Segala puji bagi Allah subhaana
wa ta’ala yang telah memberikan kami kesempatan untuk belajar lebih banyak
mengenai bahasa Inggris di kecamatan Pare, kabupaten Kediri. Sebagaimana telah
kita mafhum bahwa di kecamatan inilah tempat banyak orang dari segala penjuru
negeri datang untuk belajar bahasa Inggris, yang oleh karenanya Pare dikenal
sebagai English village atau kampung Inggris. Tanggal 15 Juni hingga 8
Juli 2011 nama kami tercatat sebagai peserta dalam program Training System
yang diselenggarkan oleh lembaga BEC, singkatan dari Basic English Course,
sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang usianya tertua di antara ratusan lembaga
kursus lainnya di kecamatan ini. Lembaga ini didirikan tahun 1977 dan menjadi
pionir dari sejarah berkembangnya Pare menjadi kampung Inggris.
Tiga Minggu Yang
Berharga
Suatu
pengalaman yang berharga selama lebih dari tiga minggu kami belajar di Pare
untuk dapat mengerti bahasa Inggris dan menerapkannya dalam komunikasi
sehari-hari terutama saat kami telah kembali ke Nurul Fikri. Pembelajaran
bahasa Inggris terasa sangat menyenangkan bagi kami, dan target yang diinginkan
BEC kami kira sangat aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan kita di NF, yakni mampu
berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Maka dalam masa belajar itu, kami
seperti tidak sabar untuk terus berlatih dan berlatih. Asyiknya belajar bahasa,
kita tidak perlu menunggu momen tertentu untuk latihan bicara, karena
sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang filsuf bernama Jurgen Habermas, bahwa
sebagian besar waktu manusia dihabiskan dalam rangka aktivitas berbicara,
karena menurutnya manusia adalah makhluk komunikasi. Maka dalam mengasah
kemampuan berbahasa, yang harus dilakukan hanyalah bicara dan bicara. Jadi
bicaralah dengan bahasa Inggris, dengan istri atau suamimu, dengan anakmu,
dengan rekan-rekan kerjamu, atau bahkan seandainyapun engkau sedang sendiri,
bicaralah pada dirimu sendiri dengan bahasa Inggris, itu akan menjadi kiat
pembelajaran yang efektif dalam rangka meningkatkan kelancaranmu dalam
berbahasa Inggris.
Mendadak
Inggris
Walau
hanya secuil ilmu mengenai tata bahasa Inggris yang kami dapatkan saat belajar
di Pare, akan tetapi jika kami terus belajar (dengan menerapkannya), bukan
tidak mungkin praktik bahasa Inggris kami bisa semakin excelent, dan
dengan begitu bisa menjadi satu sumber pemicu dan pemacu pembudayaan bahasa
asing di Nurul Fikri. Namun begitu, sesuatu yang berbeda dari apa yang menjadi
kebiasaannya kadangkala menimbulkan suatu reaksi yang juga tidak biasa. Seperti
contoh seorang preman yang tiba-tiba dalam waktu sekejap memiliki kebiasaan
layaknya seorang alim nan shalih.
Mendadak alim, mungkin kita menyebutnya demikian, sebagaimana judul film
dalam negeri; mendadak dangdut. Bagi mereka yang mengetahui kapasitas maupun
kebiasaan sang preman, mesti akan merespon dengan kata-kata “ajaib”, “tumben”,
“semalem ente ngimpi apaan”, “ente salah minum obat ya”, dan kata maupun
kalimat lainnya yang menandakan akan kekagetan akan perubahan drastis dari sang
preman. Begitupun dengan kami para alumnus Pare angkatan pertama (konon akan
dikirimkan angkatan-angkatan berikutnya, we hope so..), sebagaimana misi
dari sebulan pembelajaran kami di sana, yakni untuk dapat meningkatkan
kemampuan bahasa civitas Nurul Fikri, maka sebagaimana kredo pendidikan, maupun
teori dakwah yang menyebutkan “al-qudwah qabla ad-da’wah”, kamipun memiliki PR
untuk dapat menerapkan hasil pembelajaran kami di Pare. Dengan kata lain, satu
hal utama yang otomatis diharapkan dari kami selepas kembali dari Pare adalah just
talk with english to everyone. Maka
sebagaimana hukum aksi-reaksi dalam “fenomena kemendadak-an” tadi, tentu saja
ada perbedaan yang cukup kontras antara sebelum kami berangkat ke Pare
dibanding sesudahnya.
