Total Tayangan Halaman

TIME

Minggu, 25 Januari 2015

MENDADAK INGGRIS





                Segala puji bagi Allah subhaana wa ta’ala yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai bahasa Inggris di kecamatan Pare, kabupaten Kediri. Sebagaimana telah kita mafhum bahwa di kecamatan inilah tempat banyak orang dari segala penjuru negeri datang untuk belajar bahasa Inggris, yang oleh karenanya Pare dikenal sebagai English village atau kampung Inggris. Tanggal 15 Juni hingga 8 Juli 2011 nama kami tercatat sebagai peserta dalam program Training System yang diselenggarkan oleh lembaga BEC, singkatan dari Basic English Course, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang usianya tertua di antara ratusan lembaga kursus lainnya di kecamatan ini. Lembaga ini didirikan tahun 1977 dan menjadi pionir dari sejarah berkembangnya Pare menjadi kampung Inggris.

Tiga Minggu Yang Berharga
Suatu pengalaman yang berharga selama lebih dari tiga minggu kami belajar di Pare untuk dapat mengerti bahasa Inggris dan menerapkannya dalam komunikasi sehari-hari terutama saat kami telah kembali ke Nurul Fikri. Pembelajaran bahasa Inggris terasa sangat menyenangkan bagi kami, dan target yang diinginkan BEC kami kira sangat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan kita di NF, yakni mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Maka dalam masa belajar itu, kami seperti tidak sabar untuk terus berlatih dan berlatih. Asyiknya belajar bahasa, kita tidak perlu menunggu momen tertentu untuk latihan bicara, karena sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang filsuf bernama Jurgen Habermas, bahwa sebagian besar waktu manusia dihabiskan dalam rangka aktivitas berbicara, karena menurutnya manusia adalah makhluk komunikasi. Maka dalam mengasah kemampuan berbahasa, yang harus dilakukan hanyalah bicara dan bicara. Jadi bicaralah dengan bahasa Inggris, dengan istri atau suamimu, dengan anakmu, dengan rekan-rekan kerjamu, atau bahkan seandainyapun engkau sedang sendiri, bicaralah pada dirimu sendiri dengan bahasa Inggris, itu akan menjadi kiat pembelajaran yang efektif dalam rangka meningkatkan kelancaranmu dalam berbahasa Inggris.

Mendadak Inggris
Walau hanya secuil ilmu mengenai tata bahasa Inggris yang kami dapatkan saat belajar di Pare, akan tetapi jika kami terus belajar (dengan menerapkannya), bukan tidak mungkin praktik bahasa Inggris kami bisa semakin excelent, dan dengan begitu bisa menjadi satu sumber pemicu dan pemacu pembudayaan bahasa asing di Nurul Fikri. Namun begitu, sesuatu yang berbeda dari apa yang menjadi kebiasaannya kadangkala menimbulkan suatu reaksi yang juga tidak biasa. Seperti contoh seorang preman yang tiba-tiba dalam waktu sekejap memiliki kebiasaan layaknya seorang alim nan shalih.  Mendadak alim, mungkin kita menyebutnya demikian, sebagaimana judul film dalam negeri; mendadak dangdut. Bagi mereka yang mengetahui kapasitas maupun kebiasaan sang preman, mesti akan merespon dengan kata-kata “ajaib”, “tumben”, “semalem ente ngimpi apaan”, “ente salah minum obat ya”, dan kata maupun kalimat lainnya yang menandakan akan kekagetan akan perubahan drastis dari sang preman. Begitupun dengan kami para alumnus Pare angkatan pertama (konon akan dikirimkan angkatan-angkatan berikutnya, we hope so..), sebagaimana misi dari sebulan pembelajaran kami di sana, yakni untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa civitas Nurul Fikri, maka sebagaimana kredo pendidikan, maupun teori dakwah yang menyebutkan “al-qudwah qabla ad-da’wah”, kamipun memiliki PR untuk dapat menerapkan hasil pembelajaran kami di Pare. Dengan kata lain, satu hal utama yang otomatis diharapkan dari kami selepas kembali dari Pare adalah just talk with english to everyone.  Maka sebagaimana hukum aksi-reaksi dalam “fenomena kemendadak-an” tadi, tentu saja ada perbedaan yang cukup kontras antara sebelum kami berangkat ke Pare dibanding sesudahnya.
Sebagaimana yang sudah kita mafhum, guru-guru yang dikirim pada tahap awal datang dari berbagai jurusan yang berbeda, dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari pasti bahasa Indonesia. Namun saat ini, mau tidak mau, rela tidak rela, kami harus merubah cara kami dalam bergaul dan berkomunikasi sebagaimana tujuan kami dikirim ke Pare. Maka kami dituntut untuk bicara menggunakan bahasa Inggris, baik kepada sesama guru, maupun kepada para santri. Perubahan itu pasti akan terlihat lumayan signifikan, dan respon terhadap fenoemena itu kami kira juga ada yang signifikan. Namun apapun itu, kami yakin kita semua mengharap kebaikan bagi diri kita mapun bagi peradaban yang tengah kita bangun melalui Nurul Fikri ini. Kita semua yakin bahwa bahasa menjadi salah satu kunci dalam memenangkan pertarungan dalam percaturan peradaban, atau bahkan dalam  kaitannya dengan mimpi-mimpi kesuksesan setiap kita. Bahasa adalah nilai tambah bagi seorang individu. Oleh karena itu, dapat berbicara dengan menggunakan bahasa asing bagi kita adalah suatu keutamaan yang harus kita raih dan miliki. Dengan alasan itu, kami kira sudah merupakan keharusan untuk mendukung program pembudayaan bahasa Inggris yang telah jauh hari dicanangkan oleh lembaga. Dan apabila kita mendapati rekan-rekan kita yang tengah belajar mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya dengan praktik berbicara di kantor, di masjid, atau di kelas, sementara kita belum berani melakukannya, maka kita sudah kalah selangkah dari rekan kita tersebut.

At-tarbiyah Madal Hayah (Long Life Education)
Iqra’, satu kata yang menjadi pembuka dari puluhan ribu kata yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an ini sudah lebih dari cukup untuk kita sebagai umat Islam untuk senantiasa meneguhkan ideologi pembelajar dalam setiap diri kita. Salah satu bidang yang memiliki manfaat besar bila kita mempelajari dan menguasainya adalah bahasa asing. Maka pembelajaran tentang bahasa asing merupakan salah satu tangga subjek ilmu yang tidak bisa tidak harus kita pelajari. Darinya terbukti dan terciri akan peningkatan kualitas setiap diri. Sebagaimana rasulullah SAW yang menyuruh para shahabat beliau untuk belajar bahasa asing, Zaid bin Tsabit bahkan dapat menguasai bahasa Ibrani hanya dalam kurun waktu 17 hari.
Guru bahasa Inggris atau bukan, sudah pernah belajar di Pare atau hanya belum dapat kesempatan, apapun, hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita semua untuk belajar dan mempraktikkan penggunaan bahasa asing di Nurul Fikri ini, sebagaimana yang dahulu saya lakukan dengan menabung (membeli) buku tentang belajar bahasa asing. Atau bagi guru bahasa Arab, tidak perlu sungkan untuk mempraktikkan kemampuannya, takallam bi lughati arabiyah! Siapa tahu, setelah bahasa Inggris, kamipun akan berdialog dengan anda dengan bahasa al-Qur’an yang telah anda kuasai. Every moment is competition to beat our self. Tarbiyah madal hayah. Just be  a learning people, whereever, whenever, and forever. (Banana Comunity; teachers room, 2011-07-12,10.57 AM)

Rabu, 21 Januari 2015

MAULID NABI DAN SEMANGAT MENAULADANKAN DIRI



             Memasuki bulan Rabiul Awwal umat Islam di Indonesia memiliki hajat nasional berupa penyelenggaraan kegiatan memperingati hari lahir Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Hampir di setiap masjid diadakan acara-acara yang mengajak kaum muslimin untuk menapak tilasi sejarah hidup dan perjalanan dakwah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Sebuah kegiatan yang bertujuan mulia demi lebih mendekatkan umat Islam kepada Nabi junjungannya hingga menjadikan beliau sebagai sebenar-benar idola.
            Di masjid kita tercinta; Masjid Baitul Iman, pun tak mau ketinggalan untuk memanfaatkan momen ini. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya turut diadakan pula acara peringatan maulid Nabi untuk tahun ini. Segenap kaum muslimin melalui kegiatan yang difasilitasi oleh kepengurusan Masjid Baitul Iman (MBI), akan diajak untuk merenungi dan menauladani kembali perikehidupan sang penghulu akhir zaman, ditengah ekspansi kehidupan materialistis yang begitu deras menyerbu pola pikir dan  gaya hidup kaum muslimin, hingga tanpa sadar orientasi hidupnya mulai bergeser sedikit demi sedikit. Lama kelamaan kepribadian Islam yang menjadi gaun kemuliaan kaum muslimin mulai luntur dan berganti menjadi kepribadian barat yang mendewa-dewakan materi. Lambat laun mereka pun melupakan sosok yang harusnya mereka jadikan idola dan barometer dalam hidup, dan menggantinya dengan profil manusia-manusia zaman modern yang menuhankan hawa nafsu, yang diwakili oleh para artis film dan sinetron, penyanyi dan grup band, politisi-politisi busuk, pemain sepak bola dan lain-lain yang kebanyakan mereka kehidupannya jauh dari nilai-nilai Islam.
           Peringatan Maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang senantiasa kita selenggarakan setiap tahunnya hendaknya menjadi bahan renungan kita. Betapa upaya untuk mengajak umat mencintai dan menauladani nabinya tak kurang-kurang kita telah lakukan setiap setahun sekali. Namun apakah hal itu sudah cukup untuk membuat kaum muslimin untuk mau mencintai Nabi mereka dengan kecintaan yang sungguh-sungguh, yakni dengan selalu berusaha untuk menyelami sirah (sejarah) perjalanan hidup beliau dan mencontoh berbagai sisi dari perikehidupan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal bukan hanya dari golongan umat Islam yang mengakui kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau, para tokoh intelektual barat pun mengagumi akan kehebatan beliau, sebagaimana salah satunya ditulis oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Michael H. Hart, seorang Nashrani yang di tahun 1978 merilis hasil penelitiannya terhadap sejarah tokoh-tokoh besar dan menjatuhkan pilihannya pada Nabi kita Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia dan hanya menempatkan Yesus di urutan ke-3 di bukunya yang fenomenal 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia.
            Sungguh dalam sirah perjalanan hidup Nabi kita mengajarkan begitu banyak pelajaran yang tak ternilai. Beliau telah benar-benar menjadi sosok yang sempurna untuk dicintai dan ditauladani oleh kita semua. Tak cukup bila acara peringatan maulid Nabi ini hanyalah diselenggarakan setiap setahun sekali. Bahkan juga tak cukup bila diadakan peringatan sebulan sekali, atau seminggu sekali. Seyogyanya kita memperingati maulid Nabi setiap saat dengan cara selalu berusaha mengkaji dan mencontoh setiap sisi kehidupan beliau, membaca sirah beliau dan mendatangi majlis-majlis yang mengupas sunnah-sunnah beliau hingga kita mengamalkannya, walau mungkin tanpa harus pihak panitia menamakannya majlis peringatan maulid Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Karena itulah sejatinya wujud dari kecintaan kita terhadap beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
            Namun apa yang terjadi di zaman ini dari fenomena peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lebih kepada ritual yang kering makna. Mungkin kita berramai-ramai menyenandungkan shalawat ke atas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, mungkin pula kita berpartisipasi dalam gegap gempita acara tabligh akbarnya, namun setelah itu tidak ada yang berubah dari kehidupan kita. Ajakan sang mubaligh dalam ceramah tabligh sekedar kita nikmati sisi-sisi jenaka yang sejatinya ia hanya merupakan selingan agar ceramah tetap segar dan tidak monoton. Esensi peringatan maulid yang bertujuan untuk mengajak kita agar lebih mencintai Nabi dan menauladani beliau menjadi sesuatu yang seolah terbang jauh seiring kita meninggalkan majlis penyelenggaraan maulid tersebut. Sunnah-sunnah yang beliau wariskan masih serasa asing dikarenakan keengganan kita untuk mempelajarinya. Bahkan tak jarang di zaman ini, akibat ketidaktahuan kita akan sunnah nabi, kita menganggap aneh apabila ada seseorang yang mengamalkannya. Terlebih dalam situasi penuh fitnah yang dihembuskan musuh-musuh Islam terhadap berbagai amalan yang sejatinya di ajarkan dalam Islam. Sebagaimana kita mengetahui peristiwa bertubi dari tindakan terorisme yang selalu dikaitkan pelakunya dengan sekelompok umat Islam yang mengamalkan sebagian sunnah seperti memanjangkan jenggot, bercelana cingkrang, mengenakan jilbab syar’i bagi kaum perempuannya, dan lain sebagainya. Beragam peristiwa itu seolah menjadi rangkaian agenda yang telah disetting dengan tendensi untuk membuat umat Islam membenci saudaranya sendiri yang mengamalkan sunnah tersebut, yang kemudian membuat mereka membenci sunnah-sunnah nabinya, dan hingga akhirnya membenci agamanya sendiri na’udzu billaahi min dzaalika.
            Tentunya kita tidak ingin hal seperti yang disebutkan di atas terjadi. Maka melalui momentum kesekian dari peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diadakan masjid kita tercinta ini, marilah kita bersama untuk benar-benar mempelajari sirah perjalanan hidup beliau, mencontoh sifat-sifat beliau yang mulia, menuntut ilmu tentang sunnah-sunnah beliau yang sudah banyak kita lupakan, sehingga kita sebagai umat Islam benar-benar mampu meresapi sisi-sisi perikehidupan beliau, dan dengannya kita menjadi pribadi yang berakhlak mulia sebagaimana kepribadian sang tauladan sepanjang zaman; Nabiyunaa Muhammad Shallu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa shahbihi. Wallaahu a’lam bish shawwaab

TELESCOPING THE SUPPLIES OF HUMAN RESOURCES FOR CULTURAL SECTOR IN THE FUTURE (A Brief Tracer Study of Cultural Science Students in Several Universities in Indonesia)





Besides caring to the abundant issues towards development, one of government’s efforts to build a better nation is by giving attention the cultural sector. Culture is what teaches people about the important key to make a wealthier nation – the equity and the civility. 
So far, the data about the amount and the state of human resources in cultural sector has not been well collected. Even the data about the supply of human resources for the future which is being prepared by many fields of studies, especially in cultural sciences are just the same. The nation’s wealth in the cultural sector which makes Indonesia become a very well known country among the foreign countries has not been supported by the awareness of the people to conserve and develop all the valuable cultural heritages. Still there is imbalance between the amount of tangible - intangible cultural heritages and the human resources who will take care of them. Thus, it is worrying to think that Indonesian cultural heritages will be disappearing day by day. So that it is not surprising if there are many countries claiming one of Indonesian cultural heritages as theirs. Indonesian also should not be angry towards what they do. 
We all know that many people are still not interested to work in the field of cultural sciences study, as we also know that the interest of the student candidates in Indonesia in cultural sciences study is not as big as their interest in another field of study in Indonesia. The majors like Sociology, Anthropology, History, Indonesian Literature, and Archeology still become the less preferences comparing to Medical Sciences, Engineering, Law, and some others which many students seek for in the entire nation. Moreover, the more specific majors like Arts, as what some Institutes in the field of arts and cultures provide, has few enthusiasts. These phenomena endanger the preservation of Indonesian Culture which becomes the everlasting wealth of our beloved Indonesia. Therefore, the research about students’ interest towards cultural sciences and their eagerness to dedicate themselves in the field of cultures becomes crucial to be conducted so that the result can be used to describe the supplies of human resources in cultural sector in the future. Moreover, it can also be the starting point to make a better policy in building and developing cultural sector as one of the most precious asset of our nation. 
The topic of this research is “Tracing the Interest of the Senior High School Graduates and Candidate of University Graduates to the Profession in the Cultural Sector” which was planned to be accomplished in two years. In 2014, the tracer study was conducted towards the graduates of senior high school who were in their early and last semesters in Cultural Sciences Program in the Universities chosen to become the place to do the study. For the students in their early semesters, the research aims to survey the congruence of their interest to study in the Faculty of Cultural Sciences. While for the students in their last semesters, the research aims to examine their interest and projection to work in the cultural sectors. In 2015, the research will confirm the 2014’s graduates who has been studied in the previous year in their work field and profession they were working on. 
This research will take place in 9 provinces in Indonesia. They are North Sumatera, West Sumatera, west Java, Central Java, Yogyakarta, east Java, North Sulawesi, South Sulawesi, and Bali. In each province, the data will be taken from some universities and institutes which have majors or study program in the area of Cultural Sciences. In the Universities, the research will take the sample from Sociology, Anthropology, Archeology, History, and Indonesian Literature Departments. While in the Institutes of Arts and Cultures, the sample will be taken from Dance, Music, Theatre and Visual Arts Departments. From each major or program, the sample taken will be 60% of the 2014 badge, 40% of 2011 badge, and 10% of 2010 badge in which population is based on the total admissions in every badge. The research is quantitative research with questionnaire as the primary instrument which will be answered by the students from various majors and badges as mentioned above. 
When this paper was written, the research just finished the data collection so that the result has not been ready to be presented. As the result of this research has been acquired, it is hoped that the result can show the overview of the supplies of human resources in cultural sector so that the relevant parties can make the best policies, especially for the Center for Human Resource Development of Culture, Agency of Research and Development,  Agency of Human Resource Development on Education and Culture and Education Quality Assurance, and Ministry of Education and Culture which will be mostly concerned with the result of this research.

Lastly, hopefully all of the cultural sectors as Indonesia’s Most Precious Heritage can be preserved and developed to be one of the development focuses in this new governmental era. Along with the development of the cultured human resources, Indonesia will be wealthier and more prosperous. The people will also live in the peace and harmony civilization in tapestry of life named Indonesia. (UTR, Centre for Research and Development of Culture, Ministry of Education and Culture Republic of Indonesia)

Kamis, 04 September 2014

BELAJAR BUKAN HANYA DI SEKOLAH (Pesan untuk menjadi pribadi pembelajar)



                Membincang topik tentang “belajar” di masyarakat kita biasanya diasosiasikan dengan sebuah tempat dan atau institusi bernama “Sekolah”. Segera saja setelah kita mengangkat tema obrolan ini baik saat kongkow di warung kopi, atau ketika berada di majelis rumpi ibu-ibu di tukang sayur, atau mungkin sekedar diskusi ringan selepas shalat berjama’ah di masjid, tema tentang “belajar” atau “pembelajaran” hampir pasti kata yang mereka maksud adalah “sekolah”.

          “Belajar” dan “sekolah” adalah dua kosa kata yang menyiratkan kesan yang sama, walaupun pada dasarnya antara keduanya berbeda. Belajar adalah sebuah kata yang menunjukkan akan aktifitas, baik fisik dan terutama mental dari sesuatu yang akan membuat seseorang berubah lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan sekolah adalah sebuah tempat dan atau lembaga yang secara formal mewadahi seseorang untuk belajar.

            Menilik pada pengertian dari kedua kata tersebut, kita bisa mengambil hakikat yang sangat besar dan bermanfaat. Belajar yang merupakan suatu aktifitas dan atau kegiatan di mana dengannya kita bisa menjadi lebih tahu, lebih cerdas, lebih baik, lebih hebat, lebih bijak, yang itu menggunakan berbagai potensi ragawi yang kita miliki dari indera yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Maka belajar bisa kita lakukan kapanpun, dimanapun, kepada siapapun, dan belajar apapun. Dan dengan begitu, anggapan yang menyebutkan belajar identik dengan sekolah merupakan salah satu bentuk dari sesat pikir yang sering dianut oleh masyarakat kita. Yang tergambar dalam benak kebanyakan dari kita bahwa belajar itu adalah duduk di kelas, mengikuti pelajaran dari guru, mengerjakan tugas, mendapat nilai. Padahal belajar bukan hanya itu, dan belajar bukan hanya dilakukan di sekolah. Sekolah hanyalah merupakan salah satu tempat untuk kita melakukan pembelajaran. Kelebihannya hanyalah pada sisi formalitasnya. Sementara jika kita menginginkan pembelajaran yang lebih luas, maka kita bisa melakukannya dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, dan belajar apa saja.

 Allah Ta’ala telah memberikan kita anugerah berupa potensi-potensi akal, jasad dan jiwa sebagai sarana untuk kita menyerap pengetahuan. Kita dapat belajar dari melihat, dari mendengar, dari memikirkan sesuatu, dari meniru dan melakukan sebuah hal yang baru secara mandiri. Kita dapat mendayagunakan seluruh potensi itu yang kemudian membuat kualitas kepribadian kita menjadi lebih baik.

              Di dunia ini ada orang-orang yang bersekolah dan sukses, sebagaimana ada orang-orang yang bersekolah tapi hidupnya sengsara. Dan di dunia ini juga ada orang-orang yang tidak bersekolah tapi juga sukses, sebagaimana terdapat orang-orang yang tidak bersekolah dan hidupnya nestapa. Jadi, sekolah atau tidak sekolah sama-sama bisa sukses, namun juga sama-sama bisa gagal. Apa yang membedakan hanyalah satu kata; belajar, atau dengan kata lain menjadi seorang pembelajar.

Bagi seorang pembelajar, sekolah atau tidak sekolah ia akan sukses. Karena ia betul-betul mendayagunakan segala potensi dan sumber daya yang ia miliki untuk menarik hikmah dan manfaat, yang dengan begitu ia selalu berubah lebih baik, siapapun orangnya, apapun profesinya.  Namun sayangnya, kata ini –belajar-, atau juga tempat ini –sekolah-, adalah dua kata yang mungkin paling dibenci oleh sebagian besar masyarakat kita, khususnya buat remaja yang sedang menempuh tangga pendidikan formal di sekolah. Betapa sering kita lihat para pemuda dan pemudi tidak menggunakan waktu-waktu belajarnya dengan baik di sekolah. Atau bahkan tidak jarang kita melihat para pelajar itu memilih untuk tidak bersekolah, entah itu mereka “cabut” saat jam-jam sekolah, atau memang mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dan memilih untuk menjadi pengangguran.

Sebetulnya tidak sepenuhnya orang yang tidak bersekolah itu tercela, karena memang sejatinya pembelajaran itu bisa dilakukan di mana-mana. Namun dalam kebanyakan kasus di negeri kita, para remaja yang memilih tidak belajar di sekolah biasanya juga tidak belajar di tempat manapun mereka berada. Mereka lebih memilih mejeng di mall dan atau nongkrong di pinggir jalan dan benar2 tidak memanfaatkan potensi waktu yang mereka miliki untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Nikmat waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka sering mereka buang percuma hingga tidak menghasilkan manfaat apa-apa, baik untuk diri mereka sendiri, untuk keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Hal ini yang kemudian menyebabkan negara kita menjadi tidak produktif dan selalu terpuruk, dikarenakan golongan remaja dan pemudanya tidak berusaha memanfaatkan waktunya untuk kebaikan mereka, terlebih demi pembangunan negara.

Menjadi pribadi pembelajar sama sekali tak mengandung arti menjadi seorang murid di sekolah tertentu, atau menjadi mahasiswa kampus tertentu. Akan tetapi berpribadi pembelajar adalah menjadi seorang yang benar-benar berhasrat untuk selalu menjadikan setiap waktu mereka bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya. Mereka membaca buku, menonton berita, mendengar radio, berlatih ketrampilan berbahasa asing, menyimak wejangan orang-orang sukses, mengikuti training-training kompetensi. Mereka belajar berorganisasi, mereka terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mereka bergaul dan meluaskan hubungan pertemanan, mereka berhubungan baik dengan banyak orang. Mereka belajar mengemudikan kendaraan, mereka mengikuti kursus menjadi montir, atau kursus menjahit, atau pula kursus komputer. Pokoknya mereka benar-benar berusaha  memanfaatkan waktunya untuk belajar dan meningkatkan kompetensi diri. Dan jika sudah begitu, persoalan kesuksesan, kemapanan materi, terjaminnya kualitas hidup, hanyalah merupakan hadiah yang pasti mereka dapatkan dengan sendirinya. Entah mereka menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yang sukses, pendidik dan akademisi yang berhasil, karyawan yang profesional, aparat negara yang amanah, atau sekedar menjadi petugas-petugas pelayan masyarakat di level apapun yang benar-benar berdedikasi tinggi.
Menjadi pribadi pembelajar adalah kunci akan kualitas hidup yang baik. Ia menjadi sebab kesuksesan seorang anak manusia, baik kesuksesan dunia, terlebih kesuksesan akhirat. Maka sudah selayaknya kita berusaha untuk menjadi pribadi pembelajar itu, meski tak mampu bersekolah tinggi-tinggi, tapi tetap berkesempatan untuk tetap berkompetisi menjadi yang terbaik. Kiranya tulisan ini akan ditutup oleh sebuah ungkapan inspiratif  tentang obsesi jiwa seorang pembelajar sejati ;
Setiap orang adalah guru
Setiap hal adalah ilmu
Setiap tempat adalah sekolah
Setiap kejadian adalah pelajaran