhan.

2.      Mempelajari pengalaman Rasulullah Saw dan para pendahulu yang shalih dalam beribadah di bulan Ramadhan.
      Bukan bandingannya memang ketika kita mencoba bercermin kepada pengalaman Rasulullah Saw, sahabat serta para pendahulu yang shalih dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Tapi, sesungguhnya dengan kita mempelajari pengalaman-pengalaman Ramadhan mereka, diharapkan kita akan termotivasi untuk dapat banyak beramal seperti amalan mereka. Kita mengenal Imam Syafi’i sebagai salah satu imam madzhab yang pengikutnya konon mayoritas di negeri ini. Dalam biografinya disebutkan bahwa dibulan Ramadhan beliau mampu mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam sebulan Ramadhan. Kita mungkin mustahil dapat menyamai “rekor” beliau dalam mengkhatamkan al-Qur’an, tapi paling tidak ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk dapat sekurangnya mengkhatamkan al-Qur’an sekali saja di bulan Ramadhan. Jika imam syafi’i sanggup mengkhatamkan al-Qur’an dalam sebulan sebanyak 60 kali khatam, itu berarti dalam sehari beliau rata-rata berhasil khatam sebanyak 2 kali, yang jika di-juzkan berarti sehari berhasil membaca 60 juz. Maka suatu hal yang tidak sulit bagi kita mengkhatamkan al-Qur’an 1 kali dalam sebulan, yang berarti kita hanya harus membaca 1 juz dalam seharinya.

3.      Membuat misi Ramadhan dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya.
      Salah satu kiat kita dalam meraih kesuksesan dalam hidup adalah mencoba menargetkan capaian kesuksesan itu baik dalam bentuknya, maupun dalam waktu per-realisasiannya. Dalam meraih kesuksesan dan ke-istiqomahan Ramadhan pun demikian. Kita wajib memiliki target-target Ramadhan yang akan kita kejar pencapaiannya. Misalnya, sejak awal Ramadhan yang lalu kita menargetkan bahwa Ramadhan ini kita akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan merokok. Atau juga bagi muslimah misalnya, ia bertekad untuk menutup aurat dengan berjilbab secara sempurna mulai bulan Ramadhan ini dan bulan-bulan seterusnya. Atau pula kita menargetkan dalam Ramadhan ini harus khatam al-Qur’an minimal satu kali. Juga target-target yang lain yang bisa kita canangkan. Pun seumpama kita sudah menginjak hari yang ke-13 bulan Ramadhan dan kita belum membuat targetan-targetan yang akan kita capai terkait peningkatan kualitas diri kita, maka tidak ada kata terlambat untuk membuat dan mencoba merealisasikannya saat ini juga.

4.      Senantiasa mengingat kematian dan kemungkinan bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.         
Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui kapan ajal seseorang itu datang. Oleh karena itu seorang yang memiliki kecerdasan spiritual adalah seseorang yang selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang pasti. Dan, tidak ada yang dapat mengingkari dan menghindari kepastian bahwa kita semua akan mati. Oleh karena itu yang harus kita lakukan dalam menghadapi kematian adalah berbekal diri dalam menyongsongnya. Dan, “…sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…”.(QS. al-Baqarah [2]: 197). Maka Ramadhan ini bisa jadi Ramadhan kita untuk yang terakhir kali dalam hidup ini. Oleh karena itu jangan disiakan kesempatannya yang terbentang luas untuk kita memupuk amal dan memperbanyak bekal berupa ibadah dalam bulan penuh keutamaan bulan ramadhan. Dan juga, sebagai tujuan dari wajibnya Ramadhan bagi kita semua adalah “…agar kamu bertaqwa”.(QS. al-Baqarah [2]: 183). Mari kita mencoba untuk mewujudkannya.