Sebagaimana
yang sudah kita mafhum, guru-guru yang dikirim pada tahap awal datang dari
berbagai jurusan yang berbeda, dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari pasti
bahasa Indonesia. Namun saat ini, mau tidak mau, rela tidak rela, kami harus
merubah cara kami dalam bergaul dan berkomunikasi sebagaimana tujuan kami
dikirim ke Pare. Maka kami dituntut untuk bicara menggunakan bahasa Inggris,
baik kepada sesama guru, maupun kepada para santri. Perubahan itu pasti akan terlihat
lumayan signifikan, dan respon terhadap fenoemena itu kami kira juga ada yang
signifikan. Namun apapun itu, kami yakin kita semua mengharap kebaikan bagi
diri kita mapun bagi peradaban yang tengah kita bangun melalui Nurul Fikri ini.
Kita semua yakin bahwa bahasa menjadi salah satu kunci dalam memenangkan
pertarungan dalam percaturan peradaban, atau bahkan dalam kaitannya dengan mimpi-mimpi kesuksesan
setiap kita. Bahasa adalah nilai tambah bagi seorang individu. Oleh karena itu,
dapat berbicara dengan menggunakan bahasa asing bagi kita adalah suatu
keutamaan yang harus kita raih dan miliki. Dengan alasan itu, kami kira sudah
merupakan keharusan untuk mendukung program pembudayaan bahasa Inggris yang
telah jauh hari dicanangkan oleh lembaga. Dan apabila kita mendapati
rekan-rekan kita yang tengah belajar mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya
dengan praktik berbicara di kantor, di masjid, atau di kelas, sementara kita
belum berani melakukannya, maka kita sudah kalah selangkah dari rekan kita
tersebut.
At-tarbiyah
Madal Hayah (Long Life Education)
Iqra’,
satu kata yang menjadi pembuka dari puluhan ribu kata yang terdapat dalam kitab
suci al-Qur’an ini sudah lebih dari cukup untuk kita sebagai umat Islam untuk
senantiasa meneguhkan ideologi pembelajar dalam setiap diri kita. Salah satu
bidang yang memiliki manfaat besar bila kita mempelajari dan menguasainya
adalah bahasa asing. Maka pembelajaran tentang bahasa asing merupakan salah satu
tangga subjek ilmu yang tidak bisa tidak harus kita pelajari. Darinya terbukti
dan terciri akan peningkatan kualitas setiap diri. Sebagaimana rasulullah SAW
yang menyuruh para shahabat beliau untuk belajar bahasa asing, Zaid bin Tsabit
bahkan dapat menguasai bahasa Ibrani hanya dalam kurun waktu 17 hari.
Guru
bahasa Inggris atau bukan, sudah pernah belajar di Pare atau hanya belum dapat
kesempatan, apapun, hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita semua untuk
belajar dan mempraktikkan penggunaan bahasa asing di Nurul Fikri ini,
sebagaimana yang dahulu saya lakukan dengan menabung (membeli) buku tentang
belajar bahasa asing. Atau bagi guru bahasa Arab, tidak perlu sungkan untuk
mempraktikkan kemampuannya, takallam bi lughati arabiyah! Siapa tahu,
setelah bahasa Inggris, kamipun akan berdialog dengan anda dengan bahasa
al-Qur’an yang telah anda kuasai. Every moment is competition to beat our
self. Tarbiyah madal hayah. Just be a
learning people, whereever, whenever, and forever. (Banana Comunity; teachers
room, 2011-07-12,10.57 AM)