  1. Bergabung bersama mereka yang memiliki semangat dalam meraih berbagai keutamaan pahala Ramadhan.
Dalam penjelasan teori sosiologi dikatakan bahwa lingkungan pergaulan seseorang sangat mempengaruhi perilaku orang tersebut. Jauh sebelum teori itu dicetuskan kira-kira 1500 tahun sebelumnya, Rasulullah Saw telah mengingatkan kita; “Seseorang itu berada di bawah agama temannya. Oleh karena itu hendaknya ia melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Muslim dan Abu Daud).
Kita sadari atau tidak, sesungguhnya lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perilaku dan kebiasaan kita. Oleh dari itu kita sering menemukan bahwa seorang pemabuk biasanya bergaul dengan pemabuk juga, dan seorang ahli ilmu maupun ahli ibadah akan berteman akrab dengan ahli ilmu ataupun ahli ibadah juga. Hal ini merupakan sunatullah dalam kehidupan sosial. Maka dari itu dalam kompetisi meraih kemuliaan bulan Ramadhan, kita harus mencoba untuk selalu menjaga  lingkungan pergaulan yang kondusif, dan terutama lingkungan pergaulan yang akan memacu kita untuk senantiasa berbanyak-banyak amalan keta’atan kita kepada Allah Swt.           

            Bulan Ramadhan pada hakikatnya juga merupakan bulan ishlah (perbaikan) serta bulan tarbiyah (pendidikan). Banyak sudah tercatat bahwa madrasah Ramadhan ini telah benar-benar merubah seseorang menjadi orang-orang yang lebih baik dalam kualitas dirinya di hadapan manusia dan terutama dalam pandangan Allah Swt. Oleh karena itu mari kita bersama-sama untuk selalu bersemangat dalam meraih berbagai keutamaannya. Hingga nanti kita dapat berjumpa hari ‘Idul Fitri dengan senyum berseri, dan dengan kualitas diri yang lebih baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari.
Wallahu a’lam bish showwab. AF[][]

UNTUKMU IBU

UNTUKMU IBU

            Hari ini, bertepatan dengan tanggal 22 Desember 2006, merupakan hari yang istimewa bagi sesosok manusia mulia dalam kehidupan kita. Tidak lain sosok itu adalah seseorang yang biasa kita panggil “Ibu”. Di hari ini, mereka merayakan hari kebesarannya di setiap tahunnya. Tanggal 22 Desember selalu menggaungkan nama mereka dalam kegaduhan isu dan gosip yang menghiasi tayangan acara di televisi maupun yang termuat di media cetak. Pun banyak juga diadakan kegiatan-kegiatan yang dipersembahkan untuk menghormati mereka dan memperingatkan akan peran dan jasa mereka yang teramat besar dalam perjalanan kita, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai sebuah bangsa.

Sejarah Hari Ibu
            Kalender hari besar bangsa kita mencatat tanggal 22 Desember sebagai hari peringatan akan jasa-jasa seorang ibu. Sejarah ini bermula ketika pada tanggal tersebut di tahun 1928, diadakan kongres perempuan pejuang Indonesia yang dihadiri oleh organisasi-organisasi perempuan Indonesia. Dalam kongres perempuan Indonesia atau yang dikenal dengan Kowani yang pertama kali diadakan di Yogyakarta tersebut, kemudian disusul oleh pertemuan-pertemuan lain yang kemudian dari sana ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No.316 Tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional. Semenjak itulah kemudian kita menjadikan tanggal 22 Desember sebagai hari yang istimewa bagi kaum ibu. Berbeda dengan negara Paman Sam Amerika yang merayakan Hari Ibu pada setiap ahad pekan kedua di bulan Mei. Dari sisi perbedaan ini, minimal ada sebuah sisi positif yang sedikit meninggikan martabat kita sebagai bangsa Indonesia. Karna biasanya, bangsa kita bercorak ikut-ikutan, pun dalam perayaan hari-hari besar tertentu selalu mengekor pada perayaan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa besar dunia. Tidak cuma itu, kitapun terbiasa untuk ikut-ikutan dalam aspek lain seperti aspek ekonomi, politik, keamanan dan lain sebagainya. Dan karena itulah yang menyebabkan bangsa kita tak pernah bisa meloloskan diri dari jeratan keterhimpitan kehidupan yang terutama didasarkan oleh ketidakberdayaan perekonomian.

Perayaan Hari Ibu dalam cermin masa kini
            Hari ini perayaan hari kaum ibu sudah menginjak angka yang ke-78 semenjak diadakannya kongres perempuan Indonesia di tahun 1928. Semoga selama itu kita telah benar-benar memposisikan sosok ibu dalam tempat mulia sebagaimana adanya. Dan, segala penghormatan kita kepadanya bukan sebatas kita lakukan pada hari ini saja, sedangkan hari-hari yang lain tidak. Satu hal yang menjadi ironi dalam tradisi perayaan hari ibu adalah kondisi mereka yang sampai saat ini masih memprihatinkan, baik memprihatinkan karena tidak mendapatkan penghormatan yang sempurna dari anak-anaknya dalam segala kasusnya, atau juga keprihatinan oleh karena diri mereka sendiri yang tidak menyadari posisi mereka yang sangat urgen bagi pembentukan sebuah karakter bangsa. Ada pula sebagian dari kaum ibu yang tidak mencerminkan bagaimana seharusnya mereka memerankan tugasnya. Masih banyak kita mendengar berita yang mengiris-iris nurani kita ketika ada seorang ibu yang membuang anaknya, ataupun kita juga mendapati kasus-kasus dimana seorang ibu melalaikan tugas utamanya untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik kelak di kemudian hari. Banyak dari mereka yang kemudian berprofesi menjadi seorang wanita karier dan meninggalkan dibelakang mereka kewajiban untuk mendidik dan membesarkan anak-anak mereka sendiri. Kalangan aktivis perempuan yang katanya dalam melancarkan gerakannya bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dengan menganjurkan kesetaraan dalam berbagai bidang hingga mereka menuntut untuk memiliki kebebasan berekspresi dan bekerja di ranah publik kemudian menyisakan suatu permasalahan baru tentang nasib masa depan anak-anak mereka. Betapa tidak, ketika mereka aktif bekerja di luaran, sementara fungsi mendidik dan membesarkan anak-anak diserahkan kepada pihak-pihak tertentu macam baby sitter ataupun pembantu rumah tangga, maka sang anak kehilangan curahan kasih sayang dari ibu mereka, sekaligus juga tidak mendapatkan bimbingan dan pengajaran yang semestinya dari orang yang seharusnya paling dekat bagi mereka yaitu sosok seorang ibu. Itulah sebabnya untuk kasus seperti ini, banyak sekali pengalaman dimana anak justru lebih memiliki kedekatan emosional dengan pembantu di rumah dibanding dengan ibu mereka sendiri. Seperti sebuah kisah nyata seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang sakit demam tinggi tak mau dipeluk oleh ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran. Sungguhpun suatu pelajaran yang sangat tragis sekaligus memilukan. Lalu, bagaimana seharusnya seorang ibu memerankan tugasnya dalam kehidupan?

Dan Islampun telah mengajarkan
 Lebih dari lima belas abad yang lalu, Islam dengan segala kesempurnaan akan ajarannya telah menjelaskan akan peran dan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan. Ia adalah seorang sosok manusia yang kehadirannya menjadi penyebab kesinambungan nasib peradaban. Ada yang mengatakan bahwa ibu merupakan sosok yang berperan sebagai madrasah peradaban. Bukan hanya dari rahimnya kita dilahirkan, tetapi juga melalui sentuhan kasih sayangnyalah kita dididik dan dibesarkan hingga kita menemukan dan menjalankan takdir kehidupan dengan berwarna-warnikan kebaikan.. 
Kita sama-sama sepakat akan kehadiran sosok ibu yang teramat penting dalam setiap bait fase hidup kita. Kedudukannya tidak tergantikan oleh siapapun dalam hidup ini. Ibu kita adalah manusia mulia yang telah melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita dengan kasih sayangnya, mengarahkan kita dengan ketulusannya. Maka jika ada seseorang yang wajib kita hormati dan kita taati setelah Alloh dan rosul-Nya, maka tempat itu akan pasti ditempati oleh sosok seorang ibu. Hal inipun mendapatkan pembenaran dalam ajaran Islam. Banyak sekali dalil qur’an maupun hadits yang menunjukkan ketinggian kedudukan seorang ibu bagi setiap kita. Diantaranya, betapa Al-qur’an dalam ayat-ayatnya menggandengkan syariat fundamental yaitu larangan menyekutukan Alloh dengan perintah untuk berbuat baik kepada bapak dan terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.(QS.4:36, 6:151, 17:23, 31:14)
Beberapa hadits juga menerangkan tentang keutamaan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan seorang anak manusia. Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata, “Seseorang datang menghadap rosululloh saw dan bertanya, “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?“ Rosululloh menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“Rosululloh menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“ rosululloh kembali menjawab, “Ibumu“. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?“ rosululloh menjawab, “Ayahmu“.(HR. Muslim)
Perhatikan bagaimana rosululloh menjawab sampai tiga kali untuk orang-orang yang wajib kita perlakukan dengan baik yaitu, “Ibumu“, “Ibumu“, “Ibumu“. Baru kemudian, “Ayahmu“. Hal ini tidak lain merupakan penjelasan betapa seorang ibu menempati posisi yang sangat tinggi dan mulia dalam kehidupan kita.
Keterangan lain mengisahkan tentang bakti seorang anak yang menggendong ibunya kesana kemari untuk thawaf di ka’bah dan mengikuti segala perintah ibunya, orang tersebut kemudian bertanya kepada Abdullah bin Umar,“Apakah aku sudah membalas jasa ibuku?“ maka dijawab oleh Abdullah bin Umar, “Belum setetespun engkau dapat membalas kebaikannya“(terdapat dalam Shahih ’adabul mufrod imam Al-Bukhori)
Atau hadits yang sudah lumayan masyhur yang menceritakan tentang seorang sahabat bernama Jaa-Himah yang memohon izin kepada rosululloh untuk ikut berjihad membela agama Alloh, lalu ditanyakan kepadanya oleh beliau saw, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?“. Sahabat tersebut menjawab, “Ya, ibuku masih hidup“. Maka kata nabi, “Hendaklah kamu berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya syurga berada dikedua telapak kaki ibu“.(HR. Nasa’i, Hakim dan Ahmad)
Disamping itu banyak sekali keterangan bagaimana Islam sangat memuliakan sosok seorang bernama ibu, sehingga dalam hadits terakhir, kedudukannya disepadankan dengan balasan syurga jika kita dapat melayani dan mentaatinya dengan baik. Sungguhpun sebuah kemuliaan yang tidak pernah sekalipun diberikan kepada kaum bapak. 

Maka mari kita renungkan
            Di hari istimewa ini, maka mari kita coba menyadari. Betapa seseorang yang selalu membersamai kita dengan kasih sayangnya, dan yang telah mendidik dan membesarkan kita dengan ketulusannya, adalah orang yang sangat berarti dalam hidup kita didunia, terlebih pula di akhirat sana. Sosok seorang ibu adalah manusia yang memiliki tanggungjawab agung untuk membimbing kita agar selalu berada dijalan-Nya. Dalam koridor ini hendaknya seorang ibu memiliki peran. Bukan dengan berteriak-teriak menyuarakan emansipasi yang justru merusak pola tatanan yang disana Islam telah mengajarkan. Bukan berarti Islam membatasi dan membedakan secara tidak adil akan peran dari kaum ibu dan kaum bapak. Tetapi justru keberbedaan itu merupakan keadilan hakiki yang melambangkan akan keseimbangan kehidupan. Bukankah keadilan itu berarti keseimbangan, walaupun tidak dalam kesamaan peran?
            Untuk para ibu, maka mari kita coba menyadari dan mengevaluasi peran kita selama ini. Apakah sudah betul-betul kita menjalaninya sesuai dengan apa yang Alloh dan rosul-Nya gariskan, ataukah justru seringkali dengan atau tanpa sadar kita telah melalaikan. Sedangkan bagi kaum laki-laki, entah engkau sebagai anak ataupun sebagai suami, renungkanlah akan jasa-jasa seorang wanita dalam hidupmu yang wanita itu bisa jadi ibumu, atau mungkin juga istrimu, yang telah diberikan tugas yang bernilai agung yaitu untuk menjadi seorang pendidik utama dalam bangunan masyarakat. Maka muliakanlah mereka sebagaimana Islam mengajarkannya. Karena tugas agung itulah Alloh menganugrahkan telapak kakinya dengan balasan syurga, bagi mereka yang benar-benar menghormati mereka dan mentaati mereka, dengan segenap ketulusan jiwa.Wallohu a’lam bish showwab.[]AF